
Hyunjin membenamkan wajahnya dalam bak mandi kayu. Setelah berbincang-bincang dengan Tang Jhu, Hyunjin segera izin ingin membersihkan diri sedangkan Tang Jhu akan pergi kelantai bawah memesang beberapa makanan untuk mereka santap, karena memang 1 hari ini mereka tidak ada makan atau minum. Karena setiap kali Tang Jhu mengajak Hyunjin beristirahat sejenak untuk minum Hyunjin selalu menolak dan beralasan tidak lelah atau ingin melihat seperti apa desa Bata Bambu.
Hyunjin mengangkat wajahnya dan menatap ke langit-langit kamar mandi, pikirannya masih sama. Ada apa dengan takdir terdahulu? Jikalau tidak berubah maka semua akan mudah dijalankannya karena dia sudah mengetahuinya hingga titik akhirnya dia mati melawan Daimont.
'Ahhh ... Daimont! Apa dia juga ada di dunia ini?'
Hyunjin kembali mengingat masa terakhirnya berjuang menepati sumpahnya setelah Clarisa telah dibuhuh di tangan Daimont, yang paling menyakitkan adalah Clarisa dibunuh di depan mata Hyunjin sendiri. Setelah Daimont membunuh Xaochi dan Fang Wan, sekarang Clarisa yang pula ia rengut. Saat itu Hyunjin sangat marah dan dendam pada Daimont, karena satu persatu orang terdekat dan tersayang Hyunjin dibunuh Daimont di depan matanya.
Daimont hanya tertawa lantang bahagia, Daimont senang melihat aurah dendam Hyunjin yang semakin kuat. Karena semakin kuat aurah kebencian maka semakin dia akan dirasuki sisi kegelapan yang akan membuatnya hilang akal dan akhirnya membuang tenang secara percuma. Jika sisi gelap sudah menguasai maka akal dan ketenangan dalam bertarung sedikit demi sedikit akan hilang.
"Daimont! Jika aku dipertemukan denganmu lagi! Akan kupastikan kau akan mati ditanganku." Hyunjin mengangkat tangannya dan mengepalkannya.
Kali ini untuk kehidupan yang ke 2 kalinya Hyunjin tidak akan menyia-nyiakanya. Dia akan berlatih keras menebus sumpah terdahulunya, sebelum menepatinya Hyunjin akan merasa terhutangi selama hidupnya. Dulu janjinya dengan ibunya untuk kembali membangun kerajaan Blue Flash sudah dia kabulkan, dan sekarang tinggal sumpahnya pada Clarisa yang belum Hyunjin kabulkan.
Hyunjin sangat ingat kenapa Clarisa memintanya untuk bersumpah, yang pertama Clarisa ingin membalas kematian ayahnya raja Arthur dan yang ke dua karena permintaan Kaisar Tang.
Dan bodohnya Hyunjin menyanggupi sumpah itu, padahal dia belum tahu apakah dia bisa membalaskan apa tidak? Ini semua karena rasa benci Hyunjin yang menjalar begitu cepat ke hati dan pikirannya. Bahkan untuk berpikir terlebih dahulu saja Hyunjin tidak terpikirkan, yang melintas hanyalah membalas dendam dengan membabi buta.
"Paman Tang Jhu mengatakan bahwa ini adalah daerah kekuasaan Kekaisaran Tang? Apa sosok Kaisar Tang ada di sini?" gumam Hyunjin mengingat Tang Jhu mengatakan ini adalah daerah kekuasaan Kekaisaran Tang.
"Jika ada pasti dia kuat, jadi apa mungkin untuk membalas Daimont aku tidak perlu? Kaisar Tang adalah rival setara dengan Daimont, sedangkan aku hanya seperti semut di mata Daimont! Walaupun aku sudah menggapai gelar pendekar lencana emas, tetap saja aku terlihat kecil di hadapan Daimont." Sambung Hyunjin lagi dan memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi.
'Di kehidupan pertamaku aku bisa menggapai gelar lencana emas selama 12 tahun. Itu termasuk pencapaian cepat bagi seorang pemula di usia 22 tahun. Tapi sekarang 12 tahun itu merupakan pencapain lama sekali bagiku!'
"Bahh!" Hyunjin mengeluarkan kepalanya dari dalam air, kembali menghirup udara setelah 2 menit dalam air.
"Tapi gelar lencana suci aku belum menggapainya. Baikalah tidak akan kusia-siakan kehidupan ke duaku! Aku akan berusaha sekuat tenaga, sekarang targetku adalah menggapai gelar lencana suci atau gelar lencana raja." Hyunjin keluar dari bak mandi dan mengambil handuk mandi, lalu memakainya.
Setelah selesai mandi, Hyunjin keluar dan menemukan Tang Jhu tengah duduk menyiapkan makanan di lantai. Ada satu minuman yang menarik perhatian Hyunjin di hidangkan Tang Jhu, yaitu arak. Dulu di kehidupan pertamanya Hyunjin sering kali minum arak secara sembunyi-sembunyi bersama Fang Wan, karena sangat berbahaya jika Clarisa dan Xaochi mengetahui mereka berdua sering minum arak.
Tang Jhu menatap Hyunjin yang berjalan menuju padanya, Tang Jhu tanpa basa-basi segera mengajak Hyunjin makan bersama.
__ADS_1
"Paman, bisakah Jin'er bertanya pada Paman?" Hyunjin mulai bertanya selepas makan seraya menatap Tang Jhu yang setengah sadar karena banyak meminum arak, sedangkan Hyunjin tidak diperbolehkan Tang Jhu ikut meminum arak karena dia masih terlalu kecil, padahal jiwanya sebelas dua belas Tang Jhu.
"Apa itu Jin'er?" Tang Jhu menyandarkan tubuhnya di tembok seraya memijit kepalanya.
"Apa Paman mengenal Kaisar Tang?"
"Hhmm."
"Benarkah?" Hyunjin tampak berbinar-binar ketika Tang Jhu mengatakan mengenal Kaisar Tang, ini adalah kesempatan emas untuk mengenal Kaisar Tang lebih dalam pikir Hyunjin.
"Hhmm."
"Paman, apa Kaisar Tang tinggal di daerah ini?" tanya Hyunjin lagi yang masih tampak antusias.
"Hhmm." Jawaban yang sama 3 kali berturut-turut, hanya 'hhmm'.
"Paman, apa Paman mendengarkanku?" Hyunjin menatap lekat Tang Jhu yang menunduk dan hanya menjawab singkat jawaban Hyunjin.
"Hhmm."
Hyunjin mendekati Tang Jhu yang sudah tertidur di tembok. Hyunjin menggelengkan kepalanya melihat Tang Jhu yang dimabuk arak. Padahal Hyunjin sudah mengingatkan Tang Jhu agar tidak minum terlalu banyak, tapi Tang Jhu malah mengatakan dia sudah dewasa dan bisa mengendalikan arak.
Mata Hyunjin memperhatikan sesuatu logam yang berkilau di saku baju Tang Jhu, logam itu berhasil menarik perhatian Hyunjin. Pelan-pelan Hyunjin mengambil Logam itu dan terkejut saat melihatnya.
"Inikan!?" Hyunjin berteriak setengah kencanh lalu dengan cepat menutup mulutnya sendiri, dilihatnya Tang Jhu yang masih tertidur. Hyunjin menghela nafas legah, takutnya Tang Jhu jadi terbangun karena teriakannya.
'Inikan lencana aliansi Rantai Neraka? Apa Paman anggota dari aliansi ini? Tidak kusangkah aliansi ini masih ada di sini? Aku kira mereka lenyap karena ada takdir yang berubah? Tapi ternyata tidak. Pantasan saja Paman mudah sekali menyewa penginapan sebagus ini!'
Tangan Hyunjin membolak-balikkan lencana milik Tang Jhu. Hyunjin sangat terkejut melihat lencana aliansi Rantai Neraka yang sudah lama dia tidak lihat. Hyunjin sangat mengingat aliansi Rantai Nerak, salah satu pemimpin aliansi ini pernah Hyunjin bunuh hingga membuat aliansi Rantai Neraka menjadikannya buronan ternama.
'Aku yakin Paman adalah pendekar yang lumayan kuat di aliansi ini. Melihat dari tindik di kening Paman, berarti!? Paman salah satu wakil pemimpin aliansi ini?'
__ADS_1
Hyunjin menatap tindik hitam di kening Tang Jhu. Semua anggota dalam aliansi Rantai Neraka akan diberi tanda tindik, dan setiap anggota dibedakan dari penempatan tindik mereka. Jika tindik di bibir maka dia adalah para tetua, jika di hidung maka mereka adala para pemimpin pasukan, sedangkan jika di kening mereka adalah wakil, dan jika di telinga kiri mereka adalah pendekar kelas 1, lalu jika di telinga kanan mereka ada pendekar kelas 2 dan kelas 3.
Hyunjin mundur beberapa meter dari Tang Jhu, Hyunjin kembali memutar otaknya menebak kenapa Tang Jhu bisa berada di sini? Kenapa tidak bersama dengan anggotanya yang lain.
'Apa Paman telah keluar dari aliansi Rantai Neraka? Sebab anggota tidak akan berkeliaran sembarang tanpa tugas, dan sejauh ini Paman tidak ada melakukan kejahatan.'
Hyunjin menghembuskan nafasnya kasar, lalu berbaring. Sebelah tangan kanan menjadi bantal dan tangan kirinya diletakkannya di atas dahinya. Hyunjin menatap langit-langit kamar yang sedikit gelap. Dia masih memikirkan tentang keadaannya sekarang, semua telah kembali tapi tidak sama seperti yang dulu.
'Ada apa sebenar ini? Kenapa banyak sekali perubahan yang tidak aku ketahui?Kaisar Tang bisakah anda menjelaskannya?'
Sejenak Hyunjin menghela nafas lagi berusaha menenangkan perasaan dan pikirannya.
'Kaisar Tang, seperti apa perangai dan parasmu? Dulu anda menitipkan1 tugas berat padaku, yaitu melawan Daimont. Kaisar aku sudah menjalankannya tapi semua tidak sesuai dengan yang anda harapkan.'
Mengingat tugas yang diberikan Kaisar Tang tidak sesuai dengan yang diharapkan Hyunjin. Jika mungkin Clarisa, Caoxhi dan Fang Wan mengetahuinya, apa mereka akan kecewa dengan Hyunjin? Karena tidak bisa menepati sumpahnya sendiri.
'Apa dikehidupan ini aku diberi kesempatan? Ahh ... Kaisar Tang. Anda ada di sini kenapa aku harus repot mengurusnya? Cerita yang aku dengar tentang anda Kaisar Tang sangat kuat, dan dia merupakan rival sejati Daimont. Sudah pasti Kaisar sangat mudah membunuhnya.'
'Mengingat Kaisar Tang mengingatkanku pada Clarisa, Xaochi dan Fang Wan. Apa Clarisa juga ada dikehidupan ini?'
Hyunjin tersenyum mengingat semua kenangannya bersama ke 3 teman sepetualangnya dulu. Mereka berempat adalah kelompok yang sangat kompak dan populer dalam beberapa tahun. Mereka berempat menamakan kelompoknya Aliansi Bulan Darah, aliansi yang bertugas melenyapkan kejahatan. Awalnya ada debat panjang saat memberi nama aliansi mereka, terutama pada Clarisa. Clarisa sangat tidak suka berkelompok pada siapapun, terlebih Clarisa sangat tidak menyukai Fang Wan yang menurutnya kenak-kanakan dan lemah. Sama juga dengan Xaochi, Clarisa tidak menyukai Xaochi yang suka mendekat pada Hyunjin.
"Xaochi! Jika kau ingin bergabung karena Hyunjin maka enyalah! Ini aliansi kekuatan bukan aliansi perasaan." Clarisa memberikan tatapan tajam pada Xaochi karena Xaochi terus berpura-pura lemah dan butuh perlindungan dengan Hyunjin.
"Kenapa!? Kenapa kau yang marah Clarisa! Aku menyukai Hyunjin tidak perlu persetujuaanmu!" Caoxhi menatap balik Clarisa, walaupun Caoxhi tahu Clarisa itu suka main dengan kekerasan tapi soal perasaan Caoxhi tidak akan mundur.
"Ck! Lihat Hyunjin, dia mulai merasa senang sekarang." Fang Wan melihat Hyunjin yang hanya diam tak bersuara. Ada sedikit rasa cemburu dalam hati Fang Wan karena Hyunjin lebih populer daripada dirinya.
Hyunjin hanya menggelengkan kepala, sekarang Hyujin sudah mampu berpikir dewasa dan mana yang harus dibalas dan mana yang harus dibiarkan. Bagi Hyunjin, Xaochi dan Fang Wan masih bersifat kekanak-kanakan dan memang Xaochi dan Fang Wan lebih muda dari Hyunjin beberapa tahun, sedangkan Clarisa selalu bersifat garang dari dulu, tidak ada yang berubah darinya kecuali akhir-akhir ini Clarisa sering menampakkan rasa kesal atau bisa dikatakan rasa cemburu.
'Haruskah ada perdebatan seperti ini? Kita ini hanya ingin memilih nama, kenapa harus ribut seperti ini?'
__ADS_1
Hyunjin menutup matanya, berharap malam ini dia bisa bermimpi indah bertemu dengan Clarisa, Xaochi dan Fang Wan.