Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 45


__ADS_3

Setelah melayani suami nya kini annisa memilih duduk di kursi nya yang tak jauh dari kursi rafka suami nya. ia dan rafka duduk bersebelahan yang berjarak mungkin sekitar satu meter.


" nisa, aku mau juga donk di ambilin nasi nya sama kamu." ucap dedi yang begitu tak tau malu nya meskipun ia tahu bahwa ada rafka disana.


ngapain juga malu, toh cuma rafka yang ada disini. yah hitung - hitung nguji iman dia hehehe


gumam dedi dalam hati sembari tersenyum menatap ke arah rafka.


" emang nya kamu nggak punya tangan? punya kan? ya sudah ambil sendiri." ucap rafka ketus yang tak suka dengan ucapan dedi yang seolah mencari perhatian di hadapan istri nya itu.


" kamu juga punya tangan kan, tapi masih di ambilin nisa huuh.." sahut dedi seolah mengejek.


annisa yang sudah duduk akhir nya berdiri kembali dan kemudian ia juga mengambilkan makanan untuk dedi.


dedi tampak sumringah karena merasa menang dari rafka. dan ia juga begitu senang ketika annisa juga melayani nya seperti ia melayani rafka. sedangkan rafka tampak begitu cemberut menatap ke arah annisa yang seolah tak enggan melayani sahabat nya itu dengan ramah.


" jangan lupa baca doa ya." ucap annisa yang kini sudah kembali duduk di kursi nya.


" siap komandan." sahut dedi dengan semangat sedangkan rafka hanya diam sembari membaca doa di dalam hati nya.


setelah selesai membaca doa di dalam hati masing - masing. kini mereka pun menyantap makanan nya bersama - sama.


" wah nis, masakan mu walau sederhana tapi enak loh, aku jadi ingin sering - sering numpang makan disini hehehe." puji dedi di sela - sela menyantap makanan nya sedangkan nisa hanya tersenyum menanggapi pujian mantan kakak kelas nya itu.

__ADS_1


" nis, bisa masak seenak ini belajar di mana? pasti sama koki yang hebat ya." tanya dedi yang penasaran dengan keahlian memasak nia.


" eh ded, bisa diam nggak sih? ini kita lagi makan. kalau kata orang tua nggak boleh makan sambil bicara, kalau mau muji - muji entar aja kalau dah siap makan ngerti." ucap rafka ketus sembari memandang wajah sahabat nya dengan tatapan sebal.


" hmm, bilang aja cemburu, biasa nya juga kita kalau lagi makan berdua di restoran sambil bicara." ujar dedi seolah mengejek, yang membuat wajah rafka terdiam dengan raut wajah yang merah padan menahan kekesalan terhadap sahabat nya itu.


entah mengapa, rafka merasa tidak senang saat melihat sahabat nya begitu akrab dengan istri nya. bahkan mereka tidak sungkan bercanda ria di depan nya tanpa memperdulikan diri nya.


" dasar dedi, aku selalu kalah di buat nya jika beradu argumen dengan nya.


gumam rafka kesal


***


" alhamdulillah.." ucap dedi setelah usai menyantap habis makanan nya.


" enak aja, nggak boleh - nggak boleh." ucap rafka yang mengerutkan dahi nya menatap tak senang ke arah sahabat nya itu.


" yee.. kok kamu yang sewot. nisa aja nggak keberatan aku numpang makan disini," sahut dedi sembari menatap ke arah nisa yang di balas senyum oleh nya sembari menggeleng - geleng kan kepala nya saat melihat tingkah dua sahabat yang tidak pernah akur saat di depan nya.


deg...


jantung rafka mulai berdegup kencang saat melihat annisa yang tersenyum lepas melihat tingkah nya dan juga sahabat nya.

__ADS_1


manis sekali..


gumam rafka.


" woi raf, kok ngelamun? jangan - jangan kamu lagi ngelamunin nisa ya." ucap dedi sembari menepuk bahu rafka karena kini ia sudah berada di samping nya.


dedi sengaja bangun dari tempat nya saat menyadari rafka yang tampak melamun sembari menatap nisa. ia kumdian berjalan menuju ke arah rafka dan kini ia juga sudah duduk di samping nya.


rafka kemudian tersentak saat menyadari bahwa ada seseorang yang menepuk bahu nya dari belakang. ia pun kemudian menoleh ke arah dedi yang kini sudah duduk di samping nya.


" apaan sih, siapa juga yang lagi melamun" sanggah nya seraya berdiri dari duduk nya dan kini ia pun melangkah kan kaki pergi meninggal kan ruang makan tersebut.


nisa juga terlihat salah tingkah saat mendengar ucapan dedi dan ia pun kini segera beralih ke wastafel membawa piring - piring kotor untuk kemudian di cuci nya.


sedangkan dedi yang melihat annisa mulai sibuk dengan piring kotor nya kini ia pun memilih mengikuti rafka meninggalkan ruang makan tersebut.


" maaf ya nis aku nggak bisa bantu." ucap dedi sebelum berlalu pergi kepada annisa yang kini sedang sibuk dengan piring kotor nya.


" enggak apa - apa kak," jawab annisa lembut sembari menoleh ke arah dedi yang kini sudah meninggalkan nya.


" aaarrgg.. kenapa aku jadi mikirin nisa terus sih..


gumam rafka seraya berjalan dengan cepat meninggal kan ruang makan dan kini ia beralih menuju ke depan ruang keluarga dan kini memilih untuk duduk di sana.

__ADS_1


terima kasih karena sudah nyempatin waktu untuk membaca karya saya. jangan lupa tinggalkan like dan vote nya ya agar lebih memacu semangat saya dalam meng up lebih banyak episode nya. terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Bersambung


__ADS_2