
Di kediaman Rafka tepatnya di teras rumah.
Bunda dan Ibu sudah duduk bersama menantikan kepulangan anak mereka masing-masing. Melihat sebuah mobil yang sama sekali tak asing baginya, membuat mereka seketika bangkit dari duduknya. Ibu dan Bunda kini telah berdiri bersama. Dilihat nya kearah mobil, disana Annisa, Rafka, dan Winda turun dan langsung berjalan kearah mereka.
Sementara Dedi tampak mulai mengeluarkan barang-barang bawaan mereka yang di bantu juga oleh Pak Sofyan.
Demi sahabat dan juga orang yang ku cintai, maka aku rela melakukan apapun.
Gumam Dedi.
Diangkat nya semua barang-barang itu, lalu dibawanya masuk kedalam bersama Pak Sofyan. Mereka terus berjalan masuk kedalam rumah hingga akhirnya tibalah kini di ruang keluarga.
“ Pak, letakkan saja disitu ya.” Tunjuk Dedi kearah sudut sofa.
“ Oh, baik Den” Sahut Pak Sofyan.
Diletakkan nya barang-barang yang diangkutnya itu ketempat yang di tunjuk Dedi.
“ Sudah Den, kalu gitu saya pamit kedepan lagi ya.” Ucap nya sembari membungkukkan badan nya.
“ Oh, makasih ya Pak.” Ucap Dedi.
“ Sama-sama Den” balas Pak Sofyan.
Setelah itu, ia pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Dedi membereskan tata letak barang-barang yang ditaruh nya disana. Setelah selesai, kini ia berniat melangkah pergi dari sana menuju kearah teras. Namun baru dua langkah ia beranjak, kini Ibu, Bunda, Winda, Rafka dan juga Annisa sudah tiba disana.
“ Kak Dedi mau kemana?” Tanya Winda yang ada disana.
__ADS_1
“ Oh, ini Win. Tadi rencana nya aku mau menyusul kalian didepan, eh nggak taunya udah tiba aja disini.” Ucap Dedi. “ Oya Raf, barang-barangmu aku letak disini ya.” Kata nya sembari menatap kearah Rafka.
“ ini, ini dan itu, kamu naikkan saja keatas. Letakkan didalam kamar ku, sedangkan yang ini biarkan disini karena ini adalah oleh-oleh untuk keluarga kita.” Ujar Rafka.
“ Kenapa kamu tidak mengatakan nya dari tadi, seharusnya tadi aku akan menyuruh Pak Sofyan mengankatnya keatas namun sekarang semuanya harus ku kerjakan sendiri.” Keluh Dedi.
“ Hmm, jadi kamu nggak ikhlas nih?” Tanya Rafka sembari menyilakan kedua tangan nya di dada.
“ Kak Dedi, tolong ya.” Timpal Annisa.
Dedi menghembuskan nafas nya berat.
“ Hmm, baiklah.” Kata nya dengan wajah murung.
“ Kak Dedi, biar Winda bantuin ya bawa barang-barang nya.” Sambut Winda antusias.
“ Nggak usah Win, kamu duduk disini saja. Pasti capek kan selama perjalanan kesini.” Tukas Dedi
“ Nggak kok Kak, sini Winda bantuin ya.” Ucapnya lembut. “ Tapi Winda hanya bisa mengangkat yang ringan-ringan saja.” Lajutnya kemudian.
Dedi tersenyum, bagaimana mungkin dia menolak jika gadis itu sendiri bersikeras untuk menolong nya.
“ Hmm, yasudahlah jika kamu memaksa.” Ujar nya.
Dedi pun kemudian mengangkat barang-barang itu dan berjalan menuju kearah anak tangga. Disusul Winda dari belakang, sementara Rafka dan Annisa kini tampak duduk di sofa bersama Bunda dan Ibu. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti saat ini mereka terlihat sangat bahagia.
***
Di rumah sakit terbesar yang berada di pusat kota.
__ADS_1
Sebuah mobil mewah kini sudah terparkir disana, tepatnya di lobi parkiran. Terlihat sepasang manusia turun dari sana, mereka melangkah bersama. Namun dari wajah nya sang wanita, terlihat jelas raut ketidaksukaan itu.
“ Sayang, aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Tersenyumlah, maka kau akan jauh terlihat lebih cantik.” Kata Reno.
“ Jangan harap!” Bentak Maya.
“ Adu-duh… kenapa sayang ku ini galak sekali sih, membuatku takut saja.”
Reno memasang wajah penuh ketakutan, namun tak berapa lama kemudian ia tersenyum. Membuat Maya sangat jengkel dengan nya.
“ Dasar lelaki gila!” Bentak nya.
“ Hahahahaha!” Reno tergelak karena nya. “ Jika kau tak ingin aku menceritakan tentang kegilaan mu yang hampir saja mencelakai istri dari mantan kekasihmu itu kepada Ibumu. Maka bekerjasamalah denganku, tersenyumlah saat kau berada disisiku.” Ucap Reno.
“ Kau!” Maya menggertakan giginya, tangan nya juga terkepal karena emosinya yang sudah menggunung di buat Reno.
“ Ingat aktingmu mempengaruhi semuanya. Mintalah restu sebaik mungkin kepada calon mertuaku, pujilah aku didepan nya agar dapat meninggalkan kesan baik terhadapku.” Kata Reno.
“ Cih! Jika saja bukan karena kau berlaku curang terhadapku dengan mengambil kesempatan meniduriku, mengikutiku sehingga mempunyai banyak informasi tentangku, maka aku tidak akan pernah bersedia menikah denganmu.” Ujar Maya.
“ Itu semua karena kau yang mengabaikan ku, dan juga obsesimu yang jahat itu sehingga membuatku harus segera menikahimu.” Kata Reno. “ Kau tahu May, cintaku ini tulus untukmu sehingga aku tak ingin melihat jika
cintaku ini salah arah. Apalagi berubah menjadi jahat, maka dari itu berusahalah menerimaku dan juga mencitaiku. Maka aku menjaminkan diriku untuk membuatmu bahagia selalu bahagia.” Ujar Reno.
Ditatap nya mata Maya penuh harap, berharap jika gadis itu akan memikirkan semuanya. Melupakan manta kekasihnya, dan dengan sukarela menjalani kehidupan bersamanya. Namun sayang nya Maya yang angkuh sama sekali tak dapat melihat harapan terbesar dari matanya. Malah kini dengan sombong nya ia membuang wajah nya dan berlalu meninggalkan Reno disana.
Jangan harap aku bisa menerima mu. Hanya satu pria yang kucintai didunia ini, yaitu Rafka. Jika saja kau tidak berlaku curang terhadapku, maka aku tak akan meneima semua ini.
Gumam Maya.
__ADS_1
BERSAMBUNG