
Jam menunjukkan pukul 10:30 Wib. Suasana kota terlihat ramai. Riuh rendah kendaraan terdengar disana-sini. Didepan ada sebuah truck yang sedang mengganti ban nya. Sehingga membuat jalanan siang itu menjadi macet.
Rafka mulai mengeluarkan keringat. Sehingga ia memutar full pengatur suhu AC yang ada didalam mobilnya. Keringatnya pun perlahan mengering seiring bertambah sejuknya udara didalam mobil.
"Tok tok tok
Dari arah luar terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kaca mobil. Sehingga membuat Rafka menurunkan kacanya.
"Permisi Om, maaf sebelumnya bolehkah saya mengamen." ucap seorang bocah dengan sopan.
"Hmm, silahkan." seru Rafka.
Bocah pengamen tersebut kemudian mulai memainkan gitarnya sembari menyanyikan lagunya.
"Bayangkan bila harimu penuh warna . .
Itulah yang saat ini kurasakan. . .
Dia membuat tidurku tak nyenyak
Dia membuat makan ku tak enak
Ku terpikat pada kehangatan yang selalu dia berikan . . .
Kurasa ku sedang dimabuk cinta . .
Nikmatnya kini ku dimabuk cinta . .
Di mabuk cinta . . .
By Armada.(Di mabuk cinta)
Bocah tersebut memetik gitarnya dengan sangat mahir serta suaranya yang juga merdu membuat lagu yang dibawanya begitu enak didengar.
Rafka juga begitu menikmati lagu tersebut. Dan entah mengapa, kini bayangan Annisa muncul di fikiran nya secara tiba-tiba, yang membuat senyumnya tak terasa mengembang saat mengingat sosok istrinya itu.
"Sudah Om" ucap sang bocah sehingga membuat lamunan Rafka terhadap Annisa buyar.
"Oh, iya, ini untuk kamu." ujar Rafka yang kemudian mengeluarkan selembar uang kertas yang berjumlah 50ribu. Lalu, ia pun menyerahkannya kepada bocah pengamen tersebut.
"Maaf Om, uang nya kebesaran." Ujar bocah tersebut sembari mengulurkan kembali lembaran uang tersebut.
"Nggak apa-apa. Ambil semuanya untuk kamu." timpal Rafka lembut.
"Beneran nih Om, terimakasih banyak." Bocah tersebut tersenyum riang sembari menundukkan sedikit kepalanya saat berterima kasih terhadap Rafka.
Rafka menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hangat. Sedangkan bocah pengamen kemudian berlalu pergi setelah berterima kasih kepadanya.
Tak berapa lama. Kemacetan mulai terurai. Truck yang didepan telah berjalan sehingga membuat jalanan kembali lancar. Rafka kemudian menyetir mobilnya kearah restoran pusatnya, dan tak lama kemudian ia pun sampai disana.
Setelah memarkirkan mobil di tempat parkiran khusus miliknya. Kini Rafka bergegas masuk kedalam restorannya dengan disambut para pegawai nya.
"Selamat siang Tuan." ucap salah satu pegawai yang bertugas menjaga pintu masuk.
"Siang." sahut Rafka.
Ia pun kemudian berjalan masuk menuju ruangan nya. Begitu melihat kedatangan Rafka para pegawai yang lainnya tampak mencari kesibukan masing-masing. Itu semua mereka lakukan, karena mereka tidak mau terlihat begitu santai di depan Rafka.
"Ceklek"
"Tap tap tap . ."
Suara langkah kaki Rafka terdengar begitu jelas saat ia mulai memasuki ruangan nya. Lalu, perlahan ia pun mendekati mejanya dan menarik kursi yang ada disana, dan kini Rafka mulai menggeluti dunia nya yaitu memeriksa seluruh laporan yang dikirim staff restorannya.
***
Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa kini sudah petang. Dari ujung jendela Rafka melihat suasana diluar yang sudah hampir gelap. Ia lalu menutup laptop yang ada di depannya. Berdiri dari duduknya dan melangkah keluar.
Rafka bergegas menuju kearah mobilnya. Entah mengapa saat rasanya ia ingin sekali bisa cepat sampai dirumahnya. Itu karena sedari tadi yag ada di fikirannya hanya Annisa istrinya.
Di perjalanan Rafka melihat sebuah toko bunga yang hampir tutup. Mereka mulai menyusun barang dagangan nya yang ada di pinggir jalan untuk dibawa masuk kedalam. Mengingat saat itu juga sudah mau hampir magrib.
"Ada toko bunga. Nisa kira-kira suka bunga nggak ya?
Gumamnya.
__ADS_1
Rafka kemudian memarkirkan mobilnya tepat di depan toko bunga yang hampir tutup itu. Lalu ia bergegas turun dari mobilnya dan berjalan dengan agak sedikit berlari menghampiri sang pemilik toko.
"Assalamu'alaikum, permisi pak." Ucap nya sopan.
Sang pemilik menoleh kebelakang.
"Iya, ada apa nak? toko nya sudah tutup." sahut pak tua pemilik toko.
"Saya tau. Tapi saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah itu." tunjuk Rafka kearah sekumpulan mawar merah.
Sang pemilik toko terlihat diam. Mungkin dalam hatinya kini berkata "Apa dia tidak melihat jika tokonya sudah tutup." namun Rafka kembali menimpali permintaan nya.
"Saya ingin memberi hadiah untuk istri saya Pak." timpal Rafka. Sehingga membuat Pak tua pemilik toko bunga tersebut kembali masuk kedalam dan mengambil setangkai mawar merah yang di inginkan Rafka.
"Berapa Pak?"
"20 ribu." sahut pak tua.
Rafka kemudian mengeluarkan uang kertas senilai seratus ribu rupiah. Lalu ia pun menyerahkan nya kepada Pak tua tersebut.
"Ini Pak, kembalian nya ambil saja. Saya sangat berterima kasih karena bapak sudah mau repot-repot membuka tokonya kembali buat saya." ujar Rafka seraya sedikit menundukkan kepalanya hormat.
"Sama-sama. Tapi saya jadi tidak enak loh nih." ucap Pak Tua.
"Tidak apa-apa Pak. Saya ikhlas." timpal Rafka sembari tersenyum.
"Hmm, yasudah, cepatlah pulang sebentar lagi mau magrib." ucap Pak Tua.
Rafka pun kemudian undur diri. Ia bergegas masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Pak Tua sang pemilik toko mulai menghidupkan sepeda motornya dan berlalu pergi dari sana.
Rafka kemudian menghidupkan mesin mobilnya, menjalankan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan ia terus mengingat Annisa sembari bertanya-tanya didalam hati. "Apakah Nisa akan menerima bunga pemberian ku. Tanya nya di dalam hati.
***
"Tin . .tin . .
Suara klakson mobil terdengar jelas. Pak Sofyan yang diutus menjaga rumah kemudian bergegas membukakan pintu pagar rumah.
"Drrrrrrrrt
"Terima kasih Pak." ucap Rafka lembut sembari tersenyum kepada Pak Sofyan
"Sama-sama den." sahut Pak Sofyan hangat.
Rafka kemudian memarkirkan mobilnya di garasi luar mobil. Lalu ia pun turun dan bergegas masuk kedalam rumah sembari memegang mawar merah yang dibelinya barusan di pinggir jalan. Di telusuri nya seisi rumah namun ia tak kunjung menemukan sosok Annisa yang dicari nya.
"Kemana Nisa pergi? Dia tak terlihat dimanapun dirumah ini. Apa jangan-jangan dia ada didalam kamarnya? Coba cari kesana deh.
Gumam Rafka
Ia kemudian berjalan menuju kerah kamar Annisa dan tak lama kemudian kini ia sudah berdiri tepat di depan pintu kamar.
"Masuk nggak ya? Kalau tiba-tiba masuk takut nya nanti seperti kemarin, memalukan sekali.
Gumam Rafka seraya mengingat kejadian tempo hari saat ia dengan lancang masuk kedalam kamar Annisa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sedangkan saat itu Annisa sedang mengganti bajunya, sehingga Annisa menjerit histeria saat melihat keberadaan nya.
Rafka kemudian memilih untuk mengetuk pintu kamar Annisa terlebih dahulu.
"Tok . .tok . .tok
Ketuk nya pelan namun seperti nya tidak ada reaksi dari dalam sehingga Rafka mengulang ketukan nya dengan sedikit keras.
"Tok . .tok . .tok . .
Di dalam kamar. Annisa yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi kemudian bergegas pergi kedepan pintu kamar. Lalu ia membukanya.
"Abang?" ucap Annisa seraya mengernyitkan dahi saat melihat Rafka yang kini sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Nisa," ujar Rafka tersenyum bahagia.
"Ada apa bang? Tumben?" tanya Annisa dengan raut wajah heran karena selama ini Rafka tidak pernah mampir kekamarnya semenjak kejadian tempo hari.
"Aku cuma mau ngasih ini sebagai ucapan permintaan maaf ku, karena, selama ini aku telah banyak menyakiti hatimu." ucap Rafka seraya menyerahkan setangkai mawar merah yang dibelinya barusan.
"Bunga?" Annisa kemudian mengernyitkan mata saat melihat bunga yang dibawa Rafka.
__ADS_1
"Ya, apa kamu tidak suka." ucap Rafka sedikit ragu.
"Nisa suka." jawab Nisa seraya mengambil bunga yang dibawa Rafka untuknya.
Diraih nya kelopak bunga bagian atas yang tertutupi dengan kertas kaca pembungkus bunga tersebut. Itu ia lakukan karena dia sudah mengambil air wudhu nya untuk segera menunaikan shalat magrib dan tak ingin mengulang lagi jika harus bersentuhan kulit dengan Rafka.
"Terima kasih." ucap Annisa seraya menutup kembali pintu kamarnya.
"Pum!!
Rafka tersentak di tempatnya. Ia tak menyangka jika Annisa bisa sebegitu dingin terhadapnya.
"Teganya kamu Nis, langsung menutup pintu sebelum kepergianku.
Gumam Rafka sembari berjalan menaiki anak tangga menuju kearah kamarnya.
Didalam kamar Annisa.
"Kenapa aku tadi langsung menutup pintu kamar sebelum kepergian Abang sih? apakah aku sungguh keterlaluan." Annisa berbicara sendiri didalam kamar seraya melangkahkan kakinya menuju meja rias miliknya.
"Tapi kan ini sudah magrib dan aku ingin segera menjalankan kewajiban ku sebagai umat muslim. Seharusnya Abang mengerti itu kan." ucapnya lagi sembari menaruh bunga pemberian Rafka diatas meja riasnya.
"Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang aku shalat dulu sebelum waktu magrib keburu habis."
Setelah itu, Annisa kemudian berjalan kearah lemari untuk mengambil mukenanya dan segera menjalankan ibadah nya.
Setelah selesai melaksanakan shalat nya. Annisa kemudian segera menyalin mukenanya. Seperti biasa setelah merapikan mukenanya ia langsung menyimpannya kembali kedalam lemari. Setelah itu ia pun berjalan menuju meja rias karena ingin membetulkan hijabnya. Disana, mawar merah pemberian Rafka terletak begitu saja. Annisa melihatnya, lalu ia pun mengambilnya.
"Auww!!" ringis Annisa. Tangan nya tertusuk duri saat mencoba melepaskan kertas yang membaluti mawar tersebut.
"Mawar memang indah. Namun jika tidak berhati-hati saat menyentuhnya, maka tanganmu akan terluka. Sama seperti diriku, berharap semua akan indah pada waktunya namun sekarang perasaan ku semakin terluka.
Gumam Annisa.
Ia kemudian meletakkan kembali mawar tersebut. Lalu berjalan kearah pintu kamar dan keluar darisana. Annisa kemudian melangkah menuju arah dapur. Meskipun perasaan nya terluka mengingat kejadian di rumah sakit tadi pagi. Namun ia masih tetap menjalani perannya sabagai seorang istri karena tak ingin durhaka terhadap suaminya.
Kini Annisa telah selesai menyajikan makanan kesukaan Rafka diatas meja. Setelah itu ia pun segera pergi untuk memanggil Rafka dikamarnya. Namun belum lagi langkah Annisa meninggalkan ruang makan. Tiba-tiba saja Rafka muncul dihadapan Annisa.
"Deg,
Jantung Annisa berdebar kencang saat bertatap muka begitu dekat dengan Rafka. Namun ia berusaha menahan perasaan nya agar tak begitu terlihat oleh Rafka.
"Nisa, meskipun kamu mulai menyukai suamimu dan ingin mempertahankan pernikahanmu. Namun kamu tidak boleh terlihat lemah dihadapan nya.
Gumam Annisa seraya menatap kearah Rafka.
"Deg,
Jantung Rafka berdebar kencang saat melihat tatapan Annisa yang tampak serius kepadanya.
"Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat saat menatap wajah Annisa dengan jarak dekat seperti ini? Mungkinkah ini semua karena aku merasa bersalah kepadanya.
Gumam Rafka.
Namun ia berusaha menepis gejolak yang mulai terasa di dirinya dengan cara bersikap sesantai mungkin sekarang.
"Mau kemana Nis?" Tanya Rafka.
"Mau kekamar Abang untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah siap." Jawab Annisa.
"Tapi, karena sekarang Abang sudah ada disini. Nisa jadi nggak perlu repot-repot lagi kesana." Ujarnya kembali.
Ia pun kemudian mundur dari hadapan Rafka dan berjalan menuju kearah meja.
"Duduklah. Nisa akan mengambilkan makanan untuk Abang." Ucapnya lagi sembari mengambil piring yang telah disusun oleh nya dan segera menuangkan nasinya diatasnya.
Rafka kemudian menghampiri meja makan. Lalu ia menarik sebuah kursi yang ada disana dan duduk diatas nya.
Kali ini Annisa tak menanyakan apapun lauk yang diinginkan Rafka seperti biasanya. Ia mengambil semuanya atas inisiatifnya sendiri dan setelah itu diletakkan nya piring yang telah berisi nasi beserta lauknya dihadapan Rafka.
"Silahkan Bang." Ujar Annisa seraya berjalan menuju kursi yang berada diseberang jalan.
Melihat sikap Annisa yang begitu dingin terhadapnya. Rafka kemudian mengerutkan keningnya. Ia menghela nafasnya berusaha sabar dan bisa memahami kondisi Annisa saat ini. Lalu, ia pun mulai menyantap makanannya tanpa protes sedikitpun kepada istrinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1