Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 131


__ADS_3

Terlihat banyak sekali orang-orang berlalu-lalang keluar masuk kedalam Toko kue Annisa. Membuat Annisa dan beberapa pegawainya terlihat sedikit kewalahan jadinya. Orang-orang itu terlihat mengantri untuk membayar jumlah dari kue yang mereka beli.


“ Pelanggan kita semakin bertambah banyak ya.” Ucap Annisa.


“ Iya Mba, semua ini karena kita selalu menjaga cita rasa sehingga membuat para pelanggan lama tetap setia dan bahkan pelanggan baru juga semakin meningkat pesat.” Jelas Fatimah.


“ Alhamdulillah.” Syukur Annisa. “ Oya Fat, besok kamu pasang pengumuman lowongan kerja didepan sana ya. Karena kita akan menambah pegawai baru untuk bantu-bantu disini.” Ujar Annisa.


Mendengar perintah itu membuat Fatimah begitu antusias. Karena itu berarti beban kerja akan berkurang jika pegawai baru sudah ada.


“ Siap Mba, hari ini juga saya akan menyuruh orang untuk memasang nya disana.”


“ Hmm, baguslah.” Annisa tersenyum begitu melihat keantusiasan yang ditunjukkan Fatimah.


Gadis ini terlihat antusias sekali saat mendengar aku akan membuka lowongan pekerjaan baru. Mungkinkah ia merasa senang karena dengan ini beban kerja nya akan sedikit berkurang? Hmm, sepertinya aku memperkerjakan nya dengan begitu keras.


Gumam Annisa.


Dari arah luar terlihat dua orang sedang berjalan kearah sana. Salah satu diantaranya sepertinya sangat familiar dimatanya.


“ Maya.” Lirih Annisa.


“ Ada apa Mba?” Fatimah mengerutkan dahinya menatap bingun kearah Annisa.


“ Eh, tidak apa-apa. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu.” Kata Annisa.


Aneh, sepertinya tadi Mba Annisa mengucapkan sesuatu. Tapi apa ya?


Fatimah bertanya-tanya didalam hatinya.

__ADS_1


Namun ia tak mau terlalu banyak berfikir dan kini ia pun sudah melanjutkan kembali pekerjaan nya. Membantu para pegawai lainnya untuk mengurus para pelanggan.


Reno mulai membuka pintu dan mempersilahkan Maya masuk sebelumnya. Namun sepertinya Maya sama sekali tidak suka dengan sikap Reno yang seolah sedang mencari perhatian darinya.


“ Tidak usah bersikap berlebihan seperti ini didepan orang. Aku tidak suka!” Ketus nya sembari menatap sinis kearah Reno.


Maya kenapa menatap lelaki yang bersamanya dengan tatapan tidak suka seperti itu? Padahal jelas-jelas lelaki itu terlihat sangat baik serta bersikap sangat sopan dengannya.


Gumam Annisa.


Lalu ia terlihat berjalan kearah Maya berniat untuk langsung melayaninya.


“ Eh, Mba mau kemana?” Tanya Fatimah saat melihat Annisa yang mulai beranjak dari tempat nya.


Annisa tersenyum.


“ Aku mau melayani pelanggan yang baru saja masuk itu.” Katanya sembari menunjuk kearah Reno dan Maya.


“ Nggak apa-apa Fat, aku belum capek. Kamu lanjut ngerjain yang lain saja ya.” Ucap Annisa.


“ Hmm, yasudah kalau gitu Mba.” Fatimah pun lalu kembali mengerjakan pekerjaan yang lainnya.


Sementara Annisa kini melangkah menuju kearah Maya.


“ Selamat siang.” Sapa nya sembari mengulas senyuman.


“ Siang Mba.” Reno membalas senyuman Annisa.


Sedangkan Maya terlihat tak menoleh. Sehingga kini ia sama sekali tak menyadari jika yang menyapa nya barusan adalah Annisa gadis yang sangat di bencinya.

__ADS_1


“ Tuan ingin membeli kue yang mana? Kita mempunyai banyak variasi dan juga rasa.” Ucap Annisa lembut.


“ Sepertinya yang itu enak. Tolong bungkuskan yang itu ya.” Tunjuk Reno kearah salah satu kue yang ada disana.


“ Tuan mau yang itu saja? Atau ada yang lainnya, biar sekalian saya bungkuskan.” Ucap Annisa sopan.


Reno tampak berpikir, ia lalu mengalihkan pandangan nya kearah Maya.


“ Sayang, kamu mau kue yang mana lagi? Tunjuk saja.” Kata Reno.


Sayang? Apakah lelaki ini pacar Maya?


Guman Annisa.


“ Sudah kubilang, aku tidak mengingkan apapun disini. Kau saja yang terus memaksaku untuk datang kesini. Jadi beli saja apa yang kau mau sesuka hatimu.” Ucapan Maya terdengar sangat ketus membuat siapapun yang mendengarnya pasti sakit hati karena nya.


Namun tidak dengan Reno. Lelaki itu terlihat begitu sabar menghadapi sikap Maya saat ini.


“ Mba, sepertinya calon istri saya malu-malu untuk memilih kue apa yang dia mau. Mba boleh bungkus yang itu juga ya, karena dia pasti menginginkan itu. Namun malu untuk mengatakan nya.” Kata Reno sembari menunjuk


keaha salah satu kue coklat yang berada disamping yang ditunjuknya tadi.


“ Oh, iya Tuan. Segera akan saya bungkus.” Annisa kemudian beranjak pergi dari sana.


Tapi kemudian langkahnya terhenti karena saat ini seseorang menahan lengan nya.


“ Annisa.” Maya mengerutkan dahinya.


Ternyata filling ku benar, dia Annisa. Tapi ngapain dia disini? Jadi pegawai toko kue kah?

__ADS_1


Batin Maya.


BERSAMBUNG


__ADS_2