Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 61


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang kerumah nya. Rafka tak hentinya memikirkan Annisa, kini ia pun mulai merangkai sebuah kata-kata yang pas untuk meminta maaf nanti.


Ia juga memikirkan, hadiah apa yang akan ia bawa pulang untuk Annisa sebagai bentuk permintaan maaf nya. Hingga akhirnya ia pun memberhentikan mobilnya di salah satu toko kue yang lagi hits di kota itu.


Rafka kemudian turun dan melangkah masuk kedalam toko kue tersebut. Kini ia pun mulai melangkah kearah Mba-mba yang berdiri di dekat kasir.


"Ekhm, Mba, saya pesan satu bungkus coklat ya. Jangan lupa pula diikat dengan pita di kotak nya." Ucap Rafka kepada penjaga kasir.


"Baik Pak, tunggu sebentar ya." Ucap penjaga kasir tersebut.


Rafka pun kemudian menunggu dan duduk di sebuah kursi yang ada di samping meja kasir. Hingga tak lama kemudian, penjaga kasir datang dengan membawa pesanan yang ia minta. Terlihat kini penjaga kasir tersebut tengah menyimpulkan sebuah pita yang diminta Rafka. Sehingga kini coklat itu terlihat sangat manis meskipun belum di buka.


"Ini Pak, sudah selesai." Ucap penjaga kasir.


Mendengar hal itu, Rafka pun kemudian membayarnya dan mengambil pesanan nya dan kemudian pergi meninggalkan toko kue tersebut.


***


Dirumah.


Sedari tadi Annisa sibuk mengerjakan pekerjaan rumah nya. Setelah selesai, ia pun beranjak ke kamar nya untuk membersihkan diri dan menjalankan kewajiban nya menunaikan shalat dzuhur. Setelah selesai menjalankan perintah nya, kini ia pun bergegas untuk segera bersiap-siap ke toko kue nya.


Gamis berwarna tosca dengan kombinasi abu-abu ia kenakan. Serta Pashmina berwarna abu-abu ia pakai, agar senada dan juga semakin memperindah penampilan nya.


Ponsel yang sedari tadi di charge nya di atas meja kemudian di ambil nya. Saat membuka ponselnya, dilihat nya ada tiga panggilan yang tak terjawab dari nomor yang tak ia kenal.


"Tiga panggilan tak terjawab, siapa ya?


Gumam nya.


Namun ia tak menghiraukan nya. Malah kini ponsel nya lansung ia masukkan kedalam tas rajut sedang milik nya.


"Kalau memang penting, setidak nya nomor itu akan mengirim pesan kan.

__ADS_1


Gumam nya.


Lalu ia pun segera bergegas melangkah keluar dari kamar nya menuju kearah pintu depan, karena disana taksi yang di pesan nya sudah tampak menunggu.


"Pak Sofyan. Nisa pergi dulu ya." Ucap Annisa kepada penjaga rumah.


"Oh, iya Non. Hati-hati ya." Sahut Pak Sofyan.


"Baik Pak, makasih ya." Timpal Annisa seraya melangkah pergi meninggalkan rumah dan naik ke taksinya.


Taksi tersebut kemudian pergi meninggalkan rumah dan menuju kearah toko kue yang di minta Annisa. Karena hari ini Annisa berniat pergi ke toko kue cabang keduanya yang berada di dekat salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota nya.


Lima menit kemudian setelah kepergian Annisa. Akhirnya mobil Rafka sampai di depan rumah. Melihat itu, Pak Sofyan yang bertugas berjaga kemudian dengan sigap membuka pintu gerbang selebar-lebar nya. Agar mobil tuan nya bisa dengan leluasa memasuki halaman rumah.


Setelah memarkirkan mobilnya. Rafka kini turun dengan senyum ceria yang mengambang di bibirnya. Ia kini langsung memasuki rumah nya dan berjalan menuju kearah kamar Annisa.


Ketika sampai disana. Di gedor nya pintu kamar itu sembari memanggil nama Annisa.


"Nisa . ." Panggil nya.


Namun tak ada yang menjawab dari dalam kamar.


"Nisa . ." Panggil nya lagi, namun hasil nya sama.


Rafka tak patah arang. Ia mencoba terus memanggil nama Annisa hingga sampai tujuh kali. Namun yang di panggil tak kunjung keluar. Sungguh kini Rafka sudah tak sabar. Kini ia mulai meraih gagang pintu tersebut lalu membukanya dan kemudian melangkah masuk kedalam kamar.


Dilihat nya seisi kamar. Namun tak juga ia temui sosok yang dicarinya. Ia lalu pergi meninggalkan kamar Annisa dan berjalan mengitari seisi rumah dengan sekotak coklat di tangan nya. Namun lagi-lagi sayang nya tak dijumpai nya sosok Annisa disana.


"Kemana kamu Nis? Kenapa kamu tidak bilang dulu kepadaku jika ingin pergi meninggalkan rumah.


Gumam Rafka.


Ia sudah lupa jika saat ini Annisa bahkan tidak memiliki nomor ponsel nya. Jadi bagaimana ia harus meminta izin dulu kepadanya.

__ADS_1


Kini Rafka mulai kesal dengan tak adanya Annisa dirumah saat ini. Padahal ia sudah bela-belain untuk pulang lebih awal hanya untuk bisa bertemu dengan Annisa dan meminta maaf kepadanya.


Rafka mulai gundah. Hingga ia memutuskan untuk menghampiri Pak Sofyan untuk menanyakan kemana perginya Annisa sekarang.


"Pak, lihat Nisa nggak?" Tanya nya kepada Pak Sofyan yang sedang berjaga.


"Oh, Non Nisa tadi pergi naik taksi Den." Jawab Pa Sofyan .


"Oh, apakah dia bilang jika ingin pergi kemana?" Tanya Rafka lagi.


"Enggak Den," Ucap Pak Sofyan apa adanya.


"Hmm, ya sudah. Terima kasih ya Pak." Ucap Rafka seraya berlalu pergi meninggalkan Pak Sofyan di tempat jaga nya. Sedangkan


Kini ia pun bergegas masuk menuju kedalam kamar nya.


Sesampainya di dalam kamar. Rafka kemudian berjalan menuju kearah ranjang dan meletakkan coklat yang dibawanya diatas meja disamping ranjang. Setelah itu ia melepaskan jas nya ia kenakan lalu melonggarkan kemejanya dengan membuka beberapa kancing yang ada disana.


Disana diatas ranjang. Rafka kemudian duduk sejenak, lalu setelah itu ia pun mulai membaringkan tubuhnya secara perlahan hingga kini ia mulai menengadah kelangit-langit kamar.


"Kemana kamu Nisa. Kenapa tidak bilang dulu kepadaku jika kamu ingin pergi. Apakah kamu tau jika saat ini aku sangat ingin sekali bertemu dengan mu. Nisa . . ku mohon segeralah kembali kerumah.


Gumam Rafka.


"Oh iya, bukankah aku sudah memiliki nomor ponsel nya. Apa aku hubungi saja dia lalu menyuruh nya untuk segera pulang sekarang. Tapi bukankah tadi pagi ia tidak menjawab panggilan dariku. Haruskah aku menghubunginya lagi sekarang. Tapi bagaimana reputasi ku nanti di depan nya jika ia melihat begitu banyak panggilan masuk dariku. Bisa-bisa ia mengira jika saat ini aku mulai menaruh hati kepadanya dan mengira aku sedang rindu dan sangat membutuhkan nya sekarang. Tapi, bukankah itu benar. Saat ini aku memang sangat ingin melihat nya dan juga ingin sekali untuk segera memberikan sekotak coklat itu kepadanya. Tapi . . Aaaaarrgg . . Raf, sadarlah. Apa sih sebenarnya yang sedang kau inginkan sekarang. Apakah kau ingin segera bertemu dengan Nisa atau hanya ingin memberikan coklat itu dan segera mengutarakan permintaan maaf mu.


Gumam Rafka.


Hatinya sendiri pun mulai bertanya-tanya saat ini atas apa yang sedang diinginkan nya sekarang.


Hahaha . . kalian penasaran kan. Nantikan episode selanjutnya ya besok.๐Ÿ˜


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2