Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
8. Kota Melodi


__ADS_3

Setetes embum menjatuhi pipi halus nan putih Clarisa. Mata iris merah itu mulai menatap sekitar, ternyata hari mulai terang. Clarisa mengedarkan pandangnya melihat Hyunjin dan anak serigala itu masih tertidur. Sejenak Clarisa mengucek matanya, dan mulai bangkit dari duduknya.


'Astaga! Kenapa aku bisa ketiduran? Untunglah tidak ada hewan buas lain yang menyerang kami saat tidur.'


Ini merupakan sebuah kelalain besar bagi Clarisa, jika saja ada hewan buas lain pasti mereka sudah mati diterkam atau dimakan. Clarisa mulai meregangkan otot-ototnya yang pegal, tidur dengan keadaan duduk lumayan membuat lehernya pegal. Setelah meregangkan otot Clarisa ingin mencari sumber air terdekat di sekitarannya.


Ternyata tak jauh dari mereka ada sungai yang mengalir, air sangat jernih hingga melihatkan warna batu-batu krikil di dalam air. Clarisa langsung mengambil kesempatan untuk mandi, sebelum dia membangunkan 2 mahkluk itu.


"Air ini bikin aku segar, tidak seperti air biasa air ini mengandung sedikit energi alam. Aku harus menyerap sedikit energi alam ini." Clarisa duduk sila di air sungai itu. Banyak sensai alam yang mulai ia serap.


Beberapa menit tubuh Clarisa semakin bertenaga karena air itu. "Sepertinya ini air benang alam, terlalu banyak energi yang mereka alirkan. Ini akan sia-sia jika tidak dimanfaatkan." Clarisa kembali menutup matanya lagi beberapa menit. Setelah selesai ia kembali memakai pakainnya dan berjalan menuju tempat Hyunjin.


"Hyunjin, bangun. Kita akan melanjutkan perjalanan, apa kau mau aku tinggal?" Clarisa menggoyang-goyang tubuh Hyunjin yang tak kunjung bangun.


"5 menit lagi. Berikan waktu 5 menit lagi." Hyunjin masih menutup matanya, tangannya memberi angka 5.


"Kau yakin? Ya sudah aku akan meninggalkanmu di sini," ujar Clarisa sambil berjalan pelan meninggalkan Hyunjin.


Hyunjin seketika bangun, dia berdecak kesal. "Ahh! Kau selalu mengancam, tidak bisakah kau melihat aku bahagia sebentar?"


Clarisa berhenti, kepalanya menengok Hyunjin dengan tatapan sinis. "Yakin?" ujar Clarisa dingin.


Hyunjin terkekeh sambil menggaruk kepalanya. "Tenang kami siap menempuh jalan! Hao mari kita berangkat! Jangan bermalas-malas, apa kau ingin kita ditinggal?" Hyunjin membangunkan Hao serigala kesayangannya.


"Ohh jadi serigala ini sudah punya nama, Hao nama yang buruk seperti majikannya." ledek Clarisa sembari menggaruk hidungnya.


"Heh?! Buruk? Itu nama yang bagus, setelah semalaman aku memikirkannya kau bilang itu jelek?"


"Ggrr!" Hao memberi tekanan pada Clarisa agar tidak membuat tuannya marah. Tapi Clarisa malah tertawa lantang tak menjelaskan sepata kata dan terus berjalan meninggalkan Hyunjin dan Hao.


"Maklumi Ibumu memang tidak waras." Hyunjin menatap Hao agar tetap tenang. Dan serigala itu hanya mengangguk mengerti pada Hyunjin.


"Sekali lagi kau bilang aku ibu maka akan kulenyapkan kau wahai anak durhaka!" Clarisa melempar rating yang tajam pada Hyunjun namun Hyunjin bisa menghindarinya. Ranting itu menancap di batang pohon lumayan dalam.


Hyunjin menelan ludahnya. "Lihat, jangan pernah buat ibumu murka. Ingat!" Kali ini Hyunjin berbisik pelan agar tidak didengar oleh Clarisa.


Hyunjin dan Hao mengikuti Clarisa dari belakang saat ini mereka takut berdampingan dengan Clarisa. Clarisa berjalan menuju sungai Benang Merah, lalu menyuruh Hyunjin dan Hao membersihkan badan mereka. Ini pertama kalinya Hyunjin mandi di sungai yang begitu nyaman, ditemani dengan Hao serigalanya. Mereka berlari-lari di pinggir sungai. Sungai Benang Merah tidak terlalu dalam, paling dalam hanya 2 meter di tengah sungai. Hao juga memanfaatkan mencari ikan di sungai.


"Clarisa! Lihatlah, Hao mendapat ikan." Hyunjin mengenggam ikan berwarna silver dengan puas. Clarisa hanya tersenyum kecil dari jauh.


"Aku akan menyiapkan kayu untuk membakar ikan itu, kalian carilah lagi." Clarisa berjalan mencari dahan ranting di sekitar sungai. Setelah terkumpul segera ia membakarnya.


Ikan tangkapan Hao ada 5 jenis ikan dan juga ikannya lumayan besar. Hao dan Hyunjin menghangatkan tubuh mereka yang basah di depan api.


"Lihat, Hao tidak sia-sia kita rawat. Baru sehari dia sudah bisa diandalkan." Hyunjin menatap api sambil tersenyum, dia belum memakai bajunya.


"Bisakah kau pakai bajumu?" Clarisa membolak-balik ikan bakar tapi tidak menatap Hyunjin.


"Aku hanya bertelanjang dada, kenapa kau harus malu?"

__ADS_1


"Guk guk." Hao setuju dengan Hyunjin. Hyunjin mengelus kepala Hao dengan lembut.


Clarisa terdiam, wajahnya mulai memerah bukan karena malu tapi karena marah. Hao selalu mendukung Hyunjin hingga Clarisa terpojok. Tak lama ikan bakar siap, mereka bertiga makan dengan lahapnya, tak ada yang membuka suara saat makan. Seusai makan mereka melanjutkan perjalanan mengikuti aliran sungai.


"Clarisa apa kau pernah lewat sini?" Hyunjin takut mereka malah nyasar bukannya keluar hutan.


"Belum."


"Heh!? Terus kenapa lewat sini?" Hyunjin menatap Clarisa tak percaya.


Clarisa masih fokus menatap jalan di depan. "Kita akan mengikuti air sungai ini sampai hulu, bisa jadi di hulu sungai ada perkampungan," jawab Clarisa datar.


Mulut Hyunjin membentuk huruf o seraya mengangguk paham. "Kau lumayan cerdas juga. Tapi apa ada kampung di hutan ini? Sebenarnya ini wilayah apa sih?"


"Ini wilayah kerajaan Rain. Setahuku di wilayah kerajaan Rain ada kampung yang mengelolah air Benang Merah. Karena air ini merupakan 1 air yang berenergi alam tidak seperti air biasa."


"Hhmm gitu. Terus Rain itu bukannya hujan?"


"Iya. Negara Rain negara yang sering mengalami hujan dibanding 5 negara lainnya."


"Terus siapa nama raja di kerajaan Rain?"


"Raja Wiliam."


"Seperti apa perangainya raja Wiliam? Apa dia baik atau jahat?"


Clarisa menghembuskan nafasnya kasar, Hyunjin terlalu banyak bertanya. "Dia 4 raja yang terkenal kejam dan sangat kuat. Raja Wiliam tak pernah pandang bulu jika ingin membunuh, tak kenal negoisasi ataupun hukum. Sebenarnya 6 kerajaan ini dulunya akrab cuman ada perkara di antara mereka yang tak aku ketahui, sampai sekarang aku masih penasaran kenapa 6 kerajaan ini saling bermusuhan. Padahal mereka dulunya 6 jendral raja Exhilius yang terpercaya dan selalu akrab."


"Entahlah."


"Clarisa bisakah kau menceritakan seluk beluk keluargamu?" Hyunjin menatap Clarisa yang langsung berubah ekspresi. "Tapi jika kau tak mau aku tidak akan memaksa." Sambung Hyunjin lagi karena dia bisa melihat ada kesedihan dan keraguan dari wajah Clarisa.


Sejenak Clarisa terdiam hingga akhirnya dia mulai menceritakan. "Aku? Aku terlahir dengan kekuatan kebencian, sulit untuk dikendalikan dan selalu dikucilkan. Awalnya mereka semua bersikap baik padaku, tapi setelah aku berhasil membuka pedang Shiki dan membunuh 1 pengasuhku mereka semua menjahuiku. Tapi ayah dan ibuku tidak, mereka masih tetap peduli padaku. Tapi Kebaikan ayahku dan mereka hanya sementara, mereka menuduhku aku yang membunuh ibuku, padahal mereka salah paham. Mungkin mereka beranggapan seperti itu karena aku sering membunuh para prajurit dan pelayan di istana. Bahkan ayahku percaya dan mengucilkanku di istana Blue Flash ...."


"Sudah. Jangan diteruskan, aku kira hanya aku yang merasakan dibuang orang tua ternyata kita memang senasib." Hyunjin menepuk bahu kiri Clarisa.


Clarisa memasang senyum kecil. Dia merasa sudah kehilangan beban separuh di hatinya. Paling tidak dia berhasil mencurhatkan separuh keluhannya.


****


Tak terasa terus berjalan mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah kota. Hampir 2 hari di hutan akhir mereka bisa menemukan kota, Hyunjin menarik senyum legah. Berjalan mereka menuju gerbang kota, tapi dicegat oleh para penjaga gerbang.


"Kenapa kalian melarang kami masuk?" Hyunjin angkat suara tidak terima, setelah 2 hari berjalan di hutan lalu dilarang masuk.


"Identitas kalian?" tanya Pria itu. Penjaga gerbang ada 2 orang dan masing-masing memiliki tubuh yang kekar. Tak lupa ada tanda tato not lagu di leher mereka.


Clarisa maju 2 langkah. "Kami hanya seorang pengelana. Identitas apa yang kau inginkan dari kami?"


"Dari kota mana kalian?" Suara berat nan galak pengawal itu membuat Hyunjin sedikit gemetar.

__ADS_1


"Kami dari hutan Lentera Merah."


"Ohh ya sudah silakan masuk." Dua pengawal itu membukakan pintu gerbang besi yang lumayan besar.


Mereka bertiga masuk ke kota. Di gerbang tadi ada tertulis nama kota 'Melodi'. Kota ini lumayan rameh dan padat, seingat Clarisa kota ini belum seramai ini saat dia berkunjung dulu. Dia tidak menyangkah kota ini berkembang secepat ini. Clarisa membawa Hyunjin ke toko baju untuk membeli jubah, setelah itu barulah mereka mencari penginapan untuk istirahat.


"Rupanya putri punya banyak koin emas," gumam Hyunjin pelan seraya mengelus dagunya.


"Tersisah 2 kamar biasa di penginapan ini tapi kami bisa menjamin untuk kenyamanan tuan dan nyonya." Pelayan itu menunjukkan 2 kamar sederhana, hanya ada 1 kasur, 1 meja dan 2 kursi, serta kamar mandi yang menyatu di kamar itu.


"Tak apa. Ini sudah lebih dari bagus, kami sewa 2 kamar ini." Clarisa memberi 1 koin emas pada pelanyan itu.


"Jika tuan dan nyonya lapar, kalian bisa memesan di bawa. Saya pamit nyonya, tuan." Pelayan itu pergi dan tak lupa memberikan hormat.


"Tuan? Apa aku setua itu?" Hyunjin merasa aneh dipanggil tuan oleh pelayan.


Selepas menyewa Clarisa langsung masuk ke kamar penginapannya. Lalu masuk ke kamar mandi membersihkan diri, dan keluar menggunakan baju yang baru dia beli di toko baju tadi. Hyunjin dan Hao juga sama, membersihkan diri bersama di dalam kamar mandi.


Setelah keluar kamar mandi Clarisa mengikat rambutnya di depan cermin. Clarisa memperhatikan wajahnya dan langsung teringat dengan ucapan cahaya Biru yang masih Clarisa sulit tuk percaya.


"Apa iya ini takdir? Tapi apa yang harus kulakukan dengan pria lemah seperti dia? Huft dia hanya membuat susah!" Clarisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hanya saja bingung takdir yang dimaksud Cahaya.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu mengejutkan Clarisa. Terdengar suara Hyunjin memanggil dari depan pintu. Clarisa melangkahkan dirinya menuju pintu lalu membukanya. Nampak seorang pria lengkap dengan jubah biru hitam kesatria, ada anting biru di relinganya, lalu di lehernya ada kalung perak berliontinkan permata biru. Hanya satu yang bisa diucapkan, tampan.


Begitu juga dengan Clarisa yang memakai jirah lengkap seperti panglima, di dahinya ada sebuah perak yang berbentuk bando, lalu di seragamkan dengan pakain biasa warna merah dan anting kuning. Jari-jarinya dipenuhi baja yang menutupi separuh jarinya, seolah sebagai alat mencakar.


Hyunjin sedikit terbatuk melihat Clarisa berpakaian seperti itu, memang cantik tapi emangnya dia mau berperang di mana?


"Mau perang ke mana putri?" Hyunjin terkekeh pelan, tangan kirinya menutup mulutnya.


"Hanya waspada. Lagipula aku suka memakai baju seperti ini," jawab Clarisa pelan. Dia malu baru kali ini ada yang mengomen pakaiannya.


"Ahh seperti itu." Hyunjin menggaruk hidungnya seraya melihat Hao juga lengkap menggunakan pakaian jirah perang hewan. "Rambutku jadi berubah, terlihat seperti kakek-kakek. Putih seperti uban."


"Sebenarnya rambutmu tidak terlalu buruk, tapi tetap saja kau jelek!" balas Clarisa tertawa seraya meninggalkan Hyunjin dan Hao.


Hyunjin mengumpat kesal, bahkan dia sudah yakin bahwa dia sudah sangat tampan seperti ini. Tapi malah mendapat penghinaan, sungguh memalukan.


Hyunjin mengikuti Clarisa ke lantai bawa. Malam ini mereka akan makan malam dengan layaknya, seperti di kerajaan dan ditambah dengan arak. Mereka mengambil tempat duduk yang menjauhi keramaian, karena banyak tamu membuat ruang makan itu ribut. Ditambah ada keluarga bangsawan, bahkan mereka berteriak-teriak agar wanita penari itu menghibur mereka. Sejujurnya Hyunjin jijik melihat para pria itu.


"Tak usah dipedulikan, bangsawan memang seperti itu sebaiknya kita tidak ikut campur urusan mereka." Clarisa sadar bahwa Hyunjin tidak senang dengan mereka yang menindas wanita seperti itu.


"Menari yang bagus! Pangeran Xieyu tidak ingin melihat tarian yang jelek seperti itu!" Seorang pengawal berbadan besar mencambuk wanita penari itu. Wanita itu terjatuh ke lantai, badannya semua terasa sakit.


Xieyu membuang muka jengkel melihat penari itu. "Leyapkan wanita itu! Aku tidak suka tariannya!" perintah Xieyu mengibas-ngibaskan tangannya.


Perintah Xieyu langsung dijalankan para pengawalnya. Wanita penari itu menjadi panik, dia tak ingin dibunuh seperti penari lainnya. Segera wanita itu bersujud memegang kaki Xieyu seraya memohon diampunkan.


Xieyu semakin murka. "Beraninya kau menyentuh kaki seorang bangsawan! Enyah kau dari hadapanku! Pengawal penggal kepalanya!" bentak Xieyu.

__ADS_1


Pengawal itu menarik paksa wanita penari itu, lalu satu pengawal lain menghujam leher wanita itu dengan pedang yang lumayan lebar dan besar. Darah merembes di lantai, banyak tamu lain yang ingin muntah dan ketakutan. Kini kepala gadis penari itu terpisah, lalu ditendang oleh pengawal menjahui Tuan mereka.


"Pelayang!" Xieyu berteriak kecang. Dia butuh penghibur yang lain.


__ADS_2