Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 19


__ADS_3

Setelah makan malam usai. Rafka berdiri dan melangkah menuju kehalaman belakang, untuk sekedar mengisap rokok nya disana. Mengingat Annisa yang tak tahan dengan asap rokok, jadi Rafka memilih duduk di halaman belakang menikmati rokoknya.


Sejenak fikiran Rafka mulai melayang. Ia tiba-tiba kembali memikirkan kejadian kemarin malam. Dimana saat itu Maya memeluknya dari belakang.


"Hmm, begitu sabarnya Nisa dalam menghadapiku. Ia tak pernah mempermasalahkan tentang sikap ku kepadanya yang bisa dibilang terlalu dingin. bahkan ia juga tak pernah menuntut ku untuk menjadi suaminya seutuhnya. Bisa sesabar itu dia dalam menghadapiku. Apa mungkin aku memang ditakdirkan berjodoh dengannya.


Gumam Rafka sembari mematikan rokok nya.


Sementara itu.


Annisa kini sedang sibuk membersihkan meja makan serta peralatan makan yang kotor. Ia kemudian mulai mencuci piring di wastafel dapur dan Setelah itu, ia pun bergegas untuk segera kembali kedalam kamarnya.


"Tap tap tap


Langkah nya menuju kearah kamar nya. Sehingga tak lama kemudian ia pun tiba di depan pintu kamarnya.


"Ceklek"


Annisa kemudian membuka pintunya. Lalu ia pun melangkah masuk kedalam dan berjalan menuju tempat tidur untuk sekedar melepas lelah.


"Hufft . .


Akhirnya selesai juga segala pekerjaan rumah.


Gumamnya seraya menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian. Ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan kearah lemari untuk mengambil baju tidur yang akan dikenakannya.


"Ganti baju dulu kali ya..


Gumamnya seraya membuka lemari.


Ia kemudian melepas hijabnya, disusul dengan membuka gamis panjang yang membaluti tubuhnya. Sehingga kini tinggalah leging serta atasan dalam yang membaluti tubuhnya.


"Ceklek"


Suara pintu terbuka.


Rafka kemudiam masuk kedalam kamar Annisa tanpa mengetuk pintu sebelumnya. Sehingga kini terpampanglah tubuh Annisa yang menurutnya separuh telanjang.


Sedangkan disana, Annisa menoleh sembari menjerit.


"A . . a . .a . .a . ." Jerit Annisa saat melihat sosok Rafka yang tiba-tiba saja masuk tanpa memberi aba-aba. Ia terkejut dan sontak menutup payudaranya dengan kedua tangannya.


"Ma . .maaf." Ujar Rafka yang ikut terkejut saat mendengar jeritan Annisa saat melihatnya. Terlebih lagi saat ini ia sudah melihat tubuh Annisa yang separuh telanjang itu. Sehingga membuat Rafka sangat malu dan langsung memilih keluar dari dalam kamar tanpa lupa menutup kembali pintunya.

__ADS_1


"Huufft . .


Kenapa aku begitu ceroboh sih. Masuk tanpa mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.


Seharusnya aku tidak bertindak seperti itu tadi.


Gumam Rafka.


Ia kemudian berjalan menuju kearah kamarnya. Sebenarnya tadi ia ingin sedikit berbincang-bincang dengan Annisa tentang hubungan mereka. Namun, niat itu ia urungkan karena kejadian yang baru saja terjadi.


Sementara itu . .


Wajah Annisa merah padam. Ia sangat malu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Meskipun mereka sudah sah menjadi suami istri. Namun Annisa belum pernah sekalipun berpenampilan seperti tadi dihadapan Rafka. Sungguh momen yang menurutnya sangat tidak pas, jika Rafka harus melihat tubuhnya dengan cara seperti itu.


"A . .a . .a . .a . .a


Malu sekali, bisa-bisanya Abang masuk kekamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Oh Tuhan . . Apa tadi dia melihatnya ya. Aaaaaa..


Gumam Annisa seraya menutup wajahnya.


****


Keesokan pagi nya.


Selesai shalat subuh Annisa sudah mulai bergelut di dapur. Ia memasak nasi goreng untuk santapan pagi mereka. Nasi goreng yang ia buat kali ini sama persis dengan yang ia buat sebelumnya dirumah orangtuanya.


Gumamnya seraya terus memasak makanannya.


Sementara itu . .


Dari arah depan tampak seseorang sedang berjalan menghampiri dapur.


Orang itu tak lain adalah Rafka yang saat itu ingin mengambil botol air didalam kulkas. Ia memakai pakaian santai saat itu yaitu kaos oblong beserta celana training.


"Tumben Abang kemari. Apa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan? Atau jangan-jangan ia ingin membahas tentang kejadian tadi malam. Aaaaaaa... bagaimana ini.


Gumam Annisa dengan wajah merona akibat tersipu malu saat mengingat kejadian tadi malam.


Sedangkan disana, Rafka berjalan semakin dekat. Membuat Annisa akhirnya menarik nafasnya dalam-dalam untuk bisa serileks mungkin saat menyapa suaminya itu.


"Ekhm, selamat pagi Bang. Tumben Abang kedapur pagi-pagi seperti ini, kira-kira ada apa ya?" Ujar nya dengan nada sesantai mungkin saat melihat Rafka semakin mendekat.


"Hmm, nggak ada. Cuma mau ngambil botol air." Ujar Rafka sedikit kaku sembari membuka pintu kulkas dan mengambil air dingin yang ada di dalamnya.


"Ooh . ." Ucap Annisa saat mendengar jawaban singkat suaminya sembari melanjutkan kembali pekerjaan nya.

__ADS_1


"Ehm, kamu masak apa?" Tanya Rafka seraya mendekat kearah Annisa yang sedang memasak.


"Oh, ini, cuma nasi goreng." Jawab Annisa seraya mematikan kompor dan menjaga sedikit jarak dengan Rafka.


"Pasti enak ya." Ujar Rafka sembari tersenyum kearah Annisa.


"Hmm, entahlah." Ucap Annisa seraya membalas senyum Rafka.


"Perlu ku bantu?" Tanya Rafka sebelum melenggang pergi dari sana.


"Nggak usah, Nisa juga udah siap kok. Abang tunggu saja disana." Ujar Annisa seraya menunjuk kearah kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Rafka kemudian melangkah pergi dari sana. Namun ia tidak duduk di kursi yang di tunjukkan Annisa, melainkan ia pergi menuju kearah halaman belakang dan memilih duduk sambilan bersantai disana dengan membawa botol air dingin yang diambil nya dari dalam kulkas.


Sementara itu . .


Masakan sudah siap. Lalu annisa dengan sigap segera menghidangkan nya di atas meja. Tak lupa ia juga membuatkan segelas susu untuk Rafka seperti biasanya. Lalu ia pun melangkah menuju kearah halaman belakang untuk memanggil suaminya disana.


"Bang, sarapan nya sudah siap. Mari kita makan." Ucapnya yang kini sudah berdiri di samping kursi tepat dimana Rafka duduk.


Ia pun kemudian kembali masuk kedalam menuju kearah meja makan tanpa menunggu jawaban dari Rafka. Ditariknya salah satu kursi yang ada disana kemudian ia pun duduk dengan santai menunggu kedatangan Rafka sembari mengeluarkan ponselnya dan kemudian memainkannya.


Sekitar lima belas menit berlalu. Orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Rafka melangkah perlahan menuju meja makan. Ia kemudian menarik salah satu kursi yang ada tepat disamping Annisa dan duduk disana.


Spontan Annisa langsung berdiri saat melihat Rafka yang dusuk disamping nya. Ia kaget karena itu tidak seperti biasa nya.


"Kamu kenapa?" Ucap Rafka sembari mengerutkan dahinya saat melihat Annisa yang tiba-tiba saja berdiri saat ia duduk disampingnya.


"Oh, tidak, Nisa hanya ingin mengambil air putih saja. Tadi lupa nyiapin nya." Ujar Annisa lembut.


"Emm, yasudah." Seru Rafka.


Annisa kemudian berlalu mengambil dua buah gelas lalu menuangkan air putih didalam nya.


"Oya, kamu sedang ngapain tadi disini?" Tanya Rafka.


"Nunggu Abang." Jawab Annisa singkat.


"Apa.!! Nunggu aku?" Ujarnya seraya kembali bertanya.


"Ya, Nisa ingin sarapan bersama Abang." Jawab Annisa dengan polos. Ia pun kemudian melakukan tugasnya sebagai seorang istri di meja makan. Sedangkan Rafka mulai memperhatikan setiap gerak-geriknya saat Annisa melayaninya.


"Deg . .


Dia menungguku. Hmm, senang sekali rasanya saat engkau tau jika ada seseorang yang menunggu mu dengan ikhlas . Apalagi hanya untuk sekedar sarapan. Eh, kok aku jadi seneng gini ya.

__ADS_1


Gumam Rafka senyum-senyum sendiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2