Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 105


__ADS_3

Disana diruang tengah.


Setelah kepergian Rafka dan Annisa. Dedi yang saat ini telah di skakmat oleh Winda mulai bangkit dari duduk nya. Membuat Winda mengerutkan dahinya menatap kearah nya.


 


Kak Dedi mau pergi kemana? Apa ucapanku barusan membuatnya marah?


Winda bertanya-tanya didalam hatinya. Sedangkan Dedi mulai melangkah dari tempat nya.


 


" Kak Dedi mau kemana?" Tanya Winda spontan.


Dedi pun berhenti dan menoleh kearah gadis tersebut.


" Mau nyari Bik Yam. Apakah ia sudah selesa memasak makan malam untuk kita. Karena tadi sebelum kita berangkat menjemput Annisa dan Rafka. Aku terlebih dahulu menelpon kerumah, menyuruh Bik Yam masak untuk menyambut kepulangan mereka." Ujar Dedi.


" Ooo.." Winda manggut-manggut begitu pendengar ucapa Dedi.


" Ya sudah, kalau begitu aku coba cek dulu ya. Kamu duduk yang rapi disini, jangan lompat-lompat seperti anak kecil, pufftt! Hahaha.."


Dedi kembali menggoda Winda.


" Kak Dedi! Apaan sih! Winda itu udah besar tau.. huh!"


Wajah Winda terlihat merah menahan amarahnya. Kini ia melipat kedua tangan nya seraya mengerutka alis nya, lalu memalingkan wajah kearah samping. Menunjukkan jika saat ini ia begitu kesal dengan ucapan Dedi barusan.


" Hahahahah.." Dedi tergelak. Ia begitu puas saat melihat ekspresi yang di tunjukkan Winda, dan kini ia kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan gadis tersebut dalam kekesalan nya.


 


 


Sementara itu didalam kamar.


Tepat nya di kamar Annisa dan Rafka.


Rafka benar-benar menepati ucapan nya kepada Annisa. Ia benar-benar memandikan Annisa seperti ucapan nya tadi diruang tengah. Ia kini menggosok setiap inci tubuh istrinya itu dengan sangat lembut, layaknya seorang ayah yang tengah memandikan putri kecilnya.


Annisa hanya duduk diam menerima setiap perlakuan Rafka. Bukan nya dia tidak menolak, sebenarnya tadi mereka sempat berdebat hingga akhirnya Annisa lah yang kalah dalam perdebatan itu. Hingga kini niat yang ada di hatinya Rafka untuk memandikan istrinya itu terealisasikan dengan lancar.


Rafka tersenyum, tatkala ia melihat wajah istrinya yang saat ini memerah akibat ulahnya. Tingkat kemerahan nya sudah berada di level lima. Yang berarti saat ini wajah merah nya sungguh nyata terlihat hingga tak dapat disembunyikan. Seperti biasa Annisa menunduk malu saat Rafka dengan lembut membasuh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower yang ada disana.


 


Aaaa... malu sekali rasanya di perlakukan seperti ini oleh suami sendiri.


Gumam Annisa.


Lalu secara perlahan ia mulai menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangannya tak ingin melihat Rafka.

__ADS_1


 


" Sayang.. kenapa? Matamu perih?" Tanya Rafka seraya memegatelapak tangan Annisa dan berusaha memindahkannya dari wajah nya.


Annisa lantas menggelengkan kepala nya saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Rafka kepadanya.


" Jika tidak, terus kenapa kamu menutup wajahmu dengan kedua tangan mu?" Tanya nya lagi. Namun, saat ini ia sudah memindahkan seluruh tangan Annisa sehingga kini ia dengan bebas mearaih dagu Annisa dan membuat Annisa menatap dirinya. " Kamu malu?" Tanya Rafka sembari menatap lekat-lejat wajah Annisa.


 


Annisa tak berani beradu mata dengan Rafka, apalagi jika harus membalas tatapan nya tersebut. Karena kini ia merasa malu karena Rafka memperlakukan nya seperti putri kecil saja. Annisa menundukkan pandangan nya, sehingga membuat wajah ayu nya terlihat begitu menggemaskan dimata Rafka.


 


Glek..


Rafka menelan air ludahnya sendiri. Wajah Annisa terihat begitu seksi dengan butiran air yang membasahi wajahnya. Kini Rafka semakin mendekatkan wajah nya kearah Annisa, yang membuat wanita tersebut memejamkan matanya.


Cup..


Sebuah ciuman kini berhasil mendarat di bibir mungil Annisa. Annisa sama sekali tak mengelak, ia justru membiarkan suaminya merajai bibirnya. Bahkan kini ia juga menikmati hal yang dilakukan Rafka kepadanya.


Rafka mulai gelisah, hasrat nya seketika bergejolak menikmati setiap inci bibir Annisa. Di tambah lagi posisi Annisa yang saat ini terlihat begitu seksi menurutnya, membuat Rafka semakin ingin menumpahkan gejolak yang ada didalam jiwa nya.


Namun, belum lagi ia memulai aksinya. Tiba-tiba saja ia teringat jika saat ini ada Dedi dan juga Winda yang sedang menunggu mereka diruang tengah. Sehingga dalam sekejap Rafka menghentikan ciuman nya. Annisa masih terdiam, ia masih saja menundukkan pandangan nya tak berani menatap suaminya.


" Ayo kita selesaikan mandinya. Di bawah ada Dedi dan juga Winda yang sedang menunggu kita." Lirih Rafka.


Annisa menganggukkan kepalanya. Sedangkan Rafka kembali membasuh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower yang ada ditangan nya.


 


***


Di ruang tengah.


Dedi yang sedari tadi pergi kearah dapur kini telah kembali dan duduk dikursinya. Ia dan Winda saling memandang karena sofa yang mereka duduki saling berhadapan satu sam lain. Sudah sekitar satu jam mereka menunggu, namun Rafka dan Annisa tak kunjung datang juga.


" Kenapa Kakak lama sekali ya?" Tanya Winda dengan wajah yang terlihat cukup polos.


" Mungkin mereka sedang bercinta." Sahut Dedi dengan santainya.


" Apa! Bercinta!" Seru Winda seraya melotot kearah Dedi.


" Kamu kenapa? Bukankah itu hal yang sangat wajar? Mereka kan sudah menikah." Dedi kembali berkata dengan cuek nya.


Namun, saat Winda ingin membalas ucapan nya. Tiba-tiba saja sepasang manusia melangkah kesana menghampiri mereka.


" Ehm-ehm.." Suara Rafka terdengar cukup nyaring saat itu. " Kalian lagi ngomongin kami ya?" Tanya nya seraya memandang kearah Dedi.


" Eh, Kakak ipar, Kak Nisa." Sapanya begitu melihat sepasang suami istri berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


" Hai Win, kalian lagi ngomongin kita ya?" Tanya Rafka seraya menatap kearah nya.


" Iya Kak.. Kita lagi ngomongin tentang keromantisan kalian. Dan sepertinya Kak Dedi juga ingin mempraktikkan nya jika ia sudah punya pasangan nantinya. Bukankah seperti itu Kak Dedi." Winda melirikkan matanya kearah Dedi sembari menonjolkan lesung pipi yang ada di wajah nya. Alisnya juga ikut naik turun sembari terus tersenyum menatap pria yang saat ini berada tepat dihadapan nya.


" Hahahahahah!" Gelak Rafka. " Apakah itu benar Ded? Jika itu benar, maka aku akan berdo'a agar kamu bisa cepat-cepat menemukan pasangan yang tepat. Agar teori yang kuajarkan untukmu bisa segera kamu praktikkan. Hahahaha!" Ucap Rafka yang kembali disusul gelak tawanya.


Begitupula dengan Annisa dan juga Winda. Pasangan Kakak/Adik tersebut juga seolah kompak menertawakan Dedi sekarang. Sehingga membuat Dedi mengerutkan dahinya, ia merasa kesal sekaligus malu dengan mereka.


Winda, gadis yang begitu menarik. Ternyata dia sungguh bisa membuatku mati kutu dihadapan semuanya.


Gumam Dedi.


 


" Iya-iya, semoga doa kalian semua di ijabah oleh Allah dan aku segera menemukan jodohku, amin." Ucap Dedi yang kini tak ingin lagi membahas kejombloan nya. Karena jika sudah menyangkut dengan hal itu ia pasti akan kalah, ditambah lagi ada Winda disana yang bisa membalikkan setiap kata-katanya.


" Kalau gitu, mari kita makan. Bik Yam beserta anaknya sudah masak banyak buat kita, dan sekarang semuanya suda dihidangkan di meja makan." Ujar Dedi.


" Loh, kapan Bik Yam masaknya? Perasaan aku tidak memberitahukan siapapun tentang kepulangan kami." Rafka menatap kearah Dedi.


" Sebelum aku menjemputmu ke bandara. Aku menelfon kerumah mu terlebih dahulu, untuk memberitahukan Bik Yam agar dia masak banyak hari ini. Yah, hitung-hitung menyambut kepulangan kalian lah. Jadi kita makan-makan  bersama malam ini." Ujar Dedi. " Ideku bagus kan." Tambahnya lagi. Kini ia mulai mengembangkan senyum nya seolah berbangga dengan ide cemerlang nya itu.


" Yah, idemu memang bagus. Tapi akan alangkah lebih bagus lagi jika kamu sendiri yang langsung mentrkatir kami. Bukankah begitu sayang." Timpal Rafka seraya melirik kearah Annisa.


" Eh, i-iya." Sahut Annisa sembari menganggukkan kepalanya. " Ah, sudahlah. Nisa lapar nih, yuk kita keruang makan sekarang." Ujar Annisa. " Oya, buat Kak Dedi makasih banyak ya, karena sudah menyuruh Bik Yam masak untuk kita. Kebetulan Nisa sangat lapar sekarang." Tambah nya seraya mengalihkan pandangan nya kearah Dedi.


" Iya sama-sama." Angguk Dedi.


" Tapi, tetap kita yang mentraktirnya makan dirumah kita." Sambut Rafka.


" Sialan lo Raf!" Gerutu Dedi tak terima dengan ucapan Rafka.


" Sudah-sudah, Nisa lapar nih! Nanti sambung lagi perdebatan kalian setelah selesai makan malam ya." Annisa mulai menggandenga tangan Rafka dan menarik nya agar ikut bersamanya.


Sedangkan Winda tertawa kecil di tempatnya mendengar perdebatan kecil yang terjadi diantar Kakak ipar beserta pria yang saat ini berdiri di hadapan nya.


" Ternyata, perdebatan diantara kedua lelaki begitu seru ya." Kata Winda yang kini sudah berdiri di samping Dedi.


" Ya, namun tidak lebih seru jika para wanita yang sedang berdebat." Balas Dedi sembari melenggang di depan Winda.


" Huh! Kak Dedi! Tapi tetap aja perdebatan diantara lelaki itu lebih seru di bandingkan diantara wanita!" Balas nya seraya menyusul Dedi yang kini berjalan menuju kearah ruang makan.


 


BERSAMBUNG


 


Hi guys . . jangan lupa dukung terus karya Author dengan cara Like, Vote dan juga Komentar nya ya. Selamat membaca dan selamat beraktivitas semuanya. Semoga segala sesuatu urusan kita di perlancar oleh Allah, amin.


 

__ADS_1


 


__ADS_2