
Tak hentinya Rafka dan Annisa mengucapkan rasa syukur mereka. Syukur akan anugerah Allah yang telah di beri. Akhirnya setelah begitu banyak nya badai yang menerpa biduk rumah tangga mereka. Kini akhirnya Annisa bisa mengandung sebuah janin di perut nya, janin dari sosok pria yang selalu ada dalam do’a nya. Setiap kesabaran pasti akan berakhir dengan sangat indah, Annisa percaya akan hal itu.
Di sepertiga malam Annisa terjaga. Ia lantas bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kearah kamar mandi. Di bersihkan nya diri dengan air wudhu yang di ambil, setelah itu ia pun kemudian kembali masuk kedalam kamar.
Di ambil nya satu set kain putih miliknya yang berupa mukena, dengan sajadah yang ia bentangkan. Disana Annisa bersujud menghadap sang khalik, sang pencipta alam sememesta. Memohon ampun serta ridho darinya, serta meminta kesihatan untuk suaminya dan juga janin nya.
Rafka menatapi Annisa dari ranjang nya, tersenyum kemudian karena nya. Rasa syukur juga ia panjatkan kepada sang pecipta yang telah menganugerahi dirinya seorang malaikat tanpa sayap seperti Annisa. Tak pernah membenci, apalagi menghujat. Selalu tersenyum saat menutupi luka yang ada, sehingga semua orang yang melihat nya tak akan tau atas apa yang sedang di alaminya.
Setelah selesai shalat dan berdo’a kepada sang pencipta. Kini Annisa terlihat membereskan perlengkapan shalat nya, setelah itu Annisa lalu beranjak kembali kearah ranjang nya. Berbaring sebentar sembari menunggu subuh menjelang.
Rafka yang melihat hal itu, kini perlahan kembali menutup mata. Tak ingin Annisa tau jika sedari tadi ia terus memperhatikan-nya. Sebenarnya Rafka juga ingin melihat, bagaimana sikap Annisa disaat ia melihatnya tertidur pulas.
Kini setelah perlahan melangkah kesana. Annisa akhirnya tiba di samping ranjang. Dilihat nya wajah suaminya yang tertidur pulas disana. Ia tersenyum seraya mengedipkan mata. Lalu kini di usap nya dengan lembut pipi Rafka kemudian di kecup nya.
Cup! Cup!
Dua ciuman berhasil mendarat disana. Satu di sebelah pipi kiri, sementara yang satunya di kening Rafka. Setelah itu Annisa kemudian kembali tersenyum lembut menatap nya.
“ Terimakasih ya Allah, akhirnya kini setiap malam aku bisa memandangi suami ku, mengusap wajahnya dan juga mencium kening nya.”
Harapan sederhana yang di inginkan nya. Namun, hal itu mampu membuat hati Rafka bergetar karena nya.
Ya Allah, seperti inikah perlakuan istriku di setiap malam nya. Berdo’a untukku dan juga menciumi ku disaat aku sedang tidur? Sungguh begitu lembut dan manis sekali.
Gumam Rafka.
Tak ingin mengacaukan situasi yang ada, Rafka memutuskan untuk tetap memejamkan mata. Tak ingin keterjagaan-nya malah membuat Annisa malu nanti nya. Sehingga hal itu bisa mengacaukan keadaan yang ada. Jarang sekali kan, Rafka menyadari perlakuan lembut nan romantic seperti ini dari Annisa.
Perlahan, Annisa mendekatkan wajah nya kearah telinga Rafka. Lalu sesuatu yang lembut di bisikkan nya disana.
“ Nisa sayang Abang.” Sebuah kalimat sederhana yang terlontar dari mulut Annisa itu ternyata mampu menghujam hingga ke seluruh sanubari Rafka. Sungguh saat ini Rafka tak dapat menahan senyum nya, sehingga kini terlihat sedikit garis senyum disana. Namun, karena cahaya lampu yang temaram, membuat Annisa sama sekali tak menyadarinya.
Annisa kemudian memposisikan dirinya berbaring disamping suaminya. Diraih nya sebelah tangan Rafka, lalu kemudian di letakkan nya diatas perut nya. Tak lupa juga ia menyenderkan kepalanya di bahu Rafka. Tersenyum, meresapi kenyamanan yang ada. Sebenar nya hal itu selalu ia lakukan di sepertiga malam semenjak mereka mulai tidur bersama.
Sementara Rafka, perlahan kian mendekap tubuh Annisa. Sementara gejolak cinta yang ada di dirinya, ia pertahankan mengingat ucapan Dokter tadi siang. Dan akhirnya memilih kembali ikut terlelap dengan nya.
Keesokan paginya sekitar pukul 09:00 WIB.
Setelah menyantap sarapan bersama, kini Annisa memilih untukmbermain dengan bunga-bunga yang ada di taman belakang. Disiraminya bunga-bungamindah yang bermekaran satu persatu. Anisa terlihat tampak sangat bahagia.
Disela-sela kegiatan nya menyirami tanaman-nya, lalu datanglah seseorang yang kini langsung melingkarkan tangan-nya di pinggang Annisa. Menyandarkan dagu nya di bahunya.
Tentu saja orang tersebut tak lain adalah suaminya, Rafka.
“ Sayang, kenapa kamu yang nyiram semua tanaman ini?” Tanya Rafka dengan suara yang terdengar begitu lembut.
Annisa terus melanjutkan aktivitas nya.
“ Iya, Nisa suka, maka dari itu Nisa sendiri yang menyiram-nya.” Tukas nya sembari terus menyirami tanaman nya.
Rafka lalu meraih selang yang di pegang oleh Annisa, mematikan airnya, lantas membuang nya begitu saja disana.
“ Loh, Bang! Kenapa di buang!” di tatap nya kearah selang yang terlempar jauh darinya. “ Nisa lagi senang Bang!”
entah mengapa suara Annisa terdengar seperti rengekan.
Baru kali ini ia bersuara seperti itu, sama sekali tak seperti biasanya.
“ Bukankah kata Dokter kamu tidak boleh terlalu banyak beraktivitas untuk sementara waktu. Jadi sekarang biarkan tanaman ini Ranum yang menyiram nya.” Ujar Rafka. Diraihnya tangan Annisa, lalu kini ia mengajak nya menuju kearah sebuah meja kecil yang disertai dua buah kursi disana. “ Kita duduk disini menikmati indah nya bunga-bunga itu ya.” Ucap Rafka kemudian lembut dan penuh perhatian.
“ Tapi, Nisa masih ingin melihat bunga-bunga ini.” Rengek Annisa.
“ Kamu masih bisa melihat bunga-bunga itu disini. Aku sama sekali tidak melarang nya, tapi kamu harus duduk disana denganku. Biarkan Ranum yang menyiram nya.” Ucap Rafka. “ Apa kamu ingin bayi kecil kita merasa lelah
__ADS_1
disana, hanya karena Ibunya yang bersikeras untuk terus bekerja.” Rafk kemudian memegangi perut Annisa yang masih rata.
Terlihat Annisa berpikir sejenak, meresapi apa yang di katakan suaminya barusan.
“ Hmm, iya deh.” Ucap nya sembari mengulas senyuman.
“ Ibu yang baik.” Rafka mengusap pucuk kepala Annisa dengan lembut lalu mengecup kening nya.
Cup!
Mendapat kecupan lembut di kening nya, membuat Annisa tersenyum bahagia.
“ Bang, bungkukkan sedikit badan nya.” Katanya disertai isyarat tangan nya.
“ Untuk apa?” tanya Rafka.
“ Ada deh, bungku-in sekarang!” rengek Annisa manja.
“ Hmm,” perlahan Rafka kini membungkukkan badan nya dan masih menatap kearah Annisa.
Melihat hal itu, Annisa kini langsung merealisasikan niat nya. Yaitu membalas kecupan Rafka tadi di kening nya.
Cup! Cup!
Dua buah kecupan mendarat disana. Satu di kening, sementara satunya lagi di permukaan bibir. Lalu kini Annisa tanpa malu memeluk nya erat disana. Membuat Rafka membelalakkan matanya sedikit terkejut melihat aksinya.
“ Sayang, tumben.” Rafka mengerutkan alisnya menatap istrinya.
“ Lagi pengen aja, memang nya nggak boleh?” Tanya nya manja.
“ Boleh sekali, sering-sering saja kamu bersikap seperti ini. Aku suka, membuatku lebih bersamangat jadinya.” Rafka kembali memeluk erat istrinya.
“ Tapi Nisa nggak mau lama-lama di peluk nya.” Ucap Annisa seraya melepaskan diri dari sana. Membuat Rafka yang awalnya terlihat senang, kini merapatkan alisnya.
Sikap Annisa saat ini ternyata berhasil mengembalikan senyum nya. Pria itu kita tersenyum seraya menggelengkan kepala menatap kearah istrinya.
Setibanya disana, Annisa dan Rafka kini mulai menempati kursinya. Tak lama kemudian, Ranum pun datang dengan membawa segelas susu dan juga biscuit di nampan nya.
“ Nona, ini susu nya silahkan di minum.” Ranum datang menghampiri dan meletakkan segelas susu yang dibuat nya diatas meja kecil yang ada disana.
“ Susu? Saya nggak minta loh Num.” Ucap Annisa memandang bingun kearah Ranum.
Dengan senyum Ranum menjawab.
“ Tuan yang menyuruh saya untuk membuatkan-nya Non,” Ranum menundukkan pandangan nya.
“ Num, kamu lanjutin nyiram bunga nya ya.” sela Rafka.
“ Baik Tuan.” Angguk nya setuju.
Kini Ranum pun pergi menuju kearah taman, mengambil selang dan menghidupkan air nya lalu kemudian menyirami tanaman nya.
Sementara itu.
“ Bang, kenapa Abang nyuruh Ranum ngebuatin susu untuk Nisa? Kan Nisa nggak minta.” Tanya Annisa seraya menatap kearah suaminya.
“ Sengaja, kan tadi kamu makan nya cuma dikit.” Ujar Rafka.
“ Tapi Bang, Nisa lagi nggak pengen susu.” Lagi-lagi suara Annisa terdengar manja.
“ Pengen nggak pengen, kamu harus tetap minum. Karena ini adalah susu untu Ibu hamil.” Titah Rafka.
Annisa lalu mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“ Sejak kapan Abang belinya?”
“ Sejak Dokter nyaranin buat ngasih susu ini ke kamu.” Ujar Rafka.
“ Tapi Bang.”
Dengan sabar Rafka menjelaskan.
“ Sayang, kondisi kamu saat ini masih lemah. Makan pun kamu kurang berselera, maka dari itu kamu harus minum susu ini agar Bayi kita mendapatkan asupan gizi.” Ucapa Rafka. “ Kamu nggak mau kan, Bayi kita kekurangan gizi nanti nya hanya karena Ibunya yang tidak ingin makan.” Tambah Rafka lagi.
Annisa menggelengkan kepalanya pelan.
“ Hmm, bagus. Kalau begitu sekarang kamu minum susu nya ya.”
Annisa lantas menurut, di ambil nya gelas susu yang ada disana, lalu kini dengan cepat di minum olehnya.
Glek…Glek…
Segelas susu yang di buatkan Ranum kini telah habis di teguk nya. Lalu kini di letakkan kembali gelas susu itu diatas meja.
“ Ibu yang pintar,” Rafka mengusap lembut pucuk kepala annisa. “ Mulai saat ini kamu harus minum susu ini dua kali sehari ya.” Kata nya kemudian.
“ Hmm.” Angguk Annisa.
Disela-sela pembicaraan mereka tiba-tiba saja Bik Yam datang dalam menghampiri mereka.
“ Permisi Den, Non.” Sapa nya sopan.
“ Hmm, ada apa Bik?” Tanya Rafka.
“ Ibu Nona Annisa dan juga Bunda nya Aden datang berkunjung, saat ini mereka sudah duduk di ruang tengah.” Ucap Bik Yam menyampaikan kedatangan kedua orang tua mereka.
“ Hmm, makasih ya Bik.” Ucap Rafka. “ Sayang, Bunda ku dan Ibumu sedang menunggu kita di ruang tengah. Yuk kita pergi kesana!” Ajak Rafka.
Annisa mengangguk, lalu kini pergilah mereka menuju kearah ruang tengah.
Disana, terlihat dua sosok wanita paruh baya sedang duduk berdampingan seraya berbicara. Dari raut wajah keduanya terlihat pancaran kebahagiaan disana.
Apa Ibu dan Buda sudah tau tentang kehamilanku ya? Nggak seperti biasanya mereka datang pagi-pagi begini.
Gumam Annisa.
“ Hai Anak Ibu, Nak Rafka.” Sapa Ibu seraya duduk.
“ Rafka, Annisa, apa kabar?” tanya sang Bunda.
Rafka dan Annisa kemudian datang menghampiri dan menyalim kedua nya.
“ Rafka dan Annisa baik-baik saja Bun.” Ucap nya seraya duduk berhadapan dengan Bunda dan juga Ibu.
“ Ah, syukurlah.” Sahut keduanya terlihat bahagia.
“ Ibu, Bunda, tumben pagi-pagi barengan kesini?” Tanya Annisa masih dengan raut wajah yang kebingungan.
“ Kata Nak Rafka kamu kemarin kamu jatuh pingsan karena sedang hamil Nak, jadi Ibu dan Bunda segera bergegas kesini datang menjengukmu.” Ujar sang Bunda.
“ Makasih Bu, Bunda.”
Annisa terlihat bahagia, dan kini mereka pun terlihat bercengkrama bersama dengan hangat disana.
Jangan lupa mampir ya guys. Dijamin seru dan asik😉
__ADS_1