
Perkenalkan gadis cantik tapi licik, dia adalah Clarisa Zero putri dari kerajaan Zero. Manis, cantik, tapi mempunyai sifat buruk. Clarisa Zero adalah seorang putri yang telah diramal 22 tahun yang lalu. Yang kononnya raja Arthur dari kerajaan Zero akan mempunyai putri berkekuatan besar yang amat susah dikendalikan oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.
Dan benar tentang ramalan itu, ratu Flora istri pertama raja Arthur melahirkan seorang putri cantik, putih, dan manis. Namun ada berita duka dari kelahiran Clarisa. Berita dukanya adalah ratu Flora meninggal setelah melahirkan Clarisa karena pendarahan yang banyak serta Flora juga mempunyai penyakit paru-paru basa yang mana saat itu tidak ada satupun tabib yang bisa menyembuhkan Flora. Akhirnya Clarisa dibesarkan oleh Celsi istri kedua raja Arthur.
Sejak munculnya kejahatan pada Clarisa, masyarakat kerajaan Zero menyatakan bahwa kelahiran Clarisa adalah sebuah kutukan. Banyak tidak menerima kepergian ratu Flora yang terkenal ratu paling lembut tutur katanya serta parasnya yang elok.
Namun ada juga ramalan lain yang menjelaskan tentang seorang pria yang akan lahir, seorang pendekar yang pernah menguasai masa lalu dan akan menguasai masa. Dan Arthur tahu bahwa Clarisa adalah salah satu pemeran dalam ramalan itu.
"Ayah aku ingin berlatih denganmu, prajurit di istana ini payah, tidak ada yang berguna! Bagaimana mungkin kerajaan Zero memiliki prajurit seperti mereka?" ujar Clarisa dengan nada sombong serta menghina.
Arthur ayah Clarisa tersenyum, walau berkali-kali Clarisa tak pernah sopan padanya tapi ia tetap sabar pada putri semata wayangnya. "Clarisa, Ayah tidak bisa. Lain kali saja." Tetap dengan Jawaban yang selalu sama setiap kali Arthur menolak permintaan Clarisa yang sama pula.
Sebenarnya Clarisa sangat membenci jawaban Ayahnya itu, andai Arthur tahu bahwa Clarisa hanya ingin berbagi waktu luang dengannya, Clarisa juga ingin ada percakapan lama antara anak dan ayah. Tapi Arthur selalu menolaknya karena Clarisa selalu meminta waktu luang itu dengan berlatih.
******
Suatu hari raja Arthur pergi bersama 1000 Prajurit berkuda, 500 prajurit Pemanah, dan Panglima Tempur serta Jendral dan Menteri pertahanan. Clarisa duduk di taman belakang kerajaan seorang diri, wajahnya memasang raut wajah kesal karena Arthur tidak mengizinkannya ikut dalam perperangan dengan kerajaan Gold.
Celsi berjalan anggun berkeliling kerajaan, tak lama mata hijau Celsi menatap seorang gadis tengah duduk seorang diri dengan raut wajah kesal. Celsi pun pergi menghampiri gadis itu.
"Clarisa, kamu sedang apa? Kenapa Shiki ada di luar? Tidak biasa kamu mengeluarkannya?" tanya Celsi yang berjarak 3 langkah dari Clarisa.
Clarisa yang menunduk langsung mendongak ke atas dan mendapat Celsi tengah menatapnya. "Kenapa anda keluar? Sebaiknya anda masuk, bukankah ratu harus bersembunyi di istananya?" ucap Clarisa seraya tersenyum miring.
Sejujurnya Clarisa sedikit tidak senang pada ratu Celsi karena ratu Cels bukanlah Ibu kandungnya, melainkan hanya Ibu angkatnya. Tapi walaupun Clarisa hanya anak angkat Celsi, bukan berarti Celsi tidak sayang dan benci Clarisa. Justru Celsi sangat menyayangi Clarisa dan sudah menganggap Clarisa seperti anaknya sendiri.
Celsi sedikit terkejut mendengar balas Clarisa yang terdengar menghina, namun Celsi tetap memasang senyum ramahnya. Celsi tak pernah marah ataupun menyesal mempunyai anak angkat seperti Clarisa. Bagaimanapun Clarisa adalah putri angkat kesayangannya.
"Clarisa, mari temanin Ibu makan? Kamu juga belum makan bukan?" Celsi mengalihkan pembicaraan. Bukan karena apa, tapi Celsi tidak ingin berdebat dengan Clarisa. Karena semakin panjang debatnya maka semakin Clarisa tak menyukai dirinya.
"Anda saja yang makan, aku akan berjaga di sekitar istana," jawab Clarisa datar. Satu hal yang kalian harus tahu, Clarisa tak pernah memanggil Celsi dengan sebutan 'Ibu'.
"Bukankah ada prajurit yang bisa menjaga? kenapa harus Clarisa?" Celsi memasang ekspresi sok gemas sekaligus sok bingung. Jari cantik Celsi memegang bibirnya.
Clarisa berdiri dari duduknya dan menatap dalam pada Celsi. "Mereka prajurit lemah tidak berguna. Melawan wanita sepertiku pun mereka kalah! Apalagi melawan musuh?"
Celsi langsung tersenyum mendengar ucapan Clarisa walau sebenarnya hatinya tengah tergores karena ucapan Clarisa yang selalu merendahkan orang-orang yang lemah.
"Jangan pernah menganggap seseorang itu lemah Clarisa. Bisa jadi suatu saat merekalah yang lebih kuat dari pada kamu."
"Sudahlah, sebaiknya anda masuk saja. Biarkan saya sendiri di sini!" balas Clarisa dengan bahasa baku seraya berbalik membelakangi Celsi.
Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Sebenarnya Clarisa sedikit merasa bersalah telah berucap kasar pada Celsi, tapi jika tidak seperti itu Celsi tidak akan menyerah membujuknya pikir Clarisa.
"Clarisa ...," ucap Celsi pelan serta serak.
Clarisa berdiam cukup lama membelakangi Celsi, Clarisa melipat tangannya di depan dadanya. Setelah beberapa menit Clarisa membalikkan badannya ingin mengusir Celsi.
"Sudah kukatakan sebaikanya anda masuk-"
Mata Clarisa seketika membulat saat melihat Celsi tergeletak tak berdaya di tanah dengan 1 panah emas yang menancap di belakangnya hingga tembus ke jantungnya.
"Ibu!!!" teriak Clarisa yang berlari mendekati Celsi, lalu memangku Celsi yang sudah tidak berdaya. Akhirnya Clarisa bisa memanggil kata 'Ibu' pada Celsi.
Bibir Clarisa bergetar, ada rasa takut yang menjalar di hatinya. Clarisa merasa takut kehilangan wanita yang menyanginya walau Clarisa selalu tak menghargainya. Karena hanya Celsilah yang menganggap Clarisa seperti manusia biasa bukan Monster.
"Akhirnya kau bisa juga memanggilnya Ibu." Seorang pria berjubah emas mengelus dagunya seraya berjalan menghampiri Clarisa. Pria itu menatap biasa tak ada rasa iba pada Clarisa.
__ADS_1
Clarisa mendongak kepalanya ke arah sumber suara, dan seketika Clarisa langsung memasang wajah marah yang sangat besar. Clarisa mengenal pria di hadapannya. Pelan-pelan Clarisa meletakkan jasad Celsi, lalu berdiri sambil melempar tatapan kemurkaan.
"Marah? Silakan, justru akulah yang seharusnya marah! Kau sudah membunuh adik kami Yuan Gold! Sekarang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayang? Sakit bukan?" Pria tersenyum penuh kemenangan menatap Clarisa yang masih terdiam tapi ekspresinya sangat dendam.
"Sakit? ya ... memang sakit. Kau hebat Feng, kau sangat hebat! Kau sangat berani membangunkan Iblis yang tengah tidur," ujar Clarisa seraya tersenyum dingin pada Feng. Clarisa berusaha mengontrol emosinya.
Feng berdecak kesal, padahal Feng berharap bahwa Clarisa memberuntal tidak terkendali agar Clarisa kehilangan kesadaran dan menghancur kerajaannya sendiri. Karena Feng tahu kekuatan yang ada pada Clarisa sangat susah Clarisa kendalikan, jika sudah hilang kendali Clarisa bisa menjadi ganas seperti monster.
"Feng! Aku mungkin memang lebih muda darimu, tapi bukan berarti aku tidak bisa berpikir tenang? Aku tahu kau ingin memancing kemarahanku bukan?" ucap Clarisa dingin.
"Hebat, ternyata kau bisa menebak semua rencanaku." Feng tersenyum seraya menepuk tangan seolah memberi pujiaan atas jawaban Clarisa.
Clarisa menutup matanya, dan mulai menghayati perkataan Feng. Selangka dua langkah Clarisa berjalan mendekati Feng. Bersamaan dengan langkah kakinya, iris mata Clarisa berubah semakin merah pekat.
"Sepertinya kau bisa menjadi santapan pertamaku Feng? Karena kau sudah membangunkanku jadi kau harus bisa memberiku makan? Aku ini singa liar." Clarisa tersenyum simpul, ada rasa sejuk yang mengalir di hatinya. Entah kenapa Clarisa bisa menenangkan dirinya. Padahal sebelumnya Clarisa terkenal bruntal dalam menaham emosi.
Feng berdecak semakin kesal, baru saja Feng ingin melangkah tapi tiba-tiba tubuhnya tidak bisa digerakkan. Bahkan untuk berbicara pun Feng tidak bisa.
Dari jarak 5 langkah, Clarisa membuka pedangnya dan melepar sarung pedangnya ke atas lalu jatuh menancap di tanah. Clarisa semakin mendekati Feng, membuat Feng mulai berkeringat dingin.
"Ada pesan terakhir Feng?" tanya Clarisa seraya meletakkan pedangnya ke leher Feng.
"Tidak ada ya? Kau memang hebat Feng." Sambung Clarisa lagi karena Feng tidak menjawab pertanyaan. Bukan tidak menjawab hanya saja mulut Feng terkunci tidak bisa berbicara.
Clarisa mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke leher Feng.
Bruuss ....
Darah berciprat seperti air mancur membasahi wajah Clarisa serta bajunya. Clarisa tersenyum lebar hingga melihatkan deratan giginya. Pelan-pelan lidahnya mulai menjilati darah yang bertaburan di bibirnya.
"Tenang Feng, kau tidak akan sendiri di Neraka. Aku akan menghantarkan semua keluargamu untukmu."
*****
Sejak saat berita hancur lemburnya kerajaan Gold, kerajaan Zero semakin disegani. Bukan karena kerajaannya kuat tapi karena ada sosok Dewi Kematian yang menjaga di sana.
Bahkan tidak ada yang memberanikan diri menjelekkan kerajaan Zero terlebih Clarisa. Karena Clarisa mampu mengetahui siapa saja yang menyebut namanya dengan cepat, dan tidak segan ia akan mencari dan membunuh yang menjelekkan namanya atau kerajaannya.
Tapi semua kekuatan Clarisa berdampak buruk padanya, Arthur mengucilkan Clarisa ke kerajaan Blue Flash karena Clarisa sering membunuh pelayan di istana. Alasan Clarisa simpel kenapa dia membunuh mereka, karena mereka mengatakan Clarisa adalah Monster.
Jujur Clarisa kecewa dengan ayahnya. Clarisa merasa ayahnya tidak pernah menganggapnya sebagai anak kandung. Buktinya dia tega mengucilkan Clarisa sendiri di kerajaan yang sepi. Tapi tebakan Clarisa salah! Sejujurnya ada alasan lain kenapa Arthur mengucilkan Clarisa.
*****
Clarisa berjalan memutari kerajaan Blue Flash seperti biasanya. Ini sudah hari ke 3 dia berada di kerajaan Blue Flash. Setiap sore jam 4, Clarisa akan berkeliling melihat-lihat kerajaan Blue Flash. Walaupun Clarisa sudah sering mutar-mutar tetap saja tidak ada rasa bosan untuk melihat semua pemandangannya. Pemandangan kerajaan Blue Flash sangat indah, itulah kenapa Kerajaan Blue Flash mendapat peringkat pertama dalam keindahan serta kecantikan dalam desain Kerajaan.
"Kenapa ayah mengirimku kemari? Aku tahu ayah mengirimku karena ingin menunjukkan sesuatu yang harus aku bisa pecahkan. Tapi apa?" Clarisa mengamati sangat detail kerajaan ini. Bahkan Clarisa menyempatkan pergi ke perpustakaan Kerajaan Blue Flash.
Di taman belakang Kerajaan Blue Flash ada satu pohon besar dan rindang. Di dekat pohon ada satu batu besar berbetuk persegi empat. Clarisa senang menghabiskan waktu tidurnya di batu itu, selain nyaman, batu itu juga bisa bersenandung merdu sendiri. Ini semakin membuat Clarisa penasaran dengan asal-usul kerajaan ini.
Saat sedang asik berbaring, Clarisa dikejutkan sosok cahaya biru kecil di atas pohon. Bentuknya seperti api tapi warnanya biru dan sepertinya itu roh. Clarisa langsung bangkit dan mengambil posisi duduk. Walaupun cahaya biru itu jauh, mata Clarisa masih bisa melihat jelas. Kalian jangan meremehkan ketajaman penglihatan Clarisa.
Pelan-pelan cahaya itu mendekat pada Clarisa. Dan berhasil membuat Clarisa terkejut, karena cahaya itu bisa berbicara.
"Clarisa," ujar cahaya biru itu.
"Apa api bisa berbicara?" Clarisa memukul-mukul kepala, menganggap dirinya sedang berhalusinasi.
__ADS_1
"Takdir memang tidak bisa diruba."
Mata Clarisa membulat, ternyata dia sedang tidak mimpi. "Maksudmu?" tanya Clarisa bingung.
"Dirimu sudah diikat takdir oleh Kaisar Tang," jawab cahaya biru itu.
"Takdir? Takdir apa? Jangan membuat satu kata yang sulit ditebak, jelaskan secara perincihan padaku," ujar seraya menggaruk kepalanya karena bingung.
"Kau akan paham suatu saat nanti, jika kalian berempat telah terkumpul. Sekarang hancurkan batu yang kau duduki itu dan masuk ke dalamnya. Jemput 1 orang pria yang akan menjadi rekan seperjuangan kalian nanti. " Itulah ucapan terakhir cahaya biru itu sebelum ia lenyap begitu saja.
Clarisa memanggil cahaya biru itu tapi tak ada yang menjawab. Clarisa teringat pesan cahaya biru tadi dan segera mengukuti intruksinya.
Clarisa terkejut, melihat sebuah lubang gelap yang lumayan besar. Paling tidak lubang itu cukup untuk Clarisa masuk.
"Apa ini bukan jebakan?" gumam Clarisa menimbang-nimbang anjuran cahaya biru tadi.
"Tapi aku penasaran dengan apa yang ada di dalam? Baiklaj akan kucoba masuk, jika ada apa-apa pasti aku pasti bisa melawannya."
Clarisa pun melompat masuk kedalam lobang itu dan setelah itu batu yang tadinya hancur kembali menyatuh seperti semula. Tidak ada cacat atau bekas retakan sedikitpun.
Clarisa merasa sudah sangat lama di dalam lubang itu. Tapi anehnya kakinya belum meninjak dasarnya.
'Lubang ini dalam sekali.'
Satu titik cahaya berhasil menyilaukan mata Clarisa. Semakin dekat cahaya itu semakin membesar juga cahayanya dan akhirnya cahaya itu menelan Clarisa.
Pov Clarisa
Tubuhku terlempar kesebuah tanah yang keras berwarna hitam.
'Tanah apa ini? Saat kulihat kiri dan kanan, apa ini? Benda apa ini yang melewatiku? Bentuknya kotak dan lebih cepat dari kuda istana.'
Kulihat orang di pinggiran tanah ini berteriak-teria.
'Sepertinya mereka memanggilku?'
Tanpa pikir panjang aku berjalan kearah mereka dengan santainya. Tapi dari sisi lain ada sebuah kotak yang sangat cepat kearahku, aku tahu benda itu akan menabrakku.
"Awas!!!" teriak seorang pria. Pria itu datang berlari kepadaku dan memeluk tubuhku. Akhirnya aku terlempar kepinggir jalan bersama pria itu.
"Aaww!" ringisku karena kepalaku tersantuk di pinggir jalan. Sedangkan pria itu ikut terbaring bersamaku, dia tak terluka dan aku juga tak terluka, bagiku ini benturan kecil saja.
Pria itu bangkit lalu menatap kesal padaku. "Apa kau bodoh!? Berdiri di tengah jalan seperti itu berbahaya!" celoteh pria itu.
Aku bangun dan segera memeriksa pinggangku.
'Untunglah pedang kesayangan masih melekat di belakangku. Ini di mana? Kenapa banyak kotak tinggi dan di sini ribut.'
"Hei! Apa kau dengar!" Pria itu memukul lenganku.
"Apa!?" balasku tak suka, dia sebelas dua belas cerewet seperti almarhuma ibu angkatku. Ya aku sudah menganggap Celsi ada ibu, walau semua sudah terlambat untuk dikatakan.
"Ah! Terserah lanjutkan saja kelakuan konyolmu!" Pria itu pergi meninggalkanku, sepertinya dia sangat kesal.
Orang-orang di sekitarku memandangku aneh.
'Apa ada yang salah denganku?'
__ADS_1
Tak peduli sedikitpun aku pergi dari mereka, berjalan menyusiri kota aneh ini?
'Di mana kastil Blue Flash?'