
Kini malam mulai menghampiri, Hyunjin dan Clarisa masih terus berjalan keluar dari hutan Lentera Merah. Sepanjang jalan Hyunjin tak berhentinya mengomel karena kakin pegal berjalan terus, Clarisa menyuruhnya tinggal saja jika mau tapi Hyunjin takut di hutan sendirian. Mau tak mau dia harus melanjutkan walaupun terasa pegal.
"Apa kita masih jauh dari tujuanmu?" Hyunjin membuka pembicaraam setelah 2 jam mereka diam.
Kaki mereka masih terus melangkah, bahkan ketika malam mulai menyambut Clarisa terus masih berjalan.
"Iya, sangat jauh."
"Kita mau kemana?"
"Ke kerajaanmu Blue Flash. Aku akan mengembalikanmu ke asalmu," jawab Clarisa datar dan masih fokus melihat ke depan.
"Apa raja dan ratu di sana-"
"Mereka semua sudah tewas. Waktu kelahiranmu kerjaan Zero menyerang kerajaan Blue Flash tanpa pandang bulu walau mereka adalah sahabat seperjuangan. Yang tersisah hanya kau saja sebagai penerusnya." Calrisa memotong ucap Hyunjin.
Sungguh sakit hati Hyunjin mendengarnya, bahkan jantungnya terasa sesak. "Lalu?"
"Lalu apa?"
"Kenapa kenapa kerajaan Zero menyerang?"
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya ini berkaitan dengan kelahiranmu."
"Maksudmu?" Hyunjin mengerutkan dahunya bingung.
Clarisa menarik nafas pelan lalu menghembuskannya kasar. "Apa kau tidak tahu seluk belukmu sendiri?"
"Hhmm, ohh ... ya aku tahu sekarang."
"Tahu apa?" Kini Clarisa mengalihkan pandangannya pada Hyunjin.
"Ini pasti karena kita ditakdirkan bersama. Mungkin suatu saat kita akan membuat semua kerajaan tunduk? Makanya mereka ingin melenyapkanku."
"Kalau seperti itu kenapa aku tidak dibunuh?"
"Entahlah? Aku juga tidak paham. Tapi yang aku tahu dunia kerajaan itu kejam untuk mendapatkan kekuasaan," balas Hyunjin seraya menatap langit yang bertaburan bintang.
Clarisa menatap Hyunjin sendu, ada rahasia yang Clarisa sembunyikan dari Hyunjin. "Kita akan beristirahat malam ini di sini. Kau kumpulkan kayu untuk penghangat kita."
"Ehh? Apa aku tidak salah dengar? Di tengah hutan berbahaya ini?" Hyunjin menatap Clarisa tak percaya, baru kali ini Hyunjin bermalam di hutan tanpa tenda atau bahan lainnya.
"Bukannya kau lelah? Lagipula kita butuh tenaga untuk besok. Tapi jika kau ingin-"
"Iya iya. Jangan bilang itu lagi, akan kucari kayunya." Hyunjin berdecak malas, lalu meninggalkan Clarisa yang tersenyum kecil.
Hyunjin berusaha membawa kayu semampunya, setelah mendapatkan banyak dia bergegas menghampiri Clarisa lalu membakar kayu tersebut. Hangat mulai menjalar di tubuh mereka, tapi suara perut lapar tak bisa Hyunjin tutupi.
Hyunjin terkekeh menatap Clarisa. "Maaf aku lapar belum makan dari pagi. Apa kau ada makanan?"
Clarisa menggeleng pelan, dia juga sama merasa lapar. "Sepertinya aku harus berburu hewan di sekitar sini. Kau tunggu aku di sini jangan ke mana-mana, akan merepotkan jika kau ikut denganku," ujar Clarisa seraya pergi meninggalkan Hyunjin sendiri.
"Merepotkan? Kau pikir aku lemah?" umpat Hyunjin yang menatap kepergian Clarisa.
"Auu ... auu." Tiba-tiba suara seperti anjing bergonggong membuat Hyunjin yang tadinya marah jadi takut.
"Apa itu serigala?" gumam Hyunjin pada dirinya sendiri. Jujur dia takut berada di sini sendirian tanpa Clarisa, apalagi dia belum bisa belah diri.
Tiba-tiba semak yang tak jauh dari Hyunjin bergerak. Membuat nafas Hyunjin berhenti seketika, tangannya bergetar hebat, rasanya jiwanya ingin melayang sekerang. 'Jangan-jangan itu serigala?'
Suara semak itu seketika berhenti membuat Hyunjin menarik nafas lega. Setidaknya dia sudah jauh dari mautnya. Hyunjin mengambil satu kayu di api tersebut lalu melemparnya ke semak, namun Clarisa yang muncul tiba-tiba dari semak itu segera menangkap lemaparan Hyunjin.
"Apa kau dendam padaku sampai-sampai melempar kayu apa ini padaku?" tanya Clarisa yang sedikit panik karena kayu itu muncul secara mendadak di hadapannya tapi untungnya Clarisa bisa menangkapnya dengan cepat.
Hyunjin terkejut, dia kira ada serigala di semak itu. Dengan pelan dia menghembuskan nafasnya sambil mengelus dadanya. "Aku pikir kau serigala. Ternyata bukan, syukurlah."
__ADS_1
Dahi Clarisa berkerut. "Apa kau pikir aku serigala yang mau menyerangmu?" tanya Clarisa seraya berjalan mendekati Hyunjin.
"Tadi pikirku seperti itu, soalnya aku mendengar suara serigala. Jadi aku pikir kau serigala."
"Hhmm rupanya kau cukup penakut."
"Hei! Bukannya takut tapi waspada!" balas Hyunjin tak suka.
"Terserahmu. Ini aku membawa kancil kecil, lumayan dagingnya enak kalau dibakar." Clarisa mengangkat seekor kancil kecil yang sudah tak bernyawa, bahkan juga sudah tidak berkepala.
Hyunjin menelan ludahnya, dia sedikit ngeri melihat kondisi kancil itu. "Bagaimana kau mendapatakannya? Bukannya hewan itu sedikit linca? Apalagi ini malam?"
"Bagiku dia hanya seekor semut. Jadi bukan masalah rumit menangkap hewan ini. Sekarang kau kuliti dan segera bakar, aku mau mencari buah berair di sekitar sini." Clarisa memberikan kancil itu beserta pedangnya lalu bergegas pergi.
Setelah beberapa menit menguliti kancil itu akhirnya kancil itu sudah berada dalam panggangan. Mata Hyunjin melirik hewan kancil kecil itu, sekarang dia mulai merasakan sedikit menjadi pengelana di masa kerajaan. Tidak hanya bahaya karena musuh, tapi juga karena buasnya hewan pada masa ini. Hyunjin sedikit terkejut saat Clarisa menepuk pundaknya, ternyata Hyunjin sedang melamun tanpa dia sadari.
"Jangan terlalu banyak melamun. Hutan ini bisa mengambil alih pikiran, apa kau mau?"
"Ehh ... aku hanya berpikir saja."
"Berpikir apa? Tentang kerajaanmu?"
"Bukan. Hanya saja aku tidak pernah menyangka bisa berada di hutan seperti ini bersama seorang gadis."
Clarisa menyipitkan matanya yang memandang Hyunjin. "Apa kau-"
"Ehh ... aku bukan berpikiran ke situ. Maksudku aku tidak pernah menduga bisa berada di hutan seperti ini bersamamu, hutan yang tidak pernah aku jumpai walau sekali. Apalagi sampai menjadi pengelana dan harus tinggal di hutan." Potong Hyunjin yang mengerti maksud Clarisa.
"Itu sudah menjadi kebiasaanmu nanti. Sebagai seorang pangeran kau akan banyak mendapat tugas dan harus berkelana di negara Fantasti ini."
"Bukannya pangeran dan putri duduk manis di kerajaan? Memerintah sesuka mereka dan bertindak semaunya pada pelayan mereka."
Clarisa yang tengah menyusun buah-buah tersenyum kecil tapi tidak menatap Hyunjin. "Hanya pangeran dan putri pengecut yang bertindak seperti itu. Jujur aku tidak pernah betah di istana, jadi berkelana seperti ini sudah biasa bagiku."
"Sepertinya kau terlalu kesepian hingga tidak betah di istanamu?" tebak Hyunjin yang menatap Clarisa.
Hyunjin langsung menatap daging yang dipanggangnya hampir hangus. Segera dia mengangkat daging tersebut dan meletakannya di daun pisang yang ditemukan Clarisa. Tak berbasa-basi lagi Hyunjin langsung mengajak Clarisa makan bersama. Sebenarnya Hyunjin tidak menyukai daging itu karena terasa hambar tanpa bumbu racik. Tapi apa boleh buat, jika tidak di makan dia akan kelaparan.
Setelah selesai makan, Clarisa memberikan potongan buah semangka. Hyunjin sedikit kagum dengan Clarisa, tidak hanya kuat dan cantik dia juga pintar dalam keadaan seperti ini, sama seperti yang ibunya katakan.
"Hyunjin."
"Iya?"
"Apa kau selalu sendiri?" tanya Clarisa.
Hyunjin menatap ke bawah, tangannya yang memengang kayu mencorat-coret tanah. "Selalu," jawab Hyunjin sambil tersenyum manis ke arah Clarisa.
Tatapan Clarisa menjadi dingin. "Senyummu tidak bisa menipu kesedihanmu. Kau sepertinya sama sepertiku, tidak ada yang menemani. Tapi kita berbeda kisah."
Hyunjin tertawa lantang. "Kau benar, kita tidak ada bedanya. Sama terlihat seperti monster yang harus dijahui," balas Hyunjin.
Tatapan Clarisa menjadi berubah. Kini matanya menunjukkan aurah ingin membunuh secara ganas. Hyunjin yang menyadari langsung melirik ke belakangnya. Ternyata ada sekumpulan serigala mendekat, ukuran tubuh mereka seperti ukuran tubuh orang dewasa. Apalagi yang paling besar itu, bisa ditebak ukurannya 3 kali ukuran orang dewasa, yang membuatnya menarik adalah bulunya yang berwarna emas.
Clarisa mengambil pedangnya lalu berdiri, tangannya menarik Hyunjin agar berlindung di belakangnya. "Ternyata kita kedatangan tamu. Tuan serigala Bulan Emas." Clarisa tersenyum kecil pada sekumpulan serigala itu.
"Clarisa, apa kau bisa melawan mereka?" Hyunjin sedikit khawatir karena Clarisa belum pulih dari lukannya.
"Tidak perlu khawatir, aku bisa melawan mereka asalkan kau jangan ikut yang ada nantinya kau malah merepotkanku," jawab Clarisa yang mulai mengarahkan pedangnya.
"Oke. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika mereka melukaimu." Hyunjin mundur pelan-pelan menjahui Clarisa, ia sadar walaupun ikut membantu dia tidak akan sanggup tapi Hyunjin tidak bisa berdiam saja melihat seorang wanita melindunginya.
Clarisa mengangguk pertanda iya, tak peduli musuh berbahaya Clarisa langsung melesatkan pedangnya dengan cepat. Gerakan tubuhnya yang lincah dan pandangannya yang tajam membuatnya dengan mudah melawan separuh serigala itu. Melihat kawannya mati di hadapan mereka, serigala itu mengaum keras. Mereka tidak akan diam melihat saudara mereka tewas begitu saja. Para serigala itu menyerang bersamaan membuat Clarisa semakin waspada. Tak perlu pikir panjang lagi Clarisa langsung menyerang tanpa henti, satu persatu serigala itu gugur. Sampai akhirnya tinggal raja mereka yang bertahan, serigala yang berbulu emas. Serigala itu menatap tajam ke arah Clarisa, ada tatapan kebencian dari hewan itu.
Clarisa hanya memasang senyum kecil. Baginya hewan di depanya bukanlah apa-apa, tapi mengingat hewan itu adalah rajanya maka bisa jadi dia lebih kuat dari serigala yang lain. Clarisa memasang kuda-kuda, bersiap menyerang serigala itu. Pertarungan sengitpun terjadi, Clarisa terlalu menganggap remeh lawannya yang ini.
__ADS_1
"Ck! Kulitmu lumayan tebal, tapi tidak akan bisa menahan kuatnya pedangku ini," ungkap Clarisa sombong.
Serigala itu mengaum marah, dia merasa diremehkan oleh manusia di hadapannya. Kali ini serigala itu yang mulai menyerang duluan tanpa henti selama 5 menit. Clarisa menarik nafas, paru-parunya mulai sesak. Terlalu banyak tenaga yang keluar akibat melawan serigala Bulan Emas.
"Kuakui kau lumayan kuat, kau termasuk 5 daftar hewan kuat yang pernah kuhadapi. Tapi kau tidak sekuat ular Sisik Darah!"
Hyunjin yang berdiri di belakang hanya bisa kagum melihat keahlian bertarung Clarisa. Hyunjin tidak pernah terpikir ada hewan sekuat ini.
Serigala itu melawan lagi, tak mau memberi jeda pada Clarisa. Semakin lama mereka bertarung semakin cepat mereka bergerak. Bahkan Hyunjin sulit melihat mereka yang bergerak begitu cepat.
Syaat ....
Pedang Clarisa berhasil menggores perut serigala itu. Serigala itu mengaum begitu kuat karena sakit yang dia rasa. Sejujurnya Hyunjin sedikit tidak tegah melihat serigala itu, Hyunjin dapat menebak serigala itu seperti sedang melindungi sesuatu.
Tapi serigala itu tidak menyerah, dia tetap menerjang Clarisa dengan tenanganya yang tersisa. Tapi kali ini Clarisa bisa membaca serangan serigala itu, dan langsung menancapkan pedangnya di sisi perutnya. Serigala itu terjatuh ke tanah, nafasnya memburu-buru. Clarisa mendekati serigala itu dan siap memotong kepalanya.
"Clarisa berhenti!" Dari belakang Hyunjin berlari mendekati serigala itu.
Pergerakan Clarisa terhenti. "Ada apa? Kita harus membunuhnya, serigala ini berbahaya jika dibiarka hidup. Dia bisa memakan banyak korban lain."
"Jangan dulu! Serigala itu mengatakan sesuatu, apa kau tidak dengar?" Hyunjin berjongkok menghadap serigala itu, dipangkunya kepala serigala itu dan mendekatkan telingannya.
"Apa kau gila?" Clarisa menatap aneh pada Hyunjin.
"A-aakku ... a-anakku. Di-da akan lahir. Se-selamatkan dia," ujar serigala itu terbata-bata di telinga Hyunjin sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Hyunjin.
Hyunjin melirik ke arah sekitar. Dia yakin serigala itu meminta bantuannya. Segera Hyunjin menurunkan jasad serigala itu dan berjalan di sekitara semak. Mata Hyunjin terus memperhatiakan di sekitarnya, sedangkan Clarisa bertanya-tanya pada Hyunjin apa yang terjadi. Hyunjin melirik di dekat batu, dia mendengar suara samar-samar di balik batu itu. Tak pikir panjang Hyunjin langsung berjalan ke arah batu, ternyata ada seekor serigala betina Bulan Emas yang telah melahirkan. Segera Hyunjin mendekat ke serigala itu.
"Tuan Hyunjinkah itu? Tuan Hyunjin sudah balik dari masa depan?" Serigala betina itu menatap sendu Hyunjin, nafasnya memburu cepat. Ada luka cakar di perut serigala itu, sepertinya serigala itu habis diserang dan melahirkan di sini.
"Ibu serigala kumohon bertahan, anakmu membutuhkanmu."
Clarisa yang berdiri di dekat Hyunjin menatap Hyunjin aneh. 'Apa Hyunjin bisa mengerti bahasa serigala ini? Ahh ... kekuatan Blue Flash memang lumayan, tidak hanya cepat dan abadi tapi mereka bisa dekat dengan hewan sekitar. Aku kira dia gila ternyata tidak.'
"Tuan Hyunjin jaga anakku. Dia akan mengabdi padamu hingga akhir hidupnya, percayalah."
"Hei! Jangan begitu. Anakmu lebih membutuhkanmu dariku, aku bahkan belum pernah merasakan menjaga anak. Dia akan kesepian sepertiku jika kau pergi." Hyunjin melihat anak serigala itu yang masih kecil, bulunya sedikit berbeda dari ibu dan ayahnya. Bulu anak serigala ini belang emas dan silver.
"Percuma, dia sudah mencapai batasannya. Tinggal beberapa detik dia akan mati." Clarisa menatap dingin ke arah Serigala betina itu.
Serigala itu menatap Clarisa benci, tak lupa serigala itu mengaum untuk terakhir kali dan akhirnya mati. Hyunjin tampak sedih melihat serigala itu mati di hadapannya, apalagi dia barusan melahirkan satu anak serigala. Hyunjin mengambil anak serigala itu dan berdiri.
"Apa kau mau merawatnya? Berbahaya merawat serigala Bulan Emas, mereka susah dijinakkan."
"Tapi ibu serigala itu menitip anaknya padaku," balas Hyunjin menatap Clarisa dengan tatapan sayu dan sedih.
Clarisa benci melihat tatapan itu dan memilih memalingkan wajahnya. "Terserahmu. Tapi kalau dia berkhianat padamu aku tidak akan segan membunuhnya."
Hyunjin memasang senyum bahagia. "Tenang dia akan sangat setia pada kita," balas Hyunjin sembari mengusap anak serigala itu.
"Apa kau yakin bisa merawatnya? Kalau dia lapar kau mau kasih makan apa? Dagingmu?"
Hyunjin terkekeh garing. "Makanannya itu urusan nanti, sekerang kita kembali ke tempat kita tadi." Hyunjin berjalan meninggalkan Clarisa di belakangnya, Hyunjin tampak bahagia sekali seolah baru mendapatkan seorang adik.
Clarisa menghembuskan nafasnya pelan, dia takut hewan itu malah memakan Hyunjin suatu saat nanti. Serigala Bulan Emas terkenal hewan yang sangat kuat, buas, dan paling anti menjadi hewan peliharan. Tapi mengingat serigala Bulan Emas pernah menjadi hewan pasukan perang Blue Flash, Clarisa sedikit tenang karena Hyunjin keturunan kerajaan itu. Bisa jadi Hyunjin mampu mengendalikan hewan itu.
Clarisa menghampiri Hyunjin yang masih sibuk menggendong anak serigala itu. Dan sepertinya serigala itu juga senang dengan Hyunjin.
"Tidurlah, besok akan jadi perjalanan yang panjang. Masih butuh 2 hari bisa keluar dari hutan ini." Clarisa bersandar di pohon yang tak jauh dari api seraya menatap Hyunjin yang begitu bahagia.
"Dengar itu? Ibumu menyuruhmu tidur," gumam Hyunjin pelan tapi bisa didengar Clarisa.
"Hyunjin!"
"Iya-iya kami tidur Ibu, jangan marah terus entar jadi janda tua!" balas Hyunjin sembari tertawa bersama anak serigala itu. Mereka berdua kompak mengejek Clarisa.
__ADS_1
Clarisa berusaha sabar, menghadapi kedua mahluk itu harus dengan kesabaran yang besar.
'Aku merasa ada yang berbeda dengan diriku, setelah mengenal mereka ....' Clarisa menjauhkan jauh-jauh pikiriannya, kemudian mulai menutup matanya sejenak.