
Annisa tersenyum patu mendengarkan apa yang di ucapkan Rafka. Namun sesaat kemudian ia teringat akan Nasi Krawu yang di masak nya tadi. Annisa kemudian kembali bangkit dan duduk diatas ranjang.
“Bang.” Panggilnya.
Rafka yang tadinya telah berbalik dan ingin mengambil pakaian lainnya di lemari kini kembali membalikkan badan, menoleh kearah Annisa.
“Loh, sayang. Kok kamu bangun sih?” tanya Rafka.
Annisa tersenyum.
“Ini, tadi tiba-tiba Nisa ingat Nasi Krawu.” Annisa mengernyitkan hidung nya.
“Nasi Krawu?” Rafka mengerutkan dahinya. “Kamu mau makan Nasi Krawu?” tanya nya kini.
“Ya.” Angguk Annisa.
“Yaudah, kalau gitu kamu tunggu disini saja. Ntar aku suruh Pak Sofyan membelikannya.” Kata Rafka.
Pria itu sama sekali tak tau jika sebenarnya pagi ini Annisa telah memasak sendiri Nasi Krawu nya.
“Jangan!” seru Annisa. Dan lagi-lagi hal itu membuat Rafka mengerutkan dahinya, tak habis fikir dengan jalan fikiran istrinya.
“Loh, kenapa jangan? Tadi kamu bilang ingin makan Nasi Krawu.” Kata Rafka bingung.
“Iya, tapi Nisa—“
Belum sempat Annisa menyelesaikan kalimatnya, Rafka memotong nya.
“Kamu ingin makan di tempat nya langsung?”
“Bukan juga.” Annisa menggelengkan pelan.
“Hmm, terus apa? Tadi kamu bilang ingin Nasi Krawu, terus bilang jangan di beliin. Di tanya mau makan di tempatnya langsung, kamu jawabnya juga bukan. Terus mau kamu apa?” tanya Rafka dengan rasa kesabaran yang
mulai menipis sekarang.
Berulang kali pria itu menarik nafas dan membuang nya kasar, hanya untuk meredam emosinya. Tingkah serta sikap Annisa pagi ini sungguh menjengkelkannya. Bagaimana tidak, biasanya setiap pagi bangun tidur, Annisa
tak pernah menolak ciuman darinya. Namun pagi ini Annisa mendorongnya keras, bahkan muntah karena bau mulutnya.
Dan setelah itu, ketika Rafka menyemprotkan parfum kesukaannya, Annisa juga berlari muntah. Katanya dia tidak suka dengan aroma parfumnya. Padahal biasanya wanita itu begitu menyukai aroma itu, bahkan belakangan ini Annisa kerap kali bergelayut manja hanya untuk mencium aromanya.
Dan tadi, setelah bilang menginginkan Nasi Krawu. Eh sekarang malah sekarang katanya bukan. Sungguh, hal itu membuat Rafka jengkel setengah mati.
Ya Allah… sabar-sabar.
Rafka mengusap lembut dadanya, berusaha menguatkan diri sekarang.
__ADS_1
“Abang kenapa?” Annisa memandang polos kearah Rafka. Membuat Rafka lagi-lagi di buat tak tega karenanya.
Ya Tuhan, tatapannya itu loh, buat aku semakin tak tega untuk meluapkan kejengkelan ku sekarang.
Di usapnya lembut kepala Annisa, lalu kini Rafka kembali bertanya apa sebenarnya yang diinginkan istrinya itu.
“Sayang, sebenarnya kamu ini mau apa? Coba bilang yang jelas.”
“Nisa ingin makan Nasi Krawu.” Kata Annisa lagi.
“Nasi Krawu?”
“Iya.” Angguk Annisa pelan.
“Mau makan Nasi Krawu dimana? Kamu ada tempat rekomendasi yang enak? Atau kamu mau aku menuruh koki restoranku untuk membuatkannya untukmu, dan kita bisa makan disana?” tanya Rafka lagi pelan-pelan.
“Nggak perlu, tadi Nisa udah masak Nasi Krawu nya di dapur.” Jelas Annisa.
“Kamu masak Nasi Krawu?” Rafka mendelikkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya. Sementara itu Annisa menganggukkan kepalanya. “Loh, kapan?” tanya Rafka lagi.
“Tadi.” Jawab Annisa cepat. “Setelah shalat subuh, tadi Nisa langsung pergi kedapur dan entah mengapa, Nisa ingin masak Nasi Krawu untuk Abang. Jadi Nisa masak deh, di bantu Bik Yam dan juga Ranum.” Jelas Annisa
lagi.
puluh sampai lima puluh menit lamanya. Sedangkan untuk membuat keseluruhan Nasi Krawu membutuhkan waktu lebih kurang sekitar seratus dua puluh menit.
Apalagi jika itu di kerjakan sendirian dan tanpa persiapan, pasti akan memakan waktu yang lebih lama. Apalagi jika mengingat kondisi Annisa yang seperti ini, jika terlalu lelah maka akan berpengaruh buruk dengan kondisi janin nya. Rafka sungguh tak bisa membayangkan jika istrinya berdiri terlalu lama sendirian disana.
“Bang, kok diam?!” sentak Annisa, yang menyadarkan Rafka dari lamunannya. “Ayo!” mulai berdiri dan menarik tangannya.
“Oh, iya.” Rafka mengangguk setuju, mengikuti Annisa yang menyeretnya keluar tanpa perlawanan.
Nasi Krawu? Memang nya Annisa bisa membuatnya?
Pertanyaan itu mengalir di benak Rafka sekarang.
Setibanya diruang makan.
Annisa kini menarik kursi yang biasa di duduki Rafka.
“Silahkan duduk sayang.” Dengan manis, Annisa mempersilahkan Rafka duduk di tempatnya.
Rafka menurut, dan langsung duduk di tempatnya. Sementaraitu Annisa, setelah melihat Rafka duduk Ia pun lantas membuka tutup saji yang ada di meja makan.
__ADS_1
“Taraa!” dengan begitu riang nya Annisa mempersembahkan Nasi Krawu hasil buatannya.
Sementara itu Rafka. Ia tersenyum saat melihat hidangan yang ada didepannya.
Waw! Lumayan juga, tampilannya juga sangat menarik. Ternyata, istriku juga mempunyai bakat jadi koki.
Gumam Rafka.
“Gimana Bang? Tergiur nggak?” tanya Annisa semangat. Sepertinya sekarang rasa lemas akibat muntah di kamar tadi sudah hilang.
“Tampilannya sih lumayan, tapi untuk rasa nggak tau ya enak atau tidak.” Ucap Rafka.
“Yaudah, langsung dicoba saja.” Ucap Annisa.
“Hmm, baiklah.” Angguk Rafka.
Pria itu kini mencuci tangannya di sebuah mangkuk yang tersedia disana. Lalu kini ia pun mulai menyantap Nasi Krawu buatan istrinya.
“Gimana Bang, enak nggak?” tanya Annisa antusias.
“Emm, belum tau, kan masih sesuap.” Jawab Rafka singkat.
“Hmm, yaudah Abang makan saja dulu.” Kata Annisa.
Wanita itu kini duduk seraya menopang dagunya dengan mengunakan tangannya. Melihat Rafka yang kini terlihat memasukkan makanan itu sesuap demi sesuap kedalam mulutnya. Hingga akhirnya pada saat suapan terakhir,
Annisa kembali bertanya—
“Gimana Bang?”
“Kenyang, hehehe.” Jawab Rafka, terkekeh sambil menyandarkan badannya.
Wajah Annisa memerah, emosinya seakan ingin meledak. Dari tadi Annisa menunggu Rafka sampai selesai menghabiskan makanannya. Namun, saat ditanya bagaimana pendapatnya. Pria itu dengan santai hanya menjawab “Kenyang”.
Abang! Kamu membuatku kesal!
Batin Annisa.
Annisa kini memasang wajah cemberutnya, menunjukkan kekealannya didepan Rafka. Membuat Rafka kembali terkekeh dibuatnya. Ya, Rafka sengaja membuat Annisa kesal. Karena sedari tadi sewaktu di kamar, Rafka sudah
sangat menahan dirinya disana, dan sekarang adalah waktunya untuk membalas Annisa.
Setelah mencuci tangannya, Rafka kini menggeser duduknya dekat dengan Annisa. Lalu dengan lembut pria itu meraih tangan Annisa dan menciumnya.
“Masakan istriku sangat enak. Bahkan jika di bandingkan dengan koki-koki ternama yang ada di Negara ini, tetaplah masakan istriku yang paling enak.” Puji Rafka yang kini kembali mencium lembut tangan Annisa. “Terimakasih ya sayang, karena sudah memasak makanan yang sangat enak pagi ini untukku.”
Mendengar hal itu, membuat Annisa tersipu malu. Apakah itu gombalan atau rayuan, Annisa tak perduli. Yang pasti saat ini hatinya luluh hanya dengan ucapan serta perlakuan manis dari suaminya. Membuatnya tersenyum, tak lagi cemberut sekarang.
__ADS_1
“Nah, gitu dong. Jika tersenyum kan jauh lebih cantik. Seperti bidadari yang baru turun dari surga.” Kembali Rafka melontarkan gombalannya. Membuat hati Annisa, semakin tak karuan dibuatnya. “Kamu dari tadi belum makan kan, sinis biar aku suapi untukmu.” Ucap Rafka lagi yang kini mulai mengambil nasinya.
Sementara itu, Annisa hanya diam mengangguk, tak berkutik dengan sikap lembut Rafka. Suapan demi suapan Rafka berikan, hingga akhirnya Annisa menghabiskan makanannya.