Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
37. Tercegat


__ADS_3

Hyunjin masih terus berlari meninggalkan alun-alun kota. Di gerobak Clarisa terus tertawa, dia tidak ingin mendengarkan berbagai bisikan tentangnya. Lebih baik tutup telinga jika ingin tenang begitulah pikir Clarisa.


Tak terasa mereka sudah meninggalkan kota dan sudah ada di hutan Suara. Hyunjin menghentikan larinya membuat Clarisa menjadi bingung.


"Ada apa Jin gege? Kenapa berhenti?" Clarisa turun dari gerobaknya dan berjalan mendekati Hyunjin.


"Sstt ... aku mendengar sesuatu di depan kita. Sepertinya ada musuh di depan sana."


Hyunjin menjelaskan pada Clarisa untuk hati-hati, Hyunjin tidak bisa mengira ada berapa jumlah musuh tapi yang jelas rata-rata mereka pendekar kelas 1. Hyunjin juga menjelaskan mata kirinya dapat melihat sesuatu jarak jauh maupun sesuatu itu tersembunyi. Mata Hyunjin juga bisa membedakan mana manusia yang beraurah pembunuh dan tidak.


Clarisa mengangguk pelan, ikut dia berjalan di belakang Hyunjin. "Jin gege apa kita harus melawan mereka? Apa kita tidak kembali saja ke alun kota?"


"Kita sudah lumayan jauh dari kota, bisa dikatakan kita sudah ada di pertengahan hutan."


Clarisa hanya diam, sebenarnya dia tidak takut namun dia takut jika Hyunjin terluka. Jika Hyunjin tidak ada lagi maka siapa lagi teman Clarisa?


"Jin gege. Apa kita bisa berkolaborasi? Aku juga bisa berkelahi, sepertinya ada 50 pendekar di depan."


Clarisa mendapat bocoran tentang jumlah musuh dari Haci. Haci sudah bisa menebak jumlah musuh walau masih berjarak cukup jauh.


Hyunjin menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Clarisa. "Bisa, ternyata Shasha masih tetap kuat ya tidak ada berubah," jawab Hyunjin seraya mengelus rambut Clarisa.


Clarisa menarik senyum saat Hyunjin mengelus rambutnya. Tapi dia sedikit bingung dengan maksud Hyunjin 'tidak ada berubah'.


"Shasha, mahir menggunakan senjata apa?" tanya Hyunjin saat sudah melihat puluhan pendekar di hadapannya.


Pendekar itu memakai baju serbah hitam seperti ninja. Hyunjin bisa menebak ini pasti pendekar yang sama dengan yang dia hadapi di hutan menuju Kekaisaran. Dan tidak mungkin itu adalah para prajurit Kekaisaran yang dikirim gurunya untuk menguji kekuatannya.


"Pedang, Jin gege," jawab Clarisa.


"Berarti harus menyerang dari jarak dekat. Humm ... baiklah aku akan ada di belakang sebagai penyerang jarak jauh. Aku tidak meragukan kekuatanmu Shasha."


*****


"Inikah sekarang Destopia? Ternyata negara ini semakin maju."


Humei menatap alun-alun Destopia yang nampak padat dan sibuk. Humei tersenyum, dia sudah dapat berangan bagaimana semua rencananya berjalan dengan lancar dan sempurna.


Marvel yang menunggangi kuda Humei menjadi sosok pertahatian warga. Terutama di kalangan perempuan, karena Marvel tidak menggunakan baju dia hanya memakai celana. Membuat dada bidang dan perut kotak-kotaknya terlihat.

__ADS_1


Hanya saja Marvel tidak tertarik dengan cinta-cintaan apalagi pernikahan seperti yang dilakukan manusia. Di daerah kerajaan kekuasaannya, dia tidak mengizinkan para rakyatnya menikah. Boleh menikah asalkan anaknya harus berjenis kelamin laki-laki tidak boleh perempuan, jika saja yang lahir perempuan maka anak bayi itu akan dijadikan santapan peliharaan Marvel. Tapi pengecualian untuk bangsawan Elf mereka boleh melahirkan 1 anak perempuan tidak boleh lebih.


"Humei, apa manusia itu harus menikah?" Tiba-tiba pertanyaan aneh keluar dari mulut Marvel.


Humei mengerutkan dahinya, dia belum pernah mendengar raja bangsa Elf membahas tentang pernikahan. Apalagi yang Humei tahu, Marvel benci dengan pernikahan.


"Aku juga tidak tahu banyak dan tidak peduli. Tapi yang aku dengar, mereka menikah karena saling mencintai dan akhirnya memiliki keturunan. Namun tidak semua menikah berawal dari cinta, seperti beberapa para bangsawan yang menikah karena perjodohan. Namun akhirnya mereka saling mencintai juga."


"Membosankan, apa yang menarik dengan pernikahan? Pernikahan hanya membuat mereka menjadi lemah! Dan aku benci kelemahan! Sama seperti mediang ayah dan ibuku, mereka saling mencinta dan rela mati bersama. Bukankah mereka bodoh!?" ujar Marvel terdengar kesal.


Humei hanya diam, sebenarnya dia sedikit tidak setuju dengan pernyataan Marvel. Karena Humei dulu pernah bahagia bersama keluarganya sebelum dia bergabung dengan Daimont.


"Humei, apa kau berpikir untuk menikah?"


Marvel membuyarkan lamunan Humei, membuat Humei bertanya ulang pada Marvel.


"Aku bilang, apa kau juga ingin menikah seperti manusia lainnya?" Marvel mengulangi ucapannya.


"Entahlah, tapi sepertinya tidak."


Humei menatap datar pada sepesang kekasih di pinggir jalan tengah bergandengan tangan. Entah kenapa melihat itu membuat Humei mengingat kembali masa lalunya.


"Kenapa?" Mervel sedikit penasaran.


"Lalu kau kenapa tidak menikah? Kau sudah tua seperti lumut." Kali ini Humei bertanya balik. Bola matanya menatap punggung Marvel.


"Hahaha ... aku sudah bersumpah tidak akan menikah. Ataupun mencintai siapapun!" jawab Marvel seraya melihat ke belakangnya.


Humei tampak tidak peduli dengan sumpah Marvel, di hati kecil dia mengumpati Marvel supaya kemakan sumpahnya sendiri, dan akhirnya malah menyesal bersumpah seperti itu.


"Lalu siapa yang akan meneruskan kekuasaanmu jika kau sudah mati?" Humei menatap wajah tampan Marvel.


"Aku tidak akan mati," balas Marvel lalu kembali fokus ke depan.


Humei menghela nafas pelan seraya menaikkan ke dua bahunya. Marvel menikah ataupun tidak Humei tidak akan peduli. Misi kehidupan Humei dan Marvel berbeda, Humei masih memiliki dendam yang harus dituntanskannya.


*****


Hyunjin dan Clarisa berdiri bersampingan, mata mereka fokus menatap puluhan pendekar seolah sedang menerka rencana jurus apa saja yang akan digunakan.

__ADS_1


Hyunjin mengeluarkan api hitamnya di tangan kanannya dan membentuknya menjadi busur sedangkan api putihnya menjadi anak panah. Hyunjin menggendong tas busurnya dan memberi kode Clarisa untuk siap melawan.


Jujur saja Clarisa sangat terkejut melihat busur berwarna hitam di tangan Hyunjin tiba-tiba muncul. Tapi Clarisa menahan diri untuk tidak bertanya, sekarang yang penting adalah puluhan musuh di hadapannya.


'Kenapa mereka bisa masuk ke hutan Suara, bukankah setiap gerbang masuk ke Kaisaran telah dijaga? Apa mungkin mereka menyelinap dari udara?' Clarisa membuat pedang dari aliran tenaga dalam yang diberikan Haci.


Pedang cahaya berwarna keemasan telah digenggam Clarisa. Clarisa menarik nafas lalu menghembuskannya, sebenarnya Clarisa membenci kekerasan namun apa boleh buat jika keadaan memaksa.


"Mereka hanya anak kecil. Kenapa Tuan mengirim 50 pasukan untuk menangkapnya? Aku kira yang dimaksud tuan adalah pendekar tingkat suci atau raja. Ternyata hanya anak kecil." Salah satu pendekar memandang reme 2 anak muda yang tak jauh di depannya.


"Jangan anggap remeh mereka berdua, apa kau tidak dengar anak muda laki-laki itu yang membunuh Tuan Danzo." Teman pendekar itu menunjuk Hyunjin dan menjelaskan bahwa Hyunjin adalah pembunuh Danzo.


Hyunjin hanya diam memasang tampang dingin dan beringas. Sejak dia ada di dunia Fantasi ke 2, entah kenapa dia sangat suka membunuh. Padahal dulu Hyunjin membenci membunuh, namun sekarang dia mulai menyukainya. Apa mungkin karena faktor kegagalannya membalaskan sumpah dan dendamnya?


"Benarkah? Apa ceritamu tidak berbohong? Bagaimana mungkin Tuan Danzo mati ditangan anak seperti dia," balas pendekar itu yang masih kurang percaya pada cerita temannya.


Hyunjin memegang busurnya, sedangkan tangan kirinya mengambil anak panahnya lalu menyatukannya dengan busurnya. Anak panah berwarna putih siap meluncur.


"Majulah Shasha, aku sudah siap."


Hyunjin menbidik anak panahnya dengan sebelah mata tertutup. Clarisa melirik ke arah Hyunjin dan menganggukkan kepalanya. Berjalan Clarisa ke dapan seraya menyeretkan ujung pedangnya di tanah.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selalu dukung karya author ya dengan like, vote dam rate.

__ADS_1


Mampir juga ya ke karya author yang berjudul 'The And Of Nightmare' dan 'Hero'


jangan lupa berikan vote, like dan rate 😊


__ADS_2