
Hyunjin merasakan ada sesuatu goyangan yang membangunkannya. Segera Hyunjin membuka matanya dan mendapat Jhu duduk di sampingnya sambil menggoyangkan tubuhnya. Wajah Jhu terlihat begitu panik.
"Jin'er! Bangun! Kita harus segera pergi!" ujar Jhu pelan.
Hyunjin segera bangun dan mengusap kedua matanya. "Apa apa Paman? Kenapa kita harus pergi?" tanya Hyunjin pelan.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang Jin'er! Sekarang cepatlah kita harus segera pergi." Jhu menarik tangan Hyunjin keluar dari kamar penginapan. Hyunjin mengerutkan keningnya melihat ada keanehan dengan sikap Jhu sekarang, terlihat begitu panik seakan dia sedang dikejar sesuatu.
Jhu menengok kiri dan kanan mengecek keadaan sekitar. Penginapan sudah lumayan sepi hanya tinggal beberapa pekerja yang masih berkeliaran. Jhu membawa Hyunjin ke lantai bawah dengan tergesa-gesa.
Braakk ....
Pintu depan utama penginapan ambruk ke lantai, di depan pintu beberapa para pendekar berbaju merah menatap Jhu dengan tatapan ingin membunuh.
Jhu baru saja berdiri dekat pintu sedikit terkejut dan berdecak kesal karena tidak sempat keluar dari penginapan.
"Wakil Jhu! Kau tidak akan bisa pergi jauh lagi! Kau harus dihukum mati di atas perbuatanmu!" Salah satu pendekar menunjuk Jhu kesal, bukan pendekar biasa tapi dia pemimpin salah satu anggota pendekar tersebut.
Jhu mundur beberapa langkah, dan menggeser Hyunjin berlindung di belakangnya. Puluhan pendekar langsung masuk tanpa izin dan mulai mengepung Jhu dan Hyunjin. Puluhan pendekar ini adalah pendekar kelas 1 dan 2. Ada 1 pendekar tingkat raja dialah pemimpin antara puluhan pendekar lainnya. Jhu berdecak kesal, sekarang dirinya sudah terkepung di tengah puluhan pendekar yang tak lain aliansi Rantai Neraka.
'Pendekar Rantai Neraka? Kenapa mereka mengejar Paman Jhu?'
Hyunjin berdiri membelakangi Jhu, dia juga siap dalam posisi siaga bertahan. Walaupun Hyunjin masih kecil tapi soal ilmu belah diri dia tidak akan lupa. Hyunjin pikir dia bisa menggunakan 1 atau 2 jurus belah diri saat ini.
"Mau lari kemana lagi wahai pengkhianat! Sekarang kau sudah terkepung dan kau tidak akan bisa kembali lagi ke Kaisaran Tang!" Guzou berseru lantang merasa menang karena bisa mengepung Jhu.
Jhu berdecak kesal dalam hatinya. Sedangkan Hyunjin masih diliputi kebingungan dengan situasianya sekarang. Hyunjin dapat menerka ada 20 orang pendekar kelas 1 yang mengelilinginya dan hanya ada 1 pendekar tingkat tinggi yang hampir setara dengan pendekar tingkat raja. Bagi Hyunjin melawan pendekar kelas 1 ini bukan masalah besar, tapi mengingat tubuhnya yang mengecil dan kurus seperti tulang dibaluti kulit tanpa daging membuatnya akan sulit melawan mereka.
__ADS_1
'Sial! Mereka sangat cepat mengejarku!'
Terlebih yang dipikirkan Jhu sekarang adalah Hyunjin, Jhu pikir Hyunjin masih terlalu kecil untuk menghadapi para pendekar. Tapi Jhu tidak yakin bisa melindunginya dalam keadaan seperti ini, akan sulit mengatur konsentrasi dalam bertarung dengan puluhan pendekar selama melindungi. Tentunya Jhu bukan pendekar yang sangat kuat, tapi Jhu yakin bisa melawan para pendekar kelas 1, namun mengingat ada Guzou di hadapannya maka tidak mungkin dia bisa konsen dalam melindungi Hyunjin.
'Paman, apa yang anda pikirkan sekarang?'
Hyunjin menatap satu persatu musuh di hadapannya. Andaikan ada senjata di tangannya maka mungkin saja Hyunjin bisa melawan 1 atau 2 musuhnya pikir Hyunjin.
"Seorang pengkhianat tidak akan bisa lolos!"
Jhu mengambil posisi tenang seraya menatap Guzou datar. "Guzou, jika kau ingin membunuhku aku tidak akan masalah, tapi anak yang bersamaku ini tidak ada kaitannya dengan kita. Biarkan dia pergi."
Guzou mengerutkan dahinya seraya melempar pandangan pada anak kecil di belakang Jhu yang tak lain ialah Hyunjin. Sejenak Guzou tertawa lantang memenuhi ruangan. Beberapa pelayan penginapan dan pemilik penginapan yang melihat segera mengungsikan diri, mereka tidak ingin ikut campur dengan urusan aliansi Rantai Neraka.
"Jangan menipuku Jhu! Bisa jadi anak yang bersamamu itu adalah mata-mata dari Kekaisaran Tang sama sepertimu! Jadi tidak akan ada yang pergi, maupun kau atau anak kecil kerempeng itu." Guzou merubah pandangannya menjadi kejam, nada berbicara yang dingin mampu menusuk sedikit nyali para pendekar lain. Itulah kenapa tidak ada yang pernah berani menentang Guzou selama bertindak di luar area aliansi.
Jhu berdecak kesal, Jhu tahu bahwa Guzou adalah orang berpikiran hanya melenyapkan semua maka masalah akan beres.
Para anggota aliansi Rantai Neraka langsung menjalankan apa yang dikatakan pemimpin mereka. Mereka maju bersama-sama sambil menyerang dengan senjata mereka masing-masing.
Tidak ada pilihan lain lagi selain melawan mereka, Jhu mengeluarkan pedangnya dan mulai menepis semua serangan dengan satu tangan dengan cepat. Sedangkan sebelah tangannya memeluk Hyunjin berusaha melindungi.
1 demi 1 musuh tumbang karena pedang Jhu, tapi Jhu juga menerima luka banyak dari senjata musuhnya. Kini baju serta kulit Jhu mulai berlumuran darah musuh yang bercampur dengan darahnya.
Guezou berdecak kesal melihat separuh musuhnya tumbang, Guzou terlalu meremehkan kekuatan Jhu dari Kekaisaran Tang.
Begitupun dengan Hyunjin, walau dia berada dalam pelukan Jhu tetap saja senjata yang begitu banyak juga bisa melukainya. Lengan kiri Hyunjin sedikit terluka karena pedang.
__ADS_1
Dan sebenaranya melihat Jhu bertarung seperti ini membuat Hyunjin kagum, karena tidak banyak yang bisa bertarung dengan satu tangan dan setengah perhatiannya fokus melindungi. Hyunjin juga pikir mungkin dirinya tidak akan bisa melakukan hal seperti ini.
"Kenapa kalian lemah sekali! Melawan 1 orang saja bisa kalah!" Guzou berteriak lantang kepada para anggotanya, kesal karena para anggotanya tidak bisa membunuh 2 orang yang Guzou anggap lemah di hadapannya.
Para anggota yang terisisa mendengar teriakan Guzou murka membuat mereka kembali menyerang. Jika mereka menyerah melawan Jhu maka Guzou sendirilah yang akan membunuh anggotanya. Mereka sangat paham bagaimana perangai Guzou selama ini.
Jhu menyerong kiri kanan depan belakang bahkan sesekali melempar Hyunjin ke udara agar bisa menghindari serangan musuh. Hyunjin tidak banyak melawan gerakan Jhu, bahkan Hyunjin mengikuti semua arah Jhu pada tubuhya agar tidak mempersulit Jhu. Hyunjin sedikit terkagum lagi melihat tenaga Jhu semakin meningkat dalam pertarungan. Dan Hyunjin mengambil kesempatan ini untuk memperhatikan, Hyunjin pikir tidak ada salahnya belajar dalam keadaan seperti ini.
'Paman Jhu sangat kuat, tapi aku tidak yakin dia bisa bertahan lama. Aku tahu Paman Jhu banyak menggunakan tenaga dalamnya.'
Nafas Jhu tersegal-segal seraya menatap sisah musuh di hadapannya. Tinggal 5 musuh lagi yang tersisa dan 1 pemimpin mereka yang masih diam tapi raut wajahnya sangat kesal.
'Tinggal 6 orang lagi, tapi aku tidak yakin bisa melawan mereka.' Jhu menatap nanar pada 6 orang di hadapannya.
5 pendekar itu juga sama seperti Jhu, nafas mereka tersegal-segal terlalu banyak menguras tenaga. 5 pendekar ini menarik kembali kata-katanya mengatakan bisa menghabisi Jhu dengan mudahnya. Tapi nyatanya 95% kawan mereka sudah tumbang tak bernyawa.
"Paman." Hyunjin menatap khawatir pada Jhu, kondisi Jhu yang sekarang sangat mengkhawatirkan. Hyunjin yakin Jhu tidak akan bisa melawan Guzou setelah selesai melawan 5 yang terisisah.
"Jin'er. Bersembunyilah di belakang Paman, biar Paman yang hadapi mereka." Jhu memberikan senyuman hangat pada Hyunjin.
Hyunjin terkejut melihat senyuman Jhu, Hyunjin sangat ingat dengan senyuman yang satu ini.
'Senyuman ini!? Paman jangan katakan anda akan mati di tangan mereka? Senyumanmu ini mengingatkanku kembali saat anda terbaring lemah di rumah sakit. Senyuman terakhir yang tidak akan pernah aku lihat lagi.'
Halo para pembaca 🌟 selalu dukung karyaku ya dan beri like and vote juga 😊
makasih udah ngikutin ceritaku sejauh ini 🖒 author senang banget 🌟
__ADS_1
oke ada sedikit penyampaian, pasti ada yg nebak ni cerita mau sama kek cerita Legenda Pendekar Naga? iya author terinspirasi dari Kak penulis cerita itu 🌟 tapi author gak ngikutin alurnya ya ... itu namanya plagiat 🙄
author bisa dikatakan pendukung cerita Legenda Pendekar Naga 😂 walau gak kenal ama penulisnya