
Hyunjin merebahkan tubuhnya di kasur. Setelah selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Hyunjin langsung beralih menuju kasur merebahkan tubuhnya tanpa memakai baju, maksudnya Hyunjin tengah bertelanjang dada. Saat ini Hyunjin benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.
Hyunjin meletakkan tangan kanannya di dahinya, dan matanya menatap langit-langit kamar tapi pikiran melayang-layang entah ke mana.
'Kaisar Tang mengangkatku menjadi muridnya? Apa aku tidak bermimpi?'
Hyunjin kembali mengingat kejadian tadi pagi. Di mana Kaisar Tang mengangkat Hyunjin menjadi muridnya, padahal Hyunjin tidak merekomendasikan atau tertarik untuk menjadi murid Kaisar Tang.
"Jin'er. Kalau benar yang kau katakan itu, lalu bagaimana bisa kau bertemu dengan Jhu?" Tang Zhou sudah mendengarkan penjelasan Hyunjin mengenai bagaimana Hyunjin membunuh Danzo.
"Saya tidak ingat. Saya hanya ingat saat saya sudah terbangun saya melihat Paman Jhu sudah ada di sampingku. Beliau mengatakan menemukanku di pinggir pantai."
"Aahh ... rupanya kau bukan penduduk asli Kekaisaran Tang?" Tang Zhou mengelus dagunya pelan.
Hyunjin mengangguk, mengiyakan ucapan Tang Zhou, karena memang benar Hyunjin bukan penduduk Kekaisaran Tang atapun yang lain. Hyunjin sendiri datang dari masa depan.
Tang Zhou sedikit terkejut melihat Hyunjin begitu tenang, padahal Hyunjin tengah berhadapan dengan singa di Kekaisaran Tang.
"Jin'er aku ingin menjadikanmu murid keduaku, apa kau bersedia?" Tang Zhou sangat yakin anak muda di depannya ini sangat berbakat dan sangat sulit ditemukan.
Hyunjin terkejut, bahkan dia terbatuk pelan saat mendengar ajakan Tang Zhou kepadanya yang tiba-tiba. Sama pun seperti yang lain, mereka menatap tak percaya ke arah Kaisar mereka. Karena baru kali ini Tang Zhou tertarik ingin memiliki murid dari luar.
"Apa Kaisar tidak bercanda?" Hyunjin menatap Tang Zhou sambil tersenyum kikuk.
"Aku tidak bercanda Jin'er. Aku akui kau mampu membuatku tertarik untuk menjadikanmu murid keduaku setelah putriku. Apa kau mau Jin'er?"
"Tentu ini adalah kesempatan yang tidak bisa ditolak, tapi saya tidak memiliki nama bangsawan apapun. Saya hanya manusia rendah biasa ..." Hyunjin merendahkan dirinya, Hyunjin rasa dia tidak cukup pantas untuk menjadi murid dari Kaisar Tang.
"Aku tidak tertarik dengan status seseorang Jin'er. Sekali lagi kutanyakan padamu, apa kau mau menjadi muridku?"
Beberapa menit Hyunjin terdiam memikirkan tawaran dari Tang Zhou. Sebenarnya tawaran Tang Zhou tidak membuat Hyunjin rugi sedikitpun, tapi yang Hyunjin bingungkan adalah kenapa Kaisar Tang tiba-tiba mau menjadikannya murid?
"Tentu saya mau Kaisar Tang." Hyunjin membungkuk memberi hormat lagi kepada Tang Zhou.
Tang Zhou tersenyum lebar, entah kenapa saat mendengar Hyunjin menerima tawarannya membuat Tang Zhou bahagia.
"Baiklah Jin'er, kau resmi menjadi muridku. Sekarang sebut berapa usiamu?"
Hyunjin terdiam beberapa detik, dan akhrinya menjawab, "7 tahun Guru."
Semua yang mendengar jawaban Hyunjin terkejut hebat, tentunya mereka tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan Hyunjin. Terlebih Tang Zhou yang terbatuk karena terkejut mendengar jawaban Hyunjin.
"Jin'er apa kau tidak bercanda? Lihatlah tubuhmu yang lumayan kekar, bukankah umurmu seharusnya 13 atau 14 tahun?"
"Saya tidak bercanda ataupun berbohong pada Guru."
*****
Di bawah pohon persik yang rindang, tampak seorang gadis tengah bermain pedang dengan lihainya. Gadis itu berputar-putar indah seraya mengayunkan pedangnya. Namun satu kekurangannya, kakinya tampak pengkar sebelah. Kaki kanan gadis itu sedang dibaluti perban putih yang menutupi dari pahanya hingga ujung kakinya.
__ADS_1
Sesekali gadis itu meringis kesakitan karena sakit kakinya, tapi tentunya tidak akan membuatnya menyerah dalam berlatih.
Mungkin jika kalian melihat gadis muda itu, kalian akan berpikir bahwa gadis itu berusia 9 atau 10 tahun, tapi aslinya gadis itu berusia 6 tahun.
Yang membuatnya terlihat begitu dewasa ialah kekuatan sihir yang ada pada dirinya. Lebih tepatnya bukan sihir tapi semacam hewan mitologi. Di dalam tubuh gadis ini ada hewan berkekuatan besar yang disegel dengan rapat. Dan hewan itu terus mengalirkan QI, tenaga dalam dan energinya, membuat gadis ini terus tumbuh dan berkembang sepanjang waktu. Gadis ini juga sangat akrab dengan hewan yang tersegel di dalam tubuhnya.
Tidak hanya itu, gadis ini juga terlahir dengan tulang yang lumayan istimewa, tidak semua bayi yang lahir bisa mendapat tulang seperti gadis ini. Jenis tulang gadis ini adalah tulang Singa Emas. Tulang terkuat urutan ke 2.
Jenis-jenis kualitas tulang dibagi menjadi 4 bagian, ada tulang Dewa Naga, tulang Singa Emas, tulang Harimau Biru dan yang terakhir tulang Macan Putih.
Setiap jenis tulang memiliki kualitas yang berbeda, seperti tulang Dewa Naga adalah kualitas tulang paling tinggi, kualitas tulang Naga sangat sulit ditemukan di mana pun. Tulang Dewa Naga tidak bisa patah dengan pukulan benda apapun terkecuali hantaman yang begitu kuat dan sangat keras, dan juga pemilik tulang Dewa Naga akan sangat sulit dikalahkan. Tidak banyak yang memiliki tulang Dewa Naga, mungkin hanya ada 2 atau 3 orang di dunia yang mampu menggapai kualitas tulang Dewa Naga, Dan Daimont adalah salah satu yang memiliki kualitas tulang Dewa Naga.
Ke dua tulang Singa Emas, tulang berkualitas ke dua setelah tulang Dewa Naga. Tulang Singa Emas sama seperti kualitas tulang Kaisar Tang. Dan pemilik tulang seperti tulang Singa Emas hanya bisa dihitung dengan jari, tidak banyak yang bisa menggapai kualitas tulang Singa Emas.
Ke tiga tulang Harimau Biru, tulang berjenis seperti ini banyak dimiliki para pendekar tinggkat lencana raja dan lencana suci. Seperti Jhu dan para kementerian Kekaisaran Tang.
Dan yang terakhir kualitas tulang Macan Putih, kualitas tulang seperti ini sering kali dijumpai dengan para pendekar kelas 1 dan 2.
"Ayolah, kenapa kaki ini tidak bisa diajak berkerjasama?" Gadis itu berdecak kesal, karena setiap kali dia berputar kakinya selalu memberi rasa nyeri padanya.
"Sebaiknya jangan dipaksakan, apa kau ingin berhenti berjalan selamanya?"
Tiba-tiba suara lain menimpali gadis yang tengah berdecak kesal. Gadis itu membalikkan badannya dan melihat seorang pria dewasa tengah memasang wajah kesal padanya.
"Ayah." Gadis itu menggaruk kepalanya seraya tersenyum kikuk pada pria di hadapannya, yang tidak lain adalah ayahnya.
"Clarisa, kenapa kau keras kepala sekali? Sudah Ayah katakan jangan memaksakan diri sebelum kakimu sembuh total. Apa kau ingin Ayah mengurungmu di kamarmu seminggu?" Pria itu menghampiri gadis kecil di hadapannya.
Clarisa berjalan mendekati Ayahnya, dipeluknya tangan Ayahnya. Tentunya Clarisa ingin membujuk Ayahnya untuk membatalkan niat Ayahnya.
"Ahh ... Ayah. Aku bosan di kamar. Aku barusan saja bermain pedang Shiki."
Pria itu menggelengkan kepalanya, dia tahu Clarisa itu jika sudah punya keinginan sukar untuk dibantah. Lebih tepatnya Clarisa keras kepala.
"Apa Haci tidak mengingatkanmu?"
"Dia mengingatkanku Ayah, Ayah jangan menyalahkannya. Nanti Haci tidak mau bermain denganku lagi." Clarisa menekuk wajahnya cemberut, jika Haci ikut terkena imbasnya sesuai yang dikatakan Haci dia tidak akan mau lagi berteman dengan Clarisa.
Kalian pasti bertanya, siapa Haci? Haci adalah hewan mitologi di dalam tubuh Clarisa. Sejak pertama Clarisa bertemu dengannya, Clarisa sudah memberi nama hewan itu Haci.
"Baiklah, Ayah memaafkanmu kali ini." Pria menatap putri yang sedang cemberut.
Pria itu tahu bahwa Clarisa memang tidak memiliki teman seorang pun selain Haci. Sebenarnya banyak yang ingin berteman dengan Clarisa, tapi mengingat ada hewan berkekuatan besar di dalam tubuh Clarisa, membuat mereka enggan untuk mendekat pada Clarisa. Semenjak Haci pernah keluar dari Clarisa dan memakan banyak jiwa membuat Clarisa dijauhi dan ditakuti.
Haci adalah hewan seperti singa namun memiliki 5 ekor berwarna putih. Haci adalah hewan mitologi yang disegel Daimont di dalam tubuh Clarisa saat Clarisa lahir.
Ada cerita misteri tentang Haci, Clarisa dan Daimont yang sengaja ditutupi 6 tahun yang lalu.
"Shushu sudah kembali, apa kau tidak ingin menjumpainya?" tanya pria itu pada Clarisa.
__ADS_1
Clarisa menggelengkan kepalanya, dia tahu Yun Shu tidak akan mau bertemu dengannya. Itu semua semenjak kejadian setahun yang lalu, saat Haci berusaha mengendalikan jiwa Clarisa. Dan akhirnya membuat banyak kejadian buruk yang sulit dilupakan semua penduduk Kekaisaran Tang.
Semenjak kejadian itu juga, Clarisa tidak mempunyai teman seorang pun. Hanya ada Haci dan Ayahnya yang masih mau menemaninya. Ibu Clarisa sudah meninggal saat berusaha menyelamatkan Clarisa dari Daimont, dan akhirnya dia tewas di tangan Daimont.
"Baiklah, Ayah tidak akan memkasamu. Tapi sore nanti Ayah akan mengenalkanmu dengan murid baru Ayah. Namanya Hyunjin, dia akan menjadi teman seperguruan denganmu Clarisa. Ayah harap kau tidak melakukan hal aneh padanya."
Clarisa menengok ke arah Tang Zhou, ayahnya sendiri. "Sejak kapan Ayah? Kenapa aku tidak mendengar beritanya?"
"Sejak dia datang bersama Shushu tadi pagi."
"Seperti apa dia Ayah? Apa dia tampan seperti Ayah? Atau jelek? Apa dia kuat seperti Ayah?" Clarisa tampak sangat bersemangat. Mendengar dia akan memiliki teman berarti dia tidak akan kesepian lagi.
******
Hyunjin beranjak dari kasurnya, dia ingat bahwa sore ini gurunya Tang Zhou akan mengenalkannya dengan putrinya sekaligus teman seperguruan Hyunjin nanti. Sebenarnya Hyunjin tidak terlalu tertarik untuk berkenalan dengan siapapun, mau dia anak bangsawan terkenal sekalipun. Tapi mengingat ini adalah putri gurunya, dan juga teman seperguruannya. Tidak ada salahnya untuk mengenalnya.
Hyunjin menggunakan baju hanfu biasa berwarna putih polos. Saat Hyunjin mengganti baju, dia sedikit terkejut melihat ada gambar tato kristal di dadanya, tidak terlalu besar namun telihat sangat jelas karena sangat mencolok. Hyunjin bingung, sejak kapan tato kristal itu muncul?
'Sejak kapan gambar ini muncul?'
Hyunjin berjalan mengikuti seorang prajurit yang akan membimbingnya menuju tempat pelatihannya nanti. Selama perjalanan Hyunjin menyempatkan melihat sekelilingnya, dia akan berusaha mengingat semua tempat baru.
Prajurit itu membawa Hyunjin ke suatu bukit di dekat Kekaisaran, bukit itu banyak ditumbuhi pohon persik. Dan di bukit itu juga ada satu kastil kecil yang lumayan tua, Hyunjin bisa menebak usia kastil itu sekitaran seribu tahunan yang lalu.
Setelah mengantar Hyunjin, prajurit itu langsung pergi meninggalkan Hyunjin dengan terburu-buru, bahkan prajurit itu juga memberitahu Hyunjin untuk berhati-hati dengan putri Kaisar Tang.
"Ada apa dengan putri Kaisar Tang? Apa dia pemakan manusia?" Hyunjin berjalan mengelilingi kastil kecil itu. Matanya menatap segela penjuru yang begitu memanjakan mata. Pemandangan di bukit ini tidak bisa dipungkiri, sangat indah dan menyejukkan.
Hyunjin mendekati salah satu pohon persik, dahinya berkerut melihat ada beberapa tebasan pedang di batang pohon persik itu. Dan itu adalah tebasan baru.
"Rupanya putri Kaisar pintar dalam bermain pedang. Tebasannya lumayan, tapi masih sedikit lemah." Hyunjin merabah luka tebasan di pohon itu seraya berpikir seperti apa putri Kaisar.
"Jin gege!" teriak salah seorang dari belakang Hyunjin.
Hyunjin membalikkan badannya, dan terkejut melihat ada seorang gadis di belakangnya. Gadis itu memakai baju dress hitam dan merah. Rambutnya tergerai sebahu serta 2 jepitan imut di rambutnya. Yang paling membuatnya imut ialah poni yang menutupi alisnya.
'Mimpikah ini?'
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selalu dukung karya author dengan like, rate, dan vote 😊