
Di alun-alun kota yang ramai, Hyunjin, Clarisa dan serigala mereka Hao pergi ke toko persenjataan yang cukup terkenal. Toko ini menjual semua alat sejata tapi tidak dengan senjata api. Berbagai macam kerajaan sering membeli senjata di toko ini, tidak hanya menyediakan semua senjata tapi juga karena kualitasnya yang bagus. Dulu transaksi pembelian senjata di kerajaan Zero Clarisa yang mengurus, soal senjata Clarisa paling jeli dalam memilih.
Clarisa memilah senjata pedang untuk Hyunjin, sedangkan Hyunjin hanya terpukau melihat begitu banyak jenis pedang di ruangan itu. Clarisa berjalan pelan melewati deretan pedang, jarinya menggaruk-garuk dagunya.
"Hyunjin, kira-kira kau lebih tertarik pedang yang mana?"Clarisa ingin melihat pilihan pedang seperti apa yang dipilih Hyunjin.
Hyunjin tersenyum kaku seraya menggaruk kepalanya, dia juga bingung. "Hhmm yang menurutmu tajam dan berkualitas tahah lama, masalah bentuk bagus apa tidak aku tidak mempermasalahkannya," jawab Hyunjin.
Clarisa menengok kembali deretan pedang, matanya tertujung pada pedang bersarungkan hitam dihiasi permata biru. "Ini pedang Pasai Naga, termasuk pedang pusaka dari pendekar Lian Qu," jelas Clarisa setelah memegang pedang Pasai Naga.
"Hhmm kenapa bisa ada pedang pusaka di sini?"
"Pedang itu pedang yang sangat berbahaya, aurah pembunuh pedang ini lebih kuat dan dasyat dari pedang manapun. Pedang itu juga sudah berumur 150 tahun, dan juga itu pedang tepahan ahli pedang yang terkenal di dunia. Tapi sayangnya pedang itu belum ada yang sanggup mengendalikannya." Pemilik toko menghampiri Hyunjin dan Clarisa seraya menjelaskan pedang tersebut.
Hyunjin dan Clarisa menengok bersamaan ke sumber suara. Ternyata paman Luxs pemilik toko. Clarisa memasang senyum kecil pada paman Luxs.
"Ternyata putri Clarisa, bukannya putri dikucilkan di kerjaan Blue Flash oleh raja Arthur?"
"Paman Luxs apa kabar?" Clarisa memberi hormat pada paman Luxs.
"Hahaha ... aku baik-baik saja putri Clarisa. Bagaimana dengan kerajaan? Apa ada masalah?"
"Tidak ada paman."
Mata paman Luxs melirik ke arah Hyunjin, dia belum pernah melihat pemuda di samping Clarisa. "Itu? Siapa putri?" Paman Luxs menunjuk ke arah Hyunjin.
"Ahh ... saya Hyunjin paman. Teman Clarisa." Hyunjin memperkenalkan dirinya seraya memberi hormat.
__ADS_1
Sejenak paman Luxs terdiam, nama Hyunjin seperti tidak asing di telinganya. "Pemuda Hyunjin seorang pendekar?" tanya paman Luxs lagi.
Hyunjin menggeleng pelan kepalanya. "Saya bukan pedekar paman, saya cuman seorang pengelana biasa," jawab Hyunjin kembali memberikan hormat.
Paman Lusx terkekeh, dia mulai tertarik pada Hyunjin. Bukan hanya perangainya yang tampan tapi Hyunjin juga sopan tidak seperti pemuda lain. "Pemuda Hyunjin tidak perlu sungkan seperti itu. Paman tahu pemuda ini hebat," ujar paman Luxs tidak percaya.
Hyunjin menggaruk kepalanya, padahal dia sudah jujur tapi paman itu tidak percaya. Clarisa memegang tangan Hyunjin seraya menggelang memberi tanda biarakan saja. Hyunjin menghembus nafasnya pelan, ia menuruti Clarisa.
"Pemuda apa kau tertarik dengan pedang ini? Aku akan memberikannya padamu jika kau mau. Tapi mungkin 2 atau 3 hari kau pasti akan mengembalikannya ke sini. Tapi jika tidak kembali, aku akan memberikanmu secara gratis."
Hyunjin dan Clarisa sama-sama terkejut mendengar ucapan paman Luxs. Itu adalah pedang pusaka, sudah pasti kuat, berkualitas dan mahal. Sedangkan paman Luxs hanya terkekeh melihat reaksi mereka berdua.
"Apa paman serius?" tanya Clarisa.
"Ya paman sirus. Pedang ini sudah berkali-kali di bawa pendekar lain tapi tak seorang yang mampu memakainya selama 2 atau 3 hari. Mereka semua mengembalikan pedang ini dengan ketakutan, padahal aku juga menawarkan gratis pedang ini pada mereka jika mampu tidak membawa kembali. Tapi nyatanya tidak ada yang berhasil. Nah ... jika pendekar Hyunjin berhasil maka aku berikan pedang ini secara gratis."
Lagi-lagi paman Luxs terkekeh. "Tapi buktinya belum ada yang berhasil sampai sekarang. Dan percobaan ini akan terus berlanjut hingga pedang ini menemukan pemilik yang pas untuknya."
Hyunjin manggut-manggut paham, tapi dia penasaran siapa yang akan cocok dengan pedang itu. Clarisa melirik Hyunjin, Clarisa melihat ada keyakinan pada Hyunjin.
"Pendekar muda apa kau mau coba?"
"Boleh paman," jawab Hyunjin.
"Apa pemuda tahu konsenkuensinya?" Kening paman Luxs naik sebelah menatap Hyunjin.
"Belum paman."
__ADS_1
"Oke paman jelaskan." Paman Luxs meraih pedang Pasai Naga dari tangan Clarisa, tapi tidak membukannya. "Pedang ini banyak mengambil tenaga dalam, dan tidak salah-salah banyak korban yang mati hingga menjadi butiran debu karena tenaga mereka diserap begitu banyak. Tapi selama pedang ini belum dibuka sang pemakai maka semua akan baik-baik saja. Jadi hanya seorang berilmu tenaga kuat dan banyak yang sanggup memakainya," jelas paman Luxs.
Hyunjin menelan ludahnya, rasa takut mulai menjalar di hati dan pikirannya. Sejenak Clarisa melirik ke arah Hyunjin dan mulai terkekeh.
"Hyunji apa kau yakin?" Clarisa menutup mulutnya seraya memalingkan wajahnya.
"Kau tahu, pedang itu bisa membunuh apa saja yang pemiliknya katakan." Paman Luxs berusaha kembali meyakinkan Hyunjin.
"Kau masih ingat wanita penari semalam Hyunjin? Kalau kau bisa memakai pedang ini kuyakin kau bisa melenyapkan seluruh bangsawan Yin. Jujur saja aku mengenal wanita yang dibelinya itu, wanita itu anak pendeta dusun Bambu. Bisa dibilang wanita itu satu suku dengan ibumu, namanya Yun Shu. Bukannya kau ingin menyelamatkan wanita itu?"
Sejenak Hyunjin terdiam memikirkan kejadian semalam. "Ehh!? Kenapa kau baru bilang sekarang? Kalau kutahu dia satu suku dengan ibuku akan kuhajar anak bangsawan kecil itu," umpat Hyunjin sembari menatap marah pada Clarisa.
Clarisa menghembus nafasnya kasar. "Kalau aku mengatakannya padamu kau bakal melakukan sesuatu yang membuat kita semua bahaya! Apa kau mau banyak korban yang berjatuhan?" Clarisa membalas tatapan Hyunjin dengan sangat tajam.
"Dia juga merupakan 1 yang selamat dari keturunan dusun Bambu. Jadi jika dia tewas, maka hanya kau satu-satunya yang tertinggal dari keturunan Shu. Ayahnya Yun Shu dan keturunan lain sudah meninggal karena berusaha melindungi dusun Bambu dari serangan musuh, kalau dipikir-pikir Yun Shu itu adalah sepupumu." Sambung Clarisa lagi.
Paman Luxs terdiam sejenak, berusaha mencermati keadaan. Sedangkan Hyunjin hanya terdiam memikirkan tentang Yun Shu satu-satunya keluarganya dari marga Shu.
"Paman aku terima apapun resikonya." Hyunjin meraih pedang Pasai Naga. Kali ini tekadnya menyelamatkan keluarga satu-satunya harus dilakukan.
"Sejujurnya aku bingung dengan situasi apa yang kalian jelaskan. Tapi jika pendekar Hyunjin ingin mengambilnya maka silakan, paman tidak akan melarang. Tapi apa yang kalian ingin rencanakan dengan keluarga bangsawan Yin?"
"Paman, Yun Shu adalah keluargaku, maka sudah kewajibanku menyelamatkannya walau aku harus kehilangan nyawa." Tatap Hyunjin kini berubah dingin, dia sudah sangat yakin dengan pilihannya.
Clarisa menggeleng kepalanya pelan, menurutnya tindakan Hyunjin terlalu berlebihan. Misi penyelamatan juga harus direncanakan secara matang, salah bertindak bisa saja berujung fatal.
Akhirnya Clarisa menceritakan semuanya kepada paman Luxs, awalnya paman Luxs tidak percaya bahwa Hyunjin anak dari ratu Shu Hua. Tapi setelah melihat lambang marga api itu, paman Luxs mulai percaya.
__ADS_1
Setelah keluar dari toko pedang itu, Hyunjin langsung mengajak Clarisa menuju kediaman bangsawan Yin. Tapi Clarisa menolak, dia belum mendapatakan rencana untuk menyusup. Jika seandainya Clarisa saja yang menyelamatkan mungkin itu mudah saja, tapi Hyunjin tidak akan mau tinggal. Itulah yang membuat Clarisa harus merencanakan penyusupan terbaik yang pernah dia pelajari.