
"Woi Raf, kamu kenapa jadi ngelamun? Wah-wah, pasti sekarang kamu lagi mikirin Nisa kan." Ucap Dedi sehingga membuat Rafka tersadar dari lamunan nya.
"Apaan sih! Kamu itu ngomong apa? Mana mungkin aku mikirin dia." Kilah Rafka sembari melanjutkan langkah nya.
"Nggak usah bohong Raf, terlihat jelas kok dari raut wajah mu kalau sekarang kamu lagi mikirin Nisa." Seru Dedi.
"Lagian wajar kan, jika seorang suami memikirkan istrinya yang sedang ada dirumah." Ucapnya lagi.
Kini mereka sudah hampir sampai diruang masing-masing.
"Sudahlah, sana masuk ke ruangan mu. Persiapkan semua dokumen, karena sebentar lagi kita akan ada rapat dengan klien kita." Ucap Rafka sembari meraih gagang pintu ruangan nya.
"Heh, baiklah." Sahut Dedi.
Kini mereka pun memasuki ruangan nya masing-masing.
Rafka kini sudah berada didalam ruangan nya. Kini ia melangkah menuju kearah meja kerjanya, setibanya disana ia kemudian menarik kursi kebanggan nya dan mulai menapaki bokong nya disana.
Dilihat nya kearah jam tangan milik nya dan melihat waktu masih pukul 07:10. tersisa dua puluh menit lagi untuk pertemuan nya dengan klien nya yang akan diadakan di dalam restoran nya sembari menjamu mereka dengan suguhan menu restoran.
"Huuffft . ." Hembusan nafas nya terasa berat.
Kini ia kembali mengingat tentang Annisa yang saat ini sedang berada dirumah nya.
"Ya Allah . . kenapa aku bisa begini ya. Melihat kedekatan Nisa dan Dedi membuat ku jadi gelap mata. Kasihan Nisa, mendapat perlakuan buruk dari ku tanpa tau apa kesalahan nya.
Gumam Rafka.
Kini fikiran nya mulai di penuhi rasa bersalah terhadap Annisa.
"Apa aku minta maaf saja ya kepadanya. Tapi, sekarang dia sedang ada dirumah. Ah, aku telpon saja kan gampang.
Gumam nya lagi.
Kini ia mulai meraih ponselnya yang ia letakkan didalam saku jas nya. Dicari nya nama Annisa disana, namun sayang nya tidak dijumpai nya nama Annisa disana.
" Dasar bodoh! Aku baru sadar sekarang kalau aku bahkan tidak memiliki nomor ponsel nya Nisa. Aaa . . .
__ADS_1
Gumam nya kesal.
Ia baru menyadari bahwa selama ini ia bahkan tidak memiliki nomor ponselnya Nisa.
Hatinya mulai kesal terhadap dirinya sendiri yang begitu bodoh nya bahkan tidak menyimpan nomor ponsel istrinya sendiri.
Sejenak ia terdiam tak tau mau berbuat apa. Fikiran nya gundah karena rasa bersalah nya. Lalu di tengah kegundahan hatinya, seketika ia mengingat jika Dedi ada menyimpan nomor ponsel Nisa. Diraih nya kembali HP yang ia letakkan diatas meja kerja nya. Lalu dengan cepat ia menelpon sahabat nya itu.
"Tut . . tut . . tut . .
Panggilan tersambung, dan tak berapa lama sang pemilik ponsel menjawab nya.
"Hallo Raf, ada apa?" Tanya Dedi.
"Kirim nomor ponsel Nisa kepadaku, sekarang!" Jawab Rafka langsung ke inti pembicaraan.
"Nomor ponsel Nisa? Loh, emang nya kamu nggak punya?" Tanya Dedi.
Ia tak habis pikir dengan sikap Rafka yang sama sekali tak menyimpan nomor istri nya Annisa.
"Jika aku menyimpan nya, maka sekarang aku nggak perlu repot-repot seperti ini nanyain ke kamu!" Jawab Rafka dengan nada ketus.
"Udah deh Ded, nggak usah banyak omong. Sekarang juga kirimkan nomor ponsel Annisa kepadaku!" Ucap Rafka.
Ia lalu menutup panggilan nya dengan Dedi dan kini kembali duduk di kursi kerja nya seraya menyenderkan kepalanya disana.
"Mungkin Dedi ada benar nya. Jika selama ini aku ternyata aku terlalu cuek dengan Annisa. Sampai-sampai, hal sekecil ini saja aku sama sekali tak menyadarinya.
Gumam Rafka.
Di tengah lamunan nya memikirkan Annisa. Sebuah pesan masuk dari Dedi. Dengan sigap Rafka lansung membuka pesan nya dan melihat nomor Annisa. Ia dengan segera menyalin nya dan menyimpan nya di ponsel miliknya.
Namun seketika raut wajah nya berubah kesal saat melihat nama yang tercantum disana adalah "Bidadari ku".
"Dasar kamvret, bukankah dia tau jika Annisa itu istriku. Berani-berani nya dia mencantumkan nama Annisa seperti itu di ponsel nya.
Gumam Rafka.
__ADS_1
Ia terlihat sangat kesal melihat nama yang tercantum disana. Namun kini ia tak ingin memikirkan itu dulu, karena sekarang prioritas utamanya adalah segera menghubungi Annisa dan meminta maaf akan sikap kasar nya.
"Tut . . tut . . tut . .
Panggilan tersambung. Namun sayang tak ada yang menjawab nya disana. Rafka kembali menghubungi Annisa hingga dua kali. Namun lagi-lagi tak dijawab oleh Annisa.
Ditengah kegalauan hatinya, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu ruangan nya dari luar.
"Tok . . tok . . tok . .
Rafka menoleh lalu ia mempersilahkan masuk seseorang disana.
Ternyata itu salah satu staff restoran nya, dan kini pegawai tersebut berjalan menghadap kepada Rafka.
"Pak, klien yang anda tunggu sudah datang." Ucap pegawai nya.
"Oh, iya. Saya akan segera keluar, terima kasih." Ujar Rafka.
Ia kemudian kembali menyimpan ponselnya kedalam saku jas nya, dan kini ia pun melangkah keluar ruangan.
Setelah pertemuan nya dengan klien. Membahas segala kerjasama mereka yang akhirnya semua berjalan dengan lancar. Tak terasa kini jarum jam sudah menunjukkan angka 13:00.
"Ded, aku pulang duluan ya." Ucap Rafka kepada Dedi yang sedang membereskan kertas-kertas dokumen diatas meja.
"Loh Raf, tumben nih kamu pulang siang. Emang nya mau kemana?" Tanya Dedi penasaran.
"Nggak kemana-mana, cuma lagi ingin pulang cepat saja hari ini." Sahut Rafka.
"Aku tau . . Pasti kamu ingin segera pulang karena ingin cepat-cepat bisa bertemu Annisa kan." Ucap Dedi berusaha menebak isi hati Rafka.
"Sok tau kamu. Itu semua nggak ada hubungan nya dengan Nisa," Sanggah Rafka.
Meskipun sebenarnya yang di katakan sahabat nya itu benar. Namun ia belum berani mengumbar nya kepada Dedi sekarang.
"Nggak usah bohong deh. Tadi kamu minta nomor ponselnya Nisa, dan sekarang kamu juga ingin segera pulang. Pasti sekarang hatimu sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Nisa kan." Seru Dedi dengan analisis nya.
"Banyak ngomong kamu Ded, sudahlah aku ingin segera pulang sekarang. Bye," Ucap Rafka seraya melangkahkan kakinya menuju kearah depan meninggalkan Dedi disana.
__ADS_1
"Raf-Raf . . Terlihat sekali dari sikapmu, jika sekarang kamu mulai menyukai Annisa. Hahahaha
Gumam Dedi disusul gelak tawanya.