Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
5. Prajurit Naga Hitam


__ADS_3


Prajurit Naga Hitam



Ditepi jalan yang panas, Hyunjin berdiri seraya menengok kiri dan kanan, Hyunjij akan menyebrangi jalan. Terlihat beberapa para gadis yang ada di belakangnya menjerit kegirangan.


'Apakah aku setampan itu?'


Tak butuh waktu lama, lampu yang tadi hijau berubah merah, segera Hyunjin melangkahkan kakinya menyebrangi jalan. Dari belakangnya ikut para gadis tadi yang kegirangan melihat dirinya.


'Aku tahu aku memang tampan.'


Kaki Hyunjin tak berhenti berjalan, semakin ia percepat jalan kakinya. Kini panas semakin menyengat, kalau telur digoreng di jalanan pasti telur itu akan masak. Langkah kaki Hyunjin berhenti di depan cafe yang lumayan besar. Hyunjin berusaha mengatur nafas untuk tidak gugup, ia terlambat kerja lagi. Segera Hyunjin masuk ke dalam, tak lama sekitaran 3 menit ia sudah diusir keluar.


"Kamu saya pecat! Paham! Saya tidak ingin memiliki pekerja yang lelet dan malas seperti kamu! Sekarang pergilah!" teriak seorang pria paru baya botak, perutnya buncit, baju hitam dan celan hitamnya membuatnya seperti saudagar kaya. Sudah pasti dia bos di cafe itu.


Hyunjin tak ingin memperpanjang masalahnya, terlebih banyak orang-orang yang melihatnya diusir seperti hewan. Segera ia pergi sambil berumpat tidak akan pernah menginjak atau bahkan menyebut nama cafe itu.


"Dia bilang aku pemalas? Lihatlah pekerjamu yang lain, bahkan mereka lebih malas dariku. Siapa yang membersihkan WC di sana? Siapa yang membaguskan atap cafemu? Siapa yang mengecatkan tembok cafemu? Siapa yang sering lembur hingga pulang jam 3 subuh hanya untuk merapikan semua cafe? Tentu aku! Tapi kenapa aku yang sering dimarahi? Ditindas? Dan tak dihargai? Oh Tuhan kenapa ini terasa tidak adil padaku? Mereka hanya mau tahu tentang uang dan hasil tapi tidak memikirkan perasaan?" gerutu Hyunjin yang berteriak di depan kaca di depan sebuah tokoh butik.


Hyunjin memperhatikan dirinha yang kini sudah berubah semenjak cahaya ibunya masuk ke dalam tubuhnya. Kini rambutnya yang dulu hitam menjadi putih, matanya yang coklat biasa berubah menjadi biru terang.


'Percuma tampan tapi tidak punya harta banyak!'


Hyunjin kembali mengingat kejadian tadi pagi di rumahnya. 'Ahh! Sialan, ini semua gara putri gila itu!' umpat Hyunjin dalam hatinya.


"Hah!? Maksudmu aku?" Clarisa menunjuk pada dirinya sendiri.


"Mimpi!" balasku.


Prakk ....


Sebuah tamparan yang lumayan kuat mendarat di pipi kiri Hyunjin. Sarung pedang Clarisa berhasil membuat di pipi Hyunjin memerah dan panas. Clarisa menatap marah pada Hyunjin.


'kau pikir aku mau sama kau pria lemah dan bodoh!'


"Kenapa kau menamparku? Ini sakit tahu!" Hyunjin menatap tidak percaya pada Clarisa.


Clarisa tidak membalas, ia lebih memilih meninggalkan Hyunjin sendiri di rumah kecilnya itu. 'Paka!'


Hyunjin menatap aneh kepergian Clarisa.


'Dia sudah melukai tanganku sekarang dia menamparku?'


"Ehh?" Hyunjin terkejut melihat luka di tangannya mulai tertutup seperti semula. 'Apa ini mimpi?'

__ADS_1


Hyunjin perhatikan tangannya seraya memutar-mutarnya seolah mencari di mana letak luka itu.


'Di mana luka itu?'


Mengingat itu membuat Hyunjin semakin stres. Digaruknya kepalanya dengan kesalnya sambil berteriak tidak jelas.


"Hei! Kalau mau teriak jangan di depan butikku! Pergi kamu sana orang gila! Nanti pelangganku bisa takut gara-gara kamu!" Pemilik buti keluar, melepari kepala Hyunjin dengan botol plastik.


'Kau bilang aku orang gila? Apa kau tidak lihat betapa tampannya aku ini!? Ahh sudahlah mereka semua sama saja, menyebalkan!'


*****


Di depan rumah kecil berwarna hijau, tampak seorang gadis tengah duduk. Di punggungnya masih setia melekat pedang kesayangannya, kaki gadis itu menggosok-gosok di tanah. Dari sisih kanan jalan seorang pria berjalan cepat sambil mengumpat kesal. Pria itu menatap gadis yang tengah duduk di teras rumah.


"Eh rupanya dirimu kembali lagi putri gila?"


Clarisa menatap kesal ke arah Hyunjin, lebih tepatnya ia tidak suka dengan nama panggilan itu. "Bisakah kau hormat sedikit pada seorang putri? Pengeran macam apa kau?" balas Clarisa.


"Dihormati? Bagaimana mau menghormati sedangkan dirimu tak pernah menghargai seseorang? Mungkin dirimu tak pernah dianggap putri di kerajaanmu, coba lihat dirimu seperti pria, kasar dan menyeramkan!" celoteh Hyunjin seperti ibu rumah tangga yang kehabisan semua stok makanan.


Mata Clarisa tidak fokus pada Hyunjin, ia lebih fokus pada sekumpulan prajurit berbaju hitam di belakang Hyunjin, lebih tepatnya sekitar 20 meter dari mereka berdua. Baju sirah mereka bersinar terang, dan lambang itu sungguh tak asing di mata Clarisa. Clarisa segera bangkit dan langsung menarik tangan Hyunjin, lalu bergegas masuk ke dalam rumah serta mengunci pintu.


"Hei! Kenapa kau-"


"Ssttt! Jangan ribut!" Clarisa membekap mulut Hyunjin dengan tangannya.


Mata merah Clarisa mengintip di jendela. 'Sialan! Merekakan prajurit Naga Hitam, apa mereka mencariku?'


Tangan Hyunjin melepas dekapan mulutnya, dia kekurangan oksigen. "Apa kau ingin membunuhku yang kelima kalinya? Tanganmu bau anyir, habis membunuh apa kau!"


"Sstt! Bisakah kau diam, ada prajurit Naga Hitam menujuh ke sini. Apa kau ingin mati di sini?"


"Apa maksudmu?" Hyunjin ikut mengintip ke jendelanya.


'Astaga! Apa aku tidak salah lihat? Mereka banyak sekali.'


"Pasti mereka mencari kita berdua," ujar Clarisa kembali menutup kain jendela itu.


Hyunjin langsung menatap Clarisa. "Kenapa aku harus terbawa? Mereka pasti mencarimu bukan mencariku! Lebih baik kau keluar dan selesaikan urusanmu dengan mereka!" Hyunjin berniat mendorong Clarisa tapi segera ditepis Clarisa.


"Apa kau ingin aku mati karena mereka? Mereka itu tidak dapat mati! Mereka prajurit abadi! Sekuat-kuatnya diriku tapi aku belum mampu melenyapkan mereka!" timpal Clarisa memukul kepala Hyunjin dengan sarung pedangnya.


"Terus apa yang harus dilakukan? Aku belum mau mati! Bahkan aku belum membalas dendam pada bos sialan itu!"


"Tidak ada pilihan lain selain melawan mereka," jawab Clarisa datar.


"Hah!? Apa kau gila? Bagaimana melawan mereka yang begitu banyak, terlebih mereka tidak bisa mati!" Hyunjin berseru tidak setuju dengan ide Clarisa.

__ADS_1


"Terus kau ingin ngapain? Diam dan pasrah dibunuh oleh mereka? Aku tidak akan mati sia-sia di tangan mereka." Clarisa menjauhi pintu, bersiap melawan. Kini pedang kesayangannya terbuka, tajam dan mengkilat


'Shiki selalu haus darah, nah Shiki habisi mereka semua! Aku percaya padamu Shiki.'


Brakk ....


Pintu coklat rumah Hyunjin terhempas ke tombok. Masuklah sepuluh prajurit berbaju sirah hitam itu. Seluruh tubuh mereka tertutup oleh pakaian jirah terkecuali mata mereka, warna mata mereka berwarna merah sama persis seperti mata iblis.


"Bersiaplah melawan mereka," bisik Clarisa seraya maju dua langkah ke depan.


"Bunuh mereka berdua," ujar prajurit itu.


Maka maju semualah prajurit itu. Clarisa menepis serangan mereka dengan lihainya. Satu prajurit tumbang, namun dengan cepat bangkit lagi. Tangan Clarisa berputar lihai memainkan pedangnya, dengan sekejap 10 prajurit tumbang namun bangkit lagi.


'Bagaimana melenyapkan mereka?'


Tak bisa mengelak, Clarisa terus melawan mereka tanpa lelah. Melompat dan berputar serta berusaha menepis serang pedang musuhnya. 'Kalau seperti ini, tenagaku habis terkuras karena mereka!'


Hyunjin tampak bergetar di belakang Clarisa. Ini pertama kalinya ia melihat perkelahian yang begitu hebat, terlebih 10 prajurit itu melawan 1 wanita.


'Aku bisa apa? Ibu mana kekuatan yang kau maksud itu?'


Syatt ....


Satu pedang musuh berhasil melukai lengan Clarisa. Clarisa memegang luka lengannya yang lumayan lebar.


'Berani sekali prajurit ini melukai seorang putri terhormat!'


Perlahan Clarisa mundur 2 langkah ke belakang seraya memegang lukanya. Ditatapnya prajurit itu yang ikut melangkah maju mendekati mereka berdua.


'Sialan! Mereka tidak bisa dilenyakan!'


Kini mata merah Clarisa berubah semakin pekat. Di genggamnya pedangnya dengan kedua tanganya seraya mengarahkan pada prajurit itu.


'Apa yang bisa aku lakukan? Aku ingin membantu, tapi Aku tak punya sedikitpun kekuatan bahkan nyaliku lebih kecil daripada wanita di depanku ini.'


"Bisakah kau ikut membantuku? Kau seorang pria apa tidak bisa bertarung?" bisik Clarisa seraya menatap Hyunjin melotot.


"Ini zaman modern! Mana ada pertarungan seperi ini di sini, lagipula apa yang bisa kubantu!" Hyunjin tidak tahu harus berbuat apa, bahkan Hyunjin merasa lebih lemah dari Clarisa.


"Kau lawan 5 prajurit itu, dan aku akan melawan sisahnya. Paham!"


"Menyerahlah putri! Kau tidak akan bisa menang melawan kami," ujar salah satu prajurit Naga Hitam.


"Sepertinya kau tidak mengenal diriku lebih dalam? Kalian harusnya tahu kalau aku suka yang berbahaya dan menantang! Lalu buat apa menyerah sama kalian! Cih harga diriku sangat mahal!" balas Clarisa.


Maju lagi Clarisa melawan prajurit itu. Badannya bergerak secepat kilat, ayunan pedangnya begitu cepat. 5 prajurit itu berhasil tumbang namun sekejap bangkit lagi.

__ADS_1


Di sisi lain Hyunjin bersiaga menghadapi 5 prajurit. Ia bahkan tidak tahu mau melakukan jurus apa, tangannya bergetar sama halnya seperti kedua kakinya. Pedang-pedang mulai menghujani gerakan Hyunjin, hanya bisa menghindar tanpa membalas.


__ADS_2