Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
18. Kembalinya Penguasa Gelap


__ADS_3

Tak perlu bercakap lebih lama lagi, Clarisa langsung memberi serangan mendadak pada Hwang Jhin. Dengan 2 senjata di kedua tangannya itu sudah cukup bagi Clarisa untuk melawan Hwang Jhin bahkan juga bisa melenyapkannya.


Karena serangan mendadak dan Clarisa terus mendesak, luka dari serangan tak bisa dielakkan Hwang Jhin. Hwang Jhin mundur 5 langkah menjahui Clarisa, sedangkan Clarisa hanya tersenyum kecil sedikit bangga karena sudah mampu melukai Hwang Jhin.


'Apa!? Putri benar-benar melawan? Aku tidak menyangka dia serius seperti ini. Oke kali ini aku tidak boleh lengah, sedikit saja aku bisa kalah dalam pertandangin ini!'


Clarisa menggelengkan kepalanya, dia bisa menebak siasat Hwang Jhin dari tatapan Hwang Jhin padanya. 'Kau pikir aku akan mengalah? Sekalipun aku harus membunuhmu bagiku itu tidak mengapa! Tapi mengingat ayahmu dan ayahku bersahabat, mungkin paling tidak aku hanya melukaimu sedikit.'


"Kenapa? Kau mau menyerah?" Clarisa mengangkat dagunya seraya tersenyum menghina pada Hwang Jhin.


"Hahaha ... tentu tidak putri."


Kali ini Hwang Jhin yang menyerang duluan dengan kecepatan penuh, memberi sedikit kelonggaran pada Clarisa sama halnya membuka titik kekalahan. Kali ini Hwang Jhin tidak meremehkan Clarisa, dia sudah dapat menerka bahwa Clarisa bisa jadi lebih kuat dari pada dirinya. Buktinya saat Hwang Jhin menyerangnya dengan pedangnya, Clarisa hanya menepis dengan sebelah tangan tanpa bergerak dari tempat.


Beberapa menit, Hwang Jhin kembali mundur beberapa langkah, ia sudah mulai kelelahan sedangkan Clarisa masih terdiam di tempatnya.


'Sialan! Ternyata putri sangat kuat! Bahkan dia lebih kuat dariku! Kalau seperti ini aku bisa kalah! Tidak boleh, aku tidak boleh kalah dari seorang wanita! Ini merupakan suatu penghinaan! Aku memang harus menggunakan cara licik dari paman Shong, ya paman kau benar putri memang tidak lemah, rupanya aku yang salah pemahaman?'


Clarisa memegang pipi kirinya, dia terkekeh kecil saat melihat ada darah di tangannya, "Harus kuakui pangeran, kau termasuk orang ke 3 yang bisa melukaiku. Ini sesuatu yang sangat langkah, kau memang musuh yang hebat. Tapi kau hanya mampu memberiku 1 luka kecil padahal kulihat kau sudah mengeluarkan seluruh kemampuanmu? Benar bukan tebakanku?"


Hwang Jhin berdiri tegak seraya memasang senyum palsu, "Tidak putri, aku belum mengeluarkann semuanya. Ternyata aku salah karena sudah meremehkanmu," balas Hwang Jhin sambil merongo sesuatu dari jubahnya.


"Menyerahlah jika tidak ingin terluka lebih banyak, lihat jubahmu mulai berlumuran darah lukamu!" Clarisa memberi sedikit keringanan pada Hwang Jhin.


"Mari kita lanjutkan." Hwang Jhin tidak akan menyerah dengan mudahnya, menyerah karena luka di tubuhnya bukanlah sikap Hwang Jhin yang asli. Sebelum dia keluar sebagai pemenang dia tidak akan menyerah sekalipun.


Hwang Jhin mulai memyerang lagi, kali ini dia sudah ada taktik yang mungkin Clarisa tidak menyadarinya, Hwang Jhin sudah menutupi aurah jahatnya agar Clarisa mengendorkan perlindungannya. Hwang Jhin tetap menggunakan penyerangan dalam jarak dekat serta menggunakan kecepatan yang lebih cepat.


Clarisa mulai melawan dengan serius, kali ini dia menggunakan kedua tangannya menangkis pedang Hwang Jhin. Perlahan-lahan Clarisa mulai mundur karena tekanan kekuatan Hwang Jhin semakin meningkat, tentunya Clarisa melawan hanya menggunakan fisik tidak menggunakan tenaga dalam.


'Sial dia mulai mendesakku!'


Walaupun gerakan Hwang Jhin terus meningkat tentunya semua yang dia keluarkan sangat memakan banyak tenaga, tapi Hwang Jhin tetap fokus setelah ada celah sedikit dia akan melakukan rencana liciknya.


Karena Clarisa semakin berjalan mundur, tiba-tiba kakinya tersendung sebuah batu. Tentunya Clarisa tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya terlebih Hwang Jhin terus mendesakannya dengan kecepatan yang terus kian meningkat.


'Sekarang!'


Hwang Jhin melempar sebuah serbuk pada Clarisa saat Clarisa hendak jatuh. Tak dapat dihindarkan dengan cepat, serbuk itu mengenai wajah Clarisa. Hwang Jhin menghentikan pergerakan pedangnya dan tersenyum puas, tidak sia-sia dia merencanakannya dengan cepat dan tepat.


"Serbuk apa ini! Kenapa aku tidak bisa melihat!" Clarisa mulai panik saat semua penglihatannya hanyalah gelap. Kini kedua mata Clarisa berubah warna putih kabur, sesuatu telah menutupi selaput bola matanya.


Hwang Jhin tertawa lantang, "Putri kau sudah kalah! Sekarang menyerahlah!"


"Ck! Permainanmu sangat licik, tidak kusangkah kau bermain seperti ini." Clarisa mulai tenang, dalam keadaan seperti ini dia tidak boleh gegabah. Clarisa mengambil posisi duduk seraya waspada, dia tidak akan tahu rencana apalagi yang akan direncanakan Hwang Jhin.


"Tenang putri matamu hanya akan seperti ini selama 2 jam kedepan. Lagipula kau yang menyuruhku bukan untuk melawan dengan semua kemampuanku? Lalu kenapa kau mengatakanku licik?" Hwang Jhin berjongkok di hadapan Clarisa seraya meraih dagu Clarisa.


"Jangan menyentuhku!" Clarisa langsung menepis tangan Hwang Jhin kasar.


"Hei! Jangan melupakan janjimu putri! Kau sudah mengatakan jika aku bisa mengalahkanmu maka kau mau menjadi kekasihku!" Hwang Jhin memegang kedua lengan Clarisa kasar seraya menggoyangkannya.


Clarisa meludahi wajah Hwang Jin, "Cih! Aku tidak akan sudi memiliki kekasih licik sepertimu!" Clarisa berusaha memberontak dari genggaman Hwang Jhin.


Hwang Jhin mengeratkan genggamannya, giginya menggeram kuat. Berani sekali Clarisa meludahi dirinya yang tampan ini. "Kau! Berani sekali!"


Praak ....


Sebuah tamparan kuat mendarat di pipi kiri Clarisa. Clarisa memiringkan wajahnya ke kanan, dia sangat marah, sebelumnya tidak ada yang berani menampar dirinya seorang pun. Hwang Jhin meraih pedangnya kembali dan menancapkannya di tangan kiri Clarisa. Hwang Jhin juga sama marahnya dengan Clarisa.


Telapak tangan kiri Clarisa menempel di tanah, pedang Hwang Jhin menancap sangat dalam hingga tembus ke tanah. Tapi Clarisa tidak sedikitpun mengeluarkan teriakan, sakit tangannya tidak bisa mengalahi amarahnya.


"Kau! Putri sialan! Berani sekali kau meludahiku?! Kau harus membayarnya!" Hwang Jhin mengambil 2 pisau Clarisa yang tergeletak di tanah lalu menggunakannya mencabik-cabik baju gaun Clarisa. Sesekali dia melukai lengan dan betis Clarisa.


Mata Clarisa membulat, rupanya Hwang Jhin berniat merobek pakaiannya. Ini merupakan sebuah pelecehan pada Clarisa. "Kurang ajar!!!" Clarisa mengambil pedang Shiki dari sarung pedangnya yang melekat di pinggang kecilnya.

__ADS_1


'Tebas kaki kirinya putri! Di depanmu!' Shiki masuk kepikiran Clarisa dan memberikan arahan.


Clarisa menebas sekuat tenaga ke depan sesuai dengan perintah Shiki. Hwang Jhin terkejut bukan main, saat sebuat pedang mengarah pada kakinya dengan cepat. Tentunya Hwang Jhin tidak sempat menghindar atau menangkis karena tangannya sibuk merobek pakaian jirah Clarisa.


"Aarrggg!!!" Hwang Jhin mengerang kuat seraya berguling-guling di tanah. Sebelah kakinya telah putus karena tebasan Clarisa. Setengah betis Hwang Jhin terpisah dengan tubuhnya, sungguh sangat sakit.


Clarisa mencabut pedang yang menancap di tangan kirinya dengan cepat. Lalu berdiri dan ingin menghujam Hwang Jhin lagi. Tapi Shiki segera menepis niat Clarisa, Shiki meminta agar Clarisa segera pergi meninggalkan Hwang Jhin. Clarisa berdecak kesal! Dia tidak pernah membiarkan musuhnya tetap hidup terlebih Hwang Jhin sudah sangat licik padanya. Tapi mendengar Shiki yang terus membujuknya akhirnya Clarisa mengikutinya pergi dengan arahan dari Shiki.


*****


Subuh yang masih gelap sekitara jam 4, tenda-tenda itu mulai ramai dengan gaduh. Mereka sibuk menyiapkan diri untuk penyerangan mendadak pagi ini. Hwang Jhin tidak tidur semalaman karena fokus merencakan siasatnya membunuh raja dengan tangannya sendiri.


Setelah siap mereka bergegas menunggangi kembali Elang Capter mereka dan terbang melesat menuju kerajaan Zero.


Para prajurit Zero melihat ke langit karena tiba-tiba saja cuaca menjadi gelap. Ternyata ribuan burung terbang di atas mereka, dan tentunya mereka mendapat serangan dari pemanah ahli dari atas. Para prajurit Zero tidak mengindar dengan cepat terlebih anak panah itu seperti hujan yang mengguyuri mereka dengan derasnya.


Ribuan prajurit dengan sekejap tewas karena anak panah musuh. Anah panah itu menancap tidak hanya 1 atau 2 pada tubuh prajurit melainkan 5 sampai 10 anak panah. Semua anak panah menancap begitu dalam pada tubuh mereka. Sungguh rencan Hwang Jhin tepat dan bagus.


3 kali suara keras pukulan gong sebagai sirine pertanda ada penyerangan. Semua penghuni istana langsung panik mendengar suara pukulan gong istana, terutama para raja dan manteri yang sibuk rapat dalam ruang.


"Ada yang menyerang!" Seorang prajurit masuk ke dalam ruang rapat dengan tergesah-gesah.


"Apa!" Jendral langsung membentak meja dengan kuat hingga membuat meja penjang itu patah terbelah dua.


"A-ada penyerang dari penunggang Elang Capter!' Prajurit itu menjawab dengan terbata-bata.


"Elang Capter? Jangan-jangan mereka dari kerajaan Maxhi?" Duke masih tampak tenang saat mendengan nama 'elang Capter'.


Arthur langsung bangun, dia sudah sangat geram. "Rupanya mereka memanfaatkan kedukaan kita! Ini tidak boleh dibiarkan!" Arthur langsung bergegas mengambil pedangnya dan berjalan keluar ruangan.


'Raja Arthur, bahkan kau belum pulih sepenuhnya. Aku tahu hatimu dan tubuhmu masih sakit!" Jhonsen menatap sendu pada rajanya yang masih tampak tegar dengan kehidupannya.


Penyerangan mendadak itu membuat kerajaan Zero telat dalam membalas. Prajurit mereka sudah banyak yang tewas, bahkan sebagian besar para pendekar mereka juga tewas karena serangan mendedak itu. Raja Arthur segera keluar menuju pusat perkelahian bersama para Menteri, Duke, Jendral dan Panglima tempur.


Tanpa menunggu balasan balik dari raja Zero, Hwang Jhin langsung memberikan arahan pada pesukannya untuk memanah mereka semua yang ada di depan.


Ribuan panah melesat dengan cepat, tentunya itu bukan hal yang mudah untuk dihindari. Tapi raja Arthur tetap tenang, dia langsung mengeluarkan kekuatannya yaitu perisai Naga Bulan.


Sebuah perisa sihir dari pedang Arthur membentang lebar di hadapan Arthur. Prisai warna kuning dengan lambang bintan, bulan dan naga. Hwang Jhin menggerutu kesal, tentunya dia belum tahu bahwa raja Arthur memiliki sihir prisai seperti ini. Beberapa pengikut Hwang Jhin berdecak kagum bahkan berbisik ternyata raja Zero kuat, bahkan ada yang mengatakan apakah mereka bisa menang melawan raja Zero.


Prisai itu hanya bertahan selama 2 menit, karena raja Arthur masih dalam keadaan tidak free. Kini jendral kerajaan Zero lagi yang membalas dengan kekuatan tombaknya yang melesat cepat. Bahkan dengan mata telanjang tidak akan bisa melihatnya. Tombak itu seperti bomerang, menembus 3 sampai 4 musuhnya dengan gesitnya. Setelahnya tombak itu akan kembali pada pemiliknya.


"Ck! Tidak ada pilihan lain! Akan kugunakan panah Penguasa Petir!" Hwang Jhin segera melesatkan panahnya ke langit setelah beberapa pasukannya direngut oleh Jendral Zero.


Panah itu melesat tinggi hingga ke langit, beberapa detik awan putih nan cerah itu berubah gelap. Hujan petir menggelegar di mana-mana, membuat beberapa hutan, kampung, dan kota di kawasan negara Zero terbakar karena petir. Bahkan beberapa pilar dan banguanan kerajaan Zero juga terbakar karena petir.


Duke dan Jendral Zore mengeratkan gigi mereka. Mereka tak menyangkah pangeran Hwang Jhin memiliki senjata pusaka. Sedangkan Raja Arthur tetap tenang, dia memamg berpikir tidak akan menang melawan musuhnya tapi paling tidak dia akan mengerahkan semua kekuatannya demi kerajaan Zero.


"Pangeran Hwang Jhin! Kenapa kalian menyerang kami!" Manteri pertanahan bernama Shuyang angkat suara sangat marah.


Para musuh tertawa mengelegar sama seperti gelegar petir mereka. "Tentunya membalaskan dendam! Karena putri sialan itu sudah mati jadi kalian hanya seperti debu!" jawab Hwang Jhin tegas.


Raja Arthur mendengarkan tanpa ekspresi, tidak marah ataupun senang membuat Hwang Jhin semakin geram. Kabar tentang raja Arthur yang selalu tenang dalam kondisi apapun memang benar.


Separuh pelayan dan manteri telah melarikan diri dari istana, mereka tidak mau mati konyol bersama raja mereka. Begitulah pengkhianat, hanya memanfaatkan daerah tempat tinggal dan pergi setelah berada dalam bahaya tanpa membantu apapun.


Hanya tinggal jendral, panglima tempur, menteri pertahanan dan duke yang masih setia menemani raja Arthur.


"Hahaha!!! Lihat para orang tepercayamu kabur melarikan diri! Sungguh memalukan!" Hwang Jhin tidak bisa menahan tawanya saat melihat beberapa orang yang ikut bersama raja Arthur malah melarikan diri.


Jendral Zero semakin geram, sekali lagi dia melempar tombaknya menuju Hwang Jhin, tapi sayangnya sambaran petir lebih cepat menyambar tombak itu sebelum mengenai Hwang Jhin. Dan sekali sambaran itu langsung melenyapkan tombak Jendral Zero menjadi debu hitam.


Mata Jendral membulat saat melihat tombak senjata terkuatnya hancur menjadi debu. Hwang Jhin memasang senyum kecil merasa dirinya sudah menang, tinggal sedikit langkah lagi.


"Serang!"

__ADS_1


Kumpulan burung segera melesat cepat menuju 6 orang di depannya. Sekarang mereka dikepung ratusan elang Capter, dan Hwang Jhin langsung mengkerahkan pasukan pemanah segera memanah 6 orang itu. Ribuan panah pun melesat dengan cepat. Arthur tersenyum kecil, dia sudah tahu bahwa ia tidak akan mudah selamat dari ribuan anak panah ini, menghindarpun tetap percuma.


Triiingg ....


6 orang ini berusaha melindungi diri mereka dengan senjata mereka sendiri, bagaimana ingin membantu rekan? Membantu diri sendiri agar lolos pun mustahil.


Nafas Arthur semakin memburu, tidak disangka jendral dan duke mengalihkan dirinya dengan cepat membantu raja mereka dari pada mementingkan diri mereka. Duke dan Jendral mengorbankan dirinya menjadi tameng pelindung dari panah. Sedangkan Panglima dan menteri pertahanan sudah terluka parah. Puluhan anak menancap di punggung Duke dan Jendral, tidak ada kata-kata terakhir mereka untuk rajanya, melainkan hanya sebuah muntah darah lalu tergeletak jatuh ke lantai sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sisahnya urus 2 manusia sialan itu! Biar aku saja yang mengurus raja tua ini!" Hwang Jhin meminta pasukannya mengurus panglima dan menteri pertahanan, sedangkan dia akan mengurus raja Arthur.


Arthur terjatuh ke lantai tapi tetap memaksa menopang tubuhnya dengan pedanganya. Setetes air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Ada rasa rindu, benci, dan sakit yang ia rasa. Arthur merindukan keluarganya.


"Cih! Walaupun anda menangis! Aku tidak akan memberi belas kasihan padamu!" Hwang Jhin menatap tajam pada Arthur.


"Aku tidak menangisi belas kasihmu!" Arthur membalas tatapan Hwang Jhin lebih dingin dan tajam dari pada Hwang Jhin.


Hwang Jhin mendekat pada Arthur, tangannya mulai mengayunkan pedang pada leher Arthur. "Cih! Rupanya kau merindukan putri sialanmu itu!? Baiklah akan kukabulkan permintaanmu!"


"Sekalipun kau membunuhku! Takdir tidak akan berubah! Aku saja tidak mampu merubahnya, apalagi kamu manusia lemah!?" kata-kata Arthur menghentikan ayunan pedang Hwang Jhin.


"Katakan saja jika kau ingin ampunan dariku? Tidak perlu menggunakan kata-kata yang tidak mudah dimengerti!"


Arthur tertawa kecil,Hwang Jhin memang tidak pandai dalam mengartikan kata-kata yang berbelit, "Hahaha ... sudah kubilang aku tidak minta ampun darimu! Cuma kuperingatkan, penguasa sebenarnya telah kembali! Dia akan menjadi sosok besar di dunia ini, dan dia pula yang akan membunuhmu pangeran Hwang Jhin, tidak maksudku Daimont!"


"Daimont, dari mana kau mengetahuinya!? Percuma juga kau mau menakutkanku? Aku tidak akan takut! Dasar Tua Bangka!" Hwang Jhin menendang kepala Arthur dengan kuat, hingga Artur terpental ke tembok.


Darah mengalir dari pelipis Arthur, beberapa detik ia juga muntah darah, organ ubuhnya sudah banyak terluka parah. Tapi saat seperti ini dia masih bisa tersenyum, "Dengarkan aku baik-baik!"


Hwang Jhin berjalan santai mendekati Arthur lagi, dia sangat-sangat ingin menyiksa Arthur lagi. "Mendengarkan? Cih! Lagi pula selebihnya Daimont yang akan melanjutkan keterkejutan pada dunia. Sudah aku tidak ingin bermain lama-lama denganmu! Sekarang matilah Tua Bangka!"


Dengan cepat Hwang Jhin menghujam pedangnya ke perut Arthur, lalu beralih lagi ke jatung Arthur, sekali lagi ke kepala Arthur dan yang terakhir di leher Arthur. Hwang Jhin tanpa sadar mulai menikmati itu semua dengan bahagianya, bahkan dia berulang kali lagi menancapkan pedangnya hingga bentuk tubuh Arthur tidak lagi berbentuk sempurna.


"Hahaha!"


Puas sangat puas, Hwang Jhin terus saja menancapkan pedangnya tanpa henti. Liur nafsu gila Hwang Jhin terus berceceran, matanya membulat bahagia. Ada jiwa psikopat yang tertanam di pikirannya, andaikan ini Clarisa, sudah pasti Hwang Jhin akan menyayat-nyayatnya hingga tak berbentuk apapun.


Dari belakang para pasukannya menatap takut serta berkeringat dingin melihat pangeran mereka bertingkah seperti itu. Tiba-tiba muncuk aurah berwarna hitam yang mulai menyelimuti tubuh Hwang Jhin, hingga kepulan aurah itu tertutup rapat dan akhirnya meledak.


"Aahh ... akhirnya! Akhirnya! Aku kembali lagi ke dunia!" Dari ledakan asap hitam itu muncul Hwang Jhin dengan suara lain, bisa katakan ini bukan lagi Hwang Jhin melainkan sosok lain, suaranya semakin berat, bahkan jubahnya berubah menjadi hitam pekat sama seperti warna bola matanya yang semuanya hitam, tidak ada sedikit pun warna putih.


"Si-siapa kamu! Kenapa kamu merasuki tubuh pangeran kami!" Fang Wang selaku panglima menatap Hwang Jhin.


"Aahh ... pemuda ini telah menepati janjinya! Dia sudah memberikan aku tubuhnya! Tubuhnya lumayan bagus, tapi tubuh ini masih sangat lemah!"


Semua orang tercengang mendengar ucapan pria itu, mereka tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Mereka bahkan tidak tahu bahwa pangerannya telah membuat kerja sama dengan roh jahat.


"Perkenalkan aku! Daimont! Gggrrrr!!!" Daimont berteriak keras memenuhi langit dan hutan, teriakan yang sangat keras hingga membuat gendang telinga serta jantung pasukan Hwang Jhin pecah. Inilah sang penguasa dunia gelap DejaVu, dia telah bangkit untuk kembali menguasai dunia.


"Aku Daimont telah kembali! Gggrrr!!!" Sekali lagi teriakan menggelegar memenuhi langit dan hutan, bangunan istana mulai bergetar bahkan separuh bangunan runtuh. Burung-burung dan hewan lain berlarian tak tentu arah, hewan ini sadar sosok iblis asli telah kembali, bahkan sosok iblis yang lebih kuat dari Clarisa sekalipun. Bisa dibandingkan 50/100, 50 untuk Clarisa dan 100 untuk Daimont.


Daimont mengepalkan tangannya hingga suara tulang-tulangnya berbunyi keras. Dia sudah lama tidak merasakan tubuh seperti ini, dia rindu jeritan ketakutan, dia rindu membunuh jiwa yang tak bersalah, dia rindu menguasai dunia, dan dia juga sangat menantikan sosok yang akan mengurungnya kembali.


Setahun lalu Hwang Jhin membuat kerja sama bersama roh jahat Daimont dari pulau Tengkorak, tidak ada yang mengetahuinya bahkan raja Maxhi pun tidak tahu. Ini hanya rahasia Hwang Jhin dan Daimont, setelah Hwang Jhin membaca buku di perpustakaan istananya, satu buku berhasil menarik perhatiannya, judulnya 'Kekuatan Abadi'. Setelah membaca habis buku itu, Hwang Jhin mengikuti semua intruksi dari buku itu dan pergi ke pulau Tengkorak seorang diri. Di sana roh hitam sudah menyambut Hwang Jhin dengan suka cita. Hwang Jhin menjelaskan semua keluhannya, mulai dari rasa ingin balas dendamnya dengan Raja Arthur sekaligus ingin membunuh Putri Clarisa. Tentu saja Roh Daimont bisa mengabulkan semua itu dengan mudah, tapi juga harus ada balasannya sebagai bayaran kerja Daimont. Hwang Jhin mendengarkan bayaran apa yang harus dia bayar.


"Apa!? Apa kau sudah gila!" Hwang Jhin terkejut habis mendengar bayarannya, dia pikir roh Daimont ini membutuhkan uang seberapa banyak atau harta seberapa banyak, ternyata dia hanya ingin raga Hwang Jhin setelah Hwang Jhin berhasil membalaskan semua keinginannya.


Hwang Jhin sempat menawarkan perihal lain tapi roh Daimont tidak menginginkannya, bagi roh Daimont yang paling penting adalah raga baru untuk melanjutkan semua keinginannya. Setelah ribuan tahun terkurung dalam guci dan berhasil keluar ini adalah kesempatan bagus untuk membalas semua kepedihan hatinya pada dunia.


Hwang Jhin berpikir dua kali sebelum mengatakan jawabannya. Tawaran yang menggiurkan terus saja roh Daimont berikan, Daimont berjanji selama dia berada di tubuh Hwang Jhin dia akan terus membantu Hwang Jhin mendapatkan apa yang dia mau sampai balas dendamnya terbesarnya terkabulkan. Tentunya Hwang Jhin sangat ingin kuat, ingin mendapat apa saja yang dia mau, dan ingin meratakan bangsawan besar seperti Zero dan lainnya. Akhirnya Hwang Jhin menyetujui kerja kontrak ini dengan bayaran raganya sendiri, bagi Hwang Jhin jika sudah semua terpenuhi keiinginannya, mati pun dia tidak akan lagi memikirkan apapun, dia akan tentaram dalam keadaan hati hitam.


1 tahun itu memang banyak perubahan dari Hwang Jhin, tubuhnya semakin kekar, kekuatannya semakin hebat dan dia mulai ditakuti banyak pangeran di belahan negaranya dan beberapa negara lain. Tapi Clarisa tidak sedikit pun takut, bahkan Clarisa menunggu kedatang Hwang Jhin padanya.


Sekarang Daimont sesungguhnya telah kembali lagi dengan raga yang lainnya.


"Siapapun itu! Untuk ke dua kalinya aku tidak akan kalah! Aku tidak akan terkurung untuk ke dua kalinya lagi! Kaisar Tang! Akan kutunggu sosok kedua yang kau katakan itu! Jika dia tidak mampu mengurungku untuk yang ke dua kalinya, berarti dia sama lemahnya denganmu! Kau memang berhasil mengurungku, tapi kau membayar dengan nyawamu! Hahaha ... Kaisar Tang dunia ke dua ini bukan lagi sesuai harapanmu, tapi ini sesusai keinginanku!" ujar Daimont seraya melompet ke udara dan terbang melesat memecah awan.

__ADS_1


__ADS_2