
Fikar berjalan dengan sangat tergesa-gesa meninggalkan kamar nya. Disana, diruang tengah ia menemukan seorang pelayan yang tengah membersihkan ruangan. Fikar lalu segera menghampiri pelayan tersebut, dan tak butuh waktu lama kini ia sudah berdiri tepat di hadapan salah satu pelayan Villa.
" Permisi Mbak, maaf mengganggu." Ucap Fikar sopan.
" Iya Den ada apa? Saya nggak merasa terganggu kok." Sahut pelayan Villa yang kini mulai menghentikan aktivitas nya.
" Saya mau minta tolong Mbak.." Fikar mengutarakan niat nya kenapa dia menghampiri pelayan wanita itu.
" Minta tolong apa? Silahkan Den Fikar utarakan, insya Allah sebisa mungkin saya akan coba membantu Den Fikar." Ucap sang pelayan.
" Ini Mbak, disini ada cctv nya nggak? Kalau memang ada, bisakah Mbak membawa saya keruang monitor cctv tersebut. Karena ada sesuatu hal yang harus saya pastikan dari sana." Ujar Fikar. Wajah nya juga tampak sangat berharap sehingga membuat pelayan wanita itu langsung mengiyakan permintaan nya.
" Baiklah Den, mari ikuti saya." Pelayan itu kemudian meletakkan semua pekerjaan serta peralatan bersih-bersih nya disana. Kini ia mulai berjalan dengan cepat menuju kearah salah satu ruangan yang ada di Villa tersebut. Sedangkan Fikar dengan setia mengikuti nya dari belakang.
" Den Fikar masuklah, disana adalah monitor cctv disetiap sudut ruangan Villa. Sudah beberapa hari ini tidak ada yang memantau. Karena Pak Amri yang biasanya mengotrol cctv dirumah sedang sakit, dan juga beliau sudah beberapa hari ini tidak masuk Den." Ujar pelayan wanita.
" Oh, tidak apa-apa. Saya masih bisa mengecek nya sendiri. Sekarang Mbak silahkan lanjutkan kembali pekerjaan nya. Maaf merepotkan, saya akan mengecek ini dulu, setelah itu saya akan segera keluar dari sini." Tukas Fikar.
" Baiklah Den, kalau begitu saya pamit dulu untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang tadi saya tinggalkan." Ucap sang pelayan dengan hormat.
" Ya, terima kasih sebelumnya ya Mbak.." Kata Fikar.
Pelayan wanita itu kini menunduk dengan hormat. Lalu sesaat kemudian pelayan itu melangkah pergi dari sana meninggalkan Fikar sendirian diruang tersebut.
Disana, diruang monitor. Fikar mulai membuka sebuah komputer yang terletak disana. Ia membukanya secara perlahan dan melihat rekaman disetiap sudut ruangan, hingga akhrinya Fikar menemuka sebuah video yang menggambarkan jika Maya menambahkan sesuatu kedalam minuman Annisa dan itu berasal dari botol kecil yang ia temukan barusan dibawah meja makan.
Fikar melihat dengan seksama apa yang di terjadi di video tersebut. Ia tidak ingin jika ada satu adegan pun terlewatkan, karena Fikar tidak ingin jika menuduh orang lain tanpa alasan yang kuat. Kini setelah yakin dengan apa yang dilihat nya. Fikar kemudian mulai mengirim rekaman cctv tersebut ke ponsel nya, dan setelah itu. Ia kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan kembali kekamar nya.
Didalam kamar, Fikar kembali melemparkan tubuhnya keatas ranjang. Ia berfikir dan semakin yakin jika ambruknya Annisa kala itu ada hubungan nya terhadap cairan benig yang Maya tuangkan kedalam minuman milik Annisa. Ya, pasti.. Fikar yakin sekali jika Maya sengaja menambahkan obat itu kedalam minuman Annisa. Tapi, apa motifnya? Kenapa Maya bisa melakukan hal serendahan itu? Ah, entahlah.. Fikar pun tak mengerti. Mungkinkah firasatnya yang mengatakan jika mereka terlibat cinta segitiga itu benar adanya? Jika memang benar, tidak di benarkan juga jika Maya melakukan hal curang seperti ini untuk menjatuhkan lawan nya bukan? Ah, Maya memang sangat licik! Sifat nya dari dulu tidak pernah berubah, selalu licik dalam menjatuhkan lawan nya.
Fikar kini kembali menyimpan botol putih tersebut. Ia ingin memastikan dahulu apa isi obat yang ada didalamm nya. Baru setelah itu ia akan menghubungi Rafka dan membeberkan semuanya. Karena kejahatan harus diungkap bukan? Ya, harus.. Karena akibat ulah Maya, bulan madu mereka harus selesai lebih cepat karena kekhawatiran Rafka terhadap kesehatan Annisa.
__ADS_1
***
Di kota S tepatnya di perumahan elit milik Rafka. Dedi memarkirkan mobilnya tepat didepan garasi milik Rafka. Kini para penghuni mobil tersebut turun secara beriringan. Melihat kepulangan tuan nya, membuat Pak Sofyan menghampiri mereka.
" Permisi Den, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pak Sofyan seraya sedikit membungkukkan badan nya.
" Oh, Pak Sofyan tolong bawakan barang-barang kami masuk kedalam ya." Rafka menunjuk kearah bagasi mobi Dedi yang kini sudah terbuka.
" Baik Den.."
Pak Sofyan lalu membalikkan badan nya dan berjalan menuju kearah bagasi mobil. Sedangkan Rafka, Annisa, Dedi dan Winda kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah.
" Hmm, akhirnya kita tiba juga di istana kita ini ya.." Annisa tampak begitu senang begitu tiba di dalam rumah. Disana, diruang tengah. Ia kemudian duduk sembari menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
" Jangan duduk disini dulu. Masuk kedalam kamar dan bersihkan dirimu, agar kamu tubuhmu merasa nyaman." Ucap Rafka. Kini ia sudah berdiri tepat dihadapan Annisa sembari mengulurkan tangan nya. " Ayo bangun, kita naik keatas." Ucap Rafka.
" Tapi Bang, Nisa masih lelah. Nisa ingin istirahat disini dulu sebentar, lagipula disini ada Winda dan juga Kak Dedi kan." Annisa menatap kearah Dedi dan juga Adiknya. Berharap alasan nya itu bisa membuat Rafka sedikit membiarkan waktunya bermalas-malasan disana.
" Karena kamu nggak lelah. Maka aku akan menggendongmu hingga keatas, dan juga akan memandikan mu nantinya." Ucap Rafka yang membuat wajah Annisa memerah karena nya.
Bagaimana tidak, saat ini disana masih ada Adiknya Winda dan juga sahabat mereka yaitu Dedi.
" Bang! Turunin, Nisa malu!" Seru Annisa sembari berusaha turun dari gendongan Rafka, dan tentu saja itu sia-sia. Karena Rafka tak akan membiarkan nya begitu saja.
" Kamu malu dengan siapa?" Tanya nya sembari memasang wajah dingin dihadapan Annisa.
" Tidakkah Abang lihat. Disini ada Winda dan juga Kak Dedi!" Ujar Annisa.
" Memang nya kenapa? Bukankah mereka sudah dewasa, suatu saat nanti mereka pasti akan mengalami hal ini. Yah, hitung-hitung sekarang mereka belajar lah untuk bisa beradegan mesra jika nanti sudah menikah. Hahahahah!" Ucap Rafka disusul gelak tawanya.
" Sontoloyo! Kamu tidak usah mengajarkan ku seperti itu. Tanpa teori darimu, aku juga bisa bersikap mesra terhadap pasanganku kelak!" Protes Dedi. Ia kini menatap kesal kearah Rafka, yang seolah mengejek nya karena hingga sekarang belum juga memiliki pasangan.
" Yasudah, kamu pintar kan, maka dari itu cepat temukan Nyonya Dedi agar kamu tidak kesepian lagi." Ucap Rafka. Namun, matanya malah mengarah kearah Winda yang duduk agak berjauhan dari Dedi.
Kakak ipar, kenapa menatapku seperti itu? Apa sebenarnya tujuan dari kalimat nya itu.
__ADS_1
Gumam Winda.
" Bang, sudahlah.." Annisa menarik pelan kerah baju milik Rafka.
" Baiklah, apapun yang kamu minta." Balas Rafka.
Kini ia melangkahkan kaki nya meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan Winda dan Dedi disana.
" Wah.. Kakak ipar ternyata orang nya begitu romantis. Winda jadi ingin mempunyai seperti dirinya.." Winda tampak terus memperhatikan Rafka yang sedang menggendong kakak nya. Hingga akhirnya bayangan mereka menghilang dari sana.
" Yasudah, kamu nikah saja. Bukankah setiap lelaki pasti akan melakukan hal yang sama terhadap istrinya." Timpal Dedi
" Tidak semuanya Kak." Sahut Winda. " Teman-teman Winda dikmapus yang telah menikah, banyak yang tidak mendapatkan perlakuan romantis dari suaminya. Awalnya saja semasa pacaran romantis nya kebangetan. Eh, akhirnya setelah menikah, sikap suami mereka berubah seratus delapan puluh derajat menjadi cuek. Itu sangat jauh berbeda disaat masih pacaran." Ujar Winda.
" Oh ya.." Ujar Dedi. " Hmm, aku tau nih.. pasti karena itu kamu enggan menjalin hubungan dengan seorang pria kan.." Tebak Dedi.
" Hmm, mana ada! Winda tuh merasa jika saat ini belum ada yang ngeklik di hatai Winda." Sahut Winda.
" Benarkah? Tapi sepertinya aku tidak melihat seperti itu.." Goda Dedi.
" Apaan sih Kak Dedi! Bukankah Kak Dedi saat ini juga belum mempunyai pasangan? Maka dari itukan tadi Kakak ipar sengaja berkata seperti itu kepada Kakak!" Ujar Winda. Ia seolah membalas dengan mudah setiap godaan Dedi kepadanya. Dan sepertinya itu berhasil, karena kini Dedi tak membalas lagi ucapan nya. Malah kini ia terkekeh sendiri saat mendengar ucapan Winda.
BERSAMBUNG.
Hi guys . . jangan lupa Like, Vote dan juga komentar nya ya. Dukung terus karya Ra agar bisa lebih berkembang lagi untuk kedepan nya ya. Saran kalian berarti sekali untuk Ra loh..
Okey, Ra tunggu kritik dan saran nya. Terimakasih..
Happy reading dan juga selamat menjalankan aktivitas.^_^
__ADS_1