
Pagi itu tanpa terasa Annisa menyiapkan semuanya dengan sempurna. Nasi Krawu yang di masaknya tanpa terasa tersajikan dengan cepat.
“Hmm, aromanya… sedap sekali.” Annisa mengendus makanan yang sudah tersaji disana.
Setumpuk nasi, dengan serundeng kuning, merah, sambal terasi yang dilengkapi juga dengan daging. Telah bertumpu diatas piring yang beralaskan daun pisang. Kebetulan di halaman belakang rumah ada dua pohon
pisang disana. Tak lupa juga Annisa menghiasnya dengan dua irisan timun dan daun kemangi disampingnya. Membuat tampilan Nasi Krawu miliknya terlihat lebih cantik dan siap untuk di santap.
“Nona memang hebat!” Bik Yam mengacungkan jempolnya.
“Hahaha, Bik Yam bisa saja.” Annisa tergelak mengelengkan
kepala.
“Ini Nasi Krawu terenak yang pernah Bibik makan.” puji Bik Yam lagi.
“Semua orang juga bisa membuat yang seperti ini Bik,” Sambut Annisa. “Lagipula, yang bikin enak ini karena Bik Yam yang memasaknya.” Puji Annisa.
“Bibik cuma bantu ngaduk, sama menyiapkan bahan-bahan saja. Nona Annisa lah yang membuat bumbunya, jadi ini masakan Nona.” Kata Bik Yam lagi.
“Yasudah, ini masakan kita bersama. Karena kitalah yang membuatnya, pagi ini kita semua menjadi koki-koki yang hebat.” Annisa tersenyum, disusul gelak tawa setelahnya. Begitupula dengan Bik Yam dan Ranum, mereka ikut tertawa bersama Annisa.
Didalam kamar.
Rafka masih terbaring diatas ranjang. Subuh tadi setelah menjalankan kewajibannya. Rafka kembali mejatuhkan diri keatas ranjang dan terlelap disana.
Waktu sudah menunjukkan Pukul 08:10 Wib.
Annisa sudah kembali memasuki kamar dan melihat Rafka masih terlelap disana. Di langkahkannya kakinya menuju kearah tempat tidur, dan begitu Annisa tiba disana. Wanita itu duduk di tepi ranjang seraya meraba
punggung Rafka lembut.
“Bang, sudah pagi.” Annisa mulai menepuk-nepuk punggung Rafka pelan.
Rafka terjaga, menggeliat disana.
“Bangun Bang.” Kata Annisa lagi.
“Hmm.” Namun Rafka masih menggeliat disana.
Annisa mengelengkan kepalanya pelan. Melihat Rafka menggeliat dengan mata terpejam. Layaknya seperti orang yang tengah meregangkan ototnya, sebelum akhirnya bangun dari tidurnya. Benar saja, setelah beberapa saat, Rafka membuka matanya dan meleparkan senyum kearah Annisa.
“Selamat pagi sayang.” Ucap Rafka lembut, yang membuat Annisa tersenyum.
“Pagi juga Abang.” Balas Annisa yang ikut menarik garis senyumnya.
“Sini bentar.” Rafka mengajukan jari tangannya, menyuruh Annisa mendekat kearahnya.
__ADS_1
Sambil mengerutkan dahinya, Annisa menuruti keinginan suaminya.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Annisa. Membuat wanita itu mendelik, dan memegang perutnya. Entah mengapa, begitu mencium wangi pagi yang keluar dari mulut Rafka membuat perutnya tiba-tiba saja mual.
Annisa mendorong Rafka ke belakang, lalu dengan cepat menutup mulutnya dari belakang.
“Sayang?” Rafka mengerutkan dahinya.
Sementara itu Annisa sudah tak sanggup menahan diri sekarang. Wanita itu segera bangkit dari sana, berdiri dan berlari menuju kearah kamar mandi yang ada di kamarnya.
“Hooeeekk!!”
Annisa muntah. Gadis itu mengeluarkan isi perutnya disana, membuatnya sedikit lemas. Sementara itu disana, Rafka mulai khawatir saat mendengar suara muntahan Annisa. Kebetulan pintu kamar mandi terbuka lebar, Annisa tak sempat menutupnya tadi. Dan Rafka pun segera berlari kesana.
“Sayang, kamu muntah?” tanya Rafka. Terlihat jelas raut ke khawatiran di wajahnya.
Annisa menggerakkan kedua bahunya, merasa semakin mual sekarang.
“Hooeekk!!”
Lagi, Annisa mengeluarkan cairan muntahannya. Yang kemudian disusul cairan kuning yang keluar dari sana. Membuat tubuh Annisa semakin lemas saja, dan membuat Rafka kian khawatir sekarang. Kembali, Rafka mendekati Annisa dan memegangi bahunya.
“Sayang, kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya nya lagi.
Rafka mengerutkan dahinya.
“Kamu muntah karena tak tahan dengan bau mulutku?” tanya Rafka kini.
“Entahlah, yang pasti saat ini setiap Annisa mencium aroma yang keluar dari mulut Abang, perut Nisa mual dan ingin muntah.” Jelas Annisa.
“Hmm, yasudah. Sekarang juga Abang mandi biar wangi. Kamu sendiri, segeralah masuk kedalam dan beristirahatlah disana.”
“Iya Bang.” Angguk Annisa, patuh.
Setelah membersihkan mulutnya, Annisa pun kemudian kembali masuk kedalam. Sementara Rafka, melanjutkan membersihkan diri disana.
Beberapa saat kemudian.
Setelah membersihkan diri, kini Rafka kembali masuk kedalam kamarnya. Pria itu lalu memakai pakaian yang sudah disiapkan Annisa. Menyisir rambutnya dan menatanya dengan rapi. Baru setelah itu Rafka menyemprotkan
parfum kesukaannya.
Lagi-lagi, entah mengapa saat Rafka menyemprotkan parfumnya. Annisa kembali merasakan perutnya mual, dan juga ingin muntah. Annisa tak tau mengapa, padahal itu adalah parfum yang biasa di pakai Rafka, dan Annisa juga
sangat menyukainya aromanya. Namun, entah mengapa pagi ini Annisa begitu merasa tak nyaman.
__ADS_1
Segera Annisa bangkit dari tempat nya, berlari ke kamar mandi, dan lagi-lagi muntah disana.
“Hooeekk!!”
Mendengar hal itu, tentu saja membuat Rafka sangat panik sekarang. Segera lelaki itu berlari menghampiri istrnya, dan menyentuhnya dari belakang.
“Sayang, sepertinya kamu sedang tidak sehat. Kita ke Dokter ya.” ucap Rafka lembut.
“Bang, lepas pakaianmu.” Pinta Annisa seraya menutup hidungnya.
“Lepas?”
“Ya.”
“Kenapa harus lepas?” tanya Rafka heran.
“Nisa nggak tahan dengan aroma parfum yang baru saja Abang pakai.” Jelas Annisa.
“Loh, kenapa? Bukankah sebelumnya kamu sangat suka dengan aroma parfum itu?” kembali Rafka bertanya heran.
“Entahlah Bang, Nisa juga nggak tau. Yang pasti sekarang, Nisa nggak tahan dengan aroma parfum Abang dan merasa mual.”
Rafka mengerutkan dahinya, menatap tajam kearah Annisa.
Sementara itu, Annisa yang sudah kembali tak tahan dengan aroma parfum Rafka kembali memohon agar Rafka mengganti pakaiannya.
“Bang, Nisa mohon, lepas dan gantilah pakaian Abang. Nisa sungguh sangat-sangat tidak tahan sekarang” Annisa kembali merasa perutnya semakin mual, dan kembali mengeluarkan isinya disana. “Hooeekk!!”
Tak tega melihat istrinya yang kian melemah, Rafka pun dengan segera membuka pakaianya dan melemparnya begitu saja disana. Setelah membilas mulut Annisa, Rafka kemudian mengangkat tubuh Annisa, lalu membawanya
ke tempat tidur mereka.
Setibanya disana.
“Istirahatlah sebentar, nanti siang kita ke Dokter ya.” Kata Rafka seraya meletakkan tubuh Annisa diatas pembaringan.
Annisa mengangguk patuh. Dilihatnya kearah Rafka yang kini sudah tak lagi memakai pakaiannya, membuat Annisa merasa bersalah karena sikapnya.
“Bang, maafin Nisa ya.” Ucapnya tulus.
“Minta maaf? Memang nya kamu salah apa?”
“Karena Nisa sudah membuat Abang melepas pakaian yang sudah Abang pakai begitu saja.” Kata Annisa. “Sungguh, Nisa nggak bermaksud seperti itu.” Jelasnya lagi.
Meskipun jujur, sebenarnya Rafka sedikit kesal karena sikap Annisa yang sedikit aneh pagi ini. Namun, melihat kondisi Annisa, Rafka tetap memaksakan senyumnya tak ingin wanita itu semakin sedih nantinya.
“Iya, nggak apa-apa. Santai saja, dan istirahatlah.” Ucap Rafka lembut.
__ADS_1