
"Tadi aku juga udah ngajak dia untuk masuk kedalam Mas. Tapi dia nya nggak mau, jadi terpaksa Aku temani dia disini." Ujar Maya kepada Rafka.
"Tidak kusangka ternyata kamu begitu pandai bersilat lidah Maya.
Gumam Annisa seraya sedikit menggelengkan kepala nya saat melihat sikap Maya yang pandai sekali membalikkan fakta.
"Nisa cuma nggak mau ganggu Bang. bukankah Mama nya Maya tidak tau jika Abang sudah menikah." Ujar Annisa sembari melirik ke arah Maya.
"Benar juga yang dikatakan Nisa. Tante kan nggak tau jika aku telah menikahi Nisa.
Gumam Rafka sembari menatap ke arah Nisa.
Mendengar ucapan Nisa, Maya pun kemudian masuk kedalam tanpa ingin mendengar kalimat lain yang keluar dari Nisa. Ia melangkahkan kaki nya untuk masuk sedangkan Rafka memilih menunggu di luar ruangan bersama Nisa istri nya.
"Kama nggak ikut masuk kedalam lagi bersama ku Mas?" Tanya Maya yang mulai melangkah masuk.
"Enggak deh, kamu masuk sendiri saja. Aku ingin menemani Nisa disini." Ujar Rafka kepada Maya.
Mendengar kalimat itu. Maya sontak menatap ke arah Annisa dengan tatapan sinis dan setelah itu ia pun langsung pergi kedalam dan meninggalkan Rafka menunggu di luar bersama Nisa.
Di dalam hati sebenar nya ia tak rela meninggalkan Rafka berduaan dengan Annisa. Namun Maya tidak bisa memaksakan kehendak nya karena itu pasti akan membuat Rafka kesal terhadap nya. jadi mau tidak mau ia harus pergi meninggalkan mereka berdua disana.
***
"Nisa, kamu benar. Aku belum menceritakan tentang hubungan kita kepada Tante Retno." Ujar Rafka yang kini sudah duduk di samping Annisa istri nya.
"Tidak apa - apa Bang." Jawab Annisa tenang.
"Tapi aku ingin memperkenalkan mu sekarang kepada Tante Retno." Tutur Rafka yang kini mulai menatap serius istri nya.
Annisa memalingkan wajah ke arah Rafka saat mendengar ucapan nya barusan. Ia ingin menjawab ucapan tersebut, Namun lidah nya terhenti saat melihat Feri yang kini sudah ada disana.
"Hai Nis, Udah lama disini?" Ucap Feri begitu sampai disana.
"Lumayan." Jawab Annisa singkat.
"Loh kok diluar. Kenapa nggak masuk kedalam." Ucap Feri saat menyadari bahwa mereka masih di luar kamar.
"Kayak nya enggak deh Fer," Jawab Nisa.
"Kenapa?" Tanya Feri sembari mengerutkan kening nya.
__ADS_1
"Dia nggak mau jika kehadiran nya semakin memperburuk kesehatan nya Tante Retno." Jawab Rafka sembari menatap Feri.
"Apa itu betul Nis?" Tanya Feri kepada Nisa seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan Rafka kepada nya.
"Ya.." Jawab Annisa seraya mengangguk kan kecil kepala nya.
Feri pun kemudian berjalan melangkah melewati Rafka dan kini mulai duduk di samping kiri Nisa sedangkan Rafka duduk di samping kanan nya.
"Kamu harus masuk Nisa." Ucap Feri yang kini sudah duduk di samping nya.
"Tapi Fer." Ucap Nisa
"Nggak ada tapi - tapian. Sekarang kamu ikut masuk dengan ku kedalam." Ucap Feri seraya memegang tangan Annisa.
Annisa mulai bangkit saat tangan nya di tarik oleh Feri. Namun langkah nya terhenti saat Rafka berdiri di hadapan nya dan menghalangi jalan nya.
"Lepasin tangan Nisa." Ucap Rafka sembari menatap tak senang ke arah Feri.
"Aku ingin memperkenalkan nya sebagai istrimu kepada Tante Retno." Ucap Feri tegas.
"Aku bisa sendiri.!!" Jawab Rafka sembari menarik tangan Annisa kuat.
Pergelangan nya sakit karena tangan Rafka mencengkram kuat pergelangan tangan nya.
"Bang sakit." Ucap Annisa seraya berusaha melepaskan tangan nya.
"Bisakah kamu sedikit lembut dengan istrimu." Ujar Feri dengan tatapan kesal.
Feri memang seorang playboy. Namun ia selalu bersikap lembut jika itu berhubungan dengan seorang wanita. Maka dari itu ia sedikit risih saat melihat Annisa di perlakukan secara kasar oleh Rafka di hadapan nya.
"Buka urusan mu!" Jawa Rafka yang tak senang saat mendengar Feri mengajari nya.
Rafka pun kemudian melangkah masuk kedalam bersama Annisa, Namun kali ini pegangan tangan nya tak lagi seerat tadi. Ia kini menggenggam tangan Annisa dengan lembut dan berjalan berdampingan dengan nya. Sedangkan Feri mengikuti mereka dari belakang.
Di dalam ruangan.
" Bisa - bisa nya ia tetap masuk kesini setelah aku melarang nya tadi. Dasar wanita tidak tahu malu.
Gumam Maya sembari menatap sinis ke arah Annisa yang kini sedang berjalan bersama Rafka mendekati ranjang Bu Retno.
Sesampai nya di ranjang Bu Retno.
__ADS_1
"Feri benar. aku harus memperkenalkan Nisa sebagai istriku agar tidak ada lagi kesalahpahaman disini.
Gumam Rafka yang kini sudah berdiri bersama Annisa di samping kiri Bu Retno.
"Ini siapa Nak?" Tanya Bu Retno dengan nada suara lemah.
"Ini.." Rafka hendak menjawab namun terpotong oleh Annisa.
"Saya teman nya Maya Tante." Ucap Annisa lembut sembari tersenyum ke arah Bu Retno.
Ia sungguh tak tega melihat keadaan Bu Retno saat itu. Selang yang terpasang dimana - mana, Tubuh yang sudah terlihat sangat pucat, Serta suara nya yang lemah membuat Annisa iba sehingga ia memilih untuk tidak mempublikasi status nya sekarang kepada Bu Retno.
Sebenar nya Annisa ingin, tapi ia mengurungkan niat nya hingga nanti Bu Retno pulih seperti sedia kala baru ia akan mempublikasi status nya kepada Bu Retno.
"Oh . . siapa nama mu Nak?" Tanya Bu Retno dengan nada lemah.
"Annisa Tante." Jawab Nisa lembut.
"Kamu cantik sekali Nak, kamu pasti gadis yang baik." Ujar Bu Retno sembari menatap sayu ke arah Annisa.
"Selama ini Maya tidak pernah membawa teman wanita nya untuk bertemu dengan Tante, Hari ini kamu datang menjenguk Tante pasti kamu adalah sahabat terbaik nya Maya." Ujar Bu Retno lagi.
Sedangkan Annisa hanya mengangguk lembut.
"Nisa, jika nanti Tante sudah tidak ada tolong titip Maya ya." Ucap Bu Retno lemah.
"Insya Allah . . Tapi tante tetap harus sembuh demi Maya." Ujar Annisa lembut berusaha menyemangati.
Bu Retno hanya tersenyum sembari menatap kearah Rafka dan juga Annisa.
"Seandai nya Tante pergi, Tante bisa sedikit lega karena meninggalkan mu bersama orang-orang baik ini." Ucap Bu Retno sembari menatap ke arah Annisa dan juga Rafka.
"Sudah lah Ma . . Mama jangan terlalu banyak bicara ya. Istirahatlah sekarang agar Mama lekas sembuh." Tutur Maya sembari menyelimutkan Mama nya.
Bu Retno pun menuruti ucapan Anak nya yang menyuruh nya untuk beristirahat. Ia kemudian memejamkan mata nya setelah sebelumnya membelai wajah Maya dengan lembut.
"Mama sudah istirahat. bisakah kalian semua keluar sekarang." Ucap Maya pelan kepada seluruh orang yang hadir disana.
Rafka, Annisa dan juga Feri kemudian meninggalkan ruang tersebut dan pergi menuju luar.
BERSAMBUNG
__ADS_1