Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 145


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu ini Annisa selalu meminum ramuan yang di buat khusus oleh Bik Yam untuknya. Setiap malam setelah meminum ramuan obat itu, mereka selalu melakukan hubungan suami-istri. Setiap malam Rafka dengan gagahnya menggarap keun nya, menaburkan benih-benih cinta disana.


Pagi itu entah mengapa wajah Annisa terlihat begitu pucat, kepalanya juga terasa pusing. Seluruh badan nya terasa tidak karuan, namun Annisa tetap berusaha kuat karena hari ini ia harus pergi ke Toko kue nya menyelesaikan pembayaran gaji para karyawan nya.


Annisa kini mulai menuruni anak tangga satu persatu, sambil berpegangan pada penyangga, Annisa terus berjalan turun ke bawah. Lalu kini tak lama kemudian tibalah ia di lantai dasar. Rafka berjalan kearah nya dengan peluh yang bercucuran dari dahinya. Kaos yang dikenakan nya juga terlihat basah oleh keringat nya.


Annisa yang melihat kedatangan suaminya itu kemudian tersenyum kearahnya. Sementara Rafka tampak mengerutkan dahinya saat melihat seperti ada yang aneh dari sikap Annisa. Dengan mempercepat langkah nya kini ia menghampiri istrinya.


“ Sayang, kamu kenapa?” Tanya dengan sembari memperhatikan mimik wajah Annisa.


“ Hah, oh, Nisa nggak kenapa-napa Bang.” Kata nya dengan suara yang terdengar begitu lemah.


“ Kamu yakin?” Rafka menelisik ke wajah istrinya. Berusaha mencari tau tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya.


“ Nisa yakin.” Ucap Annisa. “ Abang sekarang langsung mandi gih! Nisa tunggu di meja makan ya.” Kata nya kemudian.


Melihat raut wajah Annisa tidak seperti biasanya, membuat Rafka tak ingin menyela dan langsung mengiyakannya.


“ Hmm, baiklah.” Ujar nya.


Kemudian Rafka segera berlalu meninggalkan Annsia disana.

__ADS_1


Setelah kepergian Rafka, Annisa yang tadinya berdiri disana kemudian melanjutkan kembali langkah nya. Perlahan ia berjalan menyusuri setiap sudut ruangan menuju kearah belakang, dimana ruang tamu dan dapur mereka berada.


Tak berapa lama kemudian Annisa kini tiba disana. Dengan langkah yang sedikit terhuyung-huyung ia berusaha berjalan melangkah kearah meja makan hingga akhirnya tubuhnya tiba-tiba saja ambruk kebawah.


Bruuk!


Melihat majikan nya jatuh dilantai, membuat Bik Yan dan juga Susi yang ada disana kini berhambur pergi berlari kearahnya. Diangkat nya tubuh Annisa lalu Bik Yam berusaha mengusp-ngusap tangan nya untuk membuat nya


terjaga.


“ Non! Nona!” Seru Bik Yam dengan wajah yang terlihat begitu panik.


“ Panggil Den Rafka sekarang! Cepat!” Jerit Bik Yam yang dilanda kepanikan.


Susi lalu segera bangkit dari duduk nya dan berlari menuju kearah anak tangga, di lihatnya kearah atas tak ada tanda-tanda jika Majikan lelaki nya itu akan turun dari sana. Susi kemudian memutuskan untuk segera naik keatas. Ditelusuri anak tangga yang ada disana dengan gerakan yang begitu cepat, bak buronan yang tengah menghindar dari tangkapan.


Kini setibanya dilantai atas tanpa membuang waktu ia segera berlari menuju kearah kamar Tuan nya. Lalu di gedor nya pintu tersebut dengan sangat keras.


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Tanpa jeda Susi terus menerus menggedor pintu kamar Rafka, sehingga membuat Rafka yang baru saja selesai memakai kemejanya segera berlari kearah pintu dan membuka pintu kamar nya.


Ceklek!


Pintu terbuka dan Rafka melihat kepanikan yang luar biasa dari wajah Susi.


“ Tuan! Ayo segera kita turun kebawah, Nona Annisa jatuh pingsan di ruang makan!” Serunya seraya menarik dengan paksa tangan Rafka untuk ikut dengan nya.


Saat ini Susi sudah tidak ingat apa-apa. Yang ada di fikiran nya sekarang hanyalah Nona Annisaa, sang majikan yang berhati lembut sedang sekarat disana.


“ Susi, lepas dulu tangan ku agar aku bisa berjalan dengan cepat.” Kata Rafka.


Sejenak Susi terdiam, lalu ia tersadar jika betapa lancing nya dirinya yang berani memegang tangan Tuan nya begitu saja.


“ Ma-maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja. Itu semua karena saya terlalu panik tadi.” Kata Susi. Terlihat sekali dia juga begitu menyesal begitu mengetahui jika dirinya sudah begitu lancing.


“ Hmm,” Singkat Rafka yang kemudian berlalu didepan nya.


Melihat ekspresi yang di tunjukkan Susi membuat Rafka juga dilanda kecemasan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan istrinya. Kenapa pagi ini dia tiba-tiba bisa lemah seperti itu? Pertaanyaan itu kian tertanam di fikiran nya. Namun kini hal terpenting adalah segera menemui Annisa dan membawana kerumah sakit.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2