
Ditemukan takdir
Pov Author
Kini malam semakin larut, kota yang selalu ribut oleh kendaraan yang tak pernah berhenti sepanjang hari. Siang dan malam mereka habiskan kerja, pulang siang, yang kerja malam menyambung. Seolah ini memang alur kerja mereka. Kini di gang sepi, kerlap-kerlip lampu jalanan membuat hawa sepi menjadi mengerikan. Terlihat seorang gadis berambut terurai, berbaju hitam yang mana perut terlihat ada bercak darah, rok hitam hitam sepaha, sepatu hitam tali, serta kaus tangan hingga siku berwana hitam. Wanita ini mulai merasa kedinginan.
Di belakangnya melekat pedang kesayangannya yang bernama Shiki. Pedang yang selalu haus darah sepanjang masa, pedang yang tak pernah tumpul bahkan sulit dipatahkan. Pedang ini tepahan dari raja Exhilius sendiri. Bisa dikatakan pedang pusaka Naga.
Raja Exhilius adalah penguasa 6 kerajaan sebelum ia wafat. Ia terkenal baik, bijaksana, lagi dermawan. Istrinya bernama Lily, ratu yang memiliki 6 kekuatan serta wanita paling cerdas dalam mengatur strategi.
Enam kerajaan mampu Exhilius atur dengan mudahnya, ada kerajaan Zero, Gold, Flash Blue, Maxhi, Rain, dan King Ice. Di mana 6 kerajaan ini memiliki 1 raja, yaitu Exhilius. Exhilius sendiri yang membangung 6 kerajaan bersama ratu Lily.
Raja Exhilius dan ratu Lily tidak dikarunai anak hingga umur mereka 100 tahun. Itu yang membuat kerajaan di perintahkan bukan atas keturunan asli Exhilius. Lalu raja mengangkat ke 6 panglima setia yang di percaya Exhilius, mereka adalah Arthur raja Zero, Gold Mexs raja Gold, Felix Pitter raja Blue Flash, Hwang Xhin raja Maxhi, Wiliam raja Rain, dan Jhan Yu raja King Ice.
Namun sebelum Exhilius wafat, ia menitip busur panah dan satu pedang. Exhilius sendiri yang membuatnya salam 1 tahun dalam gua Fhuci, senjata pedang bernama Shiki yang kini telah digunakan Clarisa, sedangkan Panah bernama Mhiki yang masih belum diketahui di mana keberadaannya.
Setelah raja dan ratu itu wafat bersamaan dalam sakit yang sama. 6 kerajaan itu mulai gaduh, terutama Gold yang ingin memiliki pedang Shiki milik Exhilius. Tapi Arthur tak pernah memberikannya, karena ini sudah menjadi miliknya. Tapi sayangnya pedang itu tidak bisa terbuka selain bukan keturunan asli Exhilius, bahkan Arthur sendiri tak bisa. Banyak yang berusaha membuka tapi nihil, bahkan raja Gold sendiri yang pernah diberi kesempatan oleh Arthur pun tak bisa.
Dan inilah asal mula pedang itu menjadi milik Clarisa. Saat umur 12 tahun Clarisa mulai tertarik dengan pedang itu, pedang yang tak pernah terbuka selama raja Exhilius wafat. Namun akhirnya Clarisalah yang membukanya, lalu menggunakannya membunuh pengasuhnya sendiri, Clarisa penasaran dengan seberapa kejam dan tajamnya pedang itu. Sejak saat itu Arthur memberikan pedang itu sebagaimana wasiat raja Exhilius, dan pedang itu hanya Clarisa yang mampu membuka tutup pedang Shiki.
Clarisa mulai lelah, ia juga manusia butuh istirahat. Namun ia bingung mau tinggal di mana? Keluarga pun ia tak punya di dunia ini. Karena semakin lelah akhirnya Clarisa memilih tidur di bangku taman dengan berselimutkan angin malam. Bintang dan bulan sebagai lampu tidurnya. Dan akhirnya Clarisa terbuai dalam mimpi.
*****
Subuh yang dingin menggigit kulit putih Clarisa. Ia tak bisa tidur nyenyak jika seperti ini, apalagi pakaiannya yang terlalu minim. Clarisa bangkit ingin mencari kehangatan, tapi ia masih merasa ngantuk. Lalu ia tertuju pada rumah kecil sederhana yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. Rumah kecil itu tidak mewah hanya seperti rumah biasa dengan taman kecil berukuran 1 meter ke depan. Pintu rumah itu tidal tertutup, mungkin penghuninya sudah terlalu lelah karena kerja hingga larut malam.
Clarisa masuk ke rumah itu, lalu menutup pintunya. Rumah itu cukup hangat bagi Clarisa. Clarisa berbaring di sofa sambil memeluk bantal sofa, ia mulai merasakan hangatnya rumah itu, dan kembali tertidur.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 08:10. Clarisa terbangun, matanya menatap ruangan rumah ini. Kecil, sederhana namun terlihat elegan. Clarisa ingin mandi membersikan dirinya, seharian kemarin ia tak mandi hanya keluyuran tak jelas di jalan. Akhirnya Clarisa menemukan kamar mandi dan masuk.
Pov Hyunjin
Suara alaram jelek itu berbunyi, sudah kebiasaanya membangunkanku setiap pagi.
'Tuhan sedikit lagi, aku masih ngantuk. Pulang jam 3 subuh dan tidur hanya 5 jam sehari? Sungguh aku sangat lelah.'
Kulawan rasa kantukku, aku harus segera bekerja. Jika tidak bekerja mau makan apa aku hari ini? Dengan mata yang masih sayu aku merai handuk di belakang pintu, lalu berjalan semboyongan menujuh kamar mandi.
'Apa aku tidak salah dengar? Ada suara air.'
Seketika ngantuk ini hilang, di depan pintu berwarna putih polos. Aku melihat seseorang tengah mandi dari jendela kecil di pintu itu, kaca jendela buram jadi tidak jelas.
Kuusap berkali-kali mataku, barangkali aku hanya salah liat karena mengantuk? Tapi ini benar! Ada seseorang di kamar mandiku. Kuintip dari kaca buram itu, rambutnya panjang, apa dia wanita? Segera kualihkan pandanganku, itu memang wanita.
'Kenapa bisa ada wanita di rumahku? Apa itu hantu? Tapi apa iya hantu mandi?'
Akhirnya kuputuskan menunggu di depan pintu sampai wanita itu selesai mandi. Suara keran mati, seperti dia sudah selesai. Aku akan memarahi wanita itu karena yang pertama dia boros memakai air, aku saja mandi irit-irit bisanya dia boros? Emangnya dia yang beli air? Yang ke dua dia masuk tanpa seizinku, bahkan mandi diapun tidak izin. Dan yang ketiga, beraninya dia masuk dengan sepatu ke dalam rumah? Kotor pula! Emangnya dia yang tiap hari bersikan lantai di rumahku? Tentu tidak bukan?!
Aku berdiri sangat dekat dengan pintu, akan kumarahi wanita itu. Apa dia gila masuk ke rumah orang tanpa izin? Pasti dia gila!
Ceklek ...
Suara gagang pintu, pintu itu mulai terbuka. Saat terbuka, wanita itu tepat berhadapan denganku, cantik!
__ADS_1
"Sialan!" cercah wanita itu terkaget. Aku sempat melihat matanya yang berwarna merah.
Buukk ....
Wanita itu meninju perutku dengan kuat. Aku terhempas ke tembok sangat kuat.
'Sakit! Kenapa dia meninjuku?'
"Uhuk ... uhuk." aku terbatuk, belakangku terbentur keras ke tembok.
Wanita itu terdiam masih di tempatnya. Aku memegang perutku yang terasa sakit seraya menatapnya.
'Kekuatan apa yang dia gunakan?'
"Kenapa kau meninju perutku?" tanyaku sambil meringis. 'Sungguh ini sangat sakit!'
"Kau membuatku kaget! Kenapa kau muncul tiba-tiba di depan pintu?" Wanita itu malah membentak balik padaku.
Aku berdiri, masih memegang perutku yang terasa sakit. "Harusnya aku yang berkata seperti itu? Kenapa kau ada di rumahku?"
Wanita itu terdiam. Sekakmat!
Perutku semakin sakit. Dia wanita atau pria? Kuat sekali tinjuannya. Karena terlalu sakit akhirnya aku pingsang.
'Dia menghantam lambungku begitu keras!'
Pov Author.
Clarisa duduk di dekat pria yang baru saja dibuatnya pingsan. Untungnya pria itu tidak tewas, kalau tewas bisa rumit urusannya nanti. Sudah 2 jam Clarisa menunggu pria itu namun tak kunjung sadar.
Akhirnya Clarisa mengambil pedangnya yang ia taruh di dekat sofa. Sambil membuka sarung pedang itu, Clarisa berdiri. Tangannya sudah siap menancapkan Shiki pada pria itu. Shiki kelihatan sangat haus darah, ia semakin berkilau jika akan digunakan untuk membunuh.
"Maaf," ujar Clarisa pelan lalu menurunkan pedang itu pada pria yang terbaring pingsan di sofa.
Hyunjin yang baru sadar langsung terkejut, ada sebuah pedang yang akan menghujam dirinya. Tentu saja dengan cepat Hyunjin menjauhkan dirinya. Clarisa terkejut, rupanya pria itu sudah sadar.
"Hei! Apa kau ingin membunuhku?" Kini Hyunjin sudah ada di pinggur tembok, nafasnya beradu cepat mencari udara, sungguh Hyunjin sangat panik. Dan untungnya Hyunjin berhasil menghindari mautnya.
Clarisa langsung menyembunyikan pedangnya di belakang badannya. Ia gelagapan, padahal niatnya ini baik menurutnya.
"Aku lihat kau banyak beban hidup, jadi aku bantu kau dengan mengakhiri hidupmu."
"Hah?" Mulut Hyunjin terbuka lebar. "Dari mana kau tahu tentang hidupku?"
Clarisa menatap ruangan rumah kecil tempatnya sekarang, lalu kembali lagi menatap Hyunjin. "Dari rumahmu yang kecil ini," jawab Clarisa.
"Eits! Jangan mentang-mentang rumahku kecil kau mengira hidupku ini banyak beban!" bantah Hyunjin tidam terima, dia tahu dia sederhana tapi dia juga bisa hidup elegan.
"Apa kau bahagia?"
"Tentu!" jawab Hyunjin tegas.
"Ohh."
"Ohh? Setelah kau hampir membunuh orang kau hanya bilang ohh? Astaga wanita macam apa kau?" Hyunjin menatap kesal pada wanita di depannya.
"Aku seorang putri!" balas Clarisa dingin. Tangannya kembali menyarungkan pendang. Lalu menggantungnya di punggung belakangnya.
__ADS_1
"Haha!" Tawa meledek Hyunjin namun terdengar garing. "Seperti inipun masih bercanda? Oke Nona gara kau aku jadi lambat bekerja, aku bisa dipecat karnamu!" sambung Hyunjin lagi.
"Salahku?! Berani sekali dirimu!"
"Iyalah! Masa aku nyalihin cicak?" balas Hyunjin melotot pada Clarisa.
"Lancang sekali kau berbicara seperti itu di hadapan seorang putri? Apa kau ingin kupenggal?" Clarisa mendekat dua langkah seraya menunjuk Hyunjin.
"Kau kira aku takut? Kau hanya wanita halu yang kelewatan! Ngaku putri pula!" balas Hyunjin sangat marah.
Clarisa sungguh sangat marah, ia tidak suka dihina apalagi dengan laki-laki. Segera dia membuka sarung pedangnya dan langsung mengarahkan pada pria di hadapannya. Hyunjin menelan ludahnya.
'Apa wanita ini serius?'
"Berani memakai benda tajam? Sungguh memalukan! Putri macam apa kau!?" Hyunjin pura-pura menyembunyikan ketakutannya, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita. Padahal lututnya sudah mulai bergetar.
"Baiklah!" Clarisa menjatukan pedangnya ke lantai. "Kita adu kekutan fisik? Akan kuremukkan semua tulangmu itu, wahai rakyat rendahan!"
Mata Hyunjin membulat. "Rakyat rendahan? Maksudmu apa putri gila!" Hyunjin berseru lebih kesal dari sebelumnya.
"Kau sudah terlalu banyak memancing kemarahanku! Jadi jangan salahkan aku jika aku membunuhmu hingga tak tersisah!" Mata merah Clarisa berubah semakin pekat, ia benar-benar sangat marah.
'Seorang ratu masa depan tak bisa direndahkan oleh siapapun, semua harus tunduk!'
Seketika warna mata Clarisa semakin merah pekat. Pelan-pelan Clarisa berjalan ke arah Hyunjin seraya tersenyum miring.
Hyunjin berjalan mundur, seka'mat. Tembok sudah menghentikannya.
'Apa ini? Aku merasakan aurah membunuh pada wanita ini.'
Clarisa berlari, dan langsung menggapai leher Hyunjin. Tidak ada pikir panjang lagi, tangannya langsung meremas leher jenjang itu. Hanya dengan satu tangan ia mampu mengangkat tubuh Hyunjin. Kini udara mulai menghilang dari paru-paru Hyunjin, bahkan kakinya sudah tak menyentuh lantai.
'Kuat sekali wanita ini? Dia manusia apa Monster?'
"Jangan membunuhnya putri Clarisa!" suara tidak dikenal terdengar. Seketika Clarisa melepasakan tangannya, lalu menengok ke belakang, ke atas, ke samping. Berusaha mencari siapa yang barusan berbicara.
"Siapa itu!?" teriak Clarisa menggema di ruangan.
Hyunjin memegang lehernya yang sakit. Aku hampir mati! Dengan cepat wanita yang ada di depannya langsung ia peluk dengan sikunya, sikunya mengunci leher Clarisa.
"Lepaskan sialan!" bentak Clarisa seraya memberontak.
"Tidak akan! Kau hampir membunuhku wanita bodoh! Bagaimana mungkin aku melepaskanmu?" balas Hyunjin makin mempereratkan sikunya.
"Kau akan menyesal bodoh!" bentak Clarisa yang berusaha lepas.
Tiba-tiba pedang Clarisa melayang sendiri, lalu melesat menuju Hyunjin. Pedang itu tepat menancap di tembok, hanya berjarak 1 cm dari leher Hyunjin. Sontak Hyunjin terkaget, ia hampir mati untuk ke 3 kalinya.
"Wanita gila, apa yang kau lakukan dengan pedangmu itu!"
"Aku tidak melakukan apa-apa! Dasar bodoh!" balas Clarisa berteriak kencang.
"Pengeran Hyunjin. Kalian berdua adalah takdir yang telah terikat." Sekali lagi suara itu muncul lagi dengan ucapan yang berbeda.
Clarisa maupun Hyunjin melirik ke arah pedang. Tatapan mereka sama.
'Apa pedang itu yang berbicara?'
__ADS_1