Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 8


__ADS_3

"Apa.!! Uhuk . . uhuk . ." Dedi sangat terkejut sehingga ia menelan kacang yang ada di dalam mulut nya, hingga membuat nya tersedak.


Disambar nya botol air dingin yang ada di atas meja, dan langsung meminum nya hampir setengah dari isi sebelum nya.


"Kenapa? Terkejut mendengar undangan ku?" Ucap Rafka dengan raut wajah datar.


"Gila, gimana nggak terkejut coba? Satu minggu lagi Raf.!! Haha." Ucap nya disusul gelak tawa darinya.


Meskipun awal nya terkejut. Namun ia begitu senang saat mengetahui sahabat nya akan menikah satu Minggu lagi.


"Sebenar nya aku ingin menolak perjodohan ini demi Maya. Tapi setelah melihat kejadian hari ini, aku jadi bingung.." Ujar Rafka serius.


"Kalau menurut ku sih, mungkin dia memang jodoh mu. Bukti nya disaat kamu ingin membatalkan pernikahan mu demi Maya. Allah menunjukkan keburukan Maya di hadapan mu." Ujar Dedi memberikan pendapat nya


"Mungkin kamu ada benar nya. Tapi, apakah aku bisa menjalani hubungan tanpa Cinta dengan gadis itu." Ucap Rafka yang kini mulai menyenderkan kepala nya di sandaran sofa.


"Raf, banyak orang diluar sana yang menikah tanpa didasari Cinta. Tapi akhirnya mereka bahagia." Ujar Dedi.


"Tapi Ded, kamu tau sendiri kan. Tidak mudah untuk ku melupakan Maya." Ucap Rafka yang menatap serius sahabat nya.


"Kamu masih memikirkan Maya? Sudahlah Raf, cewe seperti itu nggak pantas buat kamu. Lagi pula, Cinta akan tumbuh seiring berjalan nya waktu." Ujar Dedi.


Rafka terdiam. Ia mulai merenungi setiap ucapan sahabat nya.


"Mungkin Dedi benar. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan ku, dan menganggap Maya bukan jodoh ku.


Gumam Rafka.


***


Setelah selesai menumpahkan segala unek-unek yang ada di kepala nya. Kini Rafka pamit pulang kepada Dedi.


"Ded, makasih ya uda mau dengerin aku." Ucap Rafka sembari berjalan pergi yang dampingi Dedi sahabat nya menuju ke arah depan rumah.


"Ya, nggak masalah." Jawab Dedi.


"Kenapa nggak nginap aja? Udah malam juga." Ujar nya lagi.

__ADS_1


"Nggak deh, lain kali saja. Malam ini aku mau tidur dirumah." Ujar Rafka sembari terus melenggang.


Sesampai nya di teras.


"Ya sudah, hati-hati ya jangan ngebut." Ucap Dedi seraya menepuk pelan bahu Rafka.


"Ya" Jawab nya sembari berlalu menuju ke arah mobil yang terparkir tak jauh darisana.


Rafka kemudian melajukan mobil nya meninggalkan kediaman Dedi. Sedangkan Dedi yang mengantar nya sampai di depan teras, kemudian masuk kedalam setelah melihat mobil Rafka yang telah berlalu meninggalkan rumah nya.


Rafka menuju ke arah jalan rumah nya. Jalanan yang sepi membuat nya sangat leluasa untuk mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, sehingga tak butuh waktu lama baginya untuk bisa sampai di kediaman orang tuanya.


Tin . . tin . . tin . .


Suara klakson mobil berbunyi begitu sampai di depan pagar, dab membuat para satpam rumah langsung berdiri dengan sigap dan membuka pintu pagarnya.


Setelah pintu pagar dibuka. Rafka kemudian memasukkan mobil nya kedalam dan memarkirkan nya di tempat khusus mobil. Setelah itu ia pun berlalu menuju ke arah pintu masuk rumah nya.


Tap tap tap


"Rafka. ." Sapa Maulana saat melihat putranya yang sudah pulang.


"Ya, abi." Jawab Rafka sembari menoleh kebelakang dan melihat Abi nya sedang duduk di sofa.


Maulana yang semula membaca buku kemudian menutup nya.


"Kemarilah." Ujar Maulana menyuruh putranya untuk mendekat kearah nya.


Rafka pun kemudian melangkah mendekat ke arah Abi nya yang sedang menunggu nya di sofa.


"Ada apa Abi?" Ucap nya sembari duduk di samping Abi.


"Apa tadi kamu sudah bertemu dengan Annisa." Tanya Abi kepada putranya.


"Sudah Abi." Jawab Rafka singkat.


"Syukurlah . . bagaimana persiapan baju pengantin kalian, semua nya sudah beres kan." Tanya Abi lagi.

__ADS_1


"Sudah Bi, cuma tadi punya Rafka agak longgar, tapi sudah di perbaiki kok sama Tante Elis." Jawab nya dengan wajah datar.


"Kamu kenapa? Apa kamu tidak senang dengan perjodohan ini?" Abi menatap wajah Rafka dan menyadari tak ada rona kebahagiaan disana.


"Nggak apa-apa Bi, Rafka cuma capek seharian ini, jadi ya tampak sedikit lesu."Ujar nya sembari tersenyum kecut.


Rafka juga tak menjawab pertanyaan Abi tentang perjodohan. Lagi pula jika ia menolak, Abi pasti akan tetap memaksa agar dirinya menikahi Annisa. Apalagi mengingat tanggal pernikahan yang sudah dekat yaitu satu minggu lagi. Jika saja ia tak melihat Maya berkhianat hari ini. Mungkin menjelang hari pernikahan nya, Rafka akan pergi bersama Maya untuk menikahi nya. Baru setelah itu ia meminta restu kepada kedua orang tuanya.


Namun ekspektasi berbanding terbalik dengan kenyataan. Hari ini ia jelas-jelas melihat Maya dengan pria lain, dan itu sangat membuatnya marah sehingga ia terpaksa menikahi Annisa yang sama sekali tak di Cintai nya.


"Bagaimana menurutmu Annisa? Dia gadis yang cantik kan?" Ucap Maulana menanyakan.


"Ya, dia memang gadis yang cantik dan juga baik." Jawab Rafka apa adanya.


"Alhamdulillah jika kamu menyukai nya." Timpal Abi.


"Annisa memang gadis yang cantik dan juga baik hati. Tapi Abi salah jika mengira Rafka menyukai nya. Jujur rafka sama sekali tak tertarik dengan nya Bi.


"Ya sudah, masuklah ke kamar mu dan istirahat." Ucap Maulana saat melihat raut wajah putranya yang terlihat gusar.


Rafka kemudian bangkit dari duduk nya dan melangkah menuju ke arah anak tangga. Ia berjalan dengan gerakan cepat saat menaiki anak tangga tersebut dan tak lama kemudian Rafka pun sampai di dalam kamar nya.


Disana Rafka memandang ke sekeliling ruangan kamar. Di lihat nya Jam kecil di atas meja, jam Alarm yang di berikan Maya kepadanya.


Ia kemudian berjalan menuju ke arah meja. Lalu, di ambil nya jam tersebut dan di pandanginya.


"Maya.!!" Erang nya kesal.


"Bisa-bisa nya aku tertipu olehmu. Wajah polos mu sungguh bertolak belakang dengan sikapmu. Dasar pengkhianat!!!" Ucap nya lagi kesal.


Ia kemudian membuang jam Alarm yang berwarna Pink tersebut kedalam tong sampah milik nya yang biasa ia pakai untuk membuang kertas-kertas tak terpakai yang ada di dalam kamar nya. Lalu ia melangkah pergi menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.


"Suara . . dengarkanlah aku, apa kabar nya pujaan hatiku . . Aku disini menunggu nya masih bertahan didalam hatinya. . .


Nada panggilan Rafka, yang sengaja ia steel apabila Maya menelfon nya. Tak ada yang mengangkat, karena saat ini Rafka sendiri sedang berada di kamar mandi membersihkan tubuh nya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2