Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 124


__ADS_3

Didalam mini market. Rafka tampak berjalan menyusuri setiap lorong rak yang berjajar disana. Dilihatnya satu persatu. Mencari dimana letak pembalut wanita. Setelah sitemuinya, Rafka mulai bingung. Yang mana harus di


belinya. Dilihatnya satu persatu, ada beberapa merek disana. Ada yang bersayap, dan juga tidak. Ada yang panjang dan juga sedang. Serta ada yang ekstra slim, sehingga membuatnya semakin dilanda kebingungan.


Banyak sekali macam nya. Apa kegunaannya juga berbeda-beda?


Tanya nya didalam hati.


Jadi, sekarang aku harus memilih yang mana? Haruskah aku membeli semuanya?


Pikir nya lagi.


Disaat Rafka tengah bergelut dengan pikiran nya. Tiba-tiba saja seorang pegawai mini market tersebut terlihat datang menghampiri.


“ Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pegawai wanita itu dengan ramah.


“ Eh, i-iya Mba. Kebetulan sekali, saya lagi bingung.” Kata Rafka dengan sedikit canggung.


“ Tuan bingung?” Tanya pegawai tersebut. “ Bingung karena apa?” Tanya nya lagi.


“ Ini, saya ingin membeli pembalut. Namun, ada banyak sekali merek serta modelnya disini.” Kat Rafka.


Pegawai tersebut tampak mengangguk mengerti.


“ Tuan mau yang mana atau seperti apa? Biar saya ambilkan.” Kata pegawai itu.


Mendengar ucapan pegawai itu membuat Rafka seketika menggaruk kepalanya. Jika saja ia tau ingin membeli yang mana maka sudah sedari tadi ia mengambilnya, lalu membayar nya agar bisa segera pergi dari sana. Namun saat ini ia sendiri pun bingung ingin yang mana, karena sewaktu pergi kesana tadi Annisa sama sekali tidak menyebutkan pembalut seperti apa yang diinginkannya.


“ Gini Mba, maaf sebelumnya. Menurut Mba, yang mana yang bagus ya? Jujur saja, saya sendiri pun tidak tau yang mana harus saya beli.” Kata Rafka dengan suara pelan.


Pegawai itu seketika tersenyum saat mendengar kejujuran Rafka. Yang membuat Rafka jadi salah tingkah karena nya. Melihat wajah pelanggan yang saat ini ada didepan nya telah memerah. Membuat pegawai tersebut seketika menghentikan senyum nya. Kini ia terlihat mulai meraih dua buah pembalut yang biasa digunakan sehari-hari dan juga di waktu malam hari.


“ Kalau menurut saya, yang ini dengan yang ini bagaus Tuan.” Kata pegawai.


“ Bagus? Darimana Mba tau?” Tanya Rafka yang ingin tau lebih jelas.


Dengan malu-malu pegawai itu pun menjawab.

__ADS_1


“ Karena saya pakai keduanya Tuan.”


Rafka pun kemudian mengambil pembalut yang di pegang pegawai itu. Lalu pergi menuju kearah kasir.


Setibanya disana dan saat mulai membayar, ntah mengapa ia lalu kembali lagi kearah rak dimana tadi ia mengambil pembalut itu. Kemudian ia tampak mengambil lagi beberapa pembalut yang sama seperti yang diambilnya barusan, dan setelah merasa cukup. Rafka pun kini terlihat kembali menuju kearah kasir.


“ Totalkan juga yang ini semua.” Kata Rafka seraya menyerahkan beberapa pembalut yang diambil nya tadi.


***


Sementara itu di kediaman Rafka dan Annisa. Tepat nya didalam kamar mereka. Terlihat Annisa yang menunggu dengan gelisah. Ia terlihat berdiri sembari berjalan mondar-mandir disana. Tak berani duduk karena takut tembus di sofa ataupun di kain sprey.


Ceklek!


Suara pintu kamar terbuka. Membuat Annisa bisa bernafas lega. Karena yang membuka pintu saat ini adalah Rafka suaminya.


“ Kamu kenapa? Kenapa terlihat gelisah seperti itu?” Tanya Rafka yang melihat kegelisahan yang masih tersisa di wajah Annisa.


“ Abang udah beli pembalutnya?” Tanya Annisa tanpa menjawab pertanyaan Rafka sebelumnya.


Tanpa banyak bicara Annisa pun mengambilnya. Lalu berlalu pergi kearah kamar mandi meninggalkan Rafka disana.


Rafka menggelengkan kepalanya melihat sikap yang di tunjukan istrinya. Hanya menunggu pembalut saja bisa membuatnya gelisah seperti itu. Begitu pikirnya.


Di dalam kamar mandi.


“ Abang membeli pembalut ini banyak sekali? Padahal dua bungkus saja sudah cukup.” Ujar nya seraya mengambil salah satu bungkus yang ada disana.


Beberapa saat kemudian. Setelah Annisa selesai mengganti pembalutnya. Kini ia kembali masuk kedalam kamar nya. Dilihatnya disana, Rafka terlihat duduk diatas sofa sembari membentang kedua tangan nya.


“ Santai sekali.” Lirihmya. “ Abang tidak kerja?” Tanya nya kemudian sembari duduk disebelah Rafka.


“ Aku kan lagi nunggu kamu.” Kata Rafka.


“ Nunggu Nisa? Memang nya ada apa?”


“ Ya, siapa tau ada yang harus kulakukan lagi untukmu.” Jawab Rafka santai.

__ADS_1


Annisa tersenyum.


“ Sudah tidak ada lagi. Sekarang Abang sudah boleh berangkat kerja.” Ucapnya lembut.


Mendengar tak ada lagi yang di perlukan Annisa. Kini Rafka pun bangkit dari duduknya.


“ Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekarang ke restoran ya.” Kata nya yang kini sudah berdiri.


Annisa pun kini ikut berdiri berdampingan dengan Rafka.


“ Terima kasih sayang, hari ini Abang sudah mau dengan suka rela membantu Nisa untuk membelikan pembalut. Pasti itu tidaka mudah kan bagi Abang. Sebagai hadiah nya, boleh nggak Abang sedikit membungkuk dihadapan


Nisa?” Ucap Annisa.


“ Memang nya hadiah apa yang akan kamu beri?”


“ Menunduk saja, nanti Abang juga akan tahu.”


Rafka pun kini membungkukkan badan nya dihadapan Annisa. Sementara itu, setelah Rafka membungkukkan badan nya, Annisa pun tak membuang waktu lagi. Dengan segera ia memberikan sebuah kecupan lembut di kening Rafka.


Cup!


“ Terima kasih sayang.” Kata nya seraya tersenyum lembut.


Deg.


Rafka tertegun. Ini pertama kalinya bagi Rafka mendapatkan ciuman langsung dari Annisa. Meskipun itu hanya di kening. Namun, satu kecupan itu sudah berhasil membangkitkan semangat serta gairah nya. Ingin sekali rasanya


sekarang Rafka memeluk Annisa dan memulai kembali pertempuran mereka.


Namun, keinginan nya itu ia tahan mengingat saat ini Annisa sedang kedatangan tamu bulanan.


Nisa.. kenapa kamu begitu menggemaskan. Paling bisa mengaduk-aduk gejolak yang ada dalam diri ini.


Gumam nya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2