
Setelah kepergian Susi kini Rafka kembali menutup pintunya. Bibirnya seketika tersenyum saat mengingat sang Bunda yang sudah tak sabar menantikan cucunya.
Bunda ini sungguh sangat berusaha mewujudkan keinginan nya untuk segera menimang cucu. Tenang saja Bunda, anakmu yang berbakti ini juga akan terus berusaha mewujudkan keinginan Bunda.
Gumam nya sembari melangkah menuju kearah ranjang.
Setibanya disana, Rafka lalu meletakkan nampan yang berisikan minuman itu diatas sebuah meja kecil yang berada disamping ranjang. Sementara kini Annisa sudah terlihat membaringkan badan nya dengan posisi membelakanginya.
Melihat hal itu entah mengapa membuat Rafka tersenyum. Dengan senyuman penuh makan ia kemudian naik kesana dan mendekati Annisa. Dirabanya bahu istrinyaa itu lalu kini perlahan di tepuknya dengan pelan.
“ Sayang, kamu sudah tidur? Cepat sekali.” Ucap nya pelan.
“ Hmm,” Annisa menganggukkan kepalanya.
“ Tapi aku belum mengizinkan mua untuk tidur loh.” Kata nya sembari berusaha membalikkab tubuh Annisa mengahadap kearahnya.
“ Bang, mata Nisa sangat mengantuk.” Ucap nya dengan suara manja.
“ Tapi aku belum mengizinkan mu tidur.” Ucap Rafka lagi mengulang kalimatnya.
Mendengar kalimat itu membuat Annisa yang saat ini sudah memejamkan matanya perlahan kembali membukanya.
“ Abang nggak sayang Nisa lagi ya.”
Annisa kembali bersikap manja, membuat Rafka sendiri tersenyum dibuatnya.
“ Sayang, aku sayang sekali padamu.” Kata Rafka sembari memeluk Annisa. “ Tapi bukankah saat ini kita juga harus melaksanakan tugas kita sebagai seorang anak.” Tambah nya lagi.
“ Tugas? Tugas seorang anak? Maksudnya?” Annisa bertanya-tanya dengan menunjukkan mata sipit khasnya orang yang sangat mengantuk.
“ Bukankah Ibumu dan Ibuku menugaskan kita untuk segera memberikan mereka cucu. Jika kamu tidur duluan seperti ini bagaimana bisa kita mewujudkan keinginan mereka, bukankah kita harus bekerjasama untuk mewujudkan keinginan mereka.” Ujar Rafka.
“ Besok saja Bang, hari ini Nisa lelah sekali.” Kata Annisa manja.
“ Bunda ku sudah menyuruh Bik Yam untuk membuatkan minuman ini untukmu. Katanya minuman ini bagus untukmu, jadi kamu harus meminumnya.” Rafka meraih cangkir itu lalu menyodorkan nya kearah Annisa.
Tanpa banyak bertanya Annisa lalu mengambil cangkir itu dan segera meminum nya. Baru sedikit minuman itu masuk kemulutnya, tiba-tiba saja ia hampir menyemburkan kembali minuman itu keluar. Untung saja dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya. Sehingga kini minuman tersebut tak jadi tersembur keluar dan tertahan di mulut nya.
Glek!
Dengan segera Annisa menelan nya. Lalu setelah itu ia kembali menyodorkan cangkir nya kepada Rafka.
“ Kamu kenapa? Rafka terlihat kebingungan melihat ekspresi yang di tunjukkan Annisa.
“ Pahit! Pahit sekali!”
Diraihnya tangan Rafka lalua dengan cepat ia meletakkan gelas nya disana.
__ADS_1
“ Tapi kamu harus menghabiskan nya.”
Rafka kembali menyodorkan cangkir minuman tersebut.
“ Demi kita dan juga kedua orang tua kita.” Kata nya lagi sembari meyakinkan Annisa.
“ Tapi Bang, Nisa….”
“ begini saja, biar aku yang menyuapi mu. Maka itu tidak akan terasa pahit lagi.” Kata Rafka dengan tatapan hangat.
“ Hah, emang nya bisa? Bagaimana caranya?” Dengan polos nya Annisa bertanya.
Membuat Rafka tersenyum karena nya.
“ Sini, mendekatlah. Akan aku tunjukkan padamu.”
Diraihnya tangan Annisa lalu menariknya agar gadis itu semakin dekat dengan nya. Kemudian ia terlihat meminum-minuman itu, lalu tanpa disangka ia mengarahkan mulutnya kearah bibir Annisa dan meminumkannya dengan mulutnya.
Glek! Glek!
Beberapa kali Rafka mengulang nya hingga minuman tersebut habis tak tersisa. Terlihat kini warna rona diwajah Annisa yang menahan malu karena Rafka.
“ Bagaimana? Tidak pahit lagi kan.” Kata Rafka sembari tertawa kecil.
Annisa diam seribu bahasa, tak menjawab sama sekali. Kini ia memilih memalingkan wajah berusaha menutupi rona di wajahnya.
Pasti saat ini Annisa sedang menyembunyikan rona diwajahnya karena perlakuan ku tadi.
Gumam nya.
Sementara itu Annisa yang kini sudah membarinkan diri, kini mulai menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga wajahnya.
“ Nisa ngantuk Bang mau tidur.” Kata nya sembari membalikkan tubuhnya.
“ Kamu baru saja minum obat penyubur kandungan loh, jadi nggak boleh langsung tidur. Harus melakukan itu dulu, agar obatnya bekerja dengan baik.” Dengan gerakan santai Rafka kini mulai ikut membaringkan diri. Perlahan ia juga mendekatkan diri dengan Annisa. “ Jika aku tidak berbuat sesuatu denganmu, maka sia-sia saja yang kamu minum tadi.” Kata nya lagi yang kini sudah menopangkan kepalanya dengan sebelah tangan nya. “ Apa kamu ingin
membuat usahamu ini jadi sia-sia.” Bisiknya kemudian.
Apa benar seperti yang dikatakan Abang tadi, jika aku meminum nya tanpa melewatkan malam bersama Abang maka semuanya akan jadi sia-sia?
Gumam nya.
Rafka kini mulai melanjutkan aksinya, diraihnya selimut istrinya itu lalu perlahan di turunkan nya.
“ Aku dengan sukarela menyerahkan diriku kepadamu, agar kelak kamu tidak usah lagi meminum ramuan pahit itu. Jika sekarang kamu tidak mau, maka yasudah tidur saja. Aku juga sudah lelah, akan segera beristirahat. Tapi kata Bunda tadi, jika kita tidak melakukan hal itu setelah kamu meminumnya maka reaksi obat itu akan berbanding terbalik.” Jelas Rafka dengan segala tipu muslihat nya.
Agar terkesan meyakinkan, ia lantas kembali membaringkan diri memposisikan diri sendiri untuk segera terlelap. Seolah-olah ingin menunjukkan jika dirinya tidak terlalu menginginkan nya. Padahal didalm hati, rasanya saat ini Rafka sudah mau menerkam nya langsung.
__ADS_1
Berbanding terbalik? Berarti maksudnya reaksinya akan buruk, aku akan sulit memiliki keturunan jika tidak melakukan nya sekarang.
Pikir Annisa.
Di turunkan nya selimutnya, lalu kini ia mendekatkan diri kearah Rafka yang kini tampak sudah memejamkan matanya. Lalu dengan polos nya Annisa berucap.
“ Bang jangan tidur dulu, Nisa mau.” Ucap nya pelan.
Tanpa membuka mata Rafka menjawab.
“ Mau apa?”
“ Ma-mau melakukan i-itu.” Annisa mulai gugup.
“ Itu apa? Yang jelas dong.” Kata Rafka yang masih menutup mata.
Apa Abang sudah bodoh? Tidakkah ia mengerti dengan maksudku? Haruskah aku mengatakan nya dengan terus terang.
Gumam nya.
“ Ni-nisa ingin menghabiskan malam dengan Abang.” Kata Annisa.
“ Menghabiskan malam? Yasudah tidurlah, maka kita akan menghabiskan malam bersama.” Rafka masih berlagak polos tak mengerti dengan apa yang diucapkan istrinya.
Jujur saja didalam hati ia sekarang sedang tertawa sengan sngat keras, kaena telah berhasil membuat Annisa sendiri yang memintanya. Hal ini adalah sesuatu yang sangat langka bukan, begitu pikirnya.
Aaaaa… harus bagaimana lagi aku menjelaskan. Haruskah aku berbicara dengan begitu vulgar?
Sementara Rafka kini mulai membalikkan badannya membelakangi Annisa.
Yasudah deh, katakan saja. Lagipula Abang adalah suamiku, mengatakan hal ini dengan sejelas mungkin juga tidak terlalu memalukan kan.
Pikirnya.
Perlahan, Annisa kini mlai membaringkan tubuhnya disamping Rafka. Meraih pinggan nya lalu menempelkan dagunya dibahu Rafka seraya berbisik.
“ Bang, Nisa mau kita bercinta sekarang. Agar obat itu bisa bekerja dengan baik dan juga kita bisa segera memiliki bayi nantinya.” Suaranya terdengar begitu pelan.
Nafasnya yang berhembus berat dan begitu dekat dengan telinga Rafka, membuat pria itu sama sekali tak bisa lagi menahan diri sekarang. Sehingga kini dengan nafas memburu dan juga gerakan cepat ia membalikkan dirinya dan merengkuh tubuh Annisa dibawah nya.
BERSAMBUNG
Do'a Ra, semoga Annisa bisa segera hamil.
Amin^^ Oya, jangan lupa mampir ke cerita di bawah ini ya👇
__ADS_1