Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 122


__ADS_3

“ Ya tuhan, kenapa aku bisa sebodoh ini. Membiarkan lelaki itu dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan.” Lirihnya. “ Tapi, ucapannya ada benar nya juga. Jika aku berniat untuk segera kabur dari sini. Maka aku harus memulihkan diriku dulu.” Katanya lagi.


Tok tok tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Siapa ya?


Ceklek!


Seseorang membuka pintu kamar, dan kini terlihat lah seorang wanita paruh baya masuk melangkah kedalam. Ditangan nya, Maya melihat wanita itu membawa nampan yang berisikan makanan yang telah diisi dengan berbagai lauk pauk nya.


“ Nona sudah sadar, Alhamdulillah.” Ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Bik Nem.


“ Kamu siapa?” Tanya Maya dengan kening mengkerut.


“ Perkenalkan, saya Bik Nem. Asisten rumah tangga dirumah ini.” Bik Nem kini meletakkan makanan yang dibawa nya tadi diatas meja kecil disamping ranjang. “ Silahkan di makan Non, setelah ini Nona bisa langsung meminum obat.” Ujar nya.


“ Makasih ya Bik.” Maya menyunggingkan sedikit senyuman kepada Bik Nem.


“ Sama-sama Non. Yasuda, Bibik kembali kerja lagi ya. Jika Nona membutuhkan sesuatu, silahkan tekan bel yang ada disini. Nanti saya ataupun pelayan yang lainnya akan segera datang kesini.” Kata Bik Nem.


Maya mengangguk mengerti mendengar ucapan Bik Nem. Sedangkan Bik Nem yang saat ini tugas nya sudah selesai kemudian berbalik dan segera pergi dari sana.


Di ufuk barat terlihat jelas matahari mulai terbenam. Cahaya khas merahnya kian memancar keseluruh alam. Hingga akhirnya cahaya tersebut redup di telan kegelapan. Adzan magrib kini telah selesai berkumandang. Reno


yang sedari tadi diluar kini kembali memasuki kamar nya.


Ia berjalan melangkah dengan pelan menuju kearah kamar mandi yang terletak diujung sana. Maya melihat nya, namun ia tak menyapa malah kinitatapan nya begitu sinis kearah Reno. Reno menyadari itu, namun dia sama  sekali tak ingin menggubris. Ia terus berjalan memasuki kamar mandinya dan tak lama kemudian kembali keluar dari sana.


Reno kini berjalan menuju kearah sebuah ruang yang terletak didepan samping sebelah kanan. Ia melangkah masuk kesana dan dilihat oleh Maya. Hampir sepuluh menit berlalu, namun Reno tak kunjung keluar. Membuat Maya yang sedari tadi duduk di ranjang nya menjadi penasaran oleh nya.


Apa yang dilakukan nya disana? Kenapa dari tadi dia tidak keluar juga?


Maya semakin dirundung rasa penasaran. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kearah ruang yang di masuki Reno.

__ADS_1


Disana Maya melihat Reno sedang duduk dengan mengenakan baju koko, sarung lengkap beserta peci nya. Reno terlihat sedang memanjatkan do’a, entah do’a apa yang di panjatkan nya hanyalah dia yang tahu. Maya berusaha mendengar do’a apa yang dipanjatkan nya. Namun, suara Reno terdengar sangat pelan sehingga ia sama sekali tak bisa mendengar nya.


Buk!


Kaki Maya tak sengaja menyenggol sebuah kursi kayu yang ada disana. Membuat Reno seketika menoleh kearah nya.


“ Maya!” Seru Reno sembari bangkit, lalu berjalan menuju kearah Maya. “ Kamu sedang apa disini? Sini aku lihat, bagian mana yang sakit!” Terlihat raut wajah penuh kehawatiran dari sana.


“ Lepas! Aku tak sudi di sentuh oleh pria mesum sepertimu!” Bentak nya.


“ Pria mesum?” Reno mengerutkan dahinya. “ Hah, iya, aku memang pria mesum. Terus kamu mau apa?” Reno bergaya sok tengil.


“ Untuk apa kau shalat jika tingkah mu seperti ini. Berbuat mesum didalam kamar bersama seorang gadis yang sama sekali bukan muhrim mu.” Maya melototi matanya kearah Reno.


“ Muhrim? Hahaha.. tunggu saja, secepatnya kau akan ku jadikan muhrim ku.” Balas Reno seraya membalas pelototan Maya dengan senyum nya.


Ia lalu menanggalkan peci nya dan meletakkan nya diatas meja kecil yang ada disana. Kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar itu.


Cih! Dasar lelaki munafik!


Gerutu Maya.


Sementara itu di kediaman Rafka.


Waktu telah menunjukkan pukul 08:15 Wib. Setelah menjalankan perintah sang Rabb. Kini Annisa memilih


untuk segera beristirahat di pembaringan yang sangat di sukai nya itu. Hari ini Annisa merasa begitu lelah, lelah dengan urusan di toko kue nya dan juga lelah dengan permasalahan yang ada.


Kini ia merasa saat yang tepat baginya melepas segala kepenatan yang ada. Di baringkan nya tubuhnya dan perlahan mencoba memejamkan mata. Namun, belum lagi ia terlelap. Tiba-tiba saja kini seseorang melingkarkan


tangan nya dipinggang nya.


“ Sayang, kok cepat sekali tidur nya malam ini.” Bisik nya lembut.


“ Nisa capek Bang, mau segera istirahat.” Ucap nya dengan nada yang sedikit manja.

__ADS_1


“ Ehm, jadi aku di kacangin nih.” Kata Rafka yang semakin mempererat dekapan nya.


“ Hari ini Abang pasti juga sangat lelah kan. Maka dari itu yuk kita sama-sama beristirahat.” Annisa masih memejamkan matanya.


“ Tapi saat ini aku masih belum merasa benar-benar lelah, sebelum berhasil melelahkanmu.” Ucapnya seraya berbisik.


Deg.


Jantung Annisa berdegup kencang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Rafka. Kalimat sederhana namun memiliki begitu banyak makna. Tak sesederhana seperti kedengaran nya. Lagi-lagi Rafka berhasil menggodanya


sehingga membuat wajah nya seketika merona.


Rafka kemudian membalikkan tubuh Annisa agar menghadap kearahnya. Namun, Annisa masih berusaha memejamkan mata tak berani menatap. Meskipun ini bukan untuk yang pertama kali baginya, namun pesona Rafka begitu dalam sehingga disaat-saat seperti ini. Annisa selalu saja merasa gugup di buat nya.


Untung saja saat ini mereka sudah mematikan lampu utama. Sehingga yang tersisa hanyalah lampu tidur yang cahaya nya sangat redup. Sehingga Annisa merasa sedikit lega karena rona di wajah nya dapat tertutupi dengan redup cahaya kamar.


 “ Ehm, jadi kamu ceritanya kamu nggak mau nih di buat lelah olehku.” Kata Rafka.


“ Hah, siapa bilang. Nisa..” Annisa membuka matanya.


Namun belum lagi Annisa menyelesaikan kalimat nya. Kini Rafka sudah menutup mulut Annisa dengan sentuhan bibirnya yang begitu lembut.


Cup!


“ Hmm.”


Rafka sudah memulai aksinya. Tanpa memberi aba-aba apapun kepada Annisa. Tangan nya juga mulai berselancar kesana-kemari mencari titik lemah lawan nya. Perlahan namun pasti, dan saat ini pertempuran itu pun terjadi.


Annisa benar-benar di buat lelah olehnya. Hingga akhirnya setelah pertempuran itu selesai lagi-lagi Rafka lah juara nya. Juara dalam mengalahkan istri di atas ranjang, hahahaha!


“ Sayang, terimakasih ya. Karena kamu telah kalah, akhirnya saat ini aku benar-benar merasa lelah.” Rafka mengecup mesra kening Annisa.


Sedangkan Annisa memilih menyembunyikan wajah nya didalam pelukan Rafka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


 Assalamu'alaikum


Hi guys, hari ini kita bertemu lagi dengan Rafka dan Annisa. Jangan lupa tetap tinggalkan Like, Vote dan Komentar membangun nya ya. Dan juga jangan pernah bosen dengan Ra^^ Selamat beraktifitas guys, semoga hari ini lebih indah dari hari-hari yang sebelumnya. Amin^^


__ADS_2