
Hujan turun semakin lebat.
Disertai angin yang berhembus kencang. Petir pun kian menggelegar disertai kilat yang terlihat diatas langit. Disana dijalan raya, terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Mobil itu adalah mobil lelaki yang membantu Maya yang tergeletak di pinggir jalan. Entah apa hubungan mereka hingga ia rela membantu Maya. Namun, yang pasti saat ini lelaki itu terlihat begitu khawatir. Hingga sesekali ia tampak memandang kearah kursi belakang melalui kaca spion nya. Memastikan apakah Maya sudah sadar disana.
Namun sepertinya harapan nya hanyalah tinggal harapan. Hingga akhirnya setibanya didepan rumah nya Maya tak
kunjung sadarkan diri.
Tin! Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mobil berulang kali. Sehingga membuat Pak Ali sang security yang bertugas berjaga di pos depan rumah seketika terjaga dari tidurnya. Melihat jika saat ini sang majikan telah tiba didepan pintu gerbang membuatnya segera bangkit dan membuka gerbang nya.
Setelah pintu gerbang terbuka lelaki itu kemudian segera masuk kedalam. Kini ia telah memarkirkan mobilnya, lalu setelah itu ia kemudian dengan segera mengangkat tubuh Maya dan membawa nya masuk kedalam.
Bik Nem dan juga Bik Ni yang melihatnya terlihat begitu khawatir saat melihat sang majikan yang berjalan dengan begitu terburu-buru sembari menggendong seorang wanita bersamanya. Mereka pun kemudian memutuskan mengikuti sang majikan yang saat ini berjalan menuju kearah kamarnya. Ya, siapa tau aja Tuan nya itu membutuhkan bantuan nya. Begitu pikir mereka.
Benar saja, sesuaai dugaan. Setelah lelaki itu meletakkan tubuh Maya diatas ranjang nya. Kini ia menoleh kearah kedua asisten rumah tangga itu seraya berkata.
“ Bik Nem, tolong bantu Maya mengganti pakaian nya sekarang juga. Sedangkan Bik Ni, tolong hubungi dokter Arman untuk segera datang kemari.” Perintah lelaki tersebut.
“ Baik Tuan!” Sahut Bik Nem dan Bik Ni secara bersamaan.
Lalu kedua asisten rumah tangga
itupun dengan segera mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Jika Bik Nem,
ia segera menggantikan pakaian yang dikenakan Maya dengan kemeja milik Tuan
nya. Sedangkan Bik Ni, ia segera pergi dari sana untuk menghubungi Dokter Arman
agar segera datang kesana. Sementara lelaki itu kini berlalu pergi dari kamar
merasa malu jika terus ada disana karena saat ini Bik Nem sedang mengganti
pakaian Maya.
Satu jam kemudian.
Dokter Arman yang di minta untuk segera datang akhirnya tiba disana. Bik Ni yang menyambut nya kini langsung membawanya menuju kearah kamar lelaki itu.
“ Silahkan masuk Dok, disana kerabat Tuan yang sedang sakit.” Ucap Bik Ni seraya mempersilahkan Dokter Arman untuk masuk kedalam kamar Tuannya.
Dokter Arman lantas mengangguk mengerti. Ia kemudian masuk kedalam kamar. Disana, ia melihat sang Tuan rumah sedang duduk disamping seorang wanita yang sama sekali tak asing baginya. Namun, ia tak ingin bertanya melainkan kini ia langsung memeriksa sang wanita yang saat ini sedang terbaring lemah disana.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
“ Bagaimana keadaannya?” Tanya lelaki itu.
“ Dia demam, tubuhnya begitu lemah saat ini. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi kepadanya. Sedari
tadi terdengar dia selalu menyebut nama Rafka. Apa itu kekasihnya yang pernah kau ceritakan padaku?” Tanya Dokter Arman kepada lelaki tersebut.
Kini terlihat lelaki itu tampak menarik nafas panjang.
“ Ya, kau benar. Rafka itu adalah kekasih Maya terdahulu saat sedang bersamaku. Namun..” Lelaki itu tak
meneruskan kata-katanya. Karena untuk menjelaskan nya sangatlah rumit baginya. Karena ia tau persis jika semua itu adalah kesalahan Maya.
“ Namun apa?” Tanya Dokter Arman.
“ Ah, ceritanya sangat panjang. Kapan-kapan aku akan menceritakan nya kembali kepadamu. Sekarang aku ingin
kembali kesana, menemani Maya. Jika saja nanti ia sudah terjaga maka aku akan dengan segera menyuruhnya untuk minum obat yang kamu berikan ini.” Kata lelaki itu.
Ya, tadi sebelum Dokter Arman datang kesana. Ia dengan sengaja membawa beberapa obat-obatan yang dikiranya
akan perlu untuk pasien yang akan di periksanya. Karena saat Bik Nem menelpon nya ia menjelaskan jika pasien sedang demam.
“ Yasudah, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Nanti jika terjadi sesuatu lagi langsung saja kabari aku ya.” Kata Dokter Arman.
“ Oke, makasih banyak ya.”
Sementara itu di restoran milik Rafka.
Annisa duduk dengan raut wajah cemas. Makanan yang dipesankan Rafka untuknya tampak tak tersentuh olehnya.
Membuat Rafka mengerutkan dahinya menatap kearah nya.
“ Sayang, kok makanan nya nggak di sentuh? Apa kamu tidak suka dengan makanan ini?” Tanya nya seraya menelisik ke wajah Annisa. Mencari tahu apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya saat ini.
“ Eh, enggak kok. Nisa suka.” Sahut Annisa seketika.
“ Jika kamu suka, terus kenapa tidak ada satupun makanan yang kamu sentuh saat ini?” Rafka semakin menatap dalam wajah Annisa.
“ Hah, iya kah?” Annisa terlihat kebingungan.
“ Sayang, kamu lagi mikirin apa sih! Jangan bilang kalau kamu masih mikirin Maya sekarang?”
Annisa menundukkan pandangan nya.
“ Sayang..” Panggil Rafka.
“ Bang, Nisa minta maaf ya. Tebakan Abang benar, jujur saat ini Nisa masih mikirin Maya. Diluar sana hujan begitu deras. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya. Kondisi nya saat ini tidak terlalu bagus Bang.” Ujar Annisa.
__ADS_1
“ Nisa!”
Rafka tampak mengerutkan dahinya menatap wajah Annisa.
“ Hatimu itu terbuat dari apa sih! Bagaimana bisa sekarang kamu masih bisa mengkhawatirkan orang yang hampir
saja membuat mu celaka!” Seru Rafka.
Annisa tak menjawab.
“ Ingat Nis, dia dengan sengaja ingin mencelakaimu. Bahkan tadi kamu lihat sendiri kan, dia mendorongmu hingga
terjatuh ke lantai, bahkan memakimu dan mengatakan jika dia sama sekali tak butuh belas kasihan darimu. Jadi untuk apa kamu masih mengkhawatirkannya?”
“ Tapi dia wanita Bang, Nisa mengerti bagaimana perasaannya. Walaupun Nisa tau jalan yang di pilih nya adalah salah. Tapi saat ini Nisa bisa merasakan jika hatinya begitu hancur! Dan apa Abang tau, jika hati seorang wanita sedang hancur, maka..” Annisa tak dapat menyelesaikan kalimatnya.
Kini ia bertumpu diatas kedua telapak tangan nya yang menutupi wajahnya.
“ Sayang, Maya itu bukan anak kecil lagi. Dia sudah besar, jadi kamu jangan khawatir berlebihan seperti itu. Karena aku yakin, meskipun ia melakukan hal gila dengan menaruh obat kedalama minuman mu. Aku yakin, dia tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri apalagi jika sampai menyakiti diri sendiri. Itu tidak akan terjadi, percayalah kepadaku.” Rafka mencoba meyakinkan Annisa untuk tidak lagi mengkhawatirkan Maya.
Karena baginya, Maya sama sekali tidak pantas mendapatkan rasa khawatir yang terlalu berlebihan seperti ini dari
Annisa.
“ Sekarang kamu makan ya.” Kata Rafka, namun tak dijawab oleh Annisa. “ Hmm, atau jangan-jangan kamu mau aku yang menyuapimu? Baiklah aku tidak akan keberatan, sekarang buka mulutmu aaaa.”
Rafka mulai menyodorkan sesuap makanan kearah mulut Annisa. Yang membuat rona merah seketika terpancar dari wajahnya. Annisa menggelengkan kepala, lalu dengan segera meraih sendok yang berada di tangan Rafka.
“ Nggak perlu disuap. Nisa bisa sendiri kok!”
“ Eits.. tidak boleh. Waktumu sudah habis, kini kamu harus makan langsung dari tanganku. Jika tidak, aku akan
dengan senang hati menghukum mu sekarang juga disini.” Tegas Rafka yang kini mulai menguasai kembali sendoknya.
Aaaa.. nurut saja deh, siapa yang akan tau hukuman apa yang akan di berikan Abang jika aku berani menolak nya.
Annisa tak punya pilihan. Mau tidak mau akhirnya kini ia menerima suapan demi suapan dari Rafka.
BERSAMBUNG
Hi guys . . kita berjumpa lagi disini. Jangan pernah bosan ya dengan Ra^^ Ekhm, jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian dengan cara Like, Vote nya, serta Komentar yang membangun untuk cerita ini kelak. Terimakasih^^
Hari ini Ra kembali mau ngiklan nih. Bagi kalian yang masa kecil nya indah atupun suram seperti Ra kalian bisa mampir kesini di cerita ini.
Selamat menjalankan aktivitas teman-teman. Semoga hari kalian menyenangkan selalu dan berjalan dengan lancar. Serta apa yang kalian inginkan segera tercapai. Amin.
__ADS_1