Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
38. Terkejut


__ADS_3

"Bagaimana? Apa mereka sudah pergi menangkap anak kecil itu?" tanya Jing Kun datar.


"Sudah Tuan, pasukan kelas 1 sudah pergi," jawab salah satu pendekar di depannya.


Jing Kun menarik senyum licik, sekarang rencananya berjalan sesuai keinginannya. Jika Daimont tidak mau menangkap anak itu, biarkan Jing Kun yang bergerak sendiri. Jing Kun memiliki kekuasaan yang lumayan besar di aliansi Naga Hitam. Sebagian besar Jing Kun bisa mengerahkan pasukan Naga Hitam tanpa hadangan dari orang lain kecuali Daimont.


"Baiklah, aku menunggu kabar baik."


Jing Kun langsung melenggang pergi meninggalkan 3 prajuritnya.


'Tenang Tuan Daimont, aku akan membalaskan kematian adikmu, Danzo.'


Jing Kun memang dalang dari penyerangan mendadak. Jing Kun ingin menangkap Hyunjin setelah mengetahui siapa pembunuh Danzo, Jing Kun yakin Daimont ingin memiliki anak muda berbakat seperti Hyunjin untuk dimanfaatkan.


*****


Yun Shu berlari menuju gerbang Kekaisaran. Setelah dia mendengar jawaban dari Kawaki bahwa Kaisar Tang ada di gerbang depan Kekaisaran, segera Yun Shu berlari menuju gerbang.


Yun Shu terus berlari walau beberapa prajurit dan pelayan sudah mengingatkannya untuk tidak berlari.


Yun Shu keluar dari Kekaisaran, berlari lagi dia di hamparan taman depan Kekaisaran. Ke dua tangan kecilnya menggenggam erat gaunnya untuk mempermudah larinya.


Mata hijau Yun Shu menemukan Kaisar Tang tengah berdiri di depan gerbang seperti sedang menunggu seseorang.


"Paman!" teriak Yun Shu sambil berlari.


Tang Zhou membalikkan badannya, dan melihat Yun Shu tengah berlari padanya. Tang Zhou menarik senyum hangat pada Yun Shu.


"Ada apa Shushu?" tanya Tang Zhou saat Yun Shu sudah berada di depannya.


Yun Shu menarik nafas sejenak, tangan kirinya memegang lututnya sedangkan tangan kanan memberi tanda 'tunggu sebentar'. Nafas Yun Shu masih belum stabil, dari aula dalam Kekaisaran hingga tiba di gerbang Yun Shu terus berlari tanpa henti.


Tang Zhou terkekeh pelan melihat keponakannya, wajah kemerahan Yun Shu sangat lucu. Tang Zhou bersedia menunggu keponakannya yang sedang menarik nafas sebanyak yang dia mau.


"Huh ... hahh. Paman ... di mana Jin'er?" Yun Shu langsung melontarkan pertanyaannya sambil melihat ke arah Tang Zhou, wajahnya masih sedikit memerah, nafasnya juga masih tersendat-sendat.


"Dia sedang ke alun-alun kota. Ada apa Shushu mencarinya?"


"Ahh? hum ... tidak ada Paman, hanya saja Shushu ingin memberikan ini padanya."


Yun Shu melihatkan sebuah gulungan kecil berwarna biru.


"Paman akan memberikannya pada Jin'er." Tang Zhou memasang senyum hangat pada Yun Shu. Tang Zhou paham maksud dari gulungan yang dilihatkan Yun Shu.


"Terimakasih Paman. Paman katakan pada Jin'er, aku sangat berterimakasih atas bantuannya."

__ADS_1


Tang Zhou mengangguk pelan, dia tahu bahwa keponakannya ini sangat merasa berhutang budi pada Hyunjin. Setelah berhasil menyelamatkan Yun Shu dari aliansi Naga Hitam.


"Kapan Jin'er pulang, Paman?" sambung Yun Shu lagi seraya menengok ke arah jalan hutan Suara menuju alun-alun kota.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Tang Zhou yang juga ikut melihat ke arah hutan Suara.


"Baiklah Paman, Shushu pamit pulang. Jaga diri Paman baik-baik. Dan salam untuk Clarisa."


Yun Shu melambaikan tangannya seraya berjalan masuk ke dalam. Kereta kuda penghantar pulang Yun Shu ke keluarganya sudah menunggu. Kawaki akan mengantar kepulangan Yun Shu sampai di kediamanan bangsawan Shu.


*****


Plasstt ....


1 anak panah lewat begitu cepat di dekat lengan kanan Clarisa. Ya ... Hyunjin baru saja melesatkan anak panahnya di dekat Clarisa. Tangan Hyunjin mengambil 1 anak panah lagi dengan cepat dan menembakkannya lagi.


Setiap musuh yang hendak menyerang Clarisa, selalu ada anak panah yang mencul dari belakang Clarisa.


Clarisa tersenyum dan terus berjalan santai ke depan. Bahkan pedangnya masih terseret di tanah belum bergerak untuk menyerang musuh.


"Serang!!!" Suara seruhan menggema, puluhan pendekar maju menyerang dengan senjata mereka masing-masing.


Plasstt ....


Hyunjin berguling-guling sambil melontarkan anak panahnya. Mata kirinya terus membidik sasaran dengan sempurna. Tangannya kirinya tidak hentinya mengambil anak panahnya.


Clarisa masih berjalan seperti biasa. 5 anak panah lewat lagi dari bahu kiri dan kanan, atas kepala, dan ke dua sisi kiri-kanan telinganya. Tidak ada anak panah yang melukai Clarisa, padahal Clarisa terus bergerak ke depan tanpa bergerak ke belakang.


Pemanah yang mahir bukan?


Musuh tumbang satu persatu, mereka tidak bisa menangkis atau menghindar dengan cepat anak panah yang mengarah pada mereka. Anak panah itu seperti mempunyai mata yang tajam, tidak pernah salah dalam menumbangkan musuh.


Hyunjin membidik 2 anak panahnya lagi dan menembakkannya dengan sebelah mata kirinya. Mata berwarna merah darah itu berkilau sangat indah seperti darah. Menandahkan bahwa Hyunjin tidak akan memberi ampun.


Plaasst ....


2 anak panah Hyunjin melesat di dekat 2 jepit rambut Clarisa. Rambut sebahu Clarisa terbuai angin panah Hyunjin. Clarisa menarik senyum kecil, melihat para pendekar di hadapannya menjadi panik.


"Apa-apaan anak itu!?" Salah satu pendekar terpenjat melihat satu persatu temannya mati menjadi abu lalu menghilang tertiup angin.


Jurus Api Abadi memang berbahaya!


Clarisa mengangkat pedangnya, lalu berlari dan melompat ke udara. Semua pendekar menganga lebar melihat Clarisa melompat lumayan tinggi. Padahal Clarisa adalah perempuan yang terlihat feminim dan lembut, bukankah dia seharusnya tidak pandai dalam bertarung? Pikir salah satu pendekar.


Clarisa menarik senyum miring dan mendarat dengan satu kaki di tengah kerumunan pendekar. Setelah mendarat, Clarisa langsung memainkan pedangnya seperti menari. Jurus tarian pedang yang legendaris, tidak banyak pendekar wanita bisa memakai jurus itu.

__ADS_1


Plasstt ....


Hyunjin menembakkan satu persatu anak panahnya lagi dengan cepat. Kali ini Hyunjin bergerak maju ke depan sambil menembakkan anak panahnya. Raut wajahnya masih sama seperti awal, dingin dan beringas. Tidak menunjuk rasa simpati atau ampun.


Yang paling mengherankan ialah stok anak panah Hyunjin tidak pernah habis, padahal Hyunjin sudah banyak melontarkan anak panahnya. Seolah anak panah iru melesat 1 anak panah maka akan muncul lagi anak panah baru di dalam tas panahnya.


Clarisa terus menebas semua musuh di depannya tanpa ampun. Tidak ada musuh yang bisa melukai Clarisa karena selalu ada anak panah Hyunjin yang melesat dari belakang Clarisa.


"Kembali! Semua kembali!"


Teriakan salah satu pendekar menggelegar. Pendekar itu sudah melihat kemapuan 2 anak muda di depanny menjadi gentar, dia yakin sekalipun ratusan pendekar sepertinya dikirim, mereka tidak akan bisa menang melawan kolaborasi 2 anak muda itu.


Semua pendekar berlarian mundurlah menjahui Hyunjin dan Clarisa. Mereka tidak menduga bahwa 2 anak muda di depan mereka sangat hebat dari mereka. Banyak pendekar lain yang sudah mati di tangan 2 anak muda itu membuat mereka gentar untuk menyerang lagi. Lebih baik mundur dan memberikan laporan tentang kekuatan buronan mereka.


"Mundur! Semuanya mundur!"


Seruan dan teriakan untuk mundur semakin membesar, kelompor pendekar itu memilih untuk menyerah daripada banyak korban yang berjatuhan. Sudah cukup separuh dari mereka tewas.


Tiba-tiba sebuah portal berwarna hitam seperti pusaran muncul di belakang para pendekar itu. Ada rasa legah di hati para pendekar saat melihat portal muncul, tak perlu pikir panjang. Mereka langsung melompat secara berebutan, seolah seekor singa ganas tengah mengejar mereka.


"Tidak semudah itu untuk kembali!" seru Hyunjin.


Hyunjin mengambil lebih banyak lagi anak panahnya dan menembakkannya dengan sangat cepat tanpa henti. Kakinya masih terus melangkah, tatapannya semakin mendingin. Dia tidak akan membiarkan sebagian besar pendekar itu pulang dengan selamat setelah mengusik dirinya dan orang sekitarnya.


Bodoh! Jangan cari masalah dengan Hyunjin! Kondisi hati dan pikiran Hyunjin sedang tidak bersahabat. Sekarang tujuan Hyunjin adalah menepati janji dan membantai habis semua pendekar aliran hitam. Apapun yang Hyunjin anggap biang masalah, maka detik itu juga Hyunjin akan menghabisinya.


.


.


.


.


.


.


.


Selalu dukung karya author ya dengan like, vote dan rate.


Jangan lupa mampir ke karya author yang berjudul 'Hero' dan 'The And Of Nightmare'


Terimakasih banyak dari author karena udah mendukung sejauh ini :)

__ADS_1


__ADS_2