
Jarum jam menunjukkan pukul 10:30 Wib. Mereka masih saja menonton televisi di dalam kamar. Sebuah acara Talkshow mereka tonton yang menyiarkan tentang pengungkapan rasa antara pemeran pria kepada pemeran wanita. Rafka kini membaringkan tubuhnya dengan menopang kepalanya di atas paha Annisa.
Deg..
Annisa seketika tertegun saat melihat Rafka menjadikan pahanya sebagai bantal penopang kepalanya. Ia sama sekali tak menyangka jika saat ini Rafka akan sedemikian rupa dekat dengan nya. Sehingga membuat Annisa sama sekali tak berkutik di tempat nya. Tubuh nya seakan kaku saat ini.
Sembari menyaksikan acara televisi. Sesekali Rafka tak hentinya menoleh kearah Annisa. Ia tersenyum manakala menatap wajah Annisa yang terlihat gugup dan kaku saat ini.
"Dia terlihat gugup, lucu sekali. Tapi semakin kesini kenapa aku merasa dia semakin cantik sih. Perasaan ku juga semakin nyaman dengan nya, Aaa... Raf, mungkinkah kamu mulai memiliki perasaan dengan nya.
Gumam Rafka
Kini ia kembali menonton
Rafka terlihat sangat menghayati acara yang mereka tonton. Mungkin saat ini ia juga tengah menimbang-nimbang. apakah sekarang ia tengah jatuh cinta? Jika memang benar bagaimana cara untuk mengungkapkan nya. Sebuah ide mulai tersusun di kepalanya saat ini.
Setengah jam berlalu. Hari sudah semakin siang. Makan siang belum di buat. Annisa merasa was-was dengan sendiri nya. Namun Rafka sama sekali tak bergeming sedari tadi, sehingga kini membuat paha Annisa seperti mati rasa karena terlalu lama di jadikan pengganti bantal oleh Rafka.
"Bang.." Ucapnya
"Hmm," Jawab Rafka singkat.
"Sudah jam 11 siang Bang. Nisa mau masak." Annisa memberanikan diri mengatakan maksudnya.
"Nggak usah. Kamu kan lagi sakit. Bentar lagi Dedi akan datang kesini bawain makanan dari restoran." Ucap Rafka santai.
"Tapi Bang.."
"Udah kamu tenang aja ya." Ujar Rafka memotong kalimat yang ingin diucapkan Annisa.
"Tapi Bang, Nisa.."
"Udah.. kamu tenang aja ya." Rafka mengelus lembut tangan Annisa.
"Bang, Nisa ingin.."
"Nis, udah ya. Aku nggak mau berdebat dengan masalah ini. Aku hanya ingin kamu istirahat sekarang." Ujarnya tanpa membiarkan Annisa menyelesaikan kalimat nya.
"Abang kenapa sih! Padahal aku kan cuma ingin bilang jika saat ini kaki ku mati rasa karena terlalu lama menopang kepalanya.
Gumam Annisa.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Ponsel Rafka berdering. Ia lalu bangkit dari tidur nya dan meraih ponsel nya yang ia letakkan diatas meja kecil disamping ranjang.
Dedi.
Sebuah panggilan dari sahabat nya. Lalu dengan segera ia menjawab nya.
"Assalamu'alaikum Raf," Ucap Dedi.
"Wa'alaikum salam. Dimana kamu sekarang?Pesanan ku sudah kamu siapkan belum?" Tanya Rafka.
"Tenang saja, semuanya sudah beres kok. Nih sekarang aku juga udah sampai didepan rumah mu." Ujar Dedi.
"Hmm, ya sudah. Masuklah, aku akan segera turun ke bawah." Rafka kemudian mematikan ponselnya.
"Nis, aku turun dulu ya. Dedi udah datang dan sekarang lagi nunggu di bawah." Ujar nya.
Annisa hanya mengangguk.
Sedangkan Rafka kini berlalu keluar dari kamar nya.
Sesampainya di lantai bawah. Disana terlihat Dedi sudah duduk dengan santainya diruang keluarga. Sedangkan diatas makanan yang ia bawa, diletakkan nya diatas meja yang ada di depan nya.
"Hai Ded," Sapa Rafka sembari berjalan kearah sofa. Dimana dedi duduk sekarang.
"Mana pesanan yang ku minta?" Tanya Rafka.
"Tuh diatas meja." Sahut Dedi sembari menunjuk kearah meja yang ada di depan nya.
Rafka kemudian berjalan kearah meja. Lalu ia mengambil makanan tersebut dan melihatnya.
"Nih udah lengkap semuanya kan?" Tanya Rafka lagi.
"Udah sip, komplit pokok nya." Dedi.
"Makasih ya. Kamu memang sahabat ku yang paling baik." Ujarnya sembari tersenyum dan menepuk pelan bahu Dedi.
Kini Rafka pun melangkahkan kaki nya berjalan kearah dapur. Sedangkan Dedi mengikuti nya dari belakang sembari memperhatikan sekitar ruangan.
"Eh Raf, Nisa mana?" Tanya Dedi.
Karena sedari tadi ia sama sekali tidak melihat keberadaan Annisa disana.
"Jangan bilang jika dia sudah pulang kerumah orang tuanya. Karena ia sudah tak tahan dengan perlakukanmu yang buruk selama ini." Ujar Dedi menduga-duga.
__ADS_1
"Jangan ngaco kamu Ded." Sahut Rafka.
"Kalau gitu Nisa kemana dong? Nggak ada kan. Terus hari ini kamu nggak masuk kerja dan minta aku nganterin makanan kesini. Pasti nggak ada yang masak kan, karena Nisa nggak ada disini." Celoteh Dedi panjang lebar.
"Kamu itu kalau ngomong nggak usah ngawur. Nisa ada didalam kamar ku." Timpal Rafka.
"Apa kamu bilang Raf? Nisa ada didalam kamar mu!" Seru Dedi.
Matanya seketika mendelik saat seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Rafka.
"Kamu kenapa? terkejut gitu. Biasa aja dong!" Ujar Rafka.
Kini mereka sudah sampai diruang makan.
"Wah-wah.. Sepertinya hubungan kalian sudah ada kemajuan nih sekarang. Udah mulai sekamar, hehehe."Goda Dedi yang kini sudah mengganti ekspresi wajah nya dengan senyum sumringah.
"Kamu ngomong apa sih! Dia kan istriku, jadi ya wajar saja kan jika kami berada dalam satu kamar." Sahut Rafka.
"Wah Raf, sejak kapan fikiran mu mulai jernih gini? Kamu nggak salah minum obat kan? Tapi jika pun itu salah, nggak apa-apa sih. Asalkan berdampak positif kepadamu. Sehingga kin fikiran mu mulai terbuka. Haha," Dedi tergelak dengan sendirinya.
Rafka menggeleng-geleng kepalanya melihat sikap Dedi yang seolah sedang mengejek nya. Sehingga kini wajah nya mulai terlihat kesal.
"Udah ketawa nya?" Ucap nya dengan tatapan dingin. Sehingga kini Dedi menghentikan tawanya.
"Hehehe, jangan ngambek gitu dong. Tapi ngomong-ngomong tumben Nisa nggak masak. Biasa nya kan dia rajin sekali memasak, malah masakan nya enak-enak lagi." Ujar Dedi yang kini mulai membayangkan masakan Annisa yang menurut nya tak kalah nikmatnya dari masakan koki terkenal.
"Dia sedang sakit. Makanya aku menyuruh mu membawakan makanan kesini, karena aku tidak tega jika melihatnya terlalu banyak bekerja dengan kondisinya yang seperti ini." Ujar Rafka yang kini hampir menyelesaikan tugas nya menata makanan diatas meja.
"Nisa sakit? Sakit apa? Jangan bilang itu karena ulahmu yang terlalu memaksanya tadi malam. Ingat Raf, Nisa itu gadis lugu. Jadi kamu jangan terlalu buru-buru dalam melakukan keinginan mu." Ucap Dedi seolah menasehati.
"Apaan sih kamu. Emang nya kamu tau apa tentang wanita? Jangan kan istri, pacar saja kamu tidak punya. Sekarang malah sok menasehati pria beristri." Timpal Rafka.
"Meskipun aku tidak punya pacar apalagi istri. Setidaknya aku lebih bisa memahami perasaan wanita. Bukan seperti mu! yang tidak peka terhadap perasaan wanita." Seru Dedi.
"Sok tau kamu Ded," Rafka menggelengkan kepalanya.
"Bukan nya sok tau, tapi kenyataan nya memang seperti itu. Nih aku tanya, selama ini pernah nggak kamu ngasih perhatian ke Nisa. Terus sikap mu, pernah romantis nggak ataupun lembut kepadanya? Jangan kan seperti yang aku katakan tadi. Selama ini kamu juga seolah enggan menatap nya. Nah jika seperti itu, apa dia nggak terkejut saat kamu tiba-tiba baik seperti ini kepadanya. Mikir Raf, mikir.." Ujar Dedi mengingatkan kembali memori yang dulu pernah ia lakukan.
"Benar juga dengan apa yang diucapkan Dedi. Bukankah selama ini aku terlalu ketus bahkan bersikap dingin kepadanya. Mungkin kah itu yang membuat Annisa pingsan tadi malam. Karena terlalu kaget dengan ini semua..
Gumam Rafka.
"Gimana? Apakah perkataan ku benar?" Timpal Dedi lagi.
__ADS_1
"Sudahlah Ded, aku mau keatas dulu ngajak Nisa turun untuk makan siang." Ucap Rafka seraya berlalu pergi meninggalkan Dedi diruang makan.