
Saat kita tidak bisa lagi mengubah situasi. Ubahlah cara pandang kita. Mulailah menerima apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Karena hanya dengan itu Insya Allah hati kita akan damai.
Pulau XX terkenal dengan keindahan nya. Suasana yang masih begitu asri membuat pulau tersebut sangat nyaman untuk di huni.
Kapal mulai bersandar. Annisa, Rafka dan Fikar bersiap-siap untuk segera turun dari sana. Setibanya diluar dermaga, pemandangan indah menyambut kedatangan mereka.
Pohon-pohon rindang berjajar di sekitaran jalan. Sangat sejuk, nyaman dan segar meskipun saat itu siang menyapa. Dari dalam mobil Annisa tak melepaskan sedikit pun pandangan nya keluar jendela. Sungguh indah sangat indah, batin nya.
"Kamu lagi liatin apa Nis?" Rafka yang sedari tadi memperhatikan Annisa mulai ikut melihat kearah luar jendela.
"Pemandangan diluar Bang. Disini disepanjang jalan ini Annisa merasa pemandangan nya benar-benar indah." Ujar nya tersenyum.
"Hmm, ya sudah jika begitu nikmati saja pemandangan mu." Ujar Rafka seraya mengusap lembut kepala Annisa
Ia kemudian kembali duduk di posisi semula. Memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya yang tak henti menatap pemandangan luar.
"Lucu sekali dia. Haha, apa jangan-jangan ini kali pertamanya berkunjung ke sebuah pulau. Jika memang benar, pantas saja sikap nya begitu.
Rafka terus memperhatikan Annisa yang sedari tadi tak pernah melepas pandangan nya dari arah jendela.
Tak berselang lama. Kini mobil yang mereka tumpangi telah tiba di depan sebuah Vila. Vila itu sudah di pesan khusus oleh Bunda nya Rafka berikut para pelayan nya. Sehingga kini mereka hanya fokus menikmati bulan madu saja.
Ketika turun dari dalam mobil. Mereka disuguhkan dengan pemandangan pantai yang berada tak jauh di depan Vila. Sungguh indah, sehingga membuat Annisa yang melihat nya menjadi tak sabar untuk segera bermain air disana.
"Bang, nanti kita kesana ya," Tunjuk Annisa kearah pantai.
"Ya," Rafka mengangguk setuju. "Tapi sekarang kita masuk dulu ya kedalam, beres-beres barang-barang kita dan juga beristirahat. Nanti sore kita baru main disana okey" Ujar Rafka
Annisa mengangguk setuju. Kini mereka pun masuk kedalam Vila tersebut.
Setibanya didalam Vila. Para pelayan menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Tas, koper berikut barang-barang bawaan lainnya semua diambil alih oleh pelayan dan membawanya kearah pintu kamar.
"Tuan, kamar anda ada diatas sana." Fikar menunjuk kearah lantai atas." Sedangkan saya ada disini," Tunjuk nya lagi kearah sebuah kamar yang tak jauh darinya.
"Kamu tinggal disini?" Rafka menatap heran
"Ya," Fikar tersenyum.
__ADS_1
"Oh., ya sudah kalau begitu kami akan pergi masuk ke kamar kami. Sedangkan kamu, istirahatlah. Jika perlu aku akan memanggilmu kesini." Ucap Rafka. Kini ia pun menggandeng tangan Annisa ikut bersamanya.
Sore harinya setelah bersiap-siap. Sesuai janji, Rafka menemani Annisa pergi ke pantai dan bermain disana. Fikar juga ikut namun ia hanya duduk dibawah pohon sembari memainkan ponsel nya.
"Wah.. Pulau nya indah sekali." Seru Annisa sembari menari-nari diatas pasir putih yang terbentang luas. Pemandangan riak di laut yang mengikuti arus angin, membuat Annisa bersorak ria disana.
"Kamu suka Nis?" Rafka berjalan menghampiri Annisa yang masih berjingkrak-jingkrak diatas pasir.
"Suka sekali Bang," Annisa tersenyum. Rona bahagia terpancar jelas diwajah nya.
"Baguslah jika kamu suka," Ucap rafka seraya menatap hangat. "Mau main air?" Tanya nya sembari meraih tangan Annisa.
"Mau," Annisa mengangguk setuju.
Kini merekapun mulai berlari-lari kecil mengitari pantai kesana-kemari. Sehingga membuat keakraban mereka serta kemesraan kian terjalin satu sama lain. Tanpa canggung Rafka dan Annisa sesekali berpelukan meskipun disana ada Fikar yang tengah duduk menyaksikan. Tapi sebenarnya tidak sih, karena saat ini Fikar sendiri terlihat sibuk dengan ponsel nya tanpa memperdulikan sekitar.
Teriakan, candaan, sesekali terdengar dari mulut Annisa saat Rafka menjahili nya. Fikar mendengar itu, namun ia tak terlalu memperdulikan dan memilih sibuk dengan ponselnya.
"Nggak kerasa udah petang ya," Annisa terduduk lemas diatas pasir.
"Iya Nis, sepertinya sudah waktunya kita pulang." Ajak Rafka, kini ia mengulurkan tangan nya.
"Jadi kamu masih mau disini?" Tanya Rafka.
"Iya Bang, Nisa ingin sekali melihat sunset disini." Annisa menatap lembut namun penuh isyarat. Seolah-olah ia juga mengajak Rafka agar duduk bersamanya.
"Baiklah, jika itu maumu." Seolah mengerti dengan isyarat Annisa. Kini Rafka pun ikut duduk disana.
***
Setelah selesai menikmati makan malam yang disajikan para pelayan. Kini Annisa kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Rafka pamit keluar Vila bersama Fikar. Entah kemana mereka mau pergi, Annisa tak ingin ambil pusing. Mungkin saja mereka ingin berjalan-jalan disekitar desa, mencari rokok di warung-warung terdekat. Begitu pikirnya.
Didalam kamar yang mereka tempati. Ada balkon yang menghadap langsung kearah pantai. Menyadari itu, Annisa kemudian berjalan kesana untuk sekedar menikmati udara pantai di malam hari.
Namun hembusan angin sepoi-sepoi sangat lah dingin menusuk hingga ke tulang. Sehingga membuat Annisa memilih masuk kembali kedalam kamarnya. Dilihatnya kearah pintu kamar namun Rafka belum juga kembali.
"Abang pergi kemana sih! Kok jam segini belum balik-balik juga." Lirih nya.
__ADS_1
Hati Annisa mulai gelisah, karena tak adanya Rafka disana. Kini ia meraih ponselnya, berniat menghubungi nya.
"Apa sebaiknya aku telfon saja ya dan menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi, apa itu nggak terlalu berlebihan ya." Annisa mulai kebingungan dengan sikap nya.
Kini ia kembali duduk diatas ranjang sembari memainkan ponsel nya. Dilihat nya jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Lalu perlahan matanya mulai mengantuk, sehingga secara perlahan Annisa tertidur dengan ponsel yang masih ada di tangan nya.
Sekitar pukul 23:00, Rafka kembali dan masuk kedalam kamar. Dilihatnya kearah ranjang Annisa tertidur pulas dengan ponsel di tangan nya. Ia lalu datang berjalan menghampiri.
"Nisa,," Ucapnya lembut. Namun tak ada respon dari Annisa.
"Nisa, bangun." Rafka kembali mencoba membangunkan Annisa dan sepertinya usahanya kali ini berhasil.
"Hooam! Abang," Suara Annisa terdengar lemah. Kini ia berusaha bangkit dari tidur nya dan duduk diatas ranjang.
"Abang dari mana? Kok jam segini baru pulang?" Tanya nya langsung.
"Darimana aku tadi itu nggak penting. Yang terpenting sekarang kamu ikut dengan ku," Ucap Rafka seraya menarik tangan Annisa untuk ikut bersamanya.
"Loh, kita mau kemana? inikan sudah malam Bang," Annisa mengerutkan dahinya. Ia merasa bingung dengan sikap Rafka yang tiba-tiba saja mengajak nya keluar selarut ini.
"Udah.. kamu tenang saja oke," Ucap Rafka sembari tersenyum.
Kini mereka pun keluar dan berjalan menuju kearah pantai.
Sesampainya disana , Annisa semakin tak habis fikir. Sebenarnya apa maksud Rafka membawa nya kesini selarut ini. Batinnya.
Namun kali ini ada yang berbeda disana. Jika tadi sore yang terlihat hanyalah hamparan pasir putih serta indahnya pemandangan laut. Namun malam ini suasana nya jauh berbeda. Ada banyak balon yang berwarna pink berbentuk hati yang bertebaran diatas pasir, lilin-lilin menyala diatas pasir juga diukir menjadi bentuk hati.
Sebuah tugu yang berdiri tegak juga melambangkan sebuah hati. Rafka membawa Annisa berjalan kearah sana. Sehingga perasaan bingung kian menyelimuti hati Annisa.
"Nis, berdirilah disini." Ucap Rafka seraya menarik Annisa dan menempatkan posisinya tepat disamping tugu yang berlambang hati tersebut.
"Bang, perasaan tadi sore Nisa nggak lihat ada hiasan seperti ini disini," Ucapnya polos mengutarakan kebingungan nya. Sehingga membuat Rafka tersenyum melihatnya.
"Memang nggak ada," Jawab Rafka.
"Terus ini sekarang kok ada. Siapa yang buat?" Tanya Annisa dengan kebingungan nya.
__ADS_1
Rafka tersenyum menatap kearah Annisa. Lalu ia kemudian meraih kedua tangan Annisa dengan lembut.
"Nisa, sebenarnya malam ini aku ingin mengakui sesuatu padamu." Ucap Rafka menatap lekat-lekat wajah Annisa