
Hyunjin terdiam melihat Clarisa di depannya. Gadis itu sangat cantik, apalagi saat dia melebarkan senyumnya. Tang Zhou langsung mengenalkan Clarisa pada Hyunjin dan begitu juga sebaliknya.
Saat ini rasanya Hyunjin ingin menangis memeluk Clarisa saat mengingat sumpahnya dulu. Sumpah untuk mengalahkan Daimont namum tidak bisa tercapaikan, andaikan Clarisa tahu akankah dia kecewa dengan Hyunjin?
"Kenapa Jin'er? Kenapa kau terlihat sedih?" Tang Zhou sedikit terkejut melihat ekspresi sendu Hyunjin.
Hyunjin beralih menatap Tang Zhou dan melebarkan senyumnya. "Entahlah Guru, melihat Clarisa seperti mengingatkanku akan sesuatu. Seperti keluarga," jawab Hyunjin pelan.
Clarisa berubah sendu saat mendengar ucapan Hyunjin. Berlari Clarisa mendekat Hyunjin dan memeluknya. Hyunjin sedikit terkejut dengan sikap Clarisa namun ucapan Clarisa membuatnya bungkam.
"Jin gege, Jin gege bisa menganggap Clarisa seperti keluarga semdiri."
Clarisa yang sekarang dan yang dulu sangat berbeda. Jika dulu Clarisa bersifat beringas, dingin dan acuh, maka yang sekarang adalah kebalikan sifatnya. Tapi keras kepalanya masih melekat kek getah cinta kucing tetangga.
Clarisa sekarang sangat gampang terharu, sedih, luluh dan percaya pada siapapun.
Tang Zhou menyulum senyum terharu, melihat putrinya tersenyum membuat Tang Zhou bahagia. Selama ini Clarisa jarang tersenyum dan selalu bersedih, Clarisa bersedih karena tidak mempunyai teman.
"Baiklah, Jin gege akan memanggilmu Shasha, dan menganggapmu seperti adikku sendiri." Hyunjin menarik senyum seraya mengelus pelan kepala Clarisa.
Tinggi mereka berdua hanya berbeda sedikit, Hyunjin tinggi 161 dan Clarisa 150. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih remaja muda.
*****
"Apa Jin'er sanggup?" Tang Zhou menanyakan sekali lagi.
Hyunjin mengangguk pelan, pelatihan pertamanya akan dimulai. Tang Zhou meminta Hyunjin berlari ke alun-alun kota sambil membawa gerobak kecil.
"Guru aku ingin ikut bersama Jin gege."
Clarisa menatap Hyunjin dengan gerobak kecil di hadapannya. Clarisa ingin ikut berlatih seperti Hyunjin tapi Tang Zhou melarangnya. Alasannya karena ini bukanlah latihan yang sesuai untuk wanita, apalagi gadis kecil seperti Clarisa.
"Tidak boleh Clarisa."
__ADS_1
"Tapi Guru, kenapa aku tidak ada latihan seperti Jin gege?"
Tang Zhou juga sudah mengatakan pada Clarisa jika saat memberi latihan, Clarisa harus memanggilnya 'Guru' sama seperti Hyunjin.
"Karena kau perempuan Clarisa."
"Tapi Gu-"
"Tidak boleh Clarisa."
"Ayah! Tapi aku mau ikut Jin gege!" Clarisa berseru keras, membuat 4 kuping di dekatnya menjadi sakit. Bahkan kali ini Clarisa menyebut 'Ayah' bukan lagi guru.
Hyunjin menutup telinganya, teriakan Clarisa begitu keras seperti terompet sangkakala. "Guru biarkan saja Shasha ikut bersama Murid. Shasha bisa duduk di gerobak ini," ujar Hyunjin seraya menurunkan ke dua tangannya dari telinganya.
Clarisa langsung melebarkan senyum hingga melihatkan deretan gigi putihnya. Tidak pikir panjang Clarisa langsung berlari ke gerobak Hyunjin dan naik ke gerobak tersebut.
"Tapi, apa Jin'er sanggup?"
Hyunjin mengangguk pelan seraya tersenyum, bagi Hyunjin ini bukanlah masalah besar. Latihannya ini bahkan lebih mudah dari pertama kali dia latihan bersama Clarisa dulu di kehidupan pertamanya.
Hyunjin menatap Clarisa, seraya memberi kode untuk berpegangan. Clarisa mengangguk paham dan memegang penyangga di depannya.
Hyunjin menarik nafas sejenak dan langsung berlari santai meninggalkan Tang Zhou. Tang Zhou menggelengkan kepalanya, melihat tingkah 2 muridnya.
Jarak Kekaisaran dengan alun-alun kota lumayan jauh, sekitaran 5 kilometer jaraknya. Sepanjang 5 kilometer akan hanya ada hutan-hutan namun tidak terlihat liar, hutan itu dinamakan hutan Suara. Kenapa demikian? Karena hutan Suara selalu mengeluarkan suara-suara aneh namun tidak menyeramkan.
"Jin gege, bisakah Jin gege berlari lebih kencang?" Clarisa terus teratawa sepanjang jalan, dia sangat bahagia hari ini tidak seperti hari yang telah dia lewati sebelumnya.
"Tentu bisa."
Hyunjin mempercepat larinya 2 kali lipat dari sebelumnya. Clarisa semakin tertawa kencang karena gerobak yang dinaiki membuat tubuhnya bergetar, Clarisa merasa sangat-sangat senang! Dan mengucapkan syurkur di hatinya karena telah bertemu dengan Hyunjin.
*****
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sudah siap?" Duke bertanya pada salah satu prajurit.
"Siap, tinggal menambahkan riasan di beberapa dinding aula," jawab pengawal itu seraya membungkuk memberi hormat.
"Baguslah, lanjutkan kerjamu."
Prajurit itu langsung pergi dari depan Kawaki. Kawaki ialah Duke di Kekaisaran Tang sekaligus tangan kanan Kaisar Tang. Kawaki memiliki sifat yang selalu serius dalam apapun.
2 hari lagi Kekairasa Tang akan mengadakan pesta besar untuk memperingati hari kematian seseorang yang sangat spesial, sudah 5 tahun ini peringatan kematiannya selalu diadakan.
Peringatan ini akan berlangsung 1 hari saja. Semua warga sekitaran Kekaisaran Tang akan datang berkujung ke makamnya untuk mendo'akannya, semoga tenang di alam Surga.
"Kawaki, apa lampion sudah siap? " Seorang pria datang menghampiri Kawaki yang tengah asik memperhatikan kinerja para prajurit dan pelayan Kekaisaran.
Kawaki membalikkan badannya dan melihat Yanghau datang menghampirinya.
"Sedikit lagi, para tukang baru bisa menyelesaikan 700 lampion," jawab Kawaki.
Yanghau adalah salah satu menteri di Kekaisaran Tang. Umur Yanghau 27 tahun, Yanghau memiliki sifat baik, pelawak, dan ramah pada semua orang. Jika ingin bercanda cobalah bersama Yanghau, dia orang yang sangat lucu. Yanghau juga masih singgel, dan Yanghau juga sangat diakui tampan. Bahkan beberapa pelayan Kekaisaran mengagumi Yanghau secara diam-diam.
"Apa kau sudah mengundang gubernur Destopia? Aku dengar pemimpin baru di Destopia adalah seorang gadis cantik dan muda, barangkali dia jodohku."
"Ini acara peringatan kematian Nona besar, bukan acara persta dansa. Kenapa harus mengundang pemimpin negara lain?" Kawaki terkekeh menjawab Yanghau.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Dukung karya author ya 😄
Mampir juga ke karya author yang berjudul Hero 🤗