Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
9. Tentang Yin Xieyu


__ADS_3

Seorang pria paru baya pun segera menghampiri bangsawan muda itu, rupanya pria ini sang pemilik penginapan sekaligus rumah makan ini. Raut wajah pria tua itu panik, dia mulai berkeringat dingin. Pria itu membungkuk memberikan hormat pada tamu spesialnya.


"Maaf pangeran Xieyu karena penghibur kami merusak kesenangan hatimu." Pria tua itu berucap hati-hati, takut posisinya juga akan sama seperti penari malang itu.


Xieyu memukul keras meja. "Aku tidak peduli! Segera berikan penari lain yang cantik! Sampai penari kali ini tidak becus! Akan kupenggal kepalamu beserta semua pekerjamu!" bentak Xieyu keras.


Pria itu menelan ludahnya, kali ini jantungnya berpacuh semakin cepat. "Tenang pangeran, kami ada 1 penari yang sangat cantik. Dia tidak akan mengecewakanmu," jawab pria itu pelan seraya membukuk lagi.


"Cepat bawa kemari penari itu!" Xieyu sedikit penasaran dengan penari yang dimaksud.


Pria tua itu mengisyaratkan pekerja lainnya untuk membawa penari lagi. Segera pekerja itu menganggukkan kepalanya paham dan bergegas mengambil penari lagi.


Di sisi lain Hyunjin sangat muak melihat perlakuan Xieyu. Baginya itu sudah kelewatan batas sampai harus memenggal. Hyunjin berniat menghampiri Xieyu ingin memberi pelajaran tapi Clarisa mencegatnya.


"Jangan ikut campur," ucap Clarisa pelan namun matanya tertuju pada Xieyu.


Hyunjin membuang nafasnya kasar, dia tidak bisa diam saja. Tapi membantah Clarisa sangat mustahil baginya, terutama juga Hyunjin tidak mempunyai kekuatan untuk melawan.

__ADS_1


"Apa kau tidak tega melihat perempuan diperlakukan seperti itu? Kau juga perempuan, bagaimana jika mereka juga diperlakukanmu seperti itu?"


"Belum. Nanti jika sudah kelewatan aku akan membereskan bangsawan kecil itu. Tenanglah."


"Apa itu belum kelewatan?" Hyunjin menatap Clarisa tidak percaya, baginya pria itu sudah kelewatan batas.


Clarisa tidak menjawab, dia masih fokus menatap Xieyu. Clarisa ingin melihat lebih kelakuan Xieyu bangsawan kecil itu, jika memang sudah kelewatan maka Clarisa juga akan memenggal kepala pria itu.


Tak lama 2 pria pekerja penginapan datang membawa seorang wanita. Wanita itu merontah-rontah ingin dilepaskan, matanya bangkak terlihat habis menangis, ada 2 garis cambukan di betis wanita itu. Di lehernya juga ada sebuah tato ular lambang marga keluarganya.


Rambut panjangnya yang kebiruan malam, matanya yang sayu, bibirnya yang kemerahan serta postur tubuh yang mungil membuatnya sangat cantik. Wanita itu hanya menggunakan sebuah kain besar yang menutupi tubuhnya, tak henti-hentinya wanita itu menangis dan memohon dilepaskan.


Setiba di depan Xieyu, 2 pekerja itu langsung mendorong wanita itu ke hadapan Xieyu. Digenggamnya kain yang menutupi tubuhnya sambil terisak tangis. Xieyu berjalan menghampiri wanita itu, dipegangnya dagu kecil wanita itu. Ada rasa puas pada Xieyu begitu melihat dekat dengan wanita itu.


"Hei gadis kecil, kau sangat cantik kalau boleh tahu siapa namamu?" Xieyu bertanya dengan lembut pada wanita di hadapannya.


Wanita itu tak menjawab, melainkan hanya menangis sambil memeluk tubuh kecilnya yang bergetar. Xieyu paham bahwa wanita itu sedang ketakutan besar.

__ADS_1


Clarisa menatap gadis penari itu, dia yakin dia sangat kenal gadis itu. 'Bukannya itu putri Yun Shu dari dusun Bambu? Anak ketua dusun Bambu. Bisa dibilang wanita itu satu suku dengan Hyunjin. Bukankah kesalahan besar mencari masalah dengan dusun Bambu, bangsawan kecil itu salah mengambil tindakan.' Kepala Clarisa menggelang pelan.


Xieyu menatap sekitarnya, dilihatnya Clarisa di pojok ruangan menatap dingin kepadannya. Xieyu sangat mengenali tatapan iris mata merah itu. 'Putri Clarisa Zero ada di sini?'


"Pelayan aku beli wanita ini!" Xieyu mempar sekatung koin emas di meja. "Isinya ada 200 koin emas, bukannya itu cukup?" Sambung Xieyu lagi.


Wanita itu yang tak lain bernama Yun Shu langsung menatap panik. Dia tak ingin pergi bersama Xieyu, segera Yun Shu merontah ingin kabur tapi pengawal lain sudah menahannya.


"Jangan jual aku Tuan! Lebih baik kau bunuh saja aku dari pada menjualku!" Yun Shu memohon pada pria tua itu, tapi tak dipedulikan pria itu dia lebih sayang nyawanya daripada menyelamatkan gadis itu.


"Hei jangan begitu gadis manis, aku tidak akan melukaimu. Akan kujadikan kau selirku di kediamanku." Xieyu mengelus Yun Shu pelan seraya menatap mematikan pada Yun Shu.


Yun Shu menelan ludahnya semakin takut, dia tidak yakin akan selamat bersama pria ini.


Xieyu segera mengajak pengawalnya pergi meninggalkan penginapan itu, dia tidak ingin Clarisa berurusan dengannya saat dia tahu Clarisa terus menatapnya dengan dingin sejak tadi. Pengawal Xieyu menyeret paksa Yun Shu masuk ke dalam kerata kuda.


Yun Shu berteriak minta tolong pada orang di sekitarnya tapi tidak ada yang mau membantunya, mereka semua takut berurusan dengan keluarga bangsawan. Yun Shu sempat menatap Hyunjin yang melihatnya sedih, Yun Shu sangat mengenali lambang di dahi Hyunjin.

__ADS_1


'Pangeran Hyunjin, tolong Yun Shu!'


Hyunjin juga melihat Yun Shu yang menatapnya sendu minta tolong. Hyunjin segera mengalihkan pandangannya melihat ke arah Clarisa, tidak tegah. Hyunjin ingin menolongnya tapi Hyunjin sadar tidak memiliki kekuatan.


__ADS_2