Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 41


__ADS_3

" nisa, bunda pulang dulu ya nak," ucap bunda seraya memeluk menantu kesayangan nya yaitu nisa.


" iya bunda, hati - hati ya dan sering - sering lah main kesini ya bun," ucap nisa lembut


" iya, kamu juga sesekali main lah kerumah ya. bunda dan abi akan sangat senang jika kalian main dan menginap disana." ujar sang mertua.


" insya allah bunda," jawab annisa seraya tersenyum lembut.


" rafka, kamu jagain nisa ya untuk bunda, jaga diri nya dan juga hati nya dan jangan pernah sekalipun kamu menyakiti nisa ya nak," petuah sang bunda. rafka hanya mengangguk - anggukan kepala nya tanpa menjawab perkataan dari sang bunda.


" ya sudah, bunda pulang dulu ya." ucap bunda seraya membuka pintu mobil dan kemudian masuk kedalam mobil seraya kembali menutup pintu nya. bunda kini sudah berada di dalam mobil namun ia kini menurunkan kaca jendela nya agar bisa melihat dengan jelas anak dan mantu nya yang tersenyum gembira.


pak dirman mulai menghidupkan mesin mobil nya dan kini ia pun menjalankan nya dan kemudian meninggalkan kediaman rafka seraya mengemudi dengan kecepatan sedang.


mobil mama sudah berlalu pergi meninggalkan mereka yang sekarang berdiri di depan teras rumah. annisa pun kemudian masuk kedalam rumah tanpa berbasa - basi serta menoleh ke arah suami nya rafka.


" maafkan nisa bang, nisa masih merasakan sakit di hati nisa jika terus menatap abang


gumam nisa.


rafka mengerutkan kening nya saat melihat sikap nisa yang tiba - tiba berubah begitu dingin terhadap nya. ia berpikir mungkinkah annisa masih kesal terhadap nya atas kejadian tadi di rumah sakit, begitu pikir nya. namun ia tak ingin menanyakan langsung kepada nisa, toh fikir nya nanti atau besok nisa juga akan melupakan kejadian sepele itu.


rafka kemudian berjalan memasuki rumah nya. ia melangkah kan kaki nya secara perlahan saat menaiki anak tangga yang menuju ke arah kamar nya.


setiba nya di lantai atas. kini rafka berjalan mendekati pintu kamar nya namun disana ia kembali bertemu dengan istri nya itu.


annisa keluar dari dalam kamar rafka dengan membawa perlengkapan shalat yang ada di dalam pelukan nya. saat ia melihat rafka yang sudah hampir sampai di depan pintu kamar, annisa kemudian sedikit menundukkan kepala nya dan berjalan melewati rafka tanpa berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


" deg..


entah mengapa jantung rafka kini berdetak lebih kencang saat melihat annisa yang keluar dari kamar nya. namun entah mengapa tergurat kekecewaan di dalam hati nya saat melihat istri nya itu yang berlalu tanpa menatap ke arah nya.


" nisa..!! " entah mengapa mulut nya refleks memanggil nama nisa secara tiba - tiba.


" ada apa bang?" tanya nisa yang kemudian menoleh saat mendengar suami nya yang memanggil nama nya.


entah mengapa rafka hanya terdiam setelah panggilan nya terhadap nisa.


kenapa aku tiba - tiba memanggil nya. hatiku seolah tak rela saat melihat nya yang pergi tanpa menoleh kepadaku.


gumam rafka.


annisa yang tak melihat respon dari sang suami saat ia tanyai kemudian bergegas pergi dari sana meninggalkan rafka yang hanyut dalam fikiran nya sendiri.


maaf kan nisa bang, untuk sekarang nisa hanya bisa menjalankan tugas nisa sebagai seorang istri namun nisa tidak bisa bersikap manis di hadapan abang seperti dulu.


***


suara mobil terdengar dari luar dan tak lama kemudian bel berbunyi. annisa yang sedang memasak di dapur kemudian mengecilkan api kompor nya dan pergi ke arah depan untuk segera membukakan pintu rumah.


siap ya kira - kira yang bertamu sore hari begini.


gumam nya seraya membuka pintu rumah.


" assalamu'alaikum nisa," sapa dedi seraya tersenyum lembut saat melihat annisa yang membukakan pintu untuk nya.

__ADS_1


" wa'alaikum salam kak," jawab nya seraya tersenyum lembut.


" rafka ada di rumah nis?" tanya dedi seraya melirik ke dalam rumah.


" ada kak, abang sedang berada di kamar nya sekarang." ucap nya lembut


" masuk lag kak," annisa kemudian mempersilahkan dedi untuk masuk kedalam rumah nya.


" makasih ya nis," ucap dedi seraya melangkahkan kaki nya memasuki kediaman rafka dan juga annisa.


" kakak duduk lah dulu, nisa mau kembali ke dapur karena nisa sedang memasak untuk makan malam." ucap nisa seraya mempersilahkan dedi untuk duduk.


" wah, kamu masak nis, pantas saja bau nya harum sekali." ucap dedi dengan senyum khas nya.


annisa hanya tersenyum mendengar sanjungan dari mantan kakak kelas nya itu. ia pun kemudian berlalu pergi dari sana melanjutkan aktivitas nya memasak di dapur.


dedi kemudian mengeluarkan ponsel nya. memainkan nya dan kemudian mencari nama rafka yang ada disana. setelah nama rafka muncul di ponsel nya kini ia pun bergegas menghubungi sahabat nya tersebut.


" tut tut tut


terfon tersambung dan tak lama kemudian rafka pun menjawab nya.


" hallo," ucap rafka di balik ponsel


" eh raf, aku sekarang ada di rumah mu." ucap dedi tanpa berbasa - basi.


" apa.!! sejak kapan kamu ada disini?" tanya rafka dengan nada tak senang.

__ADS_1


" baru aja, kamu kenapa raf? kok dari nada suara mu kamu seperti tidak senang dengan kehadiran ku disini." ucap dedi yang paham betul seperti apa sahabat nya itu. bahkan dari nada suara nya pun ia tahu bahwa rafka tidak senang dengan kehadiran nya disana.


bersambung


__ADS_2