
Malam semakin larut. Setelah selesai menikmati makan malam
yang di sajikan langsung oleh Bik Yam. Kini Dedi beserta Winda pamit undur
diri.
“ Kak Nisa, Kakak ipar! Winda pamit dulu ya.” Ucap Winda. Ia
lalu bergerak maju kearah Annisa dan memeluk dirinya.
“ Iya, hati-hati ya dek.” Sahut Annisa. “ Oya, kamu pulang
diantar sama Kak Dedi kan?” Tanya nya kemudian sembari melirik kearah Dedi yang
saat ini berdiri di samping Rafka.
“ Iya, aku yang akan antar Winda hingga sampai di tempat
tujuan.” Sahut Dedi begitu mendengar namanya disebut-sebut dalam percakapan
Annisa dan juga Adiknya.
“ Makasih ya Kak. Untung ada Kak Dedi, kalau tidak Nisa akan
begitu khawatir tentang Winda karena ini juga sudah larut malam.” Balas Annisa.
“ Iya, sama-sama. Lagi pula ini sudah tanggung jawab ku
untuk mengantarkannya pulang. Karena aku yang sudah mengajak nya kesini hingga
pulang larut malam begini.” Ucap Dedi.
“ Nggak apa-apa kok Kak, Winda malah senang banget karena
hari ini setelah sekian lama Winda akhirnya bisa bertemu juga dengan Kak Nisa.”
Sambut Winda.
“ Ya sudah, sekarang kalian segera pulang karena ini sudah
larut. Dan kamu Dedi, tolong jaga Adik ipar kesayanganku ini dengan baik-baik.
Jangan sampai ia terluka sedikit pun, mengerti.” Ucap Rafka yang kini
mewanti-wanti agar Dedi menjaga Winda dengan aman.
“ Siap bos, laksanakan!” Seru Dedi yang kini menaikkan
tangan nya keatas kepalanya, menandakan hormat kepada atasan nya. Yang membuat
Annisa dan Winda tertawa kecil karena nya. “ Tuan Putri Winda, mari saya
antarkan pulang. Sebagai pengawal, saya akan mengantarkan Tuan Putri Winda pulang
kerumah dengan selamat.” Ujar Dedi seraya membungkukkan badan nya didepan
Winda. Yang membuat gadis itu tak bisa menahan tawanya.
Akhirnya malam itu Dedi mengantarkan Winda pulang kerumah
nya.
Setelah kepergian Winda bersama Dedi, dan juga
mobil mereka yang kini sudah menghilang dari pandangan mata. Rafka lalu
merengkuh tubuh Annisa dan menggendong nya. Sontak saja tindakkan nya itu
membuat Annisa begitu terkejut karena nya.
“ Abang!” Serunya seraya melotot
kearah Rafka.
“ Apa! Kamu mau marah?” Tantang
Rafka.
“ Apaan sih! Kita ini masih
diteras loh, bagaimana jika ada yang lihat?” Mata Annisa mulai melirik kesana-kemari,
memastikan jika taka da orang disana.
“ Memangnya kenapa kalau ada yang
lihat? Paling juga Bik Yam yang lihat.” Ucap Rafka.
“ Iya kalau Bik Yam yang lihat.
__ADS_1
Kalau Ranum gimana?”
“ Kamu kenapa sih! Cuma Ranum dan
Bik Yam kan yang ada disini. Kenapa jadi begitu khawatir sih! Kita kan suami
istri, jadi wajar saja kan.” Rafka tak mau mendengarkan. Kini ia tetap dengan
pendirian nya menggendong tubuh Annisa menuju kekamar nya. Kini Annisa hanya
bisa pasrah menerima apa yang dilakukan suaminya. Hingga tanpa terasa mereka
pun tiba didalam kamar nya.
***
Sementara itu di pulau XX.
Fikar kini sudah mengetahui apa
kandungan obat yang ada didalam botol putih tersebut. Fikar sungguh terkejut
saat mendengar nya. Ia sama sekali tak menduga jika Maya tega melakukan hal
sekeji itu terhadap Annisa. Yang memasukkan obat pencegah kehamilan kedalam
minuman nya. Maya pasti melakukan hal itu karena ia tak ingin jika Annisa dan
Rafka memiliki anak sepulangnya dari sana. Sungguh ini perbuatan yang sangat
tidak terpuji, begitu fikir nya.
Fikar kini meraih ponselnya dan
berniat menghubungi Rafka untuk memberitahukan hal yang baru saja diketahuinya.
Namun, ketika ia melihat jam yang tertera di ponselnya. Fikar mengurungkan niat
nya karena kini sudah terlalu malam baginya.
Ya, saat ini jam telah
menunjukkan angka 23:45. Sehingga tak mungkin baginya untuk menelpon Rafka di
jam seperti ini. Terlebih lagi hari ini mereka pasti sangat lelah karena
perjalan pulang dari pulau XX menuju kota S. Fikar lalu kembali menaruh
sebuah rumah sakit kecil yang ada di pulau itu, kini memilih pulang ke Villa.
Tak berapa lama kemudian. Fikar
akhirnya tiba di Villa, dimana tempat nya menginap. Setelah memarkirkan
mobilnya, Fikar kini bergegas menuju kearah kamar nya dan masuk kedalam.
Disana, diatas sebuah sofa yang berukuran sedang. Fikar duduk terpaku
memikirkan apa yang baru saja diketahui nya.
“ Sungguh Maya wanita yang sangat
kejam. Bisa-bisa nya ia melakukan hal seperti ini kepada Annisa. Padahal
jelas-jelas Annisa selalu bersikap baik kepadanya.” Lirihnya.
Fikar lalu mulai mengingat
kejadian di pagi hari. Dimana, saat itu Fikar tanpa sengaja melihat Maya yang
dengan sengaja menarik jilbab yang dikenakan Annisa hingga tanggal dari
kepalnya. Untung saja waktu itu Annisa menggunakan siput jilbab yang menutupi
rambutnya. Fikar melihat, meskipun Annisa terlihat kesal. Namun, ia sama sekali
tak membalas perlakuan buruk yang dilakukan Maya terhadap nya. Bahkan saat itu
ketika Rafka menolak Maya untuk ikut bersama mereka. Annisa justru berbesar
hati menerima Maya untuk ikut bersamanya.
“ Sungguh wanita tak tahu malu.”
Umpatnya lagi.
Fikar lalu kembali mengambil
ponselnya. Ia lalu mencari nomor kontak Maya yang ia simpan disana, berniat
__ADS_1
untuk menghubunginya. Namun, sesaat kemudian ia kembali mengingat. Jika itu
bukan urusan nya, dan biarlah Rafka sendiri yang menanganinya. Ia pasti lebih
tau hal apa yang pantas diterima gadis tersebut karena telah berani mengusik
kehidupan nya.
Fikar lalu beranjak dari tempat
nya menuju kearah meja kecil yang berada tepat disamping ranjang nya. Lalu ia meletakkan
ponselnya disana dan beralih menuju kearah pintu kamar mandi. Setibanya disana
Fikar pun masuk untuk membersihkan diri dan setelah itu ia kembali kedalam
kamar untuk beristirahat diatas ranjang.
Pagi ini di kota S.
Mentari bersinar begitu terang
menerangi kota. Didalam rumahnya, Rafka kini telah selesai berolahraga dengan
peralatan olahraga yang terletak diruang khusus rumahnya. Keringat nya
bercucuran keluar dari pori-pori kulitnya. Oto-otot tangan nya juga tampak
menonjol karena saat iini Rafka memakai pakaian tanpa lengan. Setelah selesai
berolahraga, Rafka kemudian meminum air mineral yang sengaja ia bawa disana.
Setelah itu ia pun beranjak dari ruang olahraga menuju kearah kamar nya untuk
membersihkan keringat yang kini mengucur diseluruh tubuhnya.
Setibanya dikamar. Ia melihat
Annisa nyaman dengan posisi dibawah selimut yang menyelimuti tubuhnya. Rafka
lalu bergegas menuju kearah ranjang. Dengan handuk kecil yang masih ia letakkan
dipundaknya. Rafka kemudian tersenyum begitu melihat Annisa yang sedang
tertidur dengan posisi mulut yang terbuka. Sehingga membuat nya dengan spontan
meraih ponselnya dan memotret istrinya.
“ Hahaha.” Rafka tergelak dengan
suara agak keras. Sehingga membuat Annisa terjaga dari tidurnya.
Ia lalu perlahan membuka mata melihat kearah
sosok yang saat ini sedang susuk didepan nya.
“ Abang!” Ucapnya begitu
memastikan jika itu benar Rafka suaminya.
“ Hmm, kamu sudah bangun?” Tanya
Rafka seraya membelai lembut pucuk kepala Annisa.
“ Hmm.” Annguk Annisa.
“ Karena sekarang kamu sudah
terjaga, maka bangunlah dan bersihkan tubuhmu.” Perintah Rafka.
“ Tapi Bang, Nisa masih ngantuk.”
Suara Annisa terdengar begitu manja.
“ Hmm, begitu ya. Ya sudah, kalau
begitu kamu tidur saja. Biar aku yang membawamu kekamar mandi dan memandikan mu
sekarang.” Ucap Rafka.
Ia kemudian mengangkat tubuh
Annisa kedalam pangkuan nya. Lalu ia membawa nya kekamar mandi dan kembali
memandikannya.
“ Abaanng!!!!”
Seru Annisa saat Rafka mengguyur
__ADS_1
tubuhnya.
BERSAMBUNG