Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 106


__ADS_3

Malam semakin larut. Setelah selesai menikmati makan malam


yang di sajikan langsung oleh Bik Yam. Kini Dedi beserta Winda pamit undur


diri.


“ Kak Nisa, Kakak ipar! Winda pamit dulu ya.” Ucap Winda. Ia


lalu bergerak maju kearah Annisa dan memeluk dirinya.


“ Iya, hati-hati ya dek.” Sahut Annisa. “ Oya, kamu pulang


diantar sama Kak Dedi kan?” Tanya nya kemudian sembari melirik kearah Dedi yang


saat ini berdiri di samping Rafka.


“ Iya, aku yang akan antar Winda hingga sampai di tempat


tujuan.” Sahut Dedi begitu mendengar namanya disebut-sebut dalam percakapan


Annisa dan juga Adiknya.


“ Makasih ya Kak. Untung ada Kak Dedi, kalau tidak Nisa akan


begitu khawatir tentang Winda karena ini juga sudah larut malam.” Balas Annisa.


“ Iya, sama-sama. Lagi pula ini sudah tanggung jawab ku


untuk mengantarkannya pulang. Karena aku yang sudah mengajak nya kesini hingga


pulang larut malam begini.” Ucap Dedi.


“ Nggak apa-apa kok Kak, Winda malah senang banget karena


hari ini setelah sekian lama Winda akhirnya bisa bertemu juga dengan Kak Nisa.”


Sambut Winda.


“ Ya sudah, sekarang kalian segera pulang karena ini sudah


larut. Dan kamu Dedi, tolong jaga Adik ipar kesayanganku ini dengan baik-baik.


Jangan sampai ia terluka sedikit pun, mengerti.” Ucap Rafka yang kini


mewanti-wanti agar Dedi menjaga Winda dengan aman.


“ Siap bos, laksanakan!” Seru Dedi yang kini menaikkan


tangan nya keatas kepalanya, menandakan hormat kepada atasan nya. Yang membuat


Annisa dan Winda tertawa kecil karena nya. “ Tuan Putri Winda, mari saya


antarkan pulang. Sebagai pengawal, saya akan mengantarkan Tuan Putri Winda pulang


kerumah dengan selamat.” Ujar Dedi seraya membungkukkan badan nya didepan


Winda. Yang membuat gadis itu tak bisa menahan tawanya.


Akhirnya malam itu Dedi mengantarkan Winda pulang kerumah


nya.


Setelah kepergian Winda bersama Dedi, dan juga


mobil mereka yang kini sudah menghilang dari pandangan mata. Rafka lalu


merengkuh tubuh Annisa dan menggendong nya. Sontak saja tindakkan nya itu


membuat Annisa begitu terkejut karena nya.


“ Abang!” Serunya seraya melotot


kearah Rafka.


“ Apa! Kamu mau marah?” Tantang


Rafka.


“ Apaan sih! Kita ini masih


diteras loh, bagaimana jika ada yang lihat?” Mata Annisa mulai melirik kesana-kemari,


memastikan jika taka da orang disana.


“ Memangnya kenapa kalau ada yang


lihat? Paling juga Bik Yam yang lihat.” Ucap Rafka.


“ Iya kalau Bik Yam yang lihat.

__ADS_1


Kalau Ranum gimana?”


“ Kamu kenapa sih! Cuma Ranum dan


Bik Yam kan yang ada disini. Kenapa jadi begitu khawatir sih! Kita kan suami


istri, jadi wajar saja kan.” Rafka tak mau mendengarkan. Kini ia tetap dengan


pendirian nya menggendong tubuh Annisa menuju kekamar nya. Kini Annisa hanya


bisa pasrah menerima apa yang dilakukan suaminya. Hingga tanpa terasa mereka


pun tiba didalam kamar nya.


***


Sementara itu di pulau XX.


Fikar kini sudah mengetahui apa


kandungan obat yang ada didalam botol putih tersebut. Fikar sungguh terkejut


saat mendengar nya. Ia sama sekali tak menduga jika Maya tega melakukan hal


sekeji itu terhadap Annisa. Yang memasukkan obat pencegah kehamilan kedalam


minuman nya. Maya pasti melakukan hal itu karena ia tak ingin jika Annisa dan


Rafka memiliki anak sepulangnya dari sana. Sungguh ini perbuatan yang sangat


tidak terpuji, begitu fikir nya.


Fikar kini meraih ponselnya dan


berniat menghubungi Rafka untuk memberitahukan hal yang baru saja diketahuinya.


Namun, ketika ia melihat jam yang tertera di ponselnya. Fikar mengurungkan niat


nya karena kini sudah terlalu malam baginya.


Ya, saat ini jam telah


menunjukkan angka 23:45. Sehingga tak mungkin baginya untuk menelpon Rafka di


jam seperti ini. Terlebih lagi hari ini mereka pasti sangat lelah karena


perjalan pulang dari pulau XX menuju kota S. Fikar lalu kembali menaruh


sebuah rumah sakit kecil yang ada di pulau itu, kini memilih pulang ke Villa.


Tak berapa lama kemudian. Fikar


akhirnya tiba di Villa, dimana tempat nya menginap. Setelah memarkirkan


mobilnya, Fikar kini bergegas menuju kearah kamar nya dan masuk kedalam.


Disana, diatas sebuah sofa yang berukuran sedang. Fikar duduk terpaku


memikirkan apa yang baru saja diketahui nya.


“ Sungguh Maya wanita yang sangat


kejam. Bisa-bisa nya ia melakukan hal seperti ini kepada Annisa. Padahal


jelas-jelas Annisa selalu bersikap baik kepadanya.” Lirihnya.


Fikar lalu mulai mengingat


kejadian di pagi hari. Dimana, saat itu Fikar tanpa sengaja melihat Maya yang


dengan sengaja menarik jilbab yang dikenakan Annisa hingga tanggal dari


kepalnya. Untung saja waktu itu Annisa menggunakan siput jilbab yang menutupi


rambutnya. Fikar melihat, meskipun Annisa terlihat kesal. Namun, ia sama sekali


tak membalas perlakuan buruk yang dilakukan Maya terhadap nya. Bahkan saat itu


ketika Rafka menolak Maya untuk ikut bersama mereka. Annisa justru berbesar


hati menerima Maya untuk ikut bersamanya.


“ Sungguh wanita tak tahu malu.”


Umpatnya lagi.


Fikar lalu kembali mengambil


ponselnya. Ia lalu mencari nomor kontak Maya yang ia simpan disana, berniat

__ADS_1


untuk menghubunginya. Namun, sesaat kemudian ia kembali mengingat. Jika itu


bukan urusan nya, dan biarlah Rafka sendiri yang menanganinya. Ia pasti lebih


tau hal apa yang pantas diterima gadis tersebut karena telah berani mengusik


kehidupan nya.


Fikar lalu beranjak dari tempat


nya menuju kearah meja kecil yang berada tepat disamping ranjang nya. Lalu ia meletakkan


ponselnya disana dan beralih menuju kearah pintu kamar mandi. Setibanya disana


Fikar pun masuk untuk membersihkan diri dan setelah itu ia kembali kedalam


kamar untuk beristirahat diatas ranjang.


Pagi ini di kota S.


Mentari bersinar begitu terang


menerangi kota. Didalam rumahnya, Rafka kini telah selesai berolahraga dengan


peralatan olahraga yang terletak diruang khusus rumahnya. Keringat nya


bercucuran keluar dari pori-pori kulitnya. Oto-otot tangan nya juga tampak


menonjol karena saat iini Rafka memakai pakaian tanpa lengan. Setelah selesai


berolahraga, Rafka kemudian meminum air mineral yang sengaja ia bawa disana.


Setelah itu ia pun beranjak dari ruang olahraga menuju kearah kamar nya untuk


membersihkan keringat yang kini mengucur diseluruh tubuhnya.


Setibanya dikamar. Ia melihat


Annisa nyaman dengan posisi dibawah selimut yang menyelimuti tubuhnya. Rafka


lalu bergegas menuju kearah ranjang. Dengan handuk kecil yang masih ia letakkan


dipundaknya. Rafka kemudian tersenyum begitu melihat Annisa yang sedang


tertidur dengan posisi mulut yang terbuka. Sehingga membuat nya dengan spontan


meraih ponselnya dan memotret istrinya.


“ Hahaha.” Rafka tergelak dengan


suara agak keras. Sehingga membuat Annisa terjaga dari tidurnya.


Ia lalu perlahan membuka mata melihat kearah


sosok yang saat ini sedang susuk didepan nya.


“ Abang!” Ucapnya begitu


memastikan jika itu benar Rafka suaminya.


“ Hmm, kamu sudah bangun?” Tanya


Rafka seraya membelai lembut pucuk kepala Annisa.


“ Hmm.” Annguk Annisa.


“ Karena sekarang kamu sudah


terjaga, maka bangunlah dan bersihkan tubuhmu.” Perintah Rafka.


“ Tapi Bang, Nisa masih ngantuk.”


Suara Annisa terdengar begitu manja.


“ Hmm, begitu ya. Ya sudah, kalau


begitu kamu tidur saja. Biar aku yang membawamu kekamar mandi dan memandikan mu


sekarang.” Ucap Rafka.


Ia kemudian mengangkat tubuh


Annisa kedalam pangkuan nya. Lalu ia membawa nya kekamar mandi dan kembali


memandikannya.


“ Abaanng!!!!”


Seru Annisa saat Rafka mengguyur

__ADS_1


tubuhnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2