Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 84


__ADS_3

Setelah membersihkan diri. Annisa dan Rafka langsung menyelesaikan shalat isya. Itu karena waktu nya isya telah tiba. Setelah itu, kini Annisa telah bersiap dengan gamis nya dan sekarang ia sudah duduk didepan cermin untuk mengenakan hijabnya. Terlihat dari belakang Rafka menatap nya dengan senyuman. Ia lalu berjalan mendekati Annisa. Ketika sudah sampai ia membungkukkan badan nya dan melingkar kan tangan nya di kursi yang diduduki Annisa.


"Ingat! lain kali jangan pernah memberikan perhatian apapun kepada Fikar. Aku tidak suka itu, cukup tujukan perhatian mu hanya kepadaku. Tidak untuk pria lain." Bisik Rafka, namun setiap kalimat yang diucapkan nya bernada mengancam sehingga membuat Annisa tertegun dalam duduk nya. Kini Rafka juga mulai mendekap tubuh Annisa dari belakang. Menciumi rambut nya dan juga sesekali menciumi lehernya. Hatinya terasa damai setiap kali ia memeluk nya.


"Jadi Abang cemburu pada Fikar. Ya tuhan aku tidak pernah membayangkan jika suami ku akan seposesif ini terhadapku.


Annisa sudah selesai mengenakan hijab nya. Sedangkan dari belakang Rafka masih saja mendekap dirinya seraya menyentuh leher nya menggunakan tangan yang ia masukkan dari dalam jilbab.


"Sungguh aku tidak menyangka Abang akan mencintai ku hingga seperti ini.


"Bang, yuk keluar, Nisa lapar." Ucapnya seraya memegang tangan Rafka yang mengitari lehernya.


"Kamu lapar? ya sudah yuk," Rafka kemudian berdiri dan menggenggam tangan Annisa.


Melihat tangan nya yang saat ini di genggam lembut oleh Rafka membuat Annisa tersenyum.


"Kamu kenapa? kok senyum sendiri?" Tanya Rafka yang sedari memperhatikan ekspresi wajah Annisa.


"Oh, tidak, mungkin karena terlalu lapar." Ucap nya menyanggah pertanyaan Rafka.


"Hah, dia senyum-senyum sendiri karena terlalu lapar. Haha, lucu sekali


Rafka tiba-tiba saja tergelak. Membuat Annisa yang berada didepan nya menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Kenapa Abang tiba-tiba saja tertawa. Apa ada yang lucu


"Kamu kenapa? Kok sekarang jadi menatap ku seperti itu sih!" Seru Rafka seraya mengerutkan dahinya. Karena saat ini wajah Annisa terlihat kebingungan.


"Hah, oh, tidak, Nisa sekarang lapar sekali." Sambut Annisa seraya memegang perutnya.


"Ya sudah, kalau gitu yuk kita keluar." Ajak Rafka. Kini mereka pun keluar dari kamar bersama sembari terus bergandengan tangan.


Mereka berjalan menelusuri lorong untuk menuju kearah anak tangga. Tak berapa jauh dari kamar mereka disana ada sebuah kamar yang lainnya yang harus mereka lewati sebelum mencapai anak tangga. Saat melewati kamar tersebut tiba-tiba saja pintunya terbuka dan keluarlah seorang gadis muda dari dalam.


"Maya," Lirih Rafka. Ia lalu mengerutkan dahinya saat mendapati Maya yang berada disana. Namun Rafka tidak menghentikan langkah nya, ia tetap berjalan sembari menggandeng Annisa melewati kamar itu.

__ADS_1


"Bang, bukankah itu Maya." Bisik Annisa disamping Rafka. Kini mereka sudah mencapai anak tangga dan melangkah turun kebawah.


"Ya, kamu benar." Sahut Rafka


"Sedang apa dia disini?" Tanya Annisa yang kini sudah menatap kearah Rafka.


"Mana aku tau," Rafka mengangkat bahunya "Jalan saja yang benar, jangan pikirkan dia." Ucap Rafka seraya mempercepat langkah nya. Saat ini ia sungguh tak ingin memikirkan tentang Maya. Mau apa dia disana biarlah itu urusan nya. Yang terpenting adalah kedatangan nya jangan sampai menganggu dirinya dan juga Annisa.


Setibanya di meja makan. Disana terlihat pelayan Vila sudah menyiapkan makan malam diatas meja panjang. Rafka dan Annisa melangkah bersama menghampiri meja makan. Mereka lalu duduk secara berdampingan di meja makan.


Seperti biasa Annisa selalu melakukan tugas nya di meja makan. Menaruh nasi didalam piring Rafka dan juga mengambil lauk yang di inginkan Rafka. Setelah semua nya sudah tertata didalam piring nya, kini Annisa menyuguhkan nya kepada Rafka. Tak lupa juga ia menuangkan air putih kedalam gelas Rafka.


"Makasih ya sayang," Ucap Rafka sembari melemparkan senyum nya.


"Sama-sama, makanlah." Balas Annisa. Ia kemudian mengambil makanan nya lalu makan bersama Rafka.


Dari arah depan terdengar suara langkah kaki seseorang menghampiri ruang makan. Annisa dan Rafka tak terlalu menghiraukan. Mungkin saja pelayan atau Fikar yang datang kesana. Mereka terus menyantap makanan dan menikmati setiap masakan khas pulau itu. Hingga suatu ketika seseorang itu mendekat dan menyapa.


"Hai, ternyata kalian disini juga." Ucap Maya yang kini berdiri disamping Annisa sehingga membuat nya menoleh kearah suara tersebut.


"Hai May,"


Annisa mengangguk. Ia lalu kembali melanjutkan menyantap makanan nya setelah melemparkan senyuman terlebih dahulu kepada Maya. Sedangkan Maya, ia merasa sangat kesal terhadap Rafka yang sama sekali tak menoleh kearah nya. Meskipun ia tau kehadiran nya.


"Kenapa kamu bersikap seperti ini Mas, apakah sebegitu bencinya kamu terhadap ku. Sehingga menoleh pun tak mau


Maya mencengkeram tangan nya. Dahinya mengerut menatap kearah Rafka. Namun sesaat kemudian dia kembali menunjukkan ekspresi normal seperti sebelum nya dan berjalan duduk disamping kursi Rafka.


Tanpa rasa canggung Maya mengambil nasi beserta lauk yang diinginkan nya. Lalu ia menatap kearah piring Rafka yang berada disamping nya sembari tersenyum.


"Ternyata makanan kesukaan mu masih sama ya Mas seperti yang dulu," Ucapnya.


Namun sayang nya Rafka sama sekali tak menggubris. Ia terus melanjutkan menyantap makanan nya tanpa memperdulikan Maya yang berada disamping nya.


Dari arah depan terlihat Fikar datang menghampiri. Sepertinya ia juga belum menyantap makan malam nya. Disana ia melihat sudah ada Maya, Annisa dan Rafka. Lalu ia pun ikut gabung bersama mereka.

__ADS_1


"Selamat malam Tuan dan Nona" Sapa nya sembari tersenyum.


"Malam," Sahut Rafka singkat. Lalu kembali melanjutkan makan nya. Sedangkan Annisa tersenyum membalas sapaan Fikar.


"Hai May, kamu disini juga?" Sapa nya kepada Maya.


"Ya, ini Vila kerabat ku. Jadi aku akan tinggal disini selama berada di pulau ini," Ucap nya santai.


"Oh, ya, kebetulan sekali ya." Ucap Fikar.


"Ya " Balas Maya.


Fikar pun kemudian mengambil nasi beserta lauk nya lalu menyantap nya. Sesekali ia melirik kearah Maya yang tak pernah melepas tatapan nya terhadap Rafka. Sedangkan Rafka terlihat tidak peduli dengan kehadiran Maya disana. Rafka memilih fokus kepada Annisa dan sesekali menyuapi lauk yang ada di piring nya sehingga membuat Annisa tersipu malu karena nya. Mungkin karena disana ada Fikar dan juga Maya, maka dari itu Annisa terlihat canggung tapi tetap saja tak bisa menolak.


Perlahan terlihat raut wajah Maya yang berubah kesal karena kemesraan yang di tunjukkan Rafka. Sehingga membuat Fikar curiga jika Maya menaruh hati terhadap nya.


Karena Annisa dan Rafka datang lebih awal dari mereka. Sehingga kini mereka juga lebih awal menyudahi makan malam nya.


"Fikar, Maya, kami kembali ke kamar duluan ya." Ucap Annisa yang kini sudah berdiri dari duduk nya disusul Rafka disamping nya.


"Ya, selamat malam." Balas Fikar.


"Kalian nggak mau nongkrong dulu bersama kami sambil nge-teh?" Tanya Maya.


" Nggak, kami ingin melanjutkan bulan madu didalam kamar," Sahut Rafka


Deg


"Ya tuhan.. kenapa hatiku begitu sakit mendengar nya, tidak-tidak aku harus bisa mengacaukan bulan madu mereka. Harus bisa, harus!


Rafka lalu meraih tangan Annisa dan segera pergi dari sana.


"Ya tuhan.. kenapa Abang bisa ngomong seperti itu sih dihadapan mereka. Aaaa... aku kan jadi malu


Kini wajah Annisa terlihat memerah saat meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Fikar tampak tersenyum di tempat nya.


BERSAMBUNG


__ADS_2