Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
36. Pengganggu


__ADS_3

Di alun-alun kota, semua orang memandang aneh pada 2 orang anak muda. Tapi mereka lebih mendominasikan rasa takut mereka pada gadis muda yang duduk di gerobak sambil tertawa bahagia, bahkan beberapa dari mereka berteriak ketika kereta kuda mereka dilambung oleh gerobak kecil karena ada Clarisa di gerobak sedang duduk.


Berbagai macam bisikan dan seruhan tidak menyenangkan mulai melayang ke telinga Hyunjin. Berbeda dengan Clarisa, dia berusaha cuek dan terus tertawa bahagia di gerobak.


"Lihatlah, kenapa Monster itu bisa bebas berkeliaran? Bukankah Kaisar Tang sudah berjanji tidak akan membiarkannya bebas sembarangan?" Salah satu penduduk alun-alun kota berbisik pada temannya di samping.


"Apa Kaisar ingin menghancurkan kota ini seperti kejadian setahun yang lalu?"


"Aku tidak tahu, yang jelas kita harus jaga jarak aman darinya!"


"Ya kau benar, sekali Monster tetaplah Monster!"


Clarisa langsung terdiam, ternyata walaupun dia terus berpura-pura untuk cuek dengan sekitarnya tapi tetap saja telinganya bisa mendengar bisikan mereka tentang dirinya.


"Moster bebas!"


"Anak kutukan berkeliaran!"


"Ada anak pembawa petaka!"


Hyunjin semakin mempercepat larinya, dia tidak ingin Clarisa terluka hati karena perkataan para penduduk alun-alun kota.


"Siapa anak muda yang menarik gerobak itu? Apa dia pengawal Clarisa? Siapa dia?" seorang gadis yang baru saja keluar dari toko baju bersama rombongan temannya terkejut melihat Clarisa. Dan lebih terkejut pada anak muda tampan yang manarik gerobak yang tengah menarik gerobak Clarisa.


"Tidak tahu, tapi dia sangat tampan."


"Apa dia keponakan Kaisar?"


"Aku ingin berdansa dengannya!"


"Apa dia anak dari dewa ketampanan?"


"Dia sangat kuat, dan juga tampan!"


"Aku ingin menjadi kekasihnya!"


Berbeda dengan para gadis di alun-alun kota, mereka malah sibuk memuji Hyunjin. Dilihat dari segi manapun Hyunjin memang tampan dan kuat, dan yang lebih menarik adalah warna bola matanya yang berbeda dan berkilau. Membuat para gadia takjub, serasa mereka ingin berkenalan padanya Hyunjin namun mengurungkan niat karena ada Clarisa di belakangnya.


Sedangkan beberapa para remaja terpesona dengan kecantikan serta kelucuan Clarisa tertawa. Namun mereka enggan mendekati Clarisa karena masih trauma pada kejadian setahun yang lalu.

__ADS_1


Hyunjin berlari memutari patung pancur kuda di persimpangan jalan dan kembali berlari menuju Kekaisaran. Telinganya cukup panas mendengar bisikan para penduduk tentang Clarisa, apalagi dengan para remaja pria.


'Andaikan kalian tahu, aku ini adalah tunangannya! Bahkan aku belum sempat menikahinya! Jangan harap bisa menikahinya selagi aku masih hidup!'


*****


"Jika Nona ingin lewat, Nona harus membayar." Seorang pria berbadan besar menyilangkan tombaknya.


2 pengawal gerbang negara Destopia menyilangkan tombaknya. Mereka menatap seorang gadis yang tengah duduk di kuda miliki gadis tersebut.


Gadis itu membuka topi di kepalanya. Ditatapnya 2 pengawal di depannya sambil tersenyum kecil. 2 pengawal itu memiliki badan yang sangat kekar dan besar terlihat seperti raksasa manusia. Wajah mereka juga tampak sangat sangar, ditambah dengan beberapa bekas goresan di wajah, lengan serta dada mereka.


"Berapa yang kalian mau?" tanya gadis itu pelan.


2 pengawal itu saling bertatapan sejenak lalu memalingkan kembali tatapan mereka ke depan.


"Berapa banyak yang Nona punya?" tanya salah satu pengawal.


"Aku punya banyak." Gadis itu menjawab dengan nada biasa.


"Kalau seperti itu serahkan semuanya," seru pengawal yang satunya.


"Bukankah ini pemerasan?" ujar gadis itu pelan.


2 pengawal itu saling tatap menatap dan tersenyum bersama-sama. Kembali ditatapnya gadis muda di depannya, mulut satu pengawal ingin mengucapkan sesuatu namun tercegat.


Ke dua kepala pemgawal itu sudah tergelatak di tanah, 2 tubuh pengawal itu ambruk ke tanah dan menyecerkan banyak darah. Gadis itu tidak melihat pasti apa yang membunuh mereka berdua, tapi yang pasti itu kelakuan rekannya.


"Kenapa tidak langsung membunuh mereka?" Seorang pria tiba-tiba muncul di depan gadis muda itu. Pria itu mendarat dengan mulusnya. Ka dua sayap hitamnya dikepakkannya begitu kuat, lalu menghilang seolah tidak pernah muncul sayap di punggungnya seperti sebelumnya.


"Aku tidak ingin membuat masalah di negara ini. Lebih baik kita memanfaatkanya bukan? Kita harus berperilaku baik agar dipercaya mereka."


Gadis itu menatap pria di depannya sedang tersenyum kecut padanya. Gadis itu tahu bahwa pria di hadapannya sangat tidak suka melihat rekannya kesulitan apalagi dipersulitkan seorang manusia rendahan.


Sebenarnya gadis muda itu bisa saja membunuh 2 pengawal itu, namun mengingat rencananya tentang negara Destopia, dia segera membatalkan niatnya.


"Sekarang bagaimana dengan jasad 2 pengawal itu?" Gadis itu beralih melirik 2 jasad yang tergeletak mulai dikerumuni lalat.


"Mudah saja, mereka tidak akan mati sia-sia." Pria itu menepuk tangannya 3 kali, dan muncullah hewan seperti burung dari atas. Burung itu adalah burung gagak raksasa milik pria itu.

__ADS_1


Pria itu memerintahkan burungnya untuk memakan jasad pengawal itu tanpa tersisah. Jika perlu sehelai rambutnya juga harus burung itu juga makan. Sedangkan darah dari jasad pengawal itu mulai dikerumuni semut hitam yang muncul entah dari mana.


"Hebat, Marvel sangat hebat dalam menghilangkan jejak kematian musuh." Humei tersenyum pada Marvel.


*****


"Tuan Daimont ada berita penting," Jing Kun datang menghampiri Daimont yang tengah asik berdiam di ruangannya. Ruangan gelap nan mencekam. Aurah pembunuhnya merembes ke mana-mana.


Daimont mengangguk pertanda dia akan mendengarkan berita itu. Jing Kun pun langsung menceritakan berita yang dia maksud, berita tentang acara peringatan kematian Sakura. Jing Kun ingin bertanya tindakan apa yang akan dilakukan Daimont pada pesta itu.


Daimont tersenyum kecil, dinaikkannya kakinya ke atas meja dan menatap Tanghaou. "Biarkan mereka menikmati acara peringatan kematian Sakura," ujar Daimont santai.


"Kenapa Tuan? Bukannya ini adalah kesempatan bagus? Kita bisa menang menyerang mereka di saat mereka sedang sedih."


"Biarkan saja mereka melarutkan masa lalu mereka. Akan ada saatnya kita menyerang mereka." Daimont men******kan jarinya seraya tersenyum.


Tanghou menaikkan sebelah alisnya penasaran dengan rencana Daimont. "Apa Tuan punya rencana?"


"Ya, aku punya. Aku ingin memanfaatkan kloningku dulu. Sudah lama aku tidak mengendalikannya."


Jing Kun tersenyum kecil, ternyata tidak salah dia mengabdi pada Daimont selama ini.


'Kloning Haci, baiklah. Semoga kau bisa berguna untuk Tuan Daimont. Jika tidak, aku yang akan menghabisi nyawamu!'


.


.


.


.


.


.


.


Selalu dukung karya author ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2