
Di kediaman Ibunya Annisa.
Hari ini Winda ada mata pelajaran kuliah sore. Sehingga pagi ini ia telah rapi dengan pakaian casual nya. Ya, Winda ingin pergi ke Toko kue karena begitu banyak pesanan yang menumpuk disana. Belum lagi para pengunjung
yang sengaja mampir khusus untuk menikmati kue buatan mereka langsung di tempat nya sembari meminum segelas Coffe favorit mereka.
“ Bu, Winda pamit dulu ya.” Diraih nya tangan Ibunya dan kini menyalim nya.
“ Iya, hati-hati ya Nak.” Kata Ibu.
“ Ayah mana Bu?” Winda tampak melirik kesana-kemari mencari keberadaan Ayahnya.
“ Ayah ada dikamar, tadi baru saja masuk.” Ucap Ibu.
Winda mengangguk mengerti.
“ Ya sudah, kalau begitu Winda kekamar saja deh pamit ke Ayahnya.” Ujar Winda. Kini ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kearah kamar menemui Ayahnya.
“ Assalamu’alaikum Ayah.” Winda memberi salam ketika masuk kedalam kamar.
“ Wa’alaikum salam.” Balas Ayah.
Lalu kini ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kearah ranjang yang sedang di baringi Ayahnya sekarang.
“ Ayah, kok tumben masih pagi Ayah sudah tidur lagi?” Tanya Winda sembari memegangi tangan Ayahnya.
Wajahnya juga terlihat begitu cemas saat ini.
“ Ayah Cuma lagi ingin rebahan saja.” Ujar Ayah.
“ Jangan bohong Yah.” Kata Winda.
Melihat wajah putrinya yang kini mulai cemberut. Membuat Ayah kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk disamping anaknya. Diraihnya tangan putrinya itu, lalu di letakkan nya di dahinya.
“ Lihat, tidak panas kan?” Ayah berusaha meyakinkan putrinya.
Iya juga sih, dahi Ayah suhunya biasa saja. Hmm, mungkin saja saat ini Ayah benar-benar ingin rebahan saja.
Pikir Winda.
“ Kamu terlihat sudah rapi. Mau pergi kemana? Bukankah hari ini mata pelajaran kuliahmu sore?” Tanya Ayah.
“ Winda mau ke Toko kue Yah, hari ini banyak sekali kerjaan disana. Lagi banyak ordera, dan juga para pengunjung semakin bertambah ramai setiap harinya. Sehingga membuat para karyawan hampir kewalahan menanganinya.” Jelas Winda.
Ayah pun mengangguk mengerti.
“ Alhamdulillah jika memang seperti itu. Sekarang kamu cepetan berangkat, bantu kakakmu untuk mengurus bisnis nya. Apalagi sekarang semenjak ia menikah, maka akan lebih sibuk baginya untuk mengurus suaminya dirumah.” Kata Ayah.
“ Iya Yah, Winda tau. Yasudah, Winda pamit dulu ya mau langsung kesana.”
“ Iya Nak, hati-hati dijalan ya.”
__ADS_1
“ Iya Ayah. Assalamu’laikum.”
“ Wa’alaikum salam.” Balas Ayah. Kini Winda pun kembali
melangkah keluar dari kamar Ayah.
Beralih kearah pintu keluar lalu lalu menuju kearah motornya yang di parkir begitu saja disana.
Brumm! Brumm!
Terdengar suara motor Winda saat ia mulai memanaskan nya. Membuat Ibu yang saat ini sedang menyirami tanaman nya menoleh kearah Winda.
“ Kamu sudah mau pergi Win?”
“ Iya Bu, Winda pergi dulu ya. Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam.”
Winda pun kini pergi meninggalkan rumah menuju ke Toko kue yang terletak tak jauh dari kampusnya. Dengan suasana hati yang riang gembira ia membawa motor nya menelusuri jalanan kota. Hingga pada suatu ketika motor
yang ia bawa tiba-tiba saja berhenti dengan sendirinya.
“ Sial!” Umpatnya.
Lalu kini perlahan Winda mendorong motornya ke tepian jalan agar tak menganggu pengendara yang lainnya. Dilihatnya kearah motornya dan juga ke seluk beluk area letak mesin nya. Berusaha mencari tahu apa penyebab dari berhentinya sepeda motornya itu. Namun, sayang nya Winda sama sekali tak mengerti dengan permesinan. Sehingga kini membuatnya pasrah harus mendorong motornya menulusuri jalan dan mencari bengkel terdekat.
“ Ya Tuhan, cuacanya panas lagi. Hiks, hiks.” Keluh nya sambil terus mendorong motornya.
Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mobil berbunyi. Namun Winda tak menghiraukan nya karena ia merasa memang berjalan pada alurnya.
Tin! Tin! Tin!
“ Siapa sih!” Winda mengerang kesal.
Sudah capek dorong motor. Eh, sekarang dengan suara klakson mobil sehingga membuat Winda semakin kesal.
Tin! Tin!
“ Apaan sih! Tidakkah anda lihat saya berjalan pada alurnya.” Tegas nya dengan mengerutkan dahinya.
“ Ehm, galak banget sih Mba.” Ujar seorang pria yang membunyikan klakson.
“ Kak Dedi.” Winda mengerutkan dahinya.
“ Hahahah!” Gelak Dedi.
“ Winda kira tadi siapa. Huh!” Ucap nya.
“ Anak gadis nggak boleh galak-galak.” Kata Dedi.
__ADS_1
“ Kak Dedi sih! Bukannya bantuin, eh malah ngisengin. Kesal kan jadinya.” Ujar Winda dengan tatapan kesal.
Dedi pun kini turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Winda.
“ Motor mu kenapa didorong seperti ini, mogok?” Tanya nya.
“ Yaiyalah, kalau nggak mogok ngapain juga didorong!” Ketus nya.
“ Hihihihi.” Dedi terkekeh kecil.
“ Ketawa lagi! Nggak lucu tau.”
“ Mau di bantuin nggak?”
“ Winda nggak mau minta. Jika Kak Dedi mempunyai hati nurani, tanpa diminta pun Kak Dedi pasti akan bantu Winda.” Ujar Winda.
“ Gitu amat jawabnya.” Balas Dedi. “ Ya sudah, karena Kak Dedi mu ini orang nya baik. Maka aku akan nolong kamu.” Katanya sembari memeriksa motor Winda. “ Oya, kamu emang nya mau kemana?” Tanya nya kemudian.
“ Mau ke Toko Kak Nisa.” Jawab Winda.
Dedi kini kembali berdiri dengan tegak sembari menepuk-nepuk kedua telapak tangan nya membersihkan debu disana.
“ Yuk aku antar.” Tawar nya.
“ Kalau Winda ikut Kak Dedi, terus motornya?”
“ Sebentar lagi orang bengkel akan datang kesini mengambil motormu. Jadi sekarang kamu bisa tenang ikut denganku.” Kata Dedi.
“ Loh, kok bisa?”
Winda terlihat bingung.
“ Ya bisalah, kan aku sudah menelpon orang bengkel sejak tadi aku melihat mu mendorong motormu dari kejauhan. Karena aku tahu, tidak ada bengkel didaerah sini.” Jelas Dedi.
Winda pun tersenyum di buatnya.
“ Hehehe, makasih ya Kak. Maaf kalau tadi Winda sedikit ketus, hehehe.”
“ Iya nggak apa-apa. Lagian wajahmu terlihat begitu cantik saat menunjukkan ekspresi seperti tadi.” Goda nya.
Deg.
Seketika wajah Winda memerah dibuat nya. Jantung nya juga berdegup kencang tatkala mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Dedi.
“ Hahaha, wajahmu merah. Kamu pasti malu ya.” Godanya lagi yang kini semakin membuat wajah Winda semakin merah dibuatnya.
Sementara itu dari arah lain terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan juga tanpa sengaja melihat kedekatan mereka.
Winda, bisa-bisanya kalian begitu mesra meskipun di pinggir jalan.
Pria itu mengepalkan tangan nya di setir kemudinya sembari terus fokus mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG