
"Humei, apa rencanamu selanjutnya?"
Marvel memandang bangunan kokoh nan indah berwarna silver di depannya. Mereka baru saja tiba di depan gedung pemerintahan Destopia. Gedung yang nampak seperti gedung masa depan, elit, besar dan terlihat modern.
"Kita harus bertemu dengan pemimpin Destopia," jawab Humei.
Marvel beralih menatap Humei di sampingnya dan berkata, "Apa kau tahu siapa pemimpinnya? Aku dengar negara ini baru saja memiliki pemimpin baru."
Humei menaik senyum di sebelah bibirnya, tentu dia tahu dengan pemimpin negara Destopia. Pemimpin yang hampir menggemparkan seluru jagat raya karena dirinya.
"Tentu aku tahu, namanya Nona muda Alice, kebetulan dia adalah kawan lamaku yang sudah lama tidak berjumpa. Mungkin kita akan sulit untuk bekerjasama dengannya," jelas Humei seraya beralih memandang gerbang masuk ke dalam wilayah gedung itu.
"Jika sulit, bagaimana kita tundukkan saja dia dengan kekuatan? Pasti itu akan muda."
"Tidak semudah itu! Destopia terkenal karena kecanggihannya dalam senjata, bahkan mereka sudah bisa menciptakan 2 senjata mematikan yang sangat terkenal. Peluru Maut dan bom Iblis. Mungkin itu tidak akan membunuhmu, tapi senjata itu bisa melukaimu sangat parah ...."
"Terlebih lagi, jika kita ingin bekerjasama maka tidak ada kekesaran yang bermain." Sambung Humei lagi.
Marvel kembali melirik ke gerbang setelah mendengar penjelasan Humei tentang Destopia. Tapi walaupun penjelasan Humei terdengar benar, tetap saja menurut Marvel senjata apapun tidak akan bisa membunuhnya.
Marvel menjadi sedikit penasaran dengan senjata yang dimaksud Humei barusan. Senjata seperti apa itu?
"Kau tahu, aku lahir di Destopia. Tapi walaupun begitu, aku sangat membenci pemerintahan mereka." sambung Humei lagi dengan nada lirih namun lebih mendominasikan nada benci.
Marvel melirik lagi ke arah Humei dan berkata, "Ternyata Kapten muda kita adalah penduduk asli Destopia."
"Pemimpin di negara Destopia disebut Presiden. Negara ini memiliki kecanggian dalam senjata, dan hampir rata-rata mereka seperti penduduk modern. Hanya sedikit dari mereka yang masih memakai adat budaya lama. Namun mereka masih belajar ilmu belah diri untuk menjaga diri walau senjata mereka senjata modern."
*****
Hyunjin menatap kumpulan para pendekar yang terbaring di tanah. Jasad pendekar itu mati dalam satu kali tebasan pedang Clarisa. Satu hal yang mengganjal pikirannya, adalah 1 tebasan mampu merengut nyawa pendekar kelas 1, namun tebasan pedang itu terlihat masih belum sempurna.
'Belum sempurna pun dia masih bisa membunuh dalam sekali tebasan.'
Hyunjin menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.
"Huuftt! Melawan mereka menggunakan api abadi terlalu mengurasa banyak tenaga. Sekarang butuh waktu beberapa minggu mengembalikan tenaga dalam seperti semula lagi," gumam Hyunjin pelan.
Hyunjin terlalu terburu-buru menggunakan api abadi hingga lupa konsekuensinya. Menggunakan api abadi milik Linfang terlalu banyak menguras tenaga dalam, apalagi memulihkan tenaga dalam itu tidaklah cepat. Butuh waktu beberapa hari atau minggu.
Di mana sekarang Linfang?
Sejak kejadian penyerangan Dazo di desa Bata Putih, Linfang hampir menyalurkan seluru kekuatannya kepada Hyunjin, melawan Danzo bukan hal yang muda apalagi Danzo menggunakan kristal Penguasa Malam. Karena itu semua membuat Linfang harus tertidur panjang selama beberapa tahun untuk memulihkan kekuatannya. Itulah kenapa ada tanda kristal di dada Hyunjin, itu adalah tanda penguasa kristal yang melekat pada Hyunjin.
Hyunjin kembali lagi memikirkan beberapa pendekar yang berhasil kabur. Sekarang Hyunjin manjadi tidak tenang, bagaimana jika pendekar itu dikirim untuk menangkapnya? Pikir Hyunjin. Hyunjin tidak ingin orang lain terlibat masalahnya apalagi sampai membuat orang terdekatnya terluka.
__ADS_1
"Beberapa dari mereka sudah berhasil kabur. Pasti mereka akan mengirim lebih banyak lagi pendekar," gumam Hyunjin sambil mengembuskan nafasnya pelan. Sekarang Hyunjin pasrah, tidak tauh harus melakukan apalagi selain menunggu serangan balik.
Andaikan saja tadi Clarisa tidak melarangnya untuk masuk ke portal itu, Hyunjin sudah tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Hyunjin terlalu memikirkan untuk membunuh mereka semua. Sampai lupa dengan nyawanya sendiri.
Clarisa melihat kegusaran Hyunjin pun langsung menghampirinya. Clarisa tahu bahwa Hyunjin tidak ingin orang lain terlibat masalah yang dibuatnya.
'Ini bukanlah sesuatu yang baik, apa mungkin mereka mengincarku?'
Hyunjin tidak bisa tenang, dia yakin para pendekar tadi akan memberitahu kabar pada tuan mereka. Dan pastinya akan ada penyerangan lanjut yang Hyunjin tidak bisa tebak, tapi yang pasti itu bukanlah hal baik.
"Jin gege, Jin gege kenapa diam?" Clarisa menepuk bahu Hyunjin karena Hyunjin hanya diam sambil menatap beberapa jasad di depannya. Seperti tengah merenungi sesuatu.
"Ahh ... tidak. Aku hanya berpikir tentang para pendekar ini. Kenapa mereka menyerang kita?" jawab Hyunjin seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita serahkan saja pada Kekaisaran Tang, ini seharusnya menjadi urusan mereka. Sekarang ayuk pulang, guru pasti menunggu." Clarisa langsung menarik tangan kanan Hyunjin menuju jalan pulang Kekaisaran Tang.
Setibanya di depan gerbang Kekaisaran, Hyunjin langsung menceritakan semua yang telah terjadi saat mereka akan kembali Kekaisaran. Tang Zhou cukup terkejut mendengar berita dari Hyunjin, Tang Zhou langsung memerintah Hyunjin untuk tenang, biarkan Tang Zhou yang urus kedepannya.
"Seharusnya yang bisa menggunakan portal gaib seperti itu hanya aliansi Naga Hitam dan aliansi Rantai Nereka. Dari yang kudengar 2 aliansi ini sudah berkerjasama beberapa bulan yang lalu." Tang Zhou berusaha menerka siapa pereman utama dalam penyerangan pendekar yang dimaksud Hyunjin.
'Ahh ... rupanya aliansi Rantai Neraka mulai merajut kerjasama dengan aliansi Naga Hitam. Apa mungkin karena kematian kapten Guzou?'
******
'Sepertinya akan ada acara besar di Kekaisaran Tang?'
Tak lama berjalan mereka berdua pun sampai di sebuah ruangan bernuasa merah dan putih, terkesan sangat elegan dan rapi. Di dalam ruangan hanya ada 1 meja dengan 2 kursi, 5 rak buku yang tersusun rapi, lukisan-lukisan antik yang tersusun indah di tembok. Tapi Hyunjin lebih tertarik pada 1 lukisan yang sangat besar, lukisan seorang wanita yang sangat cantik.
"Duduklah Jin'er," ujar Tang Zhou yang sudah duduk di kursinya.
Hyunjin mengangguk dan segera duduk di depan Tang Zhou.
"Apa kau tahu kenapa Guru mengajakmu kemari?" tanya Tang Zhou.
Hyunjin menggelengkan kepalanya. Tentunya dia tidak tahu maksud dari Tang Zhou kenapa dia mengajaknya kemari.
"Shushu menitipkan surat untukmu, tadi pagi Shushu sudah pulang bersama Kawaki dan tidak sempat pamit kepadamu. Jadi Shushu menitipkan surat padaku untukmu," jelas Tang Zhou seraya mengeluarkan gulungan kecil berwarna biru.
Hyunjin diam tak menjawab apapun tapi tangannya bergerak mengambil gulungan biru itu.
"Guru apakah ini gulungan rahasia? Sampai harus berdua saja?" tanya Hyunjin dengan polosnya.
'Pasti ada yang lebih penting, tidak mungkin Guru hanya mengundangku sampai harus berdua saja.'
Tang Zhou tertawa lantang sambil memegang perutnya. Ini Hyunjin yang polos atau memang bodoh?
__ADS_1
"Huahahaha ... tidak ada yang rahasia, itu hanya gulungan surat biasa. Guru mengajakmu ke sini karena Guru ingin bermain catur denganmu, sudah lama Guru tidak bermain catur," jawab Tang Zhou sambil tertawa.
Hyunjin terdiam sejenak menahan malu. Sepolos inikah Hyunjin? Padahal jiwanya jiwa 32 tahun.
"Bagaimana Jin'er? Apa kau mau?" tanya Tang Zhou yang masih melihat muridnya terdiam.
"Murid tidak bisa bermain catur Guru." Hyunjin menolak permintaan Tang Zhou secara halus.
"Baiklah, biar Guru ajarkan bagaimana cara bermain catur."
Beberapa menit Hyunjin kembali diam, Hyunjin gusar untuk menerima ajakan gurunya. Tapi menolak saja membuat Hyunjin tidak enak hati pada gurunya.
Hyunjin menghela nafas pelan dan berkata, "Jika seperti itu, murid tidak bisa menolak Guru."
Tang Zhou langsung tersenyum manis mendengar jawaban Hyunjin. "Baguslah, pelajari dengan baik."
Tang Zhou mengambil caturnya di rak. Akhir-akhir ini Tang Zhou sudah jarang memainkan catur karena merasa tidak mempunyai saingan di Kekaisaran Tang. Tang Zhou memang terkenal hebat bermain catur, belum ada yang bisa mengalahkannya selain istrinya sendiri.
Hyunjin mengambil anak caturnya dan langsung menyusunnya. Jujur saja sebenarnya Hyunjin tengah berbohong, sebebarnya Hyunjin bisa bermain catur. Namun saat ini Hyunjin tidak memiliki selera bermain catur, karena penyerangan tadi membuatnya khawatir.
Tang Zhou menaikkan sebelah alisnya melihat susunan Hyunjin yang begitu rapi.
'Bukankah dia bilang tidak tahu bermain catur?'
.
.
.
.
.
.
.
Selalu dukung karya author ya ;) dengan like, komen, vote, dan rate. Janganlah menjadi pembaca gelab 😥 komen semangat aja author dah seneng kok:)
Dan jangan lupa mampir ke cerita author yang lainnya ya!
Dan terimakasih atas dukungannya selama ini ;)
Minal Aidzin Walfa Idhzin, mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1