
Hyunjin membuka mata lalu mengedarkan pandangannya, dia hanya melihat sekumpulan para bangsawan pria yang bergidik ketakutan. Hyunjin yang terbaring segera mengambil posisi duduk lalu memperjelas lagi penglihatannya yang masih sedikit kabur. Hyunjin mengambil sesuatu yang berbentuk bulat di dalam saku bajunya, setelah itu Hyunjin langsung menelannya, Hyunjin menelan 3 pil sekaligus. Pil Embun, pil Perak, dan pil Teratai, masing-masing pil memiliki kasiat yang sangat berguna, seperti pil Embun yang berguna memperbanyak tenaga dalam, lalu pil Perak yang berguna untuk menyembuhkan luka dalam pada tubuh, dan pil Teratai berguna untuk memperkuat kekuatan tulang sama halnya seperti kasiat air jahe merah dan gingseng.
Setelah menelan Hyunjin merangkak mendekati salah satu bangsawan yang paling dekat dengannya. Hyunjin melihat pemuda bangsawan itu berusia sekitar 10 tahunan.
"Psst!" Hyunjit berdesis kepada bangsawan muda itu.
Bangsawan itu mengangkat kepalanya yang sedang tertunduk, wajah bangsawan muda itu sendu bahkan air matanya terus mengalir, yang paling Hyunjin jijikan ialah anak bangsawan muda itu mengeluarkan ingus di ke dua hindung. Sesekali bangsawan muda itu manariknya sambil menggosokkan punggung tangannya ke lubang hidungnya. Hidung bangsawan itu tampak merah karena dia menangis sambil segugukan.
"Apa semua prajurit sudah menangkap bangsawan?" tanya Hyunjin.
Bangsawan muda itu mengerutkan dahinya seraya menatap bingung kepada Hyunjin. "Untuk apa kau bertanya?" Bangsawan muda itu malah balik bertanya.
Hyunjin tersenyum miring, rasanya dia ingin menabok kepala bangsawan muda itu. "Tentunya aku ingin keluar, apa kau tidak ingin keluar?" jawab Hyunjin pelan agar tidak didengar para prajurit yang tengah berjaga di sekitar kurungan mereka.
"Benarkah?" Bangsawan muda itu langsung berseru senang, namun segera Hyunjin menutup mulutnya.
"Sstt!" Hyunjin berdesis seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Kepalanya juga menengok ke semua para bangsawan agar ikut diam.
Di dalam penjara ini rata-rata usia bangsawan muda 10 tahun ke atas, yang paling tua tengah duduk paling pojok, wajahnya sedikit tampak sangar tidak ada melihatkan bahwa dia itu baik. Pemuda itu berusia 17 tahun, kepalanya melirik ke arah Hyunjin namun hanya sebentar setelah itu dia fokus lagi melihat ke arah lain, melihat para prajurit membakar rumah beserta penghuninya.
"Jangan berisik, apa kau ingin kita ketahuan." Hyunjin menatap dalam bangsawan muda yang tengah dia bekap mulutnya.
Bangsawan muda itu mengangguk pelan paham dengan maksud Hyunjin. Hyunjin menurunkan tangannya seraya menatap lagi ke pintu jeruji besi yang tengah menahannya.
"Bagaimana kau melakukannya?" Bangsawan muda itu bertanya sedikit antusias.
"Mudah saja. Kita harus bla bla bla ...." Hyunjin membisikkan semua rencananya kepada bangsawan muda itu.
Setelah bangsawan muda itu mendengar semua rencana Hyunjin, dia membelakkan matanya tak percaya dengan ide gila Hyunjin.
"Apa kau yakin?" Setelah mendengar semuanya, rasanya cukup mustahil menjalankannya bagi bangsawan muda itu.
Hyunjin hanya mengganguk. "Tapi, aku butuh bantuan kalian semua. Itupun jika kalian tidak masalah? Sebenarnya aku juga bisa menyelamatkan diriku sendiri, tapi aku tidak yakin bisa menyelamatkan kalian semua." Hyunjin menatap semua anak muda yang tengah menatapnya. Dan Hyunjin paling tertarik pada pemuda di pojok yang tengah sibuk melihat ke arah lain.
Perlahan semua anak muda bangsawan mulai merapat kepada Hyunjin dan dengan antusiasnya mereka mendengarkan. Berbeda dangan pemuda yang paling pojok, dia bahkan tidak tertarik dengan uluran bantuan Hyunjin. Bahkan pemuda itu mencercah apa Hyunjin bisa melakukannya.
Setelah mereka semua mendengarkan ide Hyunjin beberapa dari mereka mengeluh dan sedikit mementang ide gila Hyunjin. Tapi Hyunjin meyakinkan mereka untuk mengikuti sarannya, bahkan Hyunjin berjanji tidak akan membiarkan mereka terluka.
"Kau terlalu percaya diri untuk bisa melakukannya, apa kau pikir kau bisa membunuh semua prajurit abadi itu?" Pemuda paling pojok membuka suaranya, berusaha meyakinkan Hyunjin untuk mundur saja dan ikuti perintah para prajurit Naga Hitam.
"Ya aku yakin, lebih baik daripada hanya duduk pasrah?" balas Hyunjin datar tapi tidak melihat ke arah pemuda itu.
__ADS_1
"Siapa namamu?" Bangsawan muda di samping Hyunjin bertanya.
"Aku Hyunjin."
"Kenalkan aku Jenshen." Jenshen tersenyum pada Hyunjin dan dibalas Hyunjin dengan senyuman kecil. Karena bagi Hyunjin untuk sekarang tidak ada kesempatan untuk tersenyum.
Sekitar ada 6 bangsawan muda yang ada terkurung bersama Hyunjin. Hyunjin menatap pemuda di pojok, melihatnya Hyunjin yakin pemuda itu lumayan berbakat dalam belah diri.
"Namanya Kaguya, dia pangeran dari bangsawan Ran." Jenshen memberitahu Hyunjin karena Jenshen dapat melihat Hyunjin tengah memperhatikan Kaguya.
"Apa kau mengenalnya?" Hyunjin bertanya seraya menatap Jenshen.
"Tidak terlalu, tapi yang kudengar tentang dirinya, dia adalah pangeran muda yang paling berbakat di seluruh wilayah Kekaisaran," jelas Jenshen seraya ikut menatap Kaguya.
Kaguya memiliki ciri khas rambut berwarna putih sama seperti Hyunjin, hanya saja Kaguya memiliki mata iris berwarna hijau yang cantik. Di dahinya ada 3 lingkaran kecil sebagai lambang marga bangsawannya.
'Memang pemuda yang berbakat, melihatnya aku bisa menduga dia bisa membunuh 20 pendekar kelas 1 dengan mudah. Sepertinya dia akan menjadi pendekar paling muda dan kuat beberapa tahun ke depan.' Hyunjin mengusap dagunya seraya menatap Kaguya.
"Jika dia ingin ikut aku tidak masalah, dia akan sangat berguna bagi kita," balas Hyunjin pelan.
"Tapi, dia sangat susah diajak kerjasama." Jenshen beralih menatap Hyunjin.
"Biar aku yang membujuknya." Hyunjin merangkak menuju Kaguya, karena penjara tempat dia terkurung tidak terlalu tinggi dan besar, membuatnya mengurangi pergerakannya.
Kaguya mengerutkan dahinya, melihat Hyunjin tengah duduk di depannya. "Kenapa kau ke sini?" tanya Kaguya dingin.
"Aku ingin bekerjasama denganmu, kau sangat berbakat dalam pertarung seperti ini." Hyunjin menatap lekat Kaguya.
"Apa kau pikir aku mau? Apa kau pikir bisa melawan mereka prajurit abadi? Jika kau hanya ingin mati maka pergilah!" Kaguya mengalihkan pandanganya, bahkan tangannya bergerak seperti mengusir Hyunjin.
"Hum kau lumayan pemalu dan pengecut," gumam Hyunjin pelan seraya mengusap dagunya.
Kaguya yang mendengar gumaman Hyunjin segera melotot dingin pada Hyunjin. Kaguya mendorong tubuh Hyunjin ke lantai dan langsung menduduki perut Hyunjin. Tangan kanan Kaguya memegang kerah baju Hyunjin, dan tangan kirinya siap memberikan pukulan kepada Hyunjin.
"Katakan sekali lagi jika kau ingin mati?" bentak Kaguya seraya melotot marah kepada Hyunjin.
Hyunjin hanya terkekeh, sedikit jalan idenya sendiri tengah berjalan. "Apa kau seorang malaikat?" Hyunjin menatap datar ke arah Kaguya.
"Kau!" Kaguya melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Hyunjin tapi segera Hyunjin tangkap dengan tangan kanannya. Kaguya sedikit terkejut karena Hyunjin mampu menahan kepalan tangannya yang sudah dia luncurkan dengan sekuat tenaga.
5 bangsawan yang tak jauh dari Hyunjin hampir berteriak melihat Hyunjin dan Kaguya tengah berkelahi, bukan Hyunjin yang berkelahi tapi Kaguya yang ingin mengajak berkelahi. 5 bangsawan itu hanya mampu melihat mereka berdua tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka sangat takut kepada Kaguya yang terkenal sangat kuat di wilayah Kekaisaran Tang.
__ADS_1
Hyunjin mengangkat ke dua kakinya seraya membelitnya di leher Kaguya, lalu menarik mundur Kaguya. Kaguya terhempas ke dinding penjara, lehernya terasa sakit karena belitan kaki Hyunjin. Kaguya menatap Hyunjin sambil mengusap lehernya.
Hyunjin melompat bangun dan mendarat di depan Kaguya, tangan Hyunjin memegang kerah baju Kaguya dan langsung menghempaskannya ke lantai.
Buuuk ....
"Justru kau yang ingin mati!" Hyunjin berseru lantang membuat 2 prajurit yang tengah berjaga langsung melihat ke dalam penjara.
"Apa yang kalian lakukan!" bentak salah satu prajurit Naga Hitam yang malihat 2 anak muda tengah saling tarik-menarik kerah baju.
Hyunjin tersenyum miring seraya melihat ke arah 2 prajurit. Sejenak Hyunjin tertawa lantang sebelum ke dua prajurit itu membuka pintu sel.
"Apa kau tidak lihat kami sedang berkelahi? Di mana matamu?" Hyunjin tersenyum dingin ke arah 2 prajurit.
"Anak kecil apa kau bosan hidup?"
"Ya ... kau benar! Aku bosan hidup dua kali!" balas Hyunjin sedikit keras sambil tertawa keras seperti orang kesurupan.
Kaguya melepar pukulannya ke wajah Hyunjin sekuat tenaga, membuat Hyunjin terpental ke dinding penjara.
*****
Yun Shu duduk sambil memegang tiang besi pintu penjara. Tangannya mengepal kuat, berusaha mematahkan besi panjang hitam itu tapi percuma, sebaliknya tangannya yang serasa ingin patah. Tapi Yun Shu tidak berhenti begitu saja, dia terus berusaha mematahkan besi panjang hitam itu membuatnya sesekali mengerang kecil karena geram.
Beberapa bangsawan perempuan menatap aneh kepada Yun Shu. Mereka tidak akan percaya bahwa keponakan Kaisar Tang sedang melakukan hal gila yang di luar nalar dirinya, apalagi Yun Shu adalah seorang gadis yang tidak memiliki kekuatan belah diri ataupun tenaga dalam. Yun Shu sama seperti gadis bangsawan lain, lembut dan lemah.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mematahkan tanganmu sendiri?" Salah satu bangsawan wanita yang berumuran 15 tahunan menatap ngeri ke arah Yun Shu.
"Apa kau buta?!" Yun Shu membalas tapi tetap fokus pada pekerjaannya.
"Menyerahlah putri Yun Shu, kau hanya melukai dirimu sendiri. Lebih baik kau duduk tenang dan ikuti kemauan mereka." Terdengar lagi seruan lain dari gadis bangsawan lain.
Di dalam penjara itu ada 5 gadis bangsawan bersama Yun Shu, dan rata-rata mereka lebih tua beberapa tahun dari Yun Shu. Dan yang paling tua dari mereka berumur 19 tahun.
"Apa kau ingin kehilangan kehormatan karena mereka?!" balas Yun Shu sedikit keras. Untungnya penjaga mereka lumayan jauh dari mereka, jadi para prajurit itu tidak mengetahui niat Yun Shu.
Dan juga para prajurit Naga Hitam tidak terlalu mempermasalahkan penjagaan para bangsawan wanita. Karena yang mereka tahu hanya sedikit dari bangsawan wanita yang mengetahui ilmu belah diri.
"Apa kau ingin mati?" Bangsawan lain malah menimpali Yun Shu.
"Lebih baik dari pada kehilangan kehormatan!" Balas Yun Shu dingin dan kembali sibuk mematahkan si tiang panjang berwarna hitam. Yang di maksud Yun Shu dengan kehormatan bukanlah tentang tahta atau nama marga bangsawannya, melainkan kehormatan yang ada pada dirinya.
__ADS_1
Terimakasih dari author karena udah mendukung sejauh ini 🤗🍫🍩
selalu dukung author ya