
Sore hari nya..
Di luar angin berhembus sepoi-sepoi. Setelah selesai menjalankan kewajiban nya, kini Annisa berjalan mendekati ranjang. Ia lalu duduk disana dengan menaikkan kedua kaki nya dan bersandar di sandaran ranjang nya.
Cukup lama ia duduk disana tanpa bergerak sama sekali. Pikiran nya melayang entah kemana. Hingga akhirnya satu jam pun berlalu. Annisa tersentak dalam lamunan nya, kini ia melihat kearah jam dinding yang ada disana dan melihat jarum jam menunjuk kearah lima.
Ia kemudian berdiri dan berjalan gontai kearah pintu kamar. Diraihnya gagang pintu lalu dibuka nya, dan kini Annisa berjalan kearah dapur untuk membuatkan sesuatu disana.
Seperti biasa di jam segini Annisa mulai membuatkan makanan untu makan malam nanti. Namun sore ini ia begitu malas menjalankan tugas nya akibat gejolak batin yang ada dirinya.
"Huufft, masak pun malas jadi nya." Lirih Annisa.
Namun ia tetap melanjutkan pekerjaan nya itu hingga akhirnya tanpa terasa magrib pun tiba.
Tak banyak menu yang ia buat malam ini. Annisa hanya menggoreng ikan Nila dan juga memasak sayur asem saja.
Setelah mengatur semuanya diatas meja. Dengan segera Annisa kemudian kembali ke kamar nya.
Sementara itu.
Rafka kini sudah sampai didepan rumahnya. Seperti biasa pintu pagar di buka oleh Pak Sofyan. Setelah memarkirkan mobilnya, Rafka kemudian turun dan bergegas masuk kedalam rumahnya.
Setelah sampai di kamarnya. Ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Lalu setelah selesai ia pun keluar dan memakai pakaian santai dan segera turun kebawah.
Rafka berjalan kearah ruang makan yang berdampingan dengan dapur. Disana tidak terlihat Annisa sama sekali. Lalu ia terus berjalan mendekati meja makan dan duduk disana.
Sekitar dua puluh menit Rafka menunggu. Namun Annisa tak kunjung datang. Ia kemudian membuka tudung saji dan melihat menu yang ada disana.
"Sayur asem? Hmm
Gumam Rafka.
Tanpa pikir panjang ia pun kemudian menyantap makanan nya tanpa di dampingi Annisa malam ini.
Sementara itu didalam kamar.
Annisa duduk diatas ranjang nya sembari mendekap kedua kaki nya. Ia malas sekali untuk keluar kamar, apalagi jika sampai bertemu dengan Rafka.
Sungguh itu yang sangat di hindari nya saat ini.
Namun di tengah kesendirian nya. Tiba-tiba saja pintu kamar di ketuk dari luar.
Tok tok tok
Seketika Annisa menoleh kearah pintu.
__ADS_1
"Abang!" Lirih nya.
Namun ia sama sekali tak bangkit dari duduk nya.
Tok tok tok
Suara itu kembali terdengar namun lagi-lagi Annisa tak ingin mengindahkan nya. Namun semakin Annisa tak perduli dengan ketukan pintu tersebut. Semakin keras pula suaranya sehingga kini mau tak mau ia harus bangkit dari duduk nya dan berjalan kearah pintu kamar untuk segera membuka nya.
"Ceklek
Suara pintu terbuka.
Setelah pintu terbuka. Dilihat nya Rafka sudah berdiri disana dengan raut wajah dingin sembari menatap tajam kearah nya.
"Kenapa lama sekali membuka nya?" Tanya Rafka.
"Maaf Bang, tadi Nisa lagi dikamar mandi." Kilah Annisa.
Tidak mungkin kan ia harus berterus terang dengan mengatakan jika tadi ia malas membuka pintunya karena tak ingin bertemu dengan Rafka.
"Kenapa kamu tak datang kemeja makan?" Tanya Rafka lagi.
"Maaf Bang, tadi Nisa ketiduran." Kilah nya lagi sembari menundukkan kepalanya.
"Hmm, baiklah. Lalu kenapa kamu tidak datang ke kamar ku?" Tanya Rafka kembali.
"Untuk apa?" Ucap Annisa seolah-olah tak mengingat lagi kejadian siang tadi.
"Untuk tidur denganku." Ucap Rafka masih dengan tatapan dingin.
"Deg . .
Jantung Annisa kembali berdetak kencang saat mendengar kalimat dari Rafka. Bahkan saat ini ia sama sekali tak canggung untuk mengungkapkan nya.
"Tapi.."
"Apa jangan-jangan kamu ingin aku yang tidur di kamar mu?" Ucap Rafka memotong kalimat yang ingin diucapkan Annisa.
"Tidak Bang, bukan seperti itu maksud Nisa. Baiklah, sekarang Nisa akan segera ke kamar Abang. Tapi Nisa mau ganti baju dulu." Ucap Annisa tak berdaya.
"Ambil saja baju ganti mu. Bawa ke kamar ku dan kamu ganti disana." Ujar Rafka yang tak ingin menunggu lama.
Annisa pun kemudian bergegas kearah lemari untuk segera mengambil baju yang akan di kenakan nya untuk tidur. Disana ia mencari baju tidur yang biasa di kenakan nya dikala musim hujan tiba. Dengan ketebalan yang cukup tebal bagi nya, layak nya seseorang yang ingin bermain salju di luar. Ia pun mengambilnya dari sana.
"Sudah Bang." Ucap nya saat berhadapan kembali dengan Rafka.
__ADS_1
"Hmm," Sahut Rafka.
Ia kemudian membalikkan badan nya dan berjalan kearah anak tangga untuk sampai ke kamar nya.
Sedangkan Annisa yang sudah menutup pintu kamar nya kemudian mengikuti Rafka dari belakang.
"Mudah-mudahan saja nanti disana tidak akan terjadi apa-apa
Gumam Annisa.
Sesampainya di depan pintu kamar Rafka. Annisa kini seolah enggan untuk ikut masuk kedalam. Sehingga kini ia hanya berdiri di depan pintu saja.
"Masuklah, tidak perlu sungkan." Ucap Rafka.
Namun Annisa masih saja berdiri disana.
Hingga akhirnya Rafka kembali dan menariknya untuk segera masuk kedalam.
"Jangan terlalu lama diluar. Banyak nyamuk yang masuk nanti." Ucap Rafka seraya menarik tangan Annisa untuk segera masuk kedalam kamar nya.
Setelah menutup pintu kamarnya. Rafka kemudian berjalan kearah kamar mandi. Sedangkan Annisa masih berdiri di tempat nya.
Dilihat nya kearah samping kanan ada sebuah sofa berukuran besar disana. Sehingga kini Annisa pun memilih untuk duduk diatas sofa tersebut.
Setelah selesai dari kamar mandi. Rafka kemudian kembali masuk kedalam kamarnya. Dilihat nya kearah ranjang nya, tak ada Annisa disana. Lalu ia melirik kearah sofa dan tampak Annisa sedang merebahkan tubuh nya disana.
"Kenapa kamu tidur disitu? Apakah sofa itu lebih nyaman dari ranjang ku?" Tanya Rafka seraya melangkah mendekat kearah Annisa.
Melihat Rafka melangkah kearah nya. Annisa kemudian bangkit dan duduk dengan baik.
"Bukan seperti itu Bang, Nisa hanya ingin bermain saja disini." Ujar Annisa.
"Kenapa belum juga mengganti pakaian mu?" Tanya Rafka seraya memperhatikan pakaian yang dikenakan Annisa masih sama seperti yang tadi.
"Iya Bang, Nisa akan segera ganti." Ucap nya seraya berdiri dari duduk nya.
"Kamu mau kemana?" Rafka kembali bertanya.
"Mau ke kamar mandi ganti baju." Jawab Annisa.
"Kenapa harus disana? Disini juga bisa kan?" Ucap Rafka dengan santai nya.
"Deg..
Jantung Annisa kembali berdebar kencang. yang benar saja, jika ia mengganti pakaian nya disana terus bagaimana dengan Rafka. pasti dia akan melihat semuanya kan.
__ADS_1