
Apa iya?
"Shiki?"
"Takdir memang tidak bisa dihancurkan. Kalian berdua telah bertemu."
"Penguasa DejaVu," sahut suara lain dari samping kanan Hyunjin dan Clarisa.
Sontak kepala mereka berdua langsung melihat ke arah sumber suara.
"Cahaya biru." Clarisa sangat mengenal cahaya biru itu, cahaya yang membuatnya berada di sini.
"Cahaya biru? Ada apa ini? Apa aku bermimpi?" Hyunjin melemaskan sikunya. Mendorong Clarisa menjauh dari dirinya.
"Apa maksudmu?" Clarisa menatap roh biru.
"Apa maksudmu?" Clarisa menatap roh biru itu. "Siapa yang kau maksud Penguasa DejaVu? Dan apa itu Penguasa DejaVu?" sambung Clarisa lagi.
"Dia, dia adalah anakku. Pangeran Shu Hyunjin dari kerajaan Blue Flash. Dan aku adalah ibunya, ratu Shu Hua. Kalian telah diikat takdir waktu DejaVu," jelas cahaya itu seraya mendekat pada Hyunjin.
"Heh!?" Tertegun Hyunjin mendengarnya. "Bagaimana mungkin aku punya ibu seperti cahaya? Mana mungkin cahaya melahirkan? Dan aku ini bukan pangeran Blue yang kalian maksud. Aku hanya anak yatim piatu yang tak jelas kehidupannya." sambung Hyunjin.
"Bisakah kau menghargai ibumu?! Aku saja yang sudah kehilangan seorang ibu di depan mataku sendiri sangat menyesal! Aku sangat haus akan kasih sayangnya saat ini!" Clarisa mempali Hyunjin.
"Hyunjin, kau akan paham nanti. Kalian berdua akan paham suatu saat nanti," balas roh biru. "Aku akan menyerahkan semua kekuatanmu yang telah lama aku matikan dalam tubuh. Jangan menolaknya," sambung cahaya itu lagi.
"Hei! Cahaya aneh apa yang mau kau lakukan hah!?" Hyunjin mulai panik karena cah
Kali ini Clarisa menimpuk Hyunjin dengan sarung pedangnya. "Hormatlah sedikit! Apa kau tidak rindu dengan sosok ibumu?"
"Sudah kubilang aku ini yatim piatu!"
"Ohh," balas Clarisa singkat.
"Lagi-lagi ohh! Bisakah kau hilangkan ohh itu? Jengkel aku mendengarnya!"
Cahaya biru itu langsung masuk ke dalam tubuh Hyunjin lewat dada kiri Hyunjin tanpa menunggu Hyunjin siap. Sakit dan sesak yang Hyunjin rasakan, semua kekuatannya telah dilepaskan. Melawan dan mengendalikan semua itu tidaklah mudah, terlebih kekuatan itu ingin merasuki seluruh jiwa Hyunjin.
Kenapa jantungku sakit sekali!?
"Hei putri gila bantu aku! Kau tidak tahu betapa sesaknya ini?!" teriak Hyunjin yang memegang dadanya dengan kuat.
"Apa yang bisa kubantu? Apa kau ingin aku mengakhiri hidupmu?" Clarisa menatap datar tanpa ekspresi pada Hyunjin.
"Heh!? Saat seperti ini kau ingin membunuhku? Curang sekali dirimu putri gila! Ini semua gara dirimu, seandainya kita tidak bertemu maka aku tidak akan seperti ini!" Dasa Hyunjin semakin sakit, bahkan paru-paru Hyunjin serasa mengecil, lambungnya seperti berputar melilit. Akhirnya Hyunjin langsung pingsan.
*****
Pov Hyunjin
Aku berdiri di ruangan putih yang sangat luas, saking luasnya sejauh mata memandang hanya ada warna putih dari ruangan ini.
'Tunggu dulu! Apakah ini yang dinamakan surga? Tapi kenapa sepi dan membosankan, bukankah surga itu indah dan menyenangkan?'
"Hyunjin." Terdengar suara wanita memanggil namaku dari belakang.
Aku membalikkan diriku, aku melihat seorang wanita sekitar berusia 30 tahunan menatap sendu padaku. Wanita itu cantik, putih, bahkan tampak masih muda tanpa kerutan sedikitpun di kulitnya. Terlebih matanya yang berwarna biru terang itu mampu memikat kedua mataku untuk selalu melihatnya.
__ADS_1
Dek ... kenapa aku ingin sekali memeluknya? Mata sendunya, membuatku ingin memeluknya, siapa wanita itu?
"Hyunjin." Sekali lagi wanita itu memanggil namaku, air matanya berhasil lolos dari mata cantiknya. Wanita itu melangkah mendekatiku dan memelukku.
Hangat.
Aku bahkan tidak marah ketika dia memelukku. Hangatnya tubuhnya membuatku ingin menangis, aku sungguh rindu dengan hangat ini. Wanita paruh baya itu semakin menangis bahkan semakin kuat memelukku.
'Inikah yang dinamakan pelukan ibu?'
Kubalas pelukannya, astaga air mataku mengalir cepat melintasi pipiku. 'Siapa wanita ini?'
"Hyunjin, Ibu merindukanmu," ujar wanita itu yang segugukan menangis di pelukanku.
"Ibu?"
Dek ... rasa apa ini? Kenapa air mataku semakin deras mengalir. Benarkah dia ibuku? Sungguh dia malaikat yang sangat cantik dan lembut.
"Hyunjin apa kau tidak mau memanggilku ibu? Wanita yang sudah bersusah payah melahirkanmu?" Wanita semakin menangis.
Aku memeggang kedua bahunya, kutatap wajah wanita itu yang kian makin sendu. Air matanya terus mengalir, biru matanya sama seperti biru air matanya.
"Apa benar kau Ibuku?" tanyaku balik pada wanita itu.
"Ya. Aku sungguh Ibumu wahai anakku Hyunjin. Sudah lama sekali aku merindukanmu, aku rindu ingin memelukmu, aku rindu melihat wajah tampanmu, lihatlah kau mirip sekali dengan wajah ayahmu," jawab wanita itu, dia memegang kedua pipiku, hangat sekali.
"Lalu kenapa kau membuangku? Kau tahu aku hidup sendiri di dunia kejam ini, kerja dari usia kecil hingga sekarang. Hidup dan berjuang sendiri itu menyakitkan hatiku, aku pikir orang tuaku tak menginginkan kehadiranku di dunia. Untunglah ada seorang kakek yang mau mengasuh aku dari bayi, dia memberiku kehangatan, dia memberiku kebahagiaan, dia memberiku senyuman, tapi ...."
"Tapi dia sudah meninggalkanku sejak 14 tahun yang lalu. Kau tahu aku kesepian, kedinginan, bahkan hampir mati kelaparan. Aku bahkan ingin mengakhiri hidupku saat itu juga." Sambungku lagi dengan suara yang bergetar, baru kali ini aku menuangkan semua isi hatiku.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, dan kembali memelukku. "Anakku, Ibu tidak membuangmu, Ibu sayang padamu. Kau tahu Ibu sangat sedih melakukan semua itu, tapi tidak ada cara lain. Ibu tidak ingin kau mati di tangan mereka. Mereka boleh membunuh Ibu tapi jangan untuk anak Ibu satu-satunya," jelas wanita itu padaku.
"Ibu bisakah aku ikut denganmu saja? Aku sangat ingin dekat denganmu, terlebih dengan Ayah."
"Bisa sayang, tapi tidak untuk saat ini. Kau harus melaksanakan tugas dari Kaisar Tang." Ibuku menatapku penuh kepercayaan, seakan dia yakin aku bisa dengan tugas yang dia maksud.
"Maksudnya apa Ibu? Aku tidak paham skenario apa yang telah berjalan padaku." Aku mengerutkan dahiku seraya menatap ibuku.
"Anakku akan kujelaskan sedikit padamu tentang siapa jatih dirimu ...." Ibuku berhenti sejenak menghapus air matanya.
"Kau adalah pangeran dari kerajaan Blue Flash. Kau telah diikat takdir dengan putri Clarisa, tentu kau pasti bertanya siapa itu putri Clarisa? Kau tahu wanita yang bersamamu tadi, dialah putri Clarisa." Sambung Ibuku.
"Dia seorang putri? Tapi kenapa dia tidak anggun bahkan lembut? Dia tampak seperti laki-laki, kasar dan menakutkan," balasku tidak percaya gadis kasar tadi adalah seorang putri.
"Karena dia ditakdirkan lahir dengan kekuatan besar yang sulit dikendalikan. Bahkan jika raja terkuat sekalipun bisa hancur karena kekuatan itu. Aku tahu putri Clarisa sanggat tersiksa dengan kekuatannya, dijahuin dan dianggap monster. Itulah kenapa dia lebih sering mengikuti jalan kekuatannya, membunuh dan mengasah. Jujur dia wanita yang sangat baik dan lembut seperti ibunya ratu Flora dan Celsi. Namun kekuatan itu semakin mengontrol emosinya, menguasai pikirannya dan menutup hatinya ...."
"Kau tahu anakku. Kau termasuk orang berutung yang bisa mengendalikannya, dan dia juga termasuk takdirmu atau bisa dibilang jodohmu." Ibuku menghapus lagi air matanya, lalu tersenyum padaku.
"Ibu aku tidak ingin dia menjadi jodohku! Lihatlah wajahnya sangat menakutkan. Bahkan tadi dia hampir membunuhku 3 kali," ungkap Hyunjin dengan nada manja seperti seorang anak meminta beli permen pada ibunya.
"Hyunjin dengarkan aku. Dia itu wanita yang sangat pintar, baik, dan setia. Kau tidak akan menemukan wanita yang sama sepertinya di belahan dunia manapun. Hanya karena kekuatan itu yang membuatnya terlihat menakutkan, dan tentunya dia akan menjadi permaisurimu di istana kita." Jelas Ibu dengan bahagianya.
"Ehh!? Apa aku tidak salah dengar ibu? Wanita separuh pria itu adalah permaisuriku. Tidakkah Ibu salah wanita? Tunggu dulu ... Ibu terlihat sangat menyetujuinya menjadi calon menantumu?"
Ibuku tersenyum. "Hyunjin, tentu Ibu sangat menyukainya," balasnya.
"Kalau aku tidak mau gimana Bu? Dia bagaikan iblis," elakku.
'Masa iya aku harus menikah dengan iblis?'
"Tidak bisa dihindari sayang. Ini sudah ditentukan takdir Kaisar Tang kakek leluhur raja Exhilius. Bahkan dia sangat menanti-nanti kelahiran kalian berdua. Pasti kau bingung siapa raja Exhilius? Dia adalah ...."
__ADS_1
"Sosok raja yang sangat disegani, raja yang bijaksana lagi dermawan dengan sesama. Bahkan dia tidak pernah membedakan siapapun, raja, jendral maupun rakyat sama saja di matanya."
"Kenapa harus aku yang dijodohkan dengannya Bu? Kenapa tidak pangeran lain saja?" Sungguh aku tidak rela mempunyai calom istri sepertinya.
"Suatu hari kau akan paham Hyunjin, bersabarlah. Sekarang Ibu tidak bisa menjelaskanya lebih panjang, waktu Ibu tidak banyak."
"Ibu mau kemana?" tanyaku sendu.
"Ibu akan menunggumu di kerjaan kita sayang. Bangkitkan kembali kerajaan kita yang sirna itu sayang, Ibu sangat percaya padamu." Ibu tersenyum seraya mengusap pipiku.
"Kenapa Ibu percaya padaku? Bagaimana jika semua tidak sesuai dengan keinginan Ibu?" tanyaku lagi dengan nada rendah.
"Karena kau adalah anak Ibu dan sudah seharusnya seorang Ibu percaya pada anaknya. Ibu yakin kau bisa, pasti kau akan merindukanku sayang. Tidakkah kau ingin melihat ayahmu?"
"Apa ayah masih hidup Ibu?"
"Tentu saja. Dia tidak akan semudah itu mati ditangan orang lain."
"Lalu bagaimana aku bisa menjalankannya Bu? Aku hanya manusia biasa. Bahkan tak sekuat calon menantumu itu."
Ibuku tersenyum, mata birunya menatapku bahagia. "Tentu saja kau punya kekuatan, hanya saja belum saatnya dia keluar," jawabnya sambil mengelus rambutku.
"Ibu akan mengaktifkannya untukmu sekarang. Mungkin akan terasa sakit karena penolakannya untuk tunduk padamu, tapi Ibu yakin kau bisa menaklukkannya." Dipeganggnya kepalaku, matanya tertutup, sedangkan sebelah tangan kanannya membentuk simbol yang tak aku mengerti.
'Apa ini? Kenapa kepalaku, jantungku, dan paru-paruku sakit?! Kenapa suaraku tak mau keluar. Ibu ... aku ingin memanggilmu sekali lagi. Apa ini? Ada semacam energi masuk memberontak tubuhku! Sangat sakit.'
*****
Pov Author
Hyunjin mengerjap kedua matanya, silau. Sebuah kilauan menyinari matanya.
'Apa itu? Ehh! Bukankah itu pedang sialan si putri gila? Apa yang dia mau lakukan?'
Sedikit lagi, pedang tajam itu hampir menyentuh hidung Hyunjin. Untunglah tangan Hyunjin langsung menahannya dengan cepat. Darah segar mengalir dari pedang itu dan menetesi wajah Hyunjin. Pedang itu melukai tangan Hyunjin.
"Hei putri gila! Ini yang keempat kalinya kau mau membunuhku! Apa kau sudah tak waras?" teriak Hyunjin memenuhi ruangan.
Clarisa yang tengah menutup mata langsung membukanya, dia pikir dia sudah berhasil menancapkan pedangnya.
"Ehh?"
"Ehh? Apa sekarang aku mengganti ohhmu itu dengan ehh!?" tanya Hyunjin dengan nada kesal.
"Aku pikir kau sudah mati?" ujar Clarisa seraya menarik pedangnya.
"Aww! Bisakah kau lembut sedikit menjadi wanita? Kau lihat sekarang kau melukai tanganku." Tunjuk Hyunjin memberikan tangannya yang berlumuran darah. "Dan kau berpikir aku sudah mati? Apa kau punya otak?" Sambung Hyunjin lagi.
"Itu hanya luka kecil! Tak perlu memperbesarnya, apa kau ingin terlihat lemah?" balas Clarisa dingin seraya menatap Hyunjin sinis.
"Oh Tuhan, jodoh macam apa yang Engkau turunkan ini?" gerutu Hyunjin sambil bangkit seraya memandang ke atas.
"Siapa yang kau sebuh jodoh? Cicak?" Clarisa ikut memandang ke atas.
"Tentu manusia! Apa kau tidak waras, aku menikah dengan cicak?" balas Hyunjin kembali memandang Clarisa sangat kesal.
"Tentunya manusia itu bukan aku!" balas Clarisa dingin dan tajam.
"Kau pikir siapa manusia di sini selain aku?"
"Hah!? Maksudmu aku?" Clarisa menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1