Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
27. Serangan Mendadak


__ADS_3

Yun Shu meneguk teh dengan gaya elegan, bukan gaya yang di bikin-bikin tapi memang Yun Shu berwibawa elegan, apapun yang dilakukannya akan terlihat elegan tanpa dibuat-buat.


Mark duduk memperhatikan Yun Shu yang tengah asik meneguk tehnya. Padahal Yun Shu sudah menawarkan Mark untuk minum bersama. Tapi Mark menolak, karena peraturan dalam keluarga bangsawan ialah pelayan tidak boleh makan semeja bersama para bangsawan. Padahal Yun Shu sudah menegaskan pada Mark untuk tidak memakai aturan konyol seperti itu jika bersamanya.


'Kenapa pemuda itu terus-terusan melihatku?'


Walau Yun Shu berpura-pura sibuk dengan makannya tapi tetap saja dia bisa merasakan sosok pemuda di pojok ruangan tengah memperhatikannya.


'Siapa pemuda itu? Dari keluarga bangsawan mana pemuda itu?'


Yun Shu meletakkan cangkir tehnya di meja, lalu menatap Mark. Meminta agar Mark memesankan kue kesukaannya. Mark pun mengiyakan perimintaan Yun Shu, dan langsung pergi ke dapur rumah makan Tang Raoun.


Selepas kepergian Mark, Yun Shu memberanikan diri untuk menghampiri pemuda yang dari tadi memperhatikannya.


Hyunjin menaikkan alisnya, menatap Yun Shu yang datang menghampiri dirinya. Hyunjin langsung merubah posisi duduknya menjadi posisi santai selepas Yun Shu sudah duduk di hadapannya.


"Pangeran, maaf jika saya lancang menghampirimu?" Yun Shu menatap pemuda di hadapannya yang tak lain Hyunjin. Ada sedikit rasa detak jantung yang berdegup malu, sama seperti Putri bangsawan lain, Yun Shu pun juga terpanah akan ketampanan Hyunjin.


"Ahh ... tidak apa-apa Putri Yun Shu." Hyunjin tersenyum pada Yun Shu.


"Bagaimana bisa Pangeran mengetahui namaku?" Yun Shu tersenyum kikuk saat Hyunjin menyebut namanya.


'Apa Pangeran ini memata-mataiku?'


Hyunjin langsung tersenyum kikuk, seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Anda Putri yang cantik, bagaimana mungkin aku tidak mengenal Putri sepertimu? Ohh ya, Putri tidak perlu memanggil saya Pangeran. Panggil saja Hyunjin."


Yun Shu sedikit bersemu malu saat Hyunjin memuji dirinya cantik. Hyunjin memperhatikan tingkah Yun Shu yang mulai berubah.


'Jangan pikir aku menyukaimu Sepupu Yun Shu? Kita ini Sepupu.' Hyunjin menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikiran aneh yang mulai datang menghampiri pikirannya.


Hyunjin akui, Yun Shu memang sangat cantik dibanding dengan Clarisa. Tapi Hyunjin tetap tidak bisa menyukai sepupunya sendiri, apalagi Hyunjin menganggap Yun Shu sebagai kakak angkatnya.


"Pa, maksudku Hyunjin. Anda dari bangsawan mana?" Yun Shu menatap Hyunjin sedikit berbinar.


"Apa Putri harus mengetahui seluk belukku?" Hyunjin menatap datar pada Yun Shu, bukan tidak suka dengan pertanyaan Yun Shu, hanya saja saat ini Hyunjin tidak tahu harus menjawab apa. Jadi salah satu caranya adalah membuat Yun Shu tidak bertanya lebih tentang dirinya.


"Ahh ... aku minta maaf jika sudah bertanya lancang padamu." Yun Shu membukuk meminta maaf. Padahal baru saja Yun Shu merasa senang sekarang harus merasakan tegang.


"Hhmm." Hyunjin hanya berdehem menjawab Yun Shu. Tangan Hyunjin mengambil secakir teh lalu meminumnya.


"Ada keperluan apa Putri datang padaku?" tanya Hyunjin setelah memineguk tehnya. Beberapa detik tadi mereka berdua sempat saling diam, tidak lagi bersuara setelah Hyunjin hanya menjawab Yun Shu dengan dehemannya.

__ADS_1


"Ahh ... tadi aku melihat anda memperhatikanku? Jadi saya datang ingin bertanya kenapa anda memperhatikanku?" Yun Shu yang tadinya menunduk langsung menganggakat kepalanya seraya tersenyum kaku pada Hyunjin.


"Putri mirip dengan seseorang terdekatku. Makanya aku terus memperhatikan Putri," jawab Hyunjin santai seraya meletakkan cangkir tehnya ke meja.


'Apa aku mirip dengan kekasihnya? Apa dia sudah memiliki kekasih?'


Baru saja Yun Shu ingin berbicara lagi, tiba-tiba Mark langsung menepuk bahu Yun Shu. Membuat Yun Shu menoleh ke belakang dan langsung melepar senyuman pada Mark.


Berbeda dengan Mark, Mark menatap Hyunjin tidak suka. Ke dua matanya menatap dingin kepada Hyunjin, dan Hyunjin juga membalas tatapan pria yang menepuk bahu Yun Shu sambil tersenyum. Berpura-pura untuk mencairkan tatapan pria itu.


"Putri, kue anda telah ada di meja." Mark mengalihkan pandangannya kepada Yun Shu.


Yun Shu langsung berdiri, meminta izin pada Hyunjin untuk meninggalkannya. Hyunjin hanya mengangguk sambil tersenyum, mengiyakan ucapan Yun Shu. Mark kembali memandang Hyunjin dingin, Mark tidak menyukai cara Hyunjin membalas Yun Shu seperti itu.


"Putri, apa anda mengenal pemuda tadi?" Setelah duduk kembali di kursi mereka, Mark memberanikan bertanya tentang pemuda tadi kepada Yun Shu.


Yun Shu menggelengkan kepalanya. "Aku baru saja mengenalnya," jawab Yun Shu pelan.


"Lalu kenapa Putri menghampiri pemuda itu? Itu sangat berbahaya untuk Putri." Mark sedikit terkejut mendengar jawab Yun Shu. Jika saja ada sesuatu buruk yang terjadi pada Yun Shu, maka Mark akan mendapat hukuman berat dari Kekaisaran, dan juga Mark tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah lalai dalam menjaga Yun Shu.


"Wakil Mark aku ti-"


Braakk ....


Mark langsung berdiri dan menarik Yun Shu lalu menyerongng Yun Shu berlindung di belakangnya. Mark mengetahui siapa prajurit berjirah hitam itu.


Hyunjin juga sama halnya terkejut. Hyunjin mengedarkan pandangannya dan menemukan puluhan prajurit berjirah hitam yang sangat tidak asing lagi bagi Hyunjin.


Hyunjin segera berdiri, menatap kumpulan prajurit itu geram. "Kenapa mereka bisa ada di sini? Ini pasti atas perintah Daimont!?" Hyunjin mengambil pedangnya yang diletakkannya tadi di pinggir tempat duduknya.


"Semua para bangsawan ada di sini! Tangkap mereka!" seru prajurit itu.


Semua prajurit berjirah hitam itu segera berlarian masuk seperti semut, jumlah mereka lebih banyak dari pada semua bangsawan yang ada di dalam.


*****


"Ingin menangkapku? Tangkap kalau bisa?" Hyunjin menatap prajurit yang sedang mengepungnya. Sekitar 10 prajurit yang mengepung dirinya.


Keadaan rumah makan ini sudah kacau balau, meja serta aksesori lainnya sudah berantangkan dan hancur. Rumah makan ini tidak bisa lagi di sebut seperti ruang makan instana, melainkan seperti gudang yang berserakan.


Darah juga ada memenuhi lantai rumah makan. Prajurit memaksa para bangsawan yang menolak ikut pada mereka, bahkan ada beberapa kepala bangsawan yang tergelinding di lantai.

__ADS_1


"Kau menolak permintaan kami? Padahal kami memintamu secara baik-baik, tapi kau menolaknya! Tidak ada cara lain, selain menggunakan kekerasan!"


"Sayangnya aku adalah orang yang pandai dalam kekerasan." Hyunjin menatap para prajurit itu sambil tersenyum kecil. Sebelum Hyunjin menyerang, Hyunjin sempat memakan pil Embun, pil yang berkasait untuk membentuk tenaga dalam hingga 30 sampai 40 lingkaran.


Hyunjin menghunuskan pedangnya memenggal kepala salah satu prajurit Naga Hitam, lalu melompat sejauh mungkin dari kumpalan itu.


"Anak itu lumayan, tapi kau tidak akan bisa menang melawan kami!" Prajurit yang baru saja tumbang kini kembali kokoh seperti semula.


Hyunjin mengeratkan genggamannya pada pedangnya, lalu berlari maju ke kumpulan prajurit Naga Hitam. Hyunjin bergerak sangat cepat dan lincah hingga ke bagian akhir. Semua prajurit langsung tumbang, kepala mereka terpisah dari tubuh mereka.


'Seandainya jika bukan karena aliran energi dari Iblis itu, mungkin aku tidak akan sekuat ini.'


Hyunjin membalikkan badannya, menatap satu persatu prajurit yang baru saja bangkit kembali. Hyunjin mengumpat kesal, hingga pada akhirnya dia akan kelelahan melawan semua prajurit Naga Hitam. Saat ini Hyunjin belum bisa menemukan titik kelemahan prajurit Naga Hitam.


"Bermain dengan kalian juga bukan masalah bagiku," ujar Hyunjin seraya tersenyum dingin. Perlahan Hyunjin melepaskan aurah pembunuhnya untuk menakuti prajurit di hadapannya.


10 prajurit itu langsung merasa terdesak, aurah pembunuh Hyunjin sangat pekat. Para prajurit tak habis pikir bagaimana anak muda seperti Hyunjin bisa memiliki aurah pembunuh yang sangat pekat, bahkan mampu mendesak dan menekan pergerakan prajurit Naga Hitam menjadi lamban.


Hyunjin berlari lagi secepat kilat, memenggal satu persatu kepala prajurit Naga Hitam hingga tidak tersisah. Hyunjin menarik nafasnya, seraya melihat ke sekelilingnya. Para prajurit bahkan bangsawan lain juga terkejut melihat kemampuan Hyunjin yang diluar nalar usianya.


"Anak muda yang lumayan." Terdengar suara tepukan tangan serta suara pujian dari arah pintu.


Hyunjin menatap ke arah pria berjirah hitam mengkilat itu, Hyunjin tidak mengenalnya tapi Hyunjin yakin pria itu bukanlah di pihaknya saat ini.


"Anak muda, kau akan menjadi tawan special. Akan lebih cepat jika aku yang menangkapmu." Pria itu tersenyum kecil pada Hyunjin seraya berjalan mendekat pada Hyunjin.


"Mau menangkapku? Jangan harap!" Hyunjin berdiri tegap, menatap dingin pada pria yang lebih tua darinya. Pria itu berumuran sekitar 30 tahunan lebih.


Buukk ....


Tidak terlihat tiba-tiba saja Hyunjin sudah terpental ke tembok. Membuat tembok itu menjadi hancur begitu saja. Hyunjin terjatuh ke lantai, seraya memegang jantungnya terasa sangat sakit, bahkan Hyunjin mulai muntah darah.


'Pria itu!? Aku bahkan tidak bisa merasakan dan melihat pergerakannya.'


Baru saja sekali tendangan di dada Hyunjin, Hyunjin sudah terpental jauh bahkan menempel di tembok seperti cicak. Tendangan itu sudah mematahkan 5 tulang rusuk Hyunjin, bahkan membuat beberapa peredaran darah Hyunjin pecah.


"Uhuk ... uhuk." Sekali lagi Hyunjin terbatuk seraya memuntahkan darah. Hampir sebagian organ tubuhnya rusak karena tendangan pria itu. Apalagi Hyunjin masih terlalu muda, belum bisa bergerak lebih lincah seperti di umur 30 tahunnya. Pergerakan Hyunjin masih sedikit kakuh tapi masih bisa mengalahkan pendekar tingkat 1 dan 2.


Pria itu berjalan secepat kilat, tidak ada yang bisa melihat pergerakan pria itu. Bahkan mereka terkejut tiba-tiba saja pria itu sudah berada di depan Hyunjin seraya mencekik leher Hyunjin.


Hyunjin merontah tapi tetap saja dia kalah dalam kekuatan. Beberapa kali cekikan itu membuatnya batuk darah. Paru-parunya sudah mulai tersumbat karena pecahnya aliran darahnya. Nafas Hyunjin mulai tersegal-segal seperti sesak nafas. Hidung serta telinganya mulai mengeluarkan darah yang begitu banyak.

__ADS_1


'Sialan!!!'


__ADS_2