Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
13. Kapal Samudera


__ADS_3

Beredarnya kabar tentang lenyapnya bangsawan Yin dan hukuman bagi pemerintah pusat kota membuat kota Melodi senang dan bertanya-tanya siapa yang membantu mereka. Hyunjin, Yun Shu, dan Clarisa sedang duduk menyantap sarapan pagi mereka, kali ini Hyunjin, Hao dan Clarisa akan berkelana lagi menuju kota Teratai di ujung perbatasan barat kerajaan Rain menaiki kapal. Setelah 3 hari misi penyelamatan selesai, Clarisa ingin pergi berkunjung ke kota Teratai.


Yun Shu tak berhentinya berterima kasih pada Clarisa karena telah menyelamatkannya, tapi Clarisa hanya bersikap acuh. Bukan karena tidak senang dia hanya tidak ingin bahagia karena pujian.


Banyak mata yang memandang mereka bertiga, para tamu lain sangat mengenal Yun Shu si gadis bayaran pangeran Yin Xieyu untuk menghibur pangeran.


Hari ini Yun Shu akan pergi bersama 24 gadis yang pernah bernasib sama dengannya menuju kerajaan Blue Flash naik kereta kuda. Hyunjin menyewa beberapa pendekar untuk menjaga mereka di sepanjang perjalanan.


"Kenapa pangeran Hyunjin tidak ikut dengan sepupu Yun Shu ke kerajaan Blue Flash?" Yun Shu menatap sedih Hyunjin karena dia akan berpisahnya.


Hyunjin mengelus rambut Yun Shu. "Aku harus pergi dengan putri Clarisa menyelesaikan masalah, setelah selesai aku akan pulang. Tunggu saja aku di sana," jawab Hyunjin lembut.


Tentu saja perlakuan Hyunjin membuat Yun Shu terisipu malu. "Pastikan pangeran pulang dengan tubuh bukan hanya nama."


"Iya. Sekarang berangkatlah, buat kerajaan Blue Flash terasa hidup."


Yun Shu masuk ke dalam kereta sembari melambikan tangan sebelum keberangkatan. Kuda berpacu cepat, ada rasa haru dan bahagia di hati Hyunjin. Ini kali pertama Hyunjin berhasil menyelamatkan keluarganya.


"Sudah jangan menangis. Kau seorang pria pantang untuk menangis." Clarisa menepuk pundak Hyunjin keras.


Hyunjin maju 2 langka karena tepukan Clarisa. "Sepertinya kau punya dendam padaku?" Hyunjin menatap Clarisa sambil tersenyum kecil.


*****


Sorenya Hyunjin, Clarisa dan Hao menuju pelabuhan di kota Melodi yang terletak di desa Pantai Perak, sekitar 2 jam perjalanan menuju desa pelabuhan. Hyunjin sempat mengeluh pada Clarisa karena lebih memilih jalan kaki dari pada membeli kuda. Alasan Clarisa menolak karena menghemat uang karena perjalanan masih panjang belum lagi mereka tidak tahu apa saja yang akan dilalui selama perjalanan.


Pelabuhan ini dinamakan pelabuhan Samudera, karena mereka akan berlayar menuju 6 negara terbesar sekaligus. Pelabuhan ini juga sudah melakukan transaksi besar pada 6 negara, kapal Samudera ini lumayan besar hingga bisa mengangkut 250 penumpang. Tapi harga menaiki kapan ini juga lumayan mahal. 1 penumpang membayar 1 koin emas. Fasilitas kapal juga tidak bisa diragukan, akan dipastikan bahwa para penumpang akan nyaman hingga kapal menyandar di pelabuhan selanjutnya.


Mengetahui kapal akan berangkat sore nanti, Clarisa segera membeli tiket penumpang kelas B. Sebenarnya jika dia menampakkan dirinya pada bos pemilik kapal sudah pasti dia akan diberikan tumpangan secara gratis kelas A. Tapi Clarisa tidak berpikir untuk memanfaatkan kapal itu, dia tidak akan menggunakan nama kerajaan untuk mendapatkan kenyamanan.


Ketika kapal sudah berlayar, Clarisa memanfaatkan perjalanan ini untuk mengumpulkan semua tenaga dalamnya di kamarnya. Tentu saja kamarnya dan kamar Hyunjun terpisah.

__ADS_1


"Aku akan mengumpulkan tenaga hingga pagi tiba." Clarisa duduk sila di kasurnya.


Hyunjin berniat membersihkan diri di kamar mandi, kamar mandi yang ada di lantai bawah kapal. Setibanya di sana ternyata banyak orang yang mengantri di depan kamar mandi umum, kamar mandi pria dan wanita terpisah jauh. Hyunjin menghela nafas untuk bersabar, belum pernah ia melihat antrian sepanjang ini. Yang Hyunjin bisa lakukan ialah ikut mengantri di barisan panjang ini, sekitar 15 orang yang mengantri di depan kamar mandi umum pria.


Setelah 1 jam berdiri menunggu antrian, tiba-tiba muncul seorang pria berpakain ala bangsawan berserta 2 prajuritnya langsung melewati panjangnya antrian lalu berdiri di depan Hyunjin. Mata Hyunjin membulat melihat pria di depannya mengambil antriannya. Segera Hyunjin menepuk pundak bangsawan itu. Padahal tinggal menunggu keluar pria yang baru masuk, setelahnya ialah giliran Hyunjin.


"Maaf, anda mengambil antriaku."


Pria itu berbalik ketika seseorang menepuk pundaknya. Tatapan pria itu pada Hyunjin seperti


tatapan merendahkan. "Ahh ... apa kau tidak tahu siapa aku? Aku ini adalah pangeran Tangru." Bangsawan itu memperkenalkan dirinya tapi dengan nada sinis.


"Aku tidak peduli kau pangeran dari mana atau bangsawan mana! Yang jelas anda sudah memotong antrian dan itu ada perilaku yang tidak sopan sebagai seorang bangsawan ," balas Hyunjin datar seraya melipat kedua tangannya.


Tangru menjadi geram dengan perilaku Hyunjin. Belum pernah ada yang berani melawannya selama ini. "Apa anda tidak tahu bahwa aku tamu terhormat di kapal ini? Aku bisa saja menyuruh pemilik kapal ini membuang anda di tengah laut sekarang!" Tangru menatap marah pada Hyunjin.


Pria tua di belakang Hyunjin menepuk pundak Hyunjin dan memperingati untuk tidak mencari masalah dengan bangsawan Tang. Mereka adalah bangsawan yang kejam dan jahat, membunuh siapa saja yang mereka tidak suka. Tapi bagi Hyunjin dia hanyalah pangeran kecil yang mengandalkan pangkatnya.


Hyunjin pergi meninggalkan antrian itu daripada berurusan dengan pangeran semena-mena itu. Berada di situ terus akan memancing amarahnya saja, percuma meladeni bangsawan yang mengandalkan nama. Hyunjin memang baru di dunia kerajaan ini, tapi bukan berarti dia akan tunduk dengan kekuasaan yang semau mereka, menindas yang lemah dan memanfaatkan demi kepentingan.


Hyunjin berjalan menuju tempat penampungan hewan, mengingat Hao yang dikurung karena hewan dilarang berkeliaran di kapal walau hewan itu jinak sekalipun hewan itu sekecil kadal, semua ini demi kenyaman penumpang lain.


Setibanya Hyunjin berjongkok di depan kandang besi yang mengurung Hao, tangannya mengelus leher Hao dengan lembut. Tampak dari wajah Hao dia sangat rindu dengan Hyunjin, padahal mereka baru berpisah sore tadi.


"Tenanglah Hao, besok kita akan bersama kembali." Hyunjin menenangkan Hao. Hao hanya mengangguk paham dengan Hyunjin.


Saat asik berbincang dengan Hao serigala kecilnya, Samar-samar Hyunjin bisa mendengar suara lain dari luar ruangan. Sejenak Hyunjin berdiri dan terdiam berusaha mendengar suara itu lebih jelas.


Hyunjin yang merasa penasaran segera mencari sumber suara, tak lupa pamit pada Hao sebelum pergi. Hyunjin terus berjalan mencari sumber suara teriakan hingga akhirnya dia berada di ujung kapal. Mata Hyunjin memperhatikan sekitar yang begitu gelap karena sudah malam.


"Siapa yang berteriak?" Hyunjin menggaruk kepalanya bingung, yang dia dilihat hanyalah gelap.

__ADS_1


"Pulanglah!" Teriakan itu terdengar lagi, tapi anehnya hanya Hyunjin yang mendengar.


"Siapa di bawah?" Hyunjin menyahuti suara itu seraya menatap air laut yang gelap.


Orang-orang di sekitar Hyunjin berpikir Hyunjin ingin bunuh diri, bahkan petugas keamanan kapal ikut berteriak pada Hyunjin untuk tidak melakukan hal konyol. Hyunjin menatap kerumunan itu seraya menggaruk kepalanya.


'Ehh? Kenapa mereka berteriak seperti itu? Apa mereka pikir aku mau bunuh diri seperti sinetron-sinetron TV?'


"Pulanglah!" Sekali lagi terdengar suara dari air laut. Segera Hyunjin melempar pandangannya ke arah air, menatap lebih dalam ke dalam air.


Samar-samar ada bayangan seperti manusia dalam air yang berenang di dekat kapal, tapi anehnya orang itu memiliki ekor. Hyunjin semakin memandang ke dalam air, dia pikir dia salah melihat apa yang ada di dalam air.


"Ehh!? Apa itu putri duyung?" gumam Hyunjin seraya semakin menundukkan tubuhnya, karena semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam air laut.


Semakin Hyunjin menatap bayangan itu tubuhnya semakin membukuk ke bawah hingga tangannya terlebas dari pegangannya. Akhirnya Hyunjin malah tercebur ke dalam air laut yang dingin, Hyunjin sangat panik karena air laut sangat gelap dan dingin.


Kerumuan tadi semakin berteriak histeris saat Hyunjin terjatuh ke air. Berbondong-bondong mereka mendekati sisi kapal ingin melihat Hyunjin. Petugas kapal segera menyuruh kapal untuk berhenti, mereka akan menyelamatkan Hyunjin yang baru saja terjatuh.


Bluukk ....


Hyunjin tidak bisa bernafas, dia semakin jauh dari permukaan air. Ada sesuatu yang menarik kakinya dari bawah, tangan Hyunjin berusaha berenang ke permukaan tapi tetap saja ia semakin tertarik ke bawah.


Bluukk ....


Hyunjin menatap ke bawah kakinya, ternyata ada sosok hewan aneh yang menarik kakinya. Hewan itu hampir berbentuk tubuh manusia tapi tubuhnya bersisik seperti ikan dan memiliki ekor.


Bluukk ....


Hyunjin merontah-rontah seraya menendang hewan menjijikan itu, belum pernah Hyunjin melihat hewan laut aneh seperti itu. Yang lebih menakutkan ialah hewan itu bergigi tajam, sudah pasti karnivora. Dari dalam dasar laut hewan sejenis yang sama mendekati Hyunjin lalu melekat pada Hyunjin. Hewan itu beramai-ramai menarik Hyunjin semakin kedasar laut.


'Sialan! Aku tidak bisa bernafas! Mereka semakin banyak ! Aku tidak boleh mati di sini!"

__ADS_1


__ADS_2