Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
15. Kerajaan Laut Tang Mhun II


__ADS_3

Hyunjin merasakan dirinya sudah lumayan membaik saat ini, ia juga dapat merasakan dirinya tengah terbaring di sebuah kasur yang lumayan empuk. Segera Hyunjin bangun dan menatap sekeliling ruangan, ada sesuatu rasa yang aneh pada tempat ini.


"Ehh!? Di mana aku? Tempat apa ini?" Hyunjin sedikit panik melihat dirinya bukan lagi di kapal melainkan di tempat asing.


Tiba-tiba seseorang datang dari arah pintu, seseorang itu tidak dapat disebut manusia karena bersisik tapi rupa tubuhnya menyerupai manusia. Hyunjin menatap sedikit takut pada orang itu barangkali dia akan melakukan kejahatan padanya.


Sedangkan orang itu hanya menatap Hyunjin dari kelambu transparan itu tanpa berbicara. Perlahan orang itu memasukkan sebuah mapan kecil berisikan makan ke dalam kelambu lalu menutupnya dan bergegas pergi.


"Itu manusia apa siluman? Mengerikan sekali bentuk tubuhnya, bahkan lebih mengerikan dari pada setan!" Hyunjin menelan ludahnya yang menatap kepergian orang itu tanpa berbicara sepatah katapun.


Hyunjin mendekatkan diri pada mapan tersebut dan melihat ada sebuah jari manusia yang teriris rapi dan bola mata, sedangkan minumannya sejenis air kental yang berwarna merah yang tak lain ialah darah.


"Wueek! Menjijikan! Apa mereka pikir aku makan manusia?" Hyunjin menyingkirkan mapan tersebut lalu berjalan menuju sisi kelambu yang mengelilingi kasurnya.


Saat akan baru menyentuh kelambu tersebut, tiba-tiba ada sebuah kontak yang mengejut Hyunjin. Ia serasa disengat listrik oleh kelambu itu. Tentu saja ini membuat Hyunjin semakin panik, ia takut tidak bisa keluar dari tempat asing ini.


"Astaga kelambu ini mempunyai listrik? Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Sekali lagi Hyunjin menerobos paksa kelambu itu tapi yang ada dia merasakan sengatan listrik. Jika diteruskan Hyunjin bisa gosong karena kelambu ini.


"Bagaimana ini? Bagaimana jika mereka mau memakanku? Atau menjadikanku tumbal? Arg! Aku tidak mau mati di tempat ini, siapapun tolong aku!"


Setengah jam berusaha menerobos kelambu itu membuat Hyunjin terbaring lemah di kasurnya, tentu saja semua usahanya menguras begitu banyak tenaga tapi hasilnya malah zonk. Hyunjin merasa pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya, dia merasa hidupnya terlalu berbahaya dan berbelit-belit.


"Sepupu Yun Shu, maaf aku mungkin pulang hanya membawakan nama tanpa tubuh," gumam Hyunjin seraya melihat telapak tanganya yang terluka karena sengatan listrik kelambu itu.


"Sstt!"


Terdengar suara orang mendesis memberi kode dari arah lain. Hyunjin yang tadinya terbaring pasrah kini langsung beranjak dari kasurnya, Hyunjin berusaha menemukan dari mana sumber suara itu berasal. Saat Hyunjin melihat ke arah jendela tampak seorang gadis yang seumuran dengan Hyunjin melambaikan tangan padanya. Sepertinya gadis itu hendak menolong Hyunjin dari istana yang membekapnya.


Belum sempat gadis itu masuk, tiba-tiba muncul seroang wanita paruh baya yang berumuran 30 tahunan yang jelas lebih tua dari Hyunjin. Wanita itu tersenyum hangat pada Hyunjin, tak lupa beberapa pria di belakangnya ikut membuntuti wanita itu. Wanita itu menyuruh para pengawalnya agar membukakan kelambu itu, karena ia akan menghampiri pria di dalamnya.


Hyunjin mundur beberapa langkah saat wanita itu semakin mendekatinya. Rupa wanita itu tidak terlalu buruk, hanya saja dia sebelas dua belas dengan pengawalnya bersisik seperti ikan di sekujur tubuhnya.


"Siapa kau!?"


Wanita itu memasang senyum semakin lebar pada Hyunjin. "Aku, aku adalah ratu Tang Shun penguasa kerajaan Tang Mhun, ratu paling cantik dan paling kuat di lautan ini."


Cantik? Bahkan kau tak lebih cantik dari Clarisa yang jelas lebih seram jika marah!'


Hyunjin tak bertanya lebih jauh lagi, sedangkan ratu Tang Shun segera memerintahkan pada pelayan memberikan jubah sisik emas untuk Hyunjin. Saat mendengar ungkapan ratu ingin menjadikannya raja di istana Tang Shun yang sudah pasti ia harus menikahi ratu membuat Hyunjin ingin muntah darah mendengarnya. Setelah ratu pergi bersama prajurit dan pelayannya, Hyunjin berniat ingin kabur tapi kelambu itu menghalang Hyunjin.


Dari jendela muncul seorang gadis seumuran Hyunjin yang masuk secara mengendap-ngendap. Gadis itu berniat melepaskan Hyunjin dari kelambu itu tapi ia malah mendapat sengatan.


"Jangan memaksakan diri, apa kau ingin terluka?"


Gadis itu tak mengubris Hyunjin bahkan ia tetap memberontak memaksa membuka kelambu tapi tetap saja ia tidak bisa dan malah terpental ke tembok. Gadis itu bangkit lagi, dilihatnya tangannya yang sudah berlumuran darah karena memaksakan diri. Wajah gadis itu perlahan berubah menjadi takut, ia seolah sedang prustasi karena tidak bisa membuka kelambu itu.

__ADS_1


Hyunjin merasa iba dengan gadis itu, jelas Hyunjin tak memintanya untuk melepaskan dirinya dari kelambu. Tapi gadis itu melakukan atas kehendak dirinya sendiri hingga akhirnya malah melukai dirinya. Gadis itu menggelangkan kepala seraya melihat tangannya yang terluka.


"Hei! Tenanglah, kau tidak perlu menyelamatkanku," ujar Hyunjin menatap gadis itu.


Gadis itu melirik ke arah Hyunjin dan kembali memaksa membuka kelambu itu tapi tetap saja enggan untuk terbuka. Hyunjin bisa merasakan betapa perihnya luka itu jika terkena air laut, terlebih luka gadis itu semakin membesar.


Gadis itu terdiam sejenak, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Tak lama gadis itu melompat ke arah jendela meninggalkan Hyunjin.


"Ehh!" Tangan Hyunjin ingin menghentikan gadis itu tapi tidak bisa. "Aku bahkan belum mengetahui namamu? Terima kasih telah berusaha membantu hingga kau terluka. Aku tidak akan melupakan jasamu." Hyunjin menatap sendu ke arah jendela berharap gadis itu baik-baik saja.


*****


Ketika malam tiba, Hyunjin sudah siap dengan jubah sisik emas itu. Ia sudah memikirkan matang-matang rencananya, Hyunjin akan memberontak ketika dia dikawal oleh prajurit yang membawanya ke aulah. Tapi perkiraan Hyunjin salah, ia pikir dia akan dikawal oleh 2 atau 3 prajurit ternyata dia malah dikawal oleh 100 prajurit sangat di luar perkiraannya. Jika Hyunjin memberontak ia malah menghantarkan nyawanya secara gratis ke kandang singa.


Hyunjin tak berbicara selama perjalanannya menuju aulah. Bahkan saat beberapa prajurit mencemooh dirinya, mengatakan dia tidak pantas menjadi raja dari mereka.


'Sialan! Kau pikir aku mau menikah dengan ratu kalian?' umpat Hyunjin dalam hatinya. Telinga Hyunjin terasa panas mendengar beberapa prajurit menejelek-jelekkan dirinya.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba sebuah jarum-jarum kecil mulai berdatangan menghujani para prajurit. Jarum-jarum itu mengenai leher dan wajah prajurit dan membuat mereka seketika pingsan. Walau kulit prajurit itu sisik tapi jarum itu mampu menembus sisik-sisik mereka. Satu persatu mereka tumbang, mereka tidak bisa menghindar begitu cepat hingga akhirnya hanya tersisah Hyunjin yang berdiri. Hyunjin heran kenapa jarum itu tidak ada satupun yang mengenai dirinya, padahal bisa dilihat jarum itu begitu banyak seperti air hujan.


Dari sisi tembok terlihat seorang gadis dan beberapa prajurit lain di belakangnya. Gadis itu adalah gadis yang memaksa ingin membuka kelambu Hyunjin. Tentunya Hyunjin bersyukur gadis itu datang menyelamatkan dirinya lagi.


Gadis itu berlari ke arah Hyunjin dan segera manarik tangan Hyunjin. Hyunjin tak memberontak sama sekali, ia malah ikut berlari bersama gadis itu. Setelah berhasil keluar istana dari jauh prajurit istana Tang Shun berteriak keras.


"Ada penyusup! Penyusup membawa kabur calon raja!"


Gadis itu merongo sebuah pil berwarna putih polos dari saku bajunya dan langsung memasukkan ke mulut Hyunjin.


"Telan jangan dibuang!" ucap gadis itu akhirnya membuka suaranya. Hyunjin sempat berpikir gadis ini bisu karena ketika di kamar ia tak berbicara sepata katapun dan terlihat seperti orang linglung.


Mata Hyunjin membulat ketika gadis itu langsung memakannya sesuatu yang tidak pernah dimakan Hyunjin. Walaupun tidak mempunyai rasa tapi Hyunjin sulit menelannya karena pil itu berukuran kurang lebih seperti kelereng. Gadis itu semakin mempercepat larinya karena ratu Tang Shun segera mengejarnya, tentu saja ratu bukanlah tandingan gadis ini.


Setelah sampai di perbatasan, gadis itu melompat ke perbatasan ataran air laut dan istana. Hyunjin sempat berpikir apa gadis ini gila, jelas Hyunjin tidak bisa bernafas dalam air.


Bluuk ....


Hyunjin menahan nafasnya membuat kedua pipinya gembung. Sedangkan gadis itu telah berubah bentuk seperti putri duyung. Gadis itu tetap menggendong Hyunjin dan berenang dengan cepat.


Sejenak gadis itu melihat ke arah Hyunjin yang mulai lemas. "Bernafaslah! Kau bisa bernafas dalam air!" ucap gadis itu.


Mata Hyunjin membulat, bahkan ia tersedak air karena ucap gadis itu. "Apa kau ingin membunuhku?" ucap Hyunjin.


Gadis itu hanya tersenyum dan semakin mempercepat berenangnya agar tidak cepat dikejar ratu Tang Shun. Sejenak Hyunjin terdiam karena kagum, ia bisa bernafas dalam air. Bahkan bisa berbicara seperti biasanya.


Ratu melompat keperbatasan dan berubah bentuk, jika dilihat ratu mau mirip putri duyung tapi ekornya lebih pangang seperti ekor naga. Tak lupa ratu membawa senjata tombak yang sering digunakan bertempur. Dengan cepat ia melesat mengejar Hyunjin.


"Sialan! Apa putri Eunha ingin mencari masalah denganku?! Dia sudah membuka perperangan dengan kerajaan Tang Mhun!" ujar Tang Shun yang semakin mempercepat berenangnya mengejar Eunha dan Hyunjin.

__ADS_1


Walaupun Eunha sudah berenang secepat mungkin, tetap saja ratu Tang Shun bisa mengejarnya. Kekuatan Eunha tidaklah sekuat ratu Tang Shun yang bisa dibilang dewi laut kegelapan.


Tak butuh waktu lama ratu Tang Shun sudah mulai mendekati Eunha dan Hyunjin. Ekor panjang ratu Tang Shun langsung membentuk lingkaran membuat Eunha dan Hyunjing terkepung.


Bluuk ....


Hyunjin terkejut hebat melihat sosok asli ratu Tang Shung yang menyeramkan, warna kulitnya yang kehijauan dan ekornya yang panjang serta tajam.


"Putri Eunha! Kau telah membuatku marah!" Tang Shun berteriak sangat besar hingga membuat gelombang air laut meninggi.


Sedangkan Eunha tetap tenang, dia tidak boleh gegabah dengan ratu Tang Shun Sang Dewi Laut Kegelapan. Tangan Eunhan menggenggam erat tangan Hyunjin.


"Kau pikir kau bisa memilikinya?" Eunha menatap tajam ke arah Tang Shun.


"Aarrrgggg!" Tang Shun berteriak marah membuat gelombang laut menjadi besar dan tidak beraturan.


Sedangkan Hyunjin mulai bergetar ketakutan selain Clarisa yang menyeramkan ternyata ratu Tang Shun juga sebelas dua belas dengan Clarisa.


Eunha mengeluarkan pedang berwarna keemasan pelangi lalu menyuruh Hyunjin bersembunyi di belakangnya. Sejujurnya Hyunjin merasa terhina karena seorang gadis yang melindunginya sedangkan dia seorang pria yang seharusnya melindungi Eunha.


'Aku tidak bisa diam seperti ini! Tapi bagaimana aku melawan ratu sialan itu?'


"Menyerahlah putri Eunha! Kau tidak akan menang melawanku! Tapi walaupun kau menyerah kau tidak akan mendapat ampunan dariku!"


"Ck! Ukuranmu bukanlah penghalangku!" Eunha memberi beberapa tebasan melalui pedangnya.


Ratu Tang Shun menangkis dengan ekornya, baginya kekuatan Eunha hanya mampu mengelitiknya tapi tidak melukainya. Sedangkan Eunha terus memberi jurus tebasan yang dia punya tapi nihil tidak ada satu pun yang melukai tubuh ratu Tang Shun.


"Hahaha ... bahkan kau tidak bisa melukaiku!" Tawa lantang ratu Tang Shun menggelegar membuat tanah di laut mulai bergetar.


*****


Clarisa yang terduduk tenang mulai bergerak, ia dapat merasakan aurah jahat dari dasar laut. Mata iris merah itu menyala begitu terang, ada kekuatan yang begitu dasyat mengalir di tubuhnya.


"Aurah ini!? Tidak salah lagi Dewi Laut Kegelapan!" Clarisa beranjak bangun dan berjalan menuju pintu sel. Hanya sekali hantaman tangannya besi sel itu patah. Segera Clarisa berlari menuju kamarnya untuk mengambil Shiki.


Beberapa orang berteriak histeris melihat Clarisa berlari bebas di kapal, tapi Clarisa tidak memperdulikannya sama sekali. Sekarang ia fokus dengan keadaan dasar laut yang mulai gaduh.


Tiba-tiba saja kapal mulai terombang ambing membuat para penumpang kapal panik. Clarisa tetap bisa menyeimbangkan dirinya dengan tenaga dalamnya saat ini, tapi dia juga khawatir dengan keadaan yang lain.


Tak butuh banyak pikir, setelah mengambil pedang Clarisa langsung melompat dari jendela kamarnya menuju laut. Clarisa juga bisa berjalan di atas air dengan menggunakan tenaga dalam yang sudah ia kumpul.


Beberapa orang di kapal melihat Clarisa di berjalan di air laut menebak Clarisalah yang membuat air laut menjadi gaduh.


"Tuan Huanxi! Segera bawa pergi kapalmu! Tinggalkan saja aku, aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Dewi Laut Kegelapan!" Clarisa berteriak sekuat tenaga membuat semua orang di kapal mendengar ucapannya. Tanpa membalas ucapan Clarisa kapal itu melesat meninggalkan Clarisa yang berdiri di air laut seorang diri.


"Dewi Laut! Aku datang untuk yang ke 2 kalinya!" Clarisa tersenyum dingin seraya menelan satu pil berwarna putih lalu masuk ke dalam air laut.

__ADS_1


Eunha terus menerus memberikan semua kekuatan tebasan pedang miliknya, tapi tetap saja ratu Tang Shun bisa berlindung dengan ekornya. Hyunjin merasa geram dengan keadaannya sekarang yang hanya mampu menonton.


__ADS_2