Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 90


__ADS_3

Setibanya di puncak bukit.


Disana ada beberapa Cafe yang didesain dengan sangat modis. Sesuai dengan perkembangan jaman yang digemari kaum milenial. Ada banyak pasangan muda disana, mereka datang khusus hanya untuk menikmati pemandangan alam serta berfoto ria disana.


Selain pemandangan nya yang indah. Spot-spot foto juga ada banyak, karena disetiap Cafe mereka mengutamakan tentang keindahan alam dan asri. Fikar lalu mengajak Rafka dan Annisa memasuki salah satu Cafe yang ada disana.


" Tuan dan Nona Rafka, tunggu disini sebentar ya. Saya akan kesana dulu berbicara dengan mereka." Ucap Fikar.


" Hmm, baiklah. Tapi ingat jangan lama-lama." Balas Rafka.


Fikar mengangguk. Ia lalu berjalan masuk kearah depan dan tampak berbicara dengan seorang pegawai Cafe tersebut. Tak berapa lama, ia lalu kembali lagi dengan wajah sumringah sembari menatap kearah sepasang sejoli yang ada didepan nya sehingga membuat Rafka merengut kesal.


 


Apa dia tersenyum kepada Nisa?


Rafka menatap tajam kearah Fikar yang kini telah berada di depan nya.


" Tuan, silahkan masuk bersama Nona Annisa. Saya sudah memesan tempat khusus untuk anda." Ujar Fikar. "Mba, tolong antarkan Tuan dan Nona ini keruangan nya ya." Fikar menoleh kearah pegawai Cafe yang datang bersamanya.


" Silahkan Tuan dan Nona mengikuti saya." Pegawai restoran mempersilahkan keduanya. Kini Rafka dan Annisa pun berjalan bersama mengikuti Mba-mba yang bekerja disana.


" Tunggu!!" Seru Maya menghentikan langkah Rafka dan juga Annisa.


Kini keduanya menoleh kearah Maya.


" Bolehkah aku ikut bersama kalian?" Pinta Maya.


" Tidak bisa. Meja itu khusus hanya untuk dua orang saja." Timpal Fikar.


Apa aku meminta jawaban mu!


Maya menatap kesal kearah Fikar.


 


" Fikar, kamu ajak Maya juga masuk kedalam ya. Cari ruang VIP agar Maya bisa merasa nyaman saat berada disini." Ujar Annisa.


 


" Pasti, sekarang Nona dan Tuan bersenang-senang lah didalam." Fikar tersenyum.


Kini Annisa dan Rafka kembali melanjutkan perjalanan mereka, tak ingin pegawai Cafe menunggu terlalu lama.


" May, ayo kita masuk." Ajak Fikar.


Mau tak mau Maya mengikuti. Namun matanya masih melirik kearah Annisa dan Rafka yang mulai hilang dari pandangan nya. Ia seolah tak rela jika harus terpisah dari mereka.


" May, ayo." Ajak Fikar lagi melihat Maya yang berjalan dengan sangat lambat di belakang.


" Eh, iya." Maya ikut masuk bersama Fikar.


 


 


 


***


Di kota. Jam sudah menunjukkan pukul 17:00 WIB.


Dedi yang telah bekerja hampir seharian berniat untuk segera pulang kerumah nya. Ia kini telah keluar dari ruangan nya dan berjalan menyusuri koridor. Jika biasanya Dedi pulang pukul 20/21:00 WIB. Namun kali ini ia pulang lebih awal karena merasa sedikit kuang sehat. Tapi sebelumnya ia sudah mengabari sekretaris nya untuk mengerjakan hal yang belum sempat ia kerjakan hari itu.


 


Dedi kini sudah tiba di parkiran mobil. Ia lalu masuk kedalam mobilnya dan menghidupkan mesinnya. Lalu meninggalkan restoran nya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota sore itu. Suasana pada jam pulang kerja seperti ini membuat jalanan kota sedikit macet sehingga menghambat Dedi untuk segera tiba dirumah nya.


Diujung jalan didekat sebuah universitas yang ada dikota itu. Dedi melihat ada sebuah toko kue yang merangkap menjadi Cafe. Begitu ramai sekali para muda-mudi yang nongrong disana. Entah itu hanya untuk sekedar bersantai atau mereka dengan sengaja mampir hanya untu membeli sebuah kue dari sana. yang pasti toko tersebut selalu ramai dan juga berdesak-desakan jika sore telah menjelang.


 


Entah mengapa sore ini Dedi ingin sekali mampir ke toko kue tersebut. Mengingat susana jalanan yang begitu ramai dijalanan. Membuatnya nya ingin sedikit melepas kepenatan dengan ikut bersantai disana.


 


Dedi lalu menepikan mobil nya dan memarkirkan nya diparkiran khusus yang disediakan sang pemilik toko. Setelah itu ia lalu turun dan segera berjalan masuk kedalam toko kue. Dedi mengerling kesekitar memantau dimana ia akan duduk untuk bersantai. Karena saat ini suasana didalam toko kue tersebut padat dengan pengunjung.


Diujung ruangan sudut toko. Terlihat seorang gadis dengan senyum lembut serta keramahan tampak sedang melayani para pengunjung. Gadis cantik yang cukup menarik perhatian nya. Ya, itu karena sepertinya Dedi mengenal sosok gadis tersebut.


 


Apa benar itu dia ya?


Dedi menatap nya dengan serius.

__ADS_1


Ya, tidak salah lagi itu pasti dia


Setelah memastikan jika gadis itu adalah sosok yang dikenalnya. Perlahan Dedi berjalan menghampiri.


 


 


" Winda!" Panggil nya seraya mendekati gadis itu.


Winda menoleh. Ia lalu tersenyum saat mendapati Dedi berkunjung ke toko nya.


" Kak Dedi!" Serunya seraya tersenyum kearah Dedi.


" Ini beneran kamu Win?" Tanya Dedi. " Nggak nyangka ternyata ini benar kamu." Tambah nya. " Kamu sedang apa disini?" Tanya Dedi lagi panjang lebar.


 


" Winda bekerja disini kak." Ucapnya.


" Oh, pantas saja kamu terlihat akrab dengan para pengunjung yang ada disini." Ujar Dedi.


" Hehe, iya kak." Winda tersenyum kearah Dedi.


" Disini penuh sekali ya?" Tanya nya.


" Iya Kak, tapi disana masih ada meja yang kosong kok jika Kakak ingin bersantai." Tunjuk Winda.


 


" Oya, kalau begitu bisakah kamu mengantarku kesana." Ujarnya.


" Tentu saja boleh!" Seru Winda.


Kini dengan perasan gembira ia mengantarkan Dedi menuju ke sebuah meja kosong yang ditunjuk nya. Setibanya disana Dedi pun segera duduk di kursinya. Sungguh suatu kebetulan, saat ini Dedi mendapatkan sebuah meja yang cukup nyaman untuk melepaskan penat nya disana. Meskipun kursi disana cuma dua, namun tempat nya begitu luas sehingga membuat Dedi sangat nyaman saat duduk disana.


" Apa kak Dedi suka dengan tempatnya?" Tanya Winda.


" Lumayan." Sahut Dedi


" Alhamdulillah jika Kakak suka." Ujar Winda. " Oya, Kak Dedi mau pesan apa?" Tanya nya lalu.


 


" Apa saja yang menurutmu enak disini." Jawab Dedi seraya tersenyum.


 


" Ya, apa saja yang menurutmu enak jika disantap disore hari seperti ini." Ujar nya.


 


" Baiklah, kalau begitu Kakak tunggu disini sebentar ya."


" Oke." Dedi mengangguk setuju.


Winda kemudian pergi berlalu meninggalkan Dedi dimeja nya.


 


Sungguh gadis yang sangat unik


Dedi tersenyum menatap kepergian Winda.


 


Beberapa menit kemudian.


Winda kembali datang dengan membawakan sebuah nampan yang berisikan dua porsi Es Kopi Susu gula jawa dan juga beberapa Cupcake kekinian yang begitu populer di toko itu.


" Hai Kak, maaf ya kelamaan nunggu nya." Winda langsung menyajikan apa yang dibawa nya. Lalu ia kemudian duduk disana dengan berhadapan langsung dengan Dedi.


" Enggak lama kok." Sahut Dedi. " Oya, kamu duduk disini apa nggak apa-apa nih? Maksudku apa Bos mu tidak marah?" Tanya Dedi. Ia tidak mau jika Winda mendapatkan masalah di toko ini hanya karena menemani dirinya disana.


" Tenang saja kok aman." Ujar Winda seraya tersenyum.


" Aman? Maksudmu apa Bos mu sedang tidak ada disini?" Tanya Dedi.


" Iya, pemilik toko kue ini sedang tidak ada di toko ini. Dia sedang berlibur ke pulau XX untuk bulan madu. Hehe," Winda tertawa sendiri saat mengucapkan nya.


" Pulau XX? Bukankah itu pulau yang sama dimana Rafka dan Annisa sedang berbulan madu saat ini?" Tanya Dedi


" Benar kak." Jawab Winda. " Oya, apa Kakak mau tau siapa pemilik toko ini?" Tanya Winda sehingga membuat Dedi penasaran dengan pertanyaan nya.


 

__ADS_1


" Boleh, siapa?"


 


" Pemilik toko ini adalah Kak Nisa, Kakak nya Winda." Ujar Winda sembari tersenyum saat memberitahukan hal itu kepada DeDi.


 


Apa! Teranyata Annisa mempunyai toko kue! Bahkan setauku toko kue ini sudah memiliki beberapa cabang disetiap sudut kota!


Dedi terkejut. Dia sama sekali tak menyangka jika sang pemilik toko yang dimaksud adalah Annisa. Gadis yang memiliki posisi spesial di hatinya sekaligus istri sahabat nya.


" Benarkah? Kamu tidak sedaang bercanda kan Win?" Dedi seolah masih tidak percaya.


 


" Benar Kak, Winda nggak bohong." Winda berusaha meyakinkan.


 


" Tapi Win, Nisa itu tidak terlihat seperti usahawan yang lainnya loh. Dia selalu bersikap santai dan tak pernah terlihat sibuk selama ini." Ujar Dedi.


" Kak Dedi benar, Kak Nisa memang tidak pernah terlihat sibuk. Ia jarang mengunjungi toko-toko kuenya. Karena selama ini ia mempercayai setiap cabang nya kepada para pegawai nya. Jadi ia hanya perlu bekerja dirumah menerima serta memeiksa setiap laporan yang masuk setiap harinya.


Yah, terkadang Kak Nisa juga mengutus Winda untuk memantau setiap tokonya." Winda menjelaskan panjang lebar mengenai kakak tercintanya.


" Ooo, gitu. Pantas saja dia terlihat begitu santai." Timpal Dedi


 


Sore itu mereka tak hanya berbicara tentang Annisa. Namun mereka juga berbicara dan bebagi hal tentang diri mereka masing-masing. Kini mereka pun mulai tampak dekat satu sama lain.


 


 


Sementara itu di pulau XX.


Tampak Rafka sedang menyuapi Annisa. Mereka juga minum didalam satu gelas yang sama. Sungguh romantis bukan? Ya, sangat romantis. Setelah menghabiskan makanan yang ada didalam piring kini Rafka tampak merangkul tubuh Annisa agar lebih dekat dengan nya. Pemandangan laut yang menghaprkan ombak nya sungguh terlihat jelas dari atas sana.


" Bang." Ucap Annisa


" Ya, sayang . ." Sahut Rafka.


" Apa boleh Nisa bertanya sesuatu kepada Abang?"


" Bertanya? Silahkan." Ucap Rafka.


Kini Annisa menatap wajah Rafka lekat-lekat.


" Apa Abang masih ada hati terhadap Maya?" Tanya nya.


 


Deg . .


Jantung Rafka berdebar kencang saat Annisa menanyakan hal seperti itu kepadanya.


 


" Kenapa kamu bertanya hal seperti itu sayang?" Rafka mengerutkan dahinya.


" Nisa hanya ingin memastikan." Tatatp nya nanar.


 


" Memeastikan, memastikan apa?" Tanya Rafka kembali.


" Jika saat ini dihati Abang hanya ada Nisa." Ujar nya. Namun suara nya terdengar agak lemah.


 


Rafka tersenyum.


Ia lalu mendekap tubuh Annisa erat-erat lalu kembali menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.


" Sayang, aku berjanji padamu. Dihatiku hanya akan ada dirimu, jadi keepannya kamu jangan menanyakan hal seperti ini lagi ya." Ujarnya lembugt.


Annisa mengangguk. Lalu Rafka kemudia mendaratkan ciuman di bibi Annisa. Diatas lautan dengan disaksikan deburan ombak, dan juga suasana sore menjelang petang Mereka berciuman dengan sangat mesra.


 


 


BERSAMBUNG

__ADS_1


 


 


__ADS_2