Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
6. Hutan Lentera Merah


__ADS_3

Syaatt ....


Kali ini lengan kanan Clarisa lagi yang terkena pedang. Sungguh tidak bisa dielakkan bahwa musuhnya lumayan kuat bagi Clarisa. Clarisa mundur 3 langkah, kini kedua lengannya sudah terluka lumayan besar, jika diteruskan dia bisa membahayakan nyawanya namun walau mundurpun Clarisa tidak bisa.


'Sialan, seandainya mereka tidak abadi maka tidak akan sulit melawan mereka!'


Di sisi lain Hyunjin terus menghindari musuhnya, bahkan ia merasa aneh pada dirinya yang mampu menghindari musuhnya. Pergerakan kakinya semakin lincah, 5 prajurit itu kaget mereka hanya mengira bahwa dia pemuda biasa. Tak disadari di tengah dahi muncul sebuah lambang api warna merah. Jika dilihat lambang tanda itu seperti lambang marga kerajaan Blue Flash.


'Bagaimana melenyapkan mereka?'


Tak bisa mengelak, Clarisa terus melawan mereka tanpa lelah. Melompat dan berputar serta berusaha menepis serang pedang musuhnya.


'Kalau seperti ini terus tenagaku habis terkuras karena mereka!'


Hyunjin tampak bergetar di belakang Clarisa. Ini pertama kalinya ia melihat perkelahian yang begitu hebat, terlebih 10 prajurit itu melawan 1 wanita.


'Aku bisa apa? Ibu mana kekuatan yang kau maksud itu?'


Syatt ....


Satu pedang musuh berhasil melukai lengan Clarisa. Clarisa memegang luka lengannya yang lumayan lebar.


'Berani sekali prajurit ini melukai seorang putri terhormat!'


Perlahan Clarisa mundur 2 langkah ke belakang seraya memegang lukanya. Ditatapnya prajurit itu yang ikut melangkah maju mendekati mereka berdua.


'Sialan! Mereka tidak bisa dilenyakan!'


Kini mata merah Clarisa berubah semakin pekat. Di genggamnya pedangnya dengan kedua tanganya seraya mengarahkan pada prajurit itu.


'Apa yang bisa aku lakukan? Aku ingin membantu, tapi Aku tak punya sedikitpun kekuatan bahkan nyaliku lebih kecil daripada wanita di depanku ini.'


"Bisakah kau ikut membantuku? Kau seorang pria apa tidak bisa bertarung?" bisik Clarisa seraya menatap Hyunjin melotot.


"Ini zaman modern! Mana ada pertarungan seperi ini di sini, lagipula apa yang bisa kubantu!" Hyunjin tidak tahu harus berbuat apa, bahkan Hyunjin merasa lebih lemah dari Clarisa.


"Kau lawan 5 prajurit itu, dan aku akan melawan sisahnya. Paham!"


"Menyerahlah putri! Kau tidak akan bisa menang melawan kami," ujar salah satu prajurit Naga Hitam.


"Sepertinya kau tidak mengenal diriku lebih dalam? Kalian harusnya tahu kalau aku suka yang berbahaya dan menantang! Lalu buat apa menyerah sama kalian! Cih harga diriku sangat mahal!" balas Clarisa.


Maju lagi Clarisa melawan prajurit itu. Badannya bergerak secepat kilat, ayunan pedangnya begitu cepat. 5 prajurit itu berhasil tumbang namun sekejap bangkit lagi.


Di sisi lain Hyunjin bersiaga menghadapi 5 prajurit. Ia bahkan tidak tahu mau melakukan jurus apa, tangannya bergetar sama halnya seperti kedua kakinya. Pedang-pedang mulai menghujani gerakan Hyunjin, hanya bisa menghindar tanpa membalas.


5 prajurit itu mulai kewalahan, Hyunjin terus berhasil menghindar dengan gerit. 5 prajurit ini tidak menyangkah bahwa Hyunjin memiliki kekuatan. Mereka pikir Hyunjin hanya manusia masa depan yang seperti biasa.


Hyunjin juga sama kagetnya, Hyunjin tidak habis pikir dia bisa menghindari 5 pedang dengan lihai. Tanpa disadari Hyunjin, samar-samar muncul tanda tato api merah di jidatnya yang artinya melambangkan marga kerajaan Blue Flash.


"Keturunan Blue Flash!" Kaget salah satu prajurtit Naga Hitam. Mereka tidak akan pernah lupa dengan lambang marga yang pernah menjadi kerajaan terkuat ke 2 setelah kerajaan Zero.


"Bagaimana mungkin? Bukannya mereka semua sudah musnah? Apa mungkin dia?"


"Pangeran Shu Hyunjin, tidak salah lagi." Dari pintu muncul seorang pria berpakain jirah lengkap berwarna emas. Pria itu tersenyum sinis ke arah Clarisa dan Hyunjin.


"Kau!" Clarisa menunjuk pra itu, Clarisa sangat mengenalnya.


"Haruskah aku memberi hormat pada tuan putri Clarisa yang telah membantai kerajaan Gold beberapa bulan yang lalu?" ucap pria muda itu seraya tersenyum kecil. Pria ini lebih muda daei Clarisa dan Hyunjin.


"Ternyata aku lupa melenyapkanmu pengeran Yunxi, cucu dari raja Gold," ujar Clarisa sinis.


Yunxi terkekeh kecil. "Anda terlalu fokus pada kemarahanmu hingga lupa ada aku yang masih hidup?" Tangan Yunxi menggaruk hidungnya.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan? Dalam keadaan seperti ini masih membahas yang tidak penting!" Timpal Hyunjin yang sedari tadi berusaha menahan musuhnya.


Yunxi menatap ke arah Hyinjin yang terlihat kewalahan menahan prajurit Naga Hitam.


"Bahkan pangeran Hyunjin kewalahan? Bagaimana bisa 2 kerajaan terkuat memiliki keturunan yang begitu lemah?" Yunxi menatap Hyunjin dengan tatapan menghina.


"Hhmm? Bukankah kau yang terlihat lemah? Menggunakan prajurit abadi untuk melawan kami?" Hyunjin membalas ucapan Yunxi seraya menaikan sebelah alisnya.


"Aku hanya meminta bantuan dengan pulau Tengkorak untuk membalas dendam, tidak lebih." Yunxi terkekeh seraya menatap Clarisa yang mentapa Yunxi benci.


Clarisa mendekati Hyunjin dan berbisik pelan di telinganya, meminta Hyunjin memberikan waktu untuknya memulihkan lukanya, Hyunjin mengangguk paham. Yunxi mengerutkan dahinya sambil menyuruh para prajurit untuk mundur.


"Dalam keadaah bahaya masih sempat mengalihkan konsentrasi?" sindir Yuncxi yang mulai melepar pisau kecil, dengan cepat Clarisa menangkis serangan dengan pedangnya.


"Aku hanya ingin bersenang-senang dengan putri Clarisa. Bertarung denganmu merupakan suatu kehormatan bukan? Putri Clarisa si Dewi kematian?"


"Aku akan melawanmu, kau tidak perlu melawan perempuan untuk bisa menang, apa kau tidak punya malu?" Hyunjin mengambil pedang Clarisa, berjalan 3 langkah ke depan seraya mengarahkan pedangnya.


'Astaga pedang ini mengambil begitu banyak tenaga. Bahkan aku belum melakukan penyerangan, tapi tenagaku sudah terkuras banyak. Bagaimana bisa si putri gila memakainya begitu santai?'


"Hohoho ... ini juga merupakan suatu kehormatan bisa bertarung dengan pangeran Hyunjin." Yunxi mengeluarkan aurah jahat yang sangat pekat membuat Hyunjin mulai berkeringat dingin. Yunxi bahkan tidak mengeluarkan senjata kesayangannya untuk melawan Hyunjin.


'Aurahnya? Sepertinya dia bukan lawan yang mudah.'


"Prajurit kalian tangkap putri, biar aku yang urus pengeran kecil ini." Titah Yunxi seraya menggerakkan tangannya ke depan.


Hyunjin tidak akan membiarkan para prajurit menyentuh Clarisa. Dia tahu Clarisa masih dalam proses menyembuhkan dirinya. Pergerakkan tangannya menghalau para prajurit untuk maju.


"Pangeran Hyunjin, lawanmu adalah aku jadi jangan mengalihkan pandanganmu! Apa kau meremehkan kekuatanku?" Yunxi melesatkan satu pisau dengan cepat membuat Hyunjin tidak sempat menghindari. Pisau itu melukai pipi kiri Hyunjin. Sejenak Hyunjin terdiam saat mendengar suara lain di pikirannya. Yunxi bingung melihat Hyunjin tiba-tiba diam.


Hyunjin menundukkan kepalanya, perlahan-lahan aurah pembunuh pekat mulai keluar dari tubuhnya.


"Kau tahu! Seorang lelaki akan dihormati ketika mampu melindungi wanita, bukannya melukai wanita," ujar Hyunjin pelan seolah menyindir Yunxi, tangannya menghapus darah yang mulai mengalir di pipinya. Kini suara Hyunjin tampak lebih berat dari sebelumnya.


Lagi-lagi Yunxi terkekeh, ucapan Hyunjin sungguh sangat lucu baginya. "Melindungi? Ohh begitu rupanya. Tapi buat apa melindungi Dewi kematian yang jelas lebih kuat darimu!"


"Apa maksudmu? Aku yakin kau bukan Hyunjin!" bentak Yunxi.


Hyunjin tertawa lantang, entah kenapa sesuatu kejahatan mulai merasuki dirinya. "Kenapa kau takut?" tanya Hyunjin yang tersenyum dingin dan mengerikan.


'Apa pedang Shiki mengambil alih tubuhnya?'


Mata Clarisa memandang tubuh Hyunjin, dia bisa merasakan aurah membunuh mulai menyelimutinya dan Clarisa sangat mengenal aurah itu.


'Tidak salah lagi, itu pasti Shiki.'


"Ck! Takut, bahkan kau lebih lemah dariku!"


Mata Hyunjin menatap dingin ke arah para prajurit dan Yunxi. Perlahan luka di pipinya mulai tertutup, Hyunjin mengepalkan tangan kirinya. "Kau tahu Yunxi, sudah lama aku rindu membunuh seseorang dengan kekuatanku sendiri tanpa dikendalikan putri."


"Ma-maksudmu!?" Yunxi mulai bergetar, dia dapat merasakan aurah yang berbeda dari Hyunjin. Aurah membunuh yang sangat pekat dan kejam, seolah membunuh menjadi kebiasaannya.


"Kupastikan kau mati dengan cara yang mengenaskan!" Hyunjin mulai mengambil aksi menyerang, mulai dari para prajurit lalu ke arah Yunxi. Yunxi sempat mengelak namun dengan cepat Hyunjin mengejarnya dan sudah berada di sampingnya, hanya sekali tebasan kuat kepala Yunxi sudah terguling di lantai. Darah menghujani ruangan itu dengan derasanya.


Mata Clarisa menatap tidak percaya, baru kali ini dia melihat kecepatan membunuh 11 musuh seperti itu. Bahkan jika dibandingkan dengan Clarisa, diapun belum bisa. Anehnya juga para prajurit abadi itu juga sudah tidak bangkit lagi sehabis ditebas Hyunjin.


"Shiki? Kaukah itu?" Setelah Hyunjin selesai melenyapkan semua musuhnya, ruangan menjadi hening.


Hyunjin berjalan ke arah Clarisa, tak lupa ia memberi hormat pada tuannya. "Iya tuan putri," jawab Shiki yang merasuki tubuh Hyunjin.


"Bagaimana bisa kau melawan prajurit abadi?" Clarisa sangat dikejutkan dengan kekuatan Shiki yang belum pernah dia sadari.


"Mereka bukanlah tandingan saya tuan putri."

__ADS_1


"Lalu Hyunjin?"


"Pangeran Hyunjin mengizinkanku menggunakan tubuhnya, putri," jawab Shiki.


Clarisa menghela nafasnya, ia tidak tahu harus berkata apalagi. Tak lama Shiki mulai melepaskan rohnya dari Hyunjin dan kembali masuk ke pedang. Hyunjin yang kembali sadar melihat ke segala arah, ternyata musuh telah tumbang.


"Pedangmu sama jahatnya sepertimu," gumam Hyunjin yang masih belum percaya dengan tumbangnya para musuh.


"Seharusnya kau bersyukur, berkat Shiki kita bisa selamat." Clarisa memukul kepala Hyunjin dengan sarung pedangnya.


"Aww! Kenapa kau begitu suka memukul kepala? Kepalaku sudah 3 kali kau pukul, kalau aku amnesia apa kau mau tanggung jawab?" timpal Hyunjin tak suka, dia merasa seperti anak kecil jika diperlakukan seperti itu.


Clarisa tak mengubris ucapan Hyunjin, kini dia harus fokus pada luka di lengannya. Clarisa duduk menyandar di tembok, lukanya begitu besar di kedua lengannya. Hyunjin memperhatikan Clarisa, dia tidak akan tegah melihat seorang wanita terluka. Hyunjin mulai berjongkok di depan Clarisa lalu merobek kain bajunya untuk menutupi luka Clarisa. Clarisa terdiam seribu bahasa, ia tak menolak ataupun melarang Hyunjin mengobatinya. Dan tanpa mereka sadari mereka sudah berpindah tempat, bukan lagi di rumah Hyunjin melainkan di tengah hutan.


"Lukamu lumayan besar, apa tidak sebaiknya dijahit?" tanya Hyunjin seraya membersihkan darah di luka Clarisa.


Clarisa menggeleng pelan. "Tidak perlu, luka ini akan tertutup sendirinya jika dibaluti kain."


"Sebaikanya dijahit biar lekas tertutup, tapi jika kau tidak mau aku tidak akan memaksamu. Tapi biarkan aku membalut lukamu." Hyunjin menatap Clarisa meminta persetujuan.


Clarisa terdiam membiarkan Hyunjin menutup lukanya. Saat Clarisa mengalihkan pandangannya dia sungguh terkejut, kedua iris matanya menatap sekitarnya seolah mengenali tempat dirinya sekarang.


"Hyunjin, apa aku tidak salah lihat?" ujar Clarisa yang masih terkejut.


Hyunjin selesai membalut luka Clarisa. Kini ikut melihat kesekitarnya. "Ehh?! Kita ada di mana?" Hyunjin terkejut hebat.


"Di hutan."


"Ya aku tahu kita di hutan, tapi ini? Hutan di mana? Kenapa bisa? Aku aku tidak bermimpi?"


Clarisa memukul kepala Hyunjin dengan tanganya, pukulannya lumayan keras. Hyunjin meringis kesakitan seraya memegang kepalanya yang sakit.


"Kenapa kau memukul kepalaku lagi?"


"Membuktikan bahwa kau tidak bermimpi," jawab Clarisa datar.


"Ehh?" Hyunjin sekarang makin terkejut. "Ternyata ini nyata. Tapi kenapa bisa?"


"Waktu dejavu," jawab Clarisa singkat.


"Waktu dejavu?" Hyunjin menaikan sebelah alisnya.


"Iya ini sihir dejavu. Kau kembali ke masa lalu bersamaku." Clarisa mulai berdiri diikuti dengan Hyunjin.


"Ini hanya mimpi bukan? Clarisa mau bangun dulu dari mimpiku."


"Kau harus menerima takdir, mau melawan pun tidak ada gunanya," ujar Clarisa mulai berjalan meninggalkan Hyunjin.


Hyunjin berlari mengejar Clarisa. "Kenapa kau meninggalkanku? Apa kau lupa yang membawaku ke sini adalah dirimu putri gila, jadi dirimu harus bertanggung jawab."


"Haruskah pengeran berlindung di belakang putri?" Kini Clarisa membalik pertanyaan, keningnya naik sebelah menunggu jawaban Hyunjin.


"Bukan begitu. Tapi-"


"Jika kau ingin di sini menjadi santapan hewan buas aku tidak akan melarangmu!" Clarisa memotong ucapan Hyunjin.


Hyunjin hanya mampu berdecak kesal. Dia tidak ingin menjadi makan siang hewan liar. Mau tidak mau dia harus mengikuti Clarisa.


"Putri gila, apa kau tahu hutan ini hutan apa?" tanya Hyunjin yang berjalan di samping Clarisa.


"Bisakah kau memanggilku dengan namaku saja? Aku tidak akan segan memenggal kepalamu jika aku mendengar nama itu lagi," balas Clarisa dingin tapi masih fokus menatap ke depan.


"Iya iya. Kau tahu, aurah dinginmu itu bisa membuatmu menjadi perawan tua."

__ADS_1


"Kau!" Clarisa bersiap memukul kepala Hyunjin lagi tapi dia masih menahannya. "Kita ada di hutan Lentera Merah," sambung Clarisa kembali fokus ke depan.


"Hutan Lentar Merah? Baru kali ini aku mendengar nama itu." Hyunjin menggaruk kepalanya berusaha mengingat lagi apa dia pernah mendengar nama itu apa tidak.


__ADS_2