Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
19. Kembali Tapi Keadaan Telah Berbeda


__ADS_3

'Inikah Surga?'


Itulah ucapan dibatin Hyunjin setelah membuka matanya dan melihat langit gelap yang penuh taburan bintang, sungguh cantik. Hyunjin berusaha mengubah posisinya menjadi duduk tapi seluruh tubuhnya terasa sakit.


'Apa di Surga juga harus merasakan sakit seperti ini? Bukannya aku sudah tenang dan mati dengan keadaan damai?'


Hyunjin menatap taburan bintang di langit dan berisaha mencerna ucapannya barusan tentang damai.


'Ahh bodohnya aku! Berbicara tentang damai? Dendam bodoh mengalahkan Daimont saja aku belum bisa! Maaf Clarisa, aku tidak bisa menepati sumpahku!"


Sekali lagi Hyunjin menggerakkan tubuhnya. "Kenapa saat matipun masih harus merasakan sakit seperti?" Hyunjin berteriak histeris, dia merasa hidupnya selalu penuh dengan sakit dan berbelit-belit, bahkan dia sendiri tidak mengerti dengan kehidupannya.


"Ah rupanya kau sudah sadarkan diri? Aku kira butuh beberapa hari lagi?"


Hyunjin segera memalingkan pandangannya ke samping. Dia menemukan pria yang sama muda dengannya, hanya saja dia sedikit panuh luka sayatan pedang pada pipi dan keningnya. Wajah pria itu sangat tidak asing bagi Hyunjin.


"Kakek Tang Jhu, kakek terlihat muda di alam baka. Apa alam baka membuat yang tua kembali muda?" Hyunjin segera mengenali pria itu yang tak lain kakek Tang yang pernah merawatnya di dunia era modern.


Tang Jhu yang tadinya tersenyum hangat langsung beruba menjadi waspada, bahkan niatnya untuk menghampiri Hyunjin juga terhenti. "Anak kecil dari mana kau tahu namaku Tang Jhu? Siapa kau?"


Hyunjin mengerutkan dahinya ketika Tang Jhu memanggilnya anak kecil, tentunya Hyunjin sudah tua berumur 30 tahunan. Hyunjin segera memeriksa tubuhnya, benar saja tangannya yang dulu kekar dan besar sekarang mengecil bahkan kurus. Kakinya yang besar dan lebar sekarang mengecil.


"Apa-apaan ini? Kenapa aku menjadi kecil!?" Hyunjin menjerit keras seraya memegang kepalanya yang mulai sakit, dia tidak mengerti apa yang telah terjadi dengannya sekarang.


Tang Jhu yang tadinya waspada sekarang berubah menjadi ibah, segera dia memeluk tubuh kecil Hyunjin agar Hyunjin tenang. Tang Jhu sangat paham dengan keadaan anak kecil yang dipeluknya ini, terdampar di laut seorang diri, sudah pasti keluarga lainnya tewas di tengah laut Biru. Apalagi laut itu terkenal laut buas.


Pelukan ini, pelukan yang Hyunjin sangat rindukan, pelukan ini sering memberi Hyunjin kehangatan di saat duka maupun suka di waktu Hyunjin masih kecil. Tanpa sadar Hyunjin kembali tenang dalam pelukan Tang Jhu. Setelah Hyunjin mulai tenang, Tang Jhu langsung memberi air minum yang Tang Jhu bawa dalam botol bambu. Ini air minum perbekalan Tang Jhu sekaligus air jahe merah yang sangat berkasiat.


Malam itu Hyunjin tidak bisa tertidur sedikitpun, ia berusaha mencari jawaban apa yang telah terjadi dengannya. Sedangkan Tang Jhu juga tidak tertidur karena menjaga Hyunjin, takutnya Hyunjin menjerit lagi seperti tadi.


'Apa maksudnya ini? Kenapa aku kembali menjadi anak kecil umur 7 tahun. Ahhh ... kepalaku mau pecah memikirkan ini!'


Tang Jhu menatap nanar pada Hyunjin yang tengah sibuk memeriksa dirinya sendiri. Sedangkan Hyunjin terus berpikir keras tentang apa yang terjadi dengannya.


'Apa aku diberi kesempatan untuk memenuhi sumpahku?'


'Tapi kenapa aku kembali ke umurku 7 tahun?'


'Aarrggg! Bisa pecah kepalaku memikirkan ini terus!'


'Oke baiklah, jika aku diberi kesempatan untuk mengubah takdir lagi dan memenuhi sumpahku maka akan kulakukan!'


Hyunjin menatap Tang Jhu yang langsung tersenyum hangat dengannya. Senyuman itu senyuman yang Hyunjin rindukan, Tang Jhu kakek yang pernah merawatnya di dunia era modern. Kakek Tang Jhu adalah sosok pengganti orang tua Hyunjin di dunia.


"Anak muda, bisa ceritakan padaku kenapa kau bisa terdampar di laut?" Tang Jhu mulai bertanya pada Hyunjin saat Hyunjin sudah mulai tenang seperti biasa.


Hyunjin menggaruk kepalanya. "Aku tidak tahu Kakek," jawab Hyunjin pelan seraya mulai menunduk.


'Tunggu dulu! Kalau aku kembali ke umur 7 tahun, seharusnya aku ada di dunia modern!? Bukan di dunia Fantasi ini! Ada apa ini? Apa salah satu takdir telah berubah? Dan membuatku terlahir di dunia Fantasi bukan modern.'


'Sepertinya anak muda ini lupa ingatan, malang sekali nasibmu anak muda.'

__ADS_1


Tang Jhu mendekat pada Hyunjin seraya mengelus kepalanya. Hyunjin mengangkat kepalanya dan menatap sendu pada Tang Jhu. "Anak muda, aku belum terlihat tua bukan? Lalu kenapa kau memanggilku Kakek? Umurku masih 34 tahun dan lagipun aku belum menikah." Tang Jhu mengalihkan pembicaraan tadi, takut Hyunjin malah kembali sedih.


'Tapi, anda kakekku di dunia modern.'


"Maafkan aku Paman Tang Jhu, karena telah memanggilmu Kakek." Hyunjin menunduk memberi hormat, Hyunjin sangat menghargai Tang Jhu yang pernah merawatnya selama 14 tahun.


"Tidak apa-apa anak muda. Oh ya siapa namamu anak muda?"


"Hyunjin Paman," jawab Hyunjin.


"Jin'er, Paman akan memanggilmu Jin'er." Tang Jhu kembali mengusap kepala Hyunjin pelan.


'Paman, apa kau tidak mengingatku?'


Hyunjin hanya mengangguk pelan pada Tang Jhu lalu memalingkan wajahnya ke samping kanan. Hyunjin malu diperlakukan seperti ini, walau dia sangat rindu pada Tang Jhu tapi diperlakukan seperti anak kecil seperti ini sedangkan jiwannya jiwa 30 tahunan, bisa dikatakan seusia dengan Tang Jhu walau Tang Jhu tua beberapa tahun.


Tang Jhu mulai bertanya seluk beluk Hyunjin pada Hyunjin, dan Hyunjin menjawabnya dengan berbohong. Dia berbohong jikalau dia berasal dari desa Melodi, dia berbohong jika dia bisa terdampar di laut akibat melompat dari kapal karena dia mau di jual menjadi budak. Karena tidak mungkin Hyunjin menceritakan semua yang dialaminya di kisah sebenarnya, ada nantinya Tang Jhu menganggap dia tidak waras.


Tang Jhu yang mendengar penjelas Hyunjin merasa sangat simpati, Tang Jhu jadi tidak tega meninggalkan Hyunjin sendiri di pinggir pantai seperti ide sore tadi. Tang Jhu berniat ingin membawa Hyunjin ke dusun Bambu Merah dan tinggal bersamanya.


'Kasihan sekali anak muda ini.'


Tapi ada sedikit keterkejutan Tang Jhu saat mendengar penjelasan Hyunjin. Hyunjin menjelaskan dengan nada antusias tanpa ada rasa sedih atau menangis, karena biasanya anak seusia Hyunjin jika menceritakan tentang kejadian seperti itu pasti menangis bergetar karena takut. Sedangkan Hyunjin dia sangat santai menjelaskannya tanpa ada rasa takut.


*****


Keesokan paginya Tang Jhu mengajak Hyunjin untuk ikut bersamanya pergi ke tempat tinggalnya jika Hyunjin mau. Ternyata Hyunjin mau ikut bersama Tang Jhu, sebenarnya Hyunjin juga tidak tahu jika dia ikut Tang Jhu apa ada yang terjadi nanti apa tidak. Tang Jhu sangat senang ternyata Hyunjin mau ikut bersama dengannya, maka berangkatlah mereka berjalan kaki meninggalkan desa Pantai Perak menuju Dusun Bambu merah.


Selama perjalanan menuju tempat tinggal Tang Jhu, Tang Jhu selalu memperhatikan Hyunjin. Ada rasa kagum di hati Tang Jhu saat melihat Hyunjin yang begitu bersemangat menuju tempat tinggalnya, padahal Hyunjin baru saja menerima musibah dan seharusnya dia bersedih dan tidak bersemangat.


"Jin'er. Perjalan menuju dusun Bambu tidaklah dekat. Butuh 2 hari dari sini menuju ke sana, apa kau tidak masalah kita berjalan kaki seperti ini?" Tang Jhu merasa tidak enak melihat Hyunjin terus berjalan 1 hari ini tanpa henti melewati jalur hutan, bukit dan beberapa sungai.


Hyunjin menggeleng seraya tersenyum pada Tang Jhu. "Tidak Paman, Jin'er tidak masalah."


Tang Jhu tersenyum, anak kecil bersama Tang Jhu selalu berhasil membuat Tang Jhu terkejut. Ini sudah 1 harinya mereka berjalan tanpa henti, anak seusia Hyunjin biasanya selalu mengeluh atau merengek berjalan sejauh ini.


"Jin'er. Di depan nanti akan ada desa Bata Putih. Kita akan beristirahat di penginapan nanti."


'Desa Bata Putih? Desa apalagi ini? Sebelumnya Bambu Merah sekarang Bata Putih? Nama desa ini tidak pernah aku dengar sama sekali.'


Hyunjin menoleh pada Tang Jhu, dia sangat penasaran dengan apa yang ada dipikirannya, apa ada yang telah berubah dengan takdir. "Paman, bolehkah Jin'er bertanya?" ujar Hyunjin.


"Silakan Jin'er. Apa yang ingin kau tanyakan?"


Hyunjin kembali menatap ke depan, sejenak dia berpikir untuk mengutur pertanyaannya agar Tang Jhu tidak curiga dengannya. "Paman, Jin'er masih terlalu muda, Jin'er tidak pernah berjalan jauh seperti ini. Bolehkan Jin'er bertanya ada berapa negara yang berkuasa sekarang?"


Tang Jhu terkejut, Tang Jhu pikir Hyunjin akan bertanya perihal tentang penginapan seperti apa yang nanti akan mereka tempati, atau perihal lain tentang kenyamanan.


"Jin'er di dunia ini ada 4 negara yang berkuasa. Yaitu negara Tang, Wei, Jiu, dan Destopia. Bagian timur adalah Negara Kekaisaran Tang, lalu bagian barat Kerajaan Wei, sedangkan bagian tengah Destopia, dan bagian utara adalah Kekaisaran Jiu," jelas Tang Jhu.


'Sudah kuduga, ada takdir terdahulu yang berubah! Dulu waktu kehidupanku pertamaku ada 6 negara, dan semua penguasa adalah kerajaan. Aku benar-benar bingung sekarang!'

__ADS_1


"Apa kau paham dengan penjelasan Paman Jin'er?" Tang Jhu bertanya karena Hyunjin beberapa menit terdiam seperti tidak paham.


"Ahh ... paham Paman. Paman menjelaskannya sangat baik, Jin'er sangat paham paman," balas Hyunjin seraya tersenyum kaku.


"Baguslah jika Jin'er paham." Tang Jhu tersenyum pada Hyunjin, padahal Tang Jhu pikir Hyunjin tidak akan paham tentang hal seperti ini.


"Paman boleh aku bertanya sekali lagi?"


"Apa itu Jin'er? Tanyalah," balas Tang Jhu yang mulai antusias.


"Sekarang kita ada di negara apa Paman?"


Tang Jhu terkekeh pelan. "Apa Jin'er tidak tahu?" tanya Tang Jhu. Hyunjin hanya menggelang membuat Tang Jhu mulai gemas dengannya. "Kita ada di negara kekaisaran Tang," jawab Tang Jhu.


'Kekaisaran Tang? Seperti apa peragai pemimpinnya.'


Setelah itu Hyunjin kembali diam, dia ingin berpikir secara logis. Dia terus bertanya-tanya di mana 6 negara yang ada dikehidupannya dulu? Kerajaan Zero? Kerajaan Maxhi? Kerajaan King Ice? Kerajaan Blue Flash? Kerajaan Gold? Kerajaan Rain? Bukankah ini 6 negara terdahulu di kehidupan Hyunjin. Hyunjin sangat ingat, tidak ada negara seperti ini di kehidupan pertamannya.


Setelah menempuh perjalan yang cukup lama, akhirnya Tang Jhu dan Hyunjin tiba di desa Bata Putih. Desa yang cukup ramai dan bersih, banyak kehidupan di desa ini. Dan tentunya ada beberapa bangsawan yang berkeliaran di desa ini bersama para prajuritnya.


Hyunjin memandang kegiatan para warga di desa Bata Putih. Berbeda dengan dulu, desa ini tampak sejahtera dibandingkan dengan desa di kehidupan pertama Hyunjin.


"Paman, apa paman mengenal Fang Wan?" tanya Hyunjin saat mereka sudah masuk ke dalam kamar penginapan yang sudah di sewa Tang Jhu.


Tang Jhu menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik menatap Hyunjin. "Jin'er apa kau mengenal pangeran Fang Wan?" Tang Jhu malah bertanya balik.


Hyunjin terdiam, dia baru sadar telah bertanya satu hal yang salah. Hyunjin memutar otak mencari alasan agar Tang Jhu tidak salah paham.


"Tidak Paman, hanya saja Jin'er seringkali mendengar namanya. Seperti apa perangai pangeran Fang Wan Paman?"


Tang Jhu menghela nafasnya pelan lalu mengambil posisi duduk di pinggir tembok. "Kemarilah Jin'er." Tang Jhu memanggil Hyunjin, tangannya pun ikut bergerak memanggil Hyunjin.


Hyunjin berjalan menghampiri Tang Jhu dan berduduk sila di hadapan Tang Jhu.


"Nama pangeran Fang Wan memang sering terdengar akhir-akhir ini. Paman kira Jin'er mengenalnya." Tang Jhu menatap Hyunjin yang sedang menggelangkan kepala.


"Kau ingin mengetahuinya Jin'er?"


"Iya Paman."


"Pangeran Fang Wan adalah pangeran yang sangat berbakat di kekaisaran Jiu. Pangeran Fang Wan adalah keturunan tetua dari desa es, tidak hanya tampan tapi dia juga kuat. Saat ini pengeran Fang Wan dijuluki si muda berbakat, umurnya tak jauh berbeda dengan Jin'er. Soal perangainya?" Tang Jhu berhenti sejenak.


"Dia sedikit ceroboh dan lugu. Kadang sifatnya yang keras kepala membuat kakeknya Tang Hao geram." Lanjut Tang Jhu seraya menatap Hyunjin yang sedang terkekeh.


'Lihatlah si bocah ceroboh itu! Tidak ada yang berubah dari sifatnya! Dia tetap saja sama seperti yang kukenal, ceroboh dan keras kepala. Fang Wan apa kabar dirimu sekarang? Aku harap kau masih mengingatku.'


"Jin'er apa ada yang lucu?" Tang Jhu mengerutkan keningnya bingung melihat Hyunjin yang terkekeh tidak jelas.


"Ahh ... tidak ada paman. Jin'er hanya merasa penasaran dengan pangeran Fang Wan," balas Hyunjin tersenyum kaku.


"Mungkin suatu hari kau akan bertemu dengannya Jin'er."

__ADS_1


Hyunjin hanya mengangguk pelan setuju dengan ucapan Tang Jhu.


__ADS_2